× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#HUMANIORA

Cou

Benteng Peradaban Orang Tomalou

Direktur LSM RORANO
Cou
Cou pembangunan mesjid Tomalou 1979 - 1982/dok Abdullah Dahlan

03/01/2020 · 15 Menit Baca

Kita hidup dalam era ketika manusia diretas. Begitu tulis Yuval Noah Harari yang kita kenal lewat dua karya besarnya, Sapiens dan Homo Deus. Satu dua dekade kemarin, kita mengingat dengan baik adanya informasi yang diretas lewat komputer. Lalu orang berlomba membuat aplikasi anti retas. Manusia selalu punya akal. Tetapi bagaimana jika besok-besok kita yang diretas?. 

Beberapa teman menelepon. Mereka memberitahu facebooknya diretas. Ada penipuan. Kamuflase. Saat ini semua data tersimpan di cloud. Ada klaim dari facebook, google, instagram dkk mengenal “kita” jauh lebih baik dari yang kita sadari. “Kita” ada dalam big data. Tak dibawa kemana mana tetapi mudah diakses dimana mana. Kapanpun. Yang personal tak lagi ada batas. Kita hidup di era tanpa rahasia. Kemanusiaan diretas.

Yang berubah ternyata tak hanya “yang maju”. Masyarakat secara historis juga berubah menjadi pragmatis. Serba instan. Ada akulturasi budaya yang berkembang jadi budaya massa. Di ujungnya, identitas kultural jadi lenyap. Kita hidup menyendiri di tengah kerumunan. Menutup diri dan cenderung berpikiran sempit. Karl Marx menyebut, setiap kemajuan pengetahuan dan tekhnologi akan merubah kelas-kelas sosial di masyarakat. Benarkah semua kemajuan itu membunuh ingatan dan masa lalu?.

Akhir pekan kemarin, saya menikmati sore di sebuah kampung nelayan yang telah bermetamorfosis menjadi “kota”. Jika menatap dari laut, ada bentangan talud kokoh sepanjang dua ribu meter. Bercat khas Argentina. Lalu di atas daratan yang dijilat air laut berdiri kokoh ribuan rumah beton beratap warna warni. Tak ada rumah panggung khas nelayan, jala yang dijemur atau lepa-lepa yang mengapung. 

Tomalou nama kampung itu. Sudah berubah. Lebih modern. Agak sulit menemukan penanda toma-lou sebagamana “yang datang dari laut”. Jalanan hotmix mulus membelah kampung. Beberapa mobil parkir sepanjang jalan. Sekitar 5000an orang menghuni kampung nelayan ini. Saat ini, tak lebih dari ratusan warganya yang masih setia jadi nelayan. Agak ke barat, sebuah mesjid berlantai dua dengan menara menjulang berdiri megah jadi penanda di batas laut.

Di laut yang biru tanpa horizon pasir - empat perahu berjajar. Perahu-perahu itu tengah menanti seruan. Sepertinya akan ada lomba dayung. Yang bikin saya terkesiap adalah, isi perahu-perahu itu adalah sejumlah perempuan tengah baya. Delapan-sepuluh orang di setiap perahu. Saat seruan bergema, perahu meluncur. Tangan para perempuan itu ulet mendayung. Bergegas cepat menuju finish. Saat usai, tawa pecah di atas perahu. Begitu juga yang di daratan bertempik sorak. 

Orang ramai yang tumpah di sepanjang pantai sore itu tengah merevitalisasi “ingatan” kolektif tentang masa lalu kampung mereka yang penuh geleparan cakalang dan tuna. Masa lalu itu, ketika nelayan jadi profesi paling bermartabat secara sosial dan ekonomi. Ingatan bukan kemampuan mereproduksi. Ingatan adalah kemampuan membentuk sesuatu yang baru dari yang lama dalam sebuah “percampuran” dengan yang kini. Karena itu Ia tak perlu sama. Yang penting ada perahu, dayung, kerjasama dan kegembiraan. Ada romantisme grecele.

Abdullah Dahlan, ketua pemuda Tomalou menyebut, lomba itu adalah bagian dari gladi jelang festival kampung nelayan pertengahan Januari ini. Sebuah festival yang dimotori anak muda. Tujuannya adalah merevitalisasi kembali kehidupan kampung nelayan yang telah redup ditiup kemajuan. Temanya : menjaring kekuatan di atas sampan. Sebuah penegasan bahwa Tomalou adalah kehidupan di laut. Di dalamnya ada kebersamaan. Ada kerja sama yang dikukuhkan dalam tradisi. Salah satunya adalah menurunkan perahu ke laut. Foladomo. Prosesi ini melibatkan semua warga. Akan jadi salah satu ikon Tomalou Fest 2020

Foladomo - kearifan lokal yang terus dipelihara hingga kini. Ada simbiosis tak putus antara mereka yang ahli membuat perahu, tetua yang punya mantra, pemuka agama yang memohon ridho Tuhan pemilik semesta dan orang ramai yang bekerja sama mengangkat perahu – tola ka lao. Kearifan lokal adalah terjemahan dari “local genius” yang pertama kali diperkenalkan Quaritch Wales tahun 1948. Arti harfiahnya “kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada saat kedua kebudayaan itu bertemu”. 

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang secara eksplisit muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami. Karenanya Ia jadi sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Ia tidak personal tetapi kolektif. Mengikat semua. Pada saat yang sama Ia diimplementasikan secara sadar sebagai bagian dari merawat yang hidup. 

Inti dari foladomo adalah gotong royong. Taslim Marsaoly, tokoh masyarakat Tomalou menyebut tradisi gotong royong telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Saat orang orang muhajirin yang terdiri dari klan Marsaoly, Sero Sero, Konora dan Tauisa datang dari Jailolo (menurut Adnan Amal, mereka keluar akibat perang besar di Jailolo tahun 1200an), lalu klan Albanjar datang dari Kalimantan bersamaan dengan datangnya klan Wahdania – belakangan jadi Wada – juga datang dari Banten dan menetap bersama orang orang anshar – penduduk lokal yang terdiri dari dua klan ; Gamsoro dan Tamkoa, ada transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berlangsung secara damai. 

Klan Gamsoro dan Tamkoa mengajarkan kehidupan kontinental yang berkelindan dengan tanah, hutan dan tanaman yang memberi hidup. Mereka juga memberi ruang hidup di pesisir bagi orang-orang muhajirin itu. Dan para tetamu yang datang lalu berbagi tentang pengetahuan laut dan kehidupan yang ditawarkan tanpa batas. Asimilasi dua gelombang budaya ini tak pernah memicu konflik. Saya menduga karena ada sebuah “pertemuan” yang universal. Yang mengajarkan keadilan dan persamaan. Dan dibalik yang universal itu, ada hakikat yang dipertautkan dalam keyakinan bahwa semesta ini ada pemilikNya. Mereka orang orang yang datang dan yang menetap itu dipersaudarakan dalam Islam.

Seiring perputaran waktu, perkawinan antar klan makin menguatkan relasi sosial. Hanya di Tomalou, kita mengenal Rukun Keluarga. Tak ada Rukun Tetangga atau Rukun Warga produk orde baru. Karena sejatinya mereka yang datang dan yang menetap telah menjadi “keluarga” sejak ratusan tahun lalu. Pertalian kekerabatan inilah yang jadi modal sosial untuk menggerakan seluruh warga ketika kampung nelayan itu butuh stimulan bersama untuk membangun.

Di daerah lain, kita akrab dengan tradisi gotong royong meski lamat lamat yang bergotong tak lagi sebanyak yang royong. Di Tidore, lazim disebut babari. Menurut Taslim, orang Tomalou memiliki nama lokal untuk gotong royong. Untuk hajatan keluarga yang berduka atau kawinan, kata babari umum digunakan. Namun jika kerja bersama ini skalanya luas dan berkaitan dengan aspek fisik, penyebutan yang tepat adalah cou. Dalam cou, tak ada perbedaan kelas. Semua yang laki dan perempuan terlibat tanpa kecuali. Ada dimensi humanistik dan Ilahiah karena diujung cou pasti ada kegembiraan yang dirayakan dalam syukur. 

Salah satu tradisi cou yang paling diingat adalah pembangunan mesjid besar di kampung nelayan itu. Ketika orang-orang muhajirin datang sambil berbagi ajaran Islam, mesjid lalu didirikan. Tak ada tahun pasti kapan mesjid tua itu berdiri. Baru pada tahun 1979 - 1982, mesjid itu direnovasi menjadi dua lantai untuk menampung jamaah yang makin banyak. Dari dokumen yang saya dapat, total biaya pembangunan mesjid desa Tomalou kecamatan Tidore Halmahera Tengah itu sebesar 110 juta rupiah. Presiden Soeharto memberi bantuan sebesar 15 juta rupiah. Lalu ada juga bantuan dari Pemda tingkat I Maluku sebesar 250 ribu rupiah. 

Dari mana sisa biaya pembangunan?. Masyarakat tomalou yang mayoritas nelayan itu ternyata berswadaya menyumbang Rp. 94.750.000,-. Nyaris mencapai 90 persen dari seluruh biaya. Cou hadir dalam pembangunan ini. Tak hanya saat mengumpulkan uang, masyarakat tua-muda, laki-perempuan, anak-anak semuanya terlibat. Cou terdokumentasi dari banyak foto hitam putih yang saya dapat saat pembangunan mesjid dilaksanakan. Sebuah transformasi budaya yang tak berubah dan tetap ada hingga kini.

Di era milenial, cou tenyata terus dirawat. Menurut Abdullah Dahlan, tahun lalu, anak-anak muda Tomalou menginisiasi sebuah gerakan bersama untuk membeli alat berat. Ada pengunguman usai shalat di mesjid, lalu pesan berantai beredar lewat media sosial. Seluruh warga diminta menyumbang tanpa ditentukan nominalnya. Dari hasil urunan itu, anak-anak muda itu akhirnya bisa membeli sebuah excavator. Berapa harganya?. 2 milyar rupiah!.  Tak hanya itu, pada 2016, warga secara swadaya juga membuat jalan aspal sepanjang dua kilometer di bagian “belakang” kampung itu. Banyak tanah warga dihibahkan, tenaga dan dana dikucurkan cuma-cuma. Cou kembali jadi mata air kemanusiaan yang tak lekang digerus kemajuan zaman.

Pada landskap ini, tesis Harari dan Marx yang mengkhawatirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi akan meretas kemanusian dan relasi sosialnya menjadi terbantahkan. Di Tomalou, cou berdenyut sebagai pengingat peradaban. Ia adalah benteng yang perlu dirawat. Bukan saja dalam ingatan tetapi juga dalam laku. Sebagaimana yang akan dilafazkan dalam dolabololo pembuka festival kampung nelayan nanti ; oti simore ma belo, kona e sari yo lupa ma lolonga. 
 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca