× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#POLITIK

Industri Perdamaian

Mahkota manusia itu ada pada hati, bukan di kepala.
Industri Perdamaian
Bedah buku Risalah Para Kapita. Foto: Istimewa.

29/12/2019 · 3 Menit Baca

Empat hari lalu, 25 Desember. Sebuah pesan kegembiraan dan perdamaian digaungkan pada perayaan Natal di Kota Ternate. Kemudian di layar televisi, ada sebuah parade tradisional digelar di kawasan Kota Tua Betlehem. Di sana ada segerombol orang berjalan menelusuri jalan keluarga kudus yang bersejarah dengan melewati lorong-lorong Betlehem menuju Alun-Alun Palungan (Manger Square), dan pintu Gereja Kelahiran.

Seorang pejabat yang memberi sambutan berkata, dunia membutuhkan kegembiraan dan kedamaian, karena dengan kegembiraan orang bakalan lebih optimis menatap masa depan yang lebih baik.

Pesan yang terucap di Betlehem, sama seperti pesan budaya nusantara kala umat Muslim merayakan hari lebaran. Saya menyaksikan itu di musim lebaran tahun lalu. Tak ada pesan lain kecuali kegembiraan dan perdamaian. Hampir tidak ada orang yang melewatkan momen lebaran tanpa menunjukkan kegembiraan dan perdamaian melalui serangkaian permohonan maaf, baik secara langsung maupun lewat pesan-pesan telekomunikasi.

Usai menulis tiga paragraf pembuka, dua panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal berdering dengan getaran kuat di atas meja. Saya angkat panggilan itu tanpa mengucap sepatah kata. Sekitar 40 detik berselang, pemilik nomor membuka percakapan. Ia bilang, tahun ini kita merayakan dua momen sekaligus. Kemudian di tahun depan ada satu momen juga yang akan kita rayakan.

Saya tanya, apa saja momen itu? Merayakan Natal dan Hari Jadi Ternate (HJT) yang ke 769 pada puncak tahun 2019. Kemudian di 2020, kita memasuki musim politik. Dua momen pertama yang ia sebut akan dirayakan dengan suka cita, gembira dan damai. Tapi momen terakhir akan kita lewati tetap masih dengan kebiasaan yang sama?

Rupanya yang ia maksud, rata-rata orang Nusantara wabilkhusus orang Maluku Utara, paling suka berpolemik. Apalagi polemiknya pada soal-soal politik. Pasti berlarut untuk menemui ujungnya. Di musim itu, orang-orang biasanya saling bertengkar, bahkan tiba-tiba orang akan menjadi sangat pelit tak seperti biasanya. Di Jawa, saya menyaksikan peristiwa itu melalui tayangan berita di Televisi, ada kerangka manusia dalam kuburan yang terpaksa dipindahkan. Pemicunya cuma satu, beda pilihan politik.

Saya ingat, pada 18 Desember, bertemu Sultan Tidore, H. Husain Sjah, di Kadato Kie (Kedaton) Kesultanan Tidore. Saya tiba pukul 11.00 WIT, tapi baru bisa bertemu Sultan pada pukul 12.40 WIT. Kebetulan saat itu ada beberapa rekan wartawan. Sebelum memulai cerita, saya perhatikan ada rasa gelisah di wajah Sultan, barangkali karena ia sedikit lelah bekerja menurut perkiraan saya.

Ternyata saya salah, ada hal lain yang membuat ia gelisah. Dikatakan, orang-orang Maluku Utara terlalu sibuk bertengkar pada hal-hal yang tidak substansial, belum ada semangat untuk membangun bersama. Akibatnya, hak-hak daerah seperti keadilan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan selalu diabaikan orang-orang di Jakarta.

Suasana kembali hening. Tiba-tiba Sultan berkata: "Mahkota manusia itu ada pada hati, bukan di kepala." Dari ujaran Sultan, saya menagkap ada upaya menghidupkan kembali falsafah Marimoi Ngone Futuru (Bersatu Kita Kuat), sebuah nilai kesatuan yang telah dipraktikkan begitu lama di Provinsi ini, jauh sebelum the founding father merumuskan butir-butir Pancasila. 

Esoknya, saya ingin buktikan sendiri ungkapan Sultan. Setumpuk buku-buku sejarah yang saya koleksi harus saya bongkar lagi. Dan ternyata betul, dalam perspektif historiografis Indonesia modern, ada peristiwa politik yang dasar perjuanganya diletakkan Sultan Babbullah (1525-1530) secara universal. Babbullah berhasil menyatukan kekuatan multietnis untuk melawan imperialisme dan kolonialisme di Ternate dan bahkan menyebar hingga ke 72 Pulau yang dikuasainya.

Kisah epos kepahlawanan lainya juga tercermin pada jiwa Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore. Sejarah perjuangan Nuku adalah episode politik besar yang menyingkap sederetan proses sosial, politik dan keseluruhan tata hubungan ekonomi, sosial-politik dan politik. Tentang kecamuk perebutan kuasa dan kemerdekaan. Sekongkol dan kongkalikong--khianat tipu muslihat. Juga tentang kegagahan, keberanian, kejujuran, siasat, ketabahan, kesetiaan dan gaya bertahan. (E. Katopo, 1984 ; 18).

Kisah-kisah suci yang menyesaki dada itu terus berjalan. Di Jailolo, ada Banau yang begitu gagah saat bergerilya melawan Belanda. Tuan Guru Qadi Abdussalam dari Tidore yang menginspirasi Nelson Mandela memerdekakan Afrika Selatan dengan jalan revolusi. Atau Kolano Sida Arif Malamo, Raja Ternate yang memprakarsai kelahiran Motir Statend Verbon.

Ingatan saya masih terus merefleksikan peristiwa politik. Arus memang sudah berbalik, komitmen dan loyalitas penduduk sepertinya tidak lagi mengikat suku bangsa sebagai semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa seperti Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Konflik-konflik yang marak terjadi dewasa ini erat kaitanya dengan perilaku menyimpang, seperti perampasan ruang hidup masih terjadi di mana-mana, pelanggaran lingkungan jadi tontonan, korupsi merajalela, angka kemiskinan daerah fluktuasi, eknomi tak menentu, pembangunan belum merata, pendidikan dan kesehatan masih senjang, serta banyak lagi kasus-kasus lain yang tak kunjung menemui muaranya adalah pokok masalah yang belum bisa diselesaikan. Ini semua berkaitan dengan dinamika politik di tubuh Bangsa ini.

Paradigma ini ketika digeser mengikuti pertanyaan Anthony Sinnott dalam buku berjudul Tubuh Sosial – Simbolisme, Diri, dan Masyrakat. Anthony mengungkapkan: Apakah kita semua satu? Ataukah kita sedang berperang? Apakah kita sederajat? Apakah satu seks lebih unggul dari pada seks lainya? Jika demikian, yang mana? Dan dengan kriteria apa? Ataukah sesungguhnya kita saling melengkapi?. [Anthony Sinnott, 2003 ;119]. Pertanyaan itu masih berkelahi di kepala.

Jeda waktu makan siang sudah lewat dua jam dan saya masih ingin mencatat polemik bertema politik di Provinsi ini. Sekarang sudah ada baliho yang berderet rapi di tepi-tepi jalan umum. Sepekan sebelumnya, saya menyaksikan orang-orang memasang baliho besar di alun-alun Kota Ternate. Gambarnya sangat besar, seperti raksasa yang ingin menagkap mangsanya. Saya baru sadar, rupanya pesta dan perkelahian begitu sangat dekat.

Seingat saya, pernah ada pesta pernikahan di Ternate, di sana ada banyak anak-anak remaja yang meminum Cap Tikus (arak lokal di Maluku Utara), kemudian pada pukul 03.20 WIT, anak-anak yang tadinya dipengaruhi miras tiba-tiba berkelahi. Rupanya kata "pesta" sangat dekat dengan perkelahian. Saya khawatir pesta demokrasi lima tahunan yang mestinya dinikmati berubah menjadi perkelahian. Dalam istilah lain, akan ada adu domba (Devide et Impera) konsep politik yang diwariskan penjajaah Belanda. Sebab itu, moral rakyat harus betul-betul berada pada puncak kesadaran.

Harus ada industri perdamaian. Tentu, mesinnya adalah pesan-pesan Natal dan Lebaran. Industri ini mesti terus bergerak, ia harus menciptakan produk kebersamaan, kebahagiaan, kebaikan, serta keadilan. []


Share Tulisan Nasarudin Amin


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca