× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Diplomasi Catur Abdullah Petrana

Dakwah Muhammadiyah dan Pergerakan Merdeka

Direktur LSM RORANO
Diplomasi Catur Abdullah Petrana
Abdullah Muthalib Petrana/Dok. keluarga

11/01/2020 · 5 Menit Baca

Belum terlacak dari mana asal permainan catur yang baru-baru ini diharamkan beberapa ulama. Yang pasti catur telah menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban Islam. Mereka yang menyukai catur termasuk pendiri dinasti Ayyubiyah ; Salahuddin al-Ayyubi dan para khalifah dinasti Abbasiyah seperti  Harun al-Rashid, al-Mu'tadid, Mu’tafi, Muqtadir, al-Mutawwakil dan al-Radli.

Abu Bakar Muḥammad bin Yaḥya bin al-Abbas al-Ṣuli adalah bapak catur dunia, strateginya yang dikenal dengan “al-Suli’s Diamond” baru bisa dipecahkan seribu tahun berikutnya. Ilmuwan Islam yang hidup pada 870-948 M itu konon mengalahkan al-Mawardi saat bermain catur di Istana Khalifah al-Mu’tafi. Dia adalah mentor catur dan penulisan sastra tiga khalifah Abbasiyah: Mu’tafi, Muqtadir, dan al-Radli.

Kitab-kitab catur yang ditulis al-Suli; al-Shiṭranj al-Nasḥa al-Awala (catur naskah pertama) dan al-Shiṭranj al-Nasḥa ath-Thania (catur naskah kedua) menjadi rujukan kitab-kitab catur yang ditulis para ilmuwan Islam berikutnya. al-Adli menulis kitab al-Shiṭranj dan  kitab Al-Nard wa Isbabha wa-al-La'ab biha; al-Razi menulis kitab latif fi al- Shiṭranj; Abu-Faraj Muḥammad bin Ubaidillah menulis kitab Manṣubat al-Shiṭranj, dan lain-lain. Kitab-kitab catur itu yang kemudian ditularkan dinasti-dinasti Islam di Eropa kepada masyarakat di sana.

Lalu catur berkembang kemana mana. Bahkan hingga ke Ternate. Tak jelas kapan catur datang dan jadi permainan rakyat. Yang pasti catur memiliki sejarah sendiri. Bertaut erat dengan pergerakan lepas dari jajahan Belanda. Bahkan beberapa tokoh pergerakan yang juga aktivis Islam menjadikan catur sebagai bagian dari “yang menyatukan”. Fernando Arrabal menyebut, dalam catur yang paling penting bukan raja dan ratu, tetapi bidak bidak.

Mungkin ini yang menginsiprasi Abdullah Muthalib Petrana saat menyediakan kediamannya yang sederhana di tengah perkampungan - kampung Makassar - sebagai “rumah catur”. Di tempat inilah, puluhan aktivis pergerakan datang bertamu sekalian bermain catur. Kampung Makassar saat itu memang jadi pusat pergerakan. Hampir saban malam dilakukan pertemuan. Tak elitis karena siapa saja bisa bergabung. Semua diskusi berlangsung egaliter. Kemajuan Islam dan tuntutan Indonesia merdeka jadi episentrum.

Muhammad Buamona, cucu marinir asal Ternate yang terlibat pemberontakan kapal Zeven Provincien milik Belanda pada tahun 1933 bercerita, kakeknya - Mahmud Haji Ali yang lebih dikenal sebagai Haji Ngade – sering terlibat diskusi itu. Tempatnya selain di rumah Abdullah atau Adnan Amal, terkadang juga di mesjid Muhammadiyah. Acapkali diskusi berlangsung panas hingga bubar tanpa kata sepakat. Besoknya, mereka yang “berdebat” tadi akan saling mendatangi sambil membawa papan catur. Lalu bermain catur sambil mencari solusi. Sepakat. “mendahulukan kepentingan bidak bidak”. Guyub demi umat dan bangsa.

Cerita yang sama dituturkan oleh Ilham Petrana. Putera dari Abdullah ini  mengakui jika rumah mereka jadi bandar pertemuan para aktivis di awal 1930an. Bermain catur jadi semacam kamuflase. Menghindari “radar” Belanda. Di selanya ada diskusi serius bagaimana Indonesia merdeka. Bagaimana Islam berkembang sebagai rahmatan lil alamin. Salah satu caranya dengan membangun sekolah. Rakyat harus cerdas. Jejaring pergerakan juga diperluas. Koran pribumi diterbitkan. Harus ada organisasi yang mengatur. Dakwah mesti diintensifkan. Lalu Muhammadiyah hadir.

M. Adnan Amal dalam buku “Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950” menyebut ; Muhammadiyah masuk di Ternate tahun 1933. Mereka yang diberi mandat sebagai pimpinan antara lain Abdullah Muthalib Petrana, Arifin Patty, Ibrahim Tolangara dan Luth Haji Ibrahim. Abdullah adalah ketua pertama. Arifin Patty belakangan mengelola sekolah BAPMAN yang didirikan Muhammadiyah. Ia juga tercatat sebagai kepala sekolah Kenari Tinggi (Sekolah Rakyat). Ibrahim dan Luth membantu Abdullah mengembangkan Muhammadiyah. Mereka bekerja dengan hati. Saya mencoba menyusuri jejak para tokoh ini. Hanya Abdullah yang memiliki keluarga untuk dikonfirmasi.

Lahir di Ternate tahun 1912, Abdullah adalah putra dari pasangan mualaf asal Sanger. Orang tuanya datang ke pulau Makian untuk keperluan dagang lalu menetap. Mereka kemudian memutuskan masuk Islam dan belajar “ilmu agama” di Soa Siu Tidore sebelum menetap di Ternate. Sejak awal, jejak keluarga ini bertaut erat dengan pergerakan nasionalisme. Abdullah adalah “murid” Oom Sau – sapaan pribumi AM Kamarudin. Kakak perempuan Abdullah diketahui menikah dengan Sabtu Mataoga, tokoh pendidikan yang tewas ditembak hulp tropen bersama Botji Hasan Esa.

Abdullah sendiri tak sempat menamatkan Sekolah Rakyat. Ia kemudian berguru ke beberapa tokoh. Salah satunya adalah Bahrun Sultany, seorang guru yang ditugaskan Muhammadiyah Jogja untuk memperkuat pengembangan organisasi ini di Maluku Utara. Sejak kecil, Abdullah sangat gemar membaca. Ia menguasai bahasa arab. Karena itu, bacaanya juga termasuk kitab kitab beraksara gundul. Muhammad Abduh, reformis Islam asal Mesir jadi patron imajiner.

Pemikiran Abduh menggunakan pendekatan humanis terhadap Islam dan perasaan persatuan Islam. Ia memahami Islam sebagai agama sosial yang memadukan kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Dalam Risalah At Tauhid, Abduh mengisyaratkan kemajuan Islam harus berbanding lurus dengan penguasaan ilmu sains. Tak hanya melulu belajar ilmu agama. Landskap inilah yang dipeluk erat Abdullah saat mengembangkan Muhammadiyah sebagai pusat dakwah dan pendidikan di Ternate.

Kasman Hi. Ahmad, tokoh Muhammadiyah yang sempat menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara bertutur, saat itu ; Muhammadiyah memang merangkul semua aktivis Islam. Mereka tak membedakan latar belakang. Ada Al Irsyad, Alkhairaat, HMI, Nahdlatul Ulama dan banyak lagi. Kajian lintas ilmu rutin dilaksanakan. Kelompok kajiannnya bernama “Shiratul Mustaqim”. Mengutamakan diskusi. Lintas ilmu. Mulai dari fiqih ibadah, jinayah, munakahat, siyasah hingga ilmu tauhid, aqidah dan tasawuf. Mereka juga rutin menyebar gagasan merdeka. Untuk gagasan “merdeka”, tak hanya kalangan Islam, orang orang Kristen, China dan komunitas lainnya juga diajak.

Menurut Kasman, Muhammadiyah cepat berkembang karena “rajin turun ke bawah”. Tak jarang, untuk memperkuat dakwah, mereka mendatangi satu kawasan yang dianggap “rawan”. Kerja ini jadi ringan karena semua bergerak bersama. Posisi Abdullah yang juga Kepala Kampung leter A1 – belum ada wilayah desa dan kelurahan saat itu – yang membawahi Kampung Makassar sangat membantu. Dialog diutamakan. Kemashlahatan umat adalah prioritas. Bermain catur jadi selingan.

Abdullah pula yang menginisiasi pembangunan mesjid di batas barat kampungnya. Dengan katu dan gaba-gaba, penanda syiar Islam ini didirikan. Sekarang kita melihatnya sebagai mesjid Ngidi yang megah di perempatan menuju Gamayou. Meski begitu, pusat gerakan tetap di mesjid Muhammadiyah. Tak hanya jadi tempat kajian, beberapa organisasi pemuda Islam juga bermarkas di mesjid itu. Terbuka dan aspiratif.

Usai Indonesia merdeka, Abdullah tetap bergerak mengembangkan Muhammadiyah. Ia memilih jalan sunyi sebagai tukang jahit. Sangat terkenal karena kualitas jahitannya mumpuni. Saat itu,  hampir semua pakaian dinas Bupati MS Djahir dan beberapa pejabat militer dijahitnya.  Sebenarnya banyak tawaran yang datang untuk menjadi politisi atau pesohor lainnya namun Ia menampik.  Hidup baginya adalah kemuliaan yang dinikmati apa adanya. Di tengah kesederhanaan, Ia justru menemukan kebenaran hidup. Sebagaimana KH Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah sering memberi pengingat. jangan takut melawan hawa nafsu dan kebatilan karena itu adalah jalan hidup orang Islam.

Bagi saya, sosok ini adalah kepingan sejarah ber-Muhammadiyah di Maluku Utara yang mesti ditulis ulang jejaknya. Bukan untuk dipamerkan tetapi dimanifestasikan sebagai ideologi akal sehat untuk melawan kemujudan iman dan pikiran. Kita terlalu sering merasionalisasi kepercayaan kepada yang Kuasa. Tetapi di sisi seberang, kita memiliki ego untuk berkuasa jauh melebihi yang pantas. Merampas wilayah Tuhan dengan “T”. Kita ada di era ketika ketidakpedulian terus jadi pemenang. Yang menyatukan makin tereliminasi.

Saat berpulang menghadap Allah SWT, 5 Januari 1993, Abdullah sebagaimana Sang Pendiri meyakini Muhammadiyah dan rumah besar Indonesia akan terus berkembang. Maju dan melahirkan banyak orang hebat. Tetapi apakah mereka yang hebat itu akan “pulang”. Kembali mengabdi membesarkan yang dulu menjadikan mereka besar?. Pulang tak sekedar imajinasi fisik. Ia lebih pada konsistensi untuk terus belajar tentang Islam dan ke-Indonesiaan. Meneguhkan sikap menolak ketidakpedulian, egoisme, peniadaan, rasa takut dan amnesia sejarah. Muaranya ada Islam berkemajuan yang mencerahkan keadaban.

 

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca