× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Najib Alkatiri

Komika pertama di luar Jawa.

Direktur LSM RORANO
Najib Alkatiri
Najib Alkatiri. Foto: Istimewa.

17/01/2020 · 15 Menit Baca

Laki Laki kurus itu lewati zebra cross bergaris hitam putih. Konon hitam sebagai tanda kaki menapak. Putih mesti dilangkahi. Biar tidak cepat kotor. Maklum anggaran mengecatnya sudah lama dicoret. Sekumpulan anak muda meriung di tepi jalan. “Naji ini su jam berapa?" Sambil berlalu, yang ditanya menjawab santai, “Kurang lima lewat sepuluh”. What? Cerita humor saat itu memang murah meriah. Jadi santapan kolektif warga tanpa potong pajak. Tumpah di jalanan, pesta, pasar malam, pameran pembangunan, kampanye hingga pertandingan tinju. Goenawan Mohamad menyebut, humor selalu menunjukan kebebasan. Orang ramai tak terkungkung.  Tertawa lepas bersama.

Generasi yang beredar dekade 80-an hingga 90-an pasti akrab dengan sosok ini. Tua-muda, perempuan-laki, anak-anak tertawa bersama. Nama panggungnya Naji. Lengkapnya Najib Alkatiri. Murni Arab tanpa campuran. Lahir di Ternate, “mungkin” pada tahun 1938. Naji adalah putra ketiga dari delapan bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di Toboko, sebuah pemukiman multi etnis di bagian selatan Kota Ternate. Dulu, kawasan ini jadi batas kota. Tak bersekolah. Belajar secara otodidak. Adik kandungnya, Eci Alkatiri bercerita, Naji tumbuh secara normal seperti anak-anak kebanyakan. Tak ada “tanda” Ia akan jadi pelawak terkenal. 

“Kami keluarga sederhana yang besar dengan cinta Abah dan Ummi,” aku Eci. Sang Abah, Ghaleb Alkatiri, adalah tokoh agama. Hidupnya serius. Makanya, Eci mengaku tak tahu dari mana Naji belajar melawak. Di rumah mereka, Naji tak pernah membaca. Ia hanya kedapatan sesekali menulis puisi atau lirik lagu. Naji mulai “aneh” dengan joke-joke humoris dan sifat “manakalnya” saat beranjak remaja. “Korban” nya selalu orang rumah. 

Pernah sekali, rumah mereka kedatangan tamu dari Desa Tataleka di Halmahera. Tetamu jauh itu membawa banyak “katu” (rumbia, digunakan sebagai atap rumah) pesanan Abah. Naji yang kebetulan berada di depan menyambut. Basa-basi sebentar, Naji lalu mempersilakan sang tamu menunggu. Sebelum masuk memanggil Abahnya, Ia berpesan agar si tamu bicara “keras” karena telinga Abahnya tak lagi normal. Saat menemui Abah yang lagi mengaji, Naji berpesan, “Abah, ada orang datang bawa katu. Dong mau bakudapa. Tapi paitua pe talinga pongo. Abah bicara musti kuat kuat.”pesan Naji. Lalu Abah dan tamu saling berteriak di ruang tamu yang sempit itu. Umminya yang lagi memasak “kebuli” harus datang melerai.

Di lain waktu, saat Ummi terbaring sakit, Naji yang pulang rumah membawa oleh-oleh. “Ummi, ini Naji ada bawa dalampa” (sejenis lemper-dibungkus daun pisang). Ummi yang tak bisa bangkit dari ranjang hanya melirik. Saat Eci pulang sekolah, Ummi pun memintanya untuk memakan oleh-oleh itu. Maklum Eci juga anak kesayangan Ummi. Eci yang kelaparan melihat “dalampa” itu sudah dikerubuti semut. Karena lapar, ia bergegas membukanya. Alamak! Isinya ternyata sepotong kaki kambing mentah sisa hewan qurban. Ummi hanya bisa menarik nafas panjang. “Ajib” kata Eci.

Kejadian seperti ini berulang kali terjadi. Mungkin ini bagian dari “proses belajar” Naji sebelum go public. Masa itu, melawak belum jadi sesuatu yang dipentaskan. Apalagi lawakan seorang diri. Tetapi Naji berani memulainya. Ia sendirian. Jadilah Ia pelawak tunggal yang pertama mentas di luar Pulau Jawa. Sebelumnya di tahun 1953, lawakan tunggal diperkenalkan oleh Bing Slamet. Empat tahun kemudian muncul Eddy Sud, S. Bagyo dan Ishak. Di Bandung, nama Us Us juga mulai memikat publik. 

Perjalanan lawakan tunggal tak lama, Bing Slamet memutuskan membentuk grup Los Gilos bersama Mang Cepot dan Mang Udet. Lalu S. Bagyo dkk juga membentuk grup lawak. Lawakan tunggal hilang ditelan "ledakan" grup lawak seperti Srimulat hingga Warkopnya Dono, Kasino dan Indro yang bahkan merambah dunia film. Baru di awal tahun 2004, Taufik Savalas mencoba lagi genre ini dengan mentas secara rutin di Comedy Café yang dimiliki Ramon Papana. Sayangnya, respons publik belum meriah. 

Lalu muncullah nama-nama Ernest Prakasa dan Ryan Andriandhy yang belakangan mengajak Pandji Pragiwaksosno. Ada juga nama Raditya Dika. Mereka memulainya dari café ke café di Jakarta dan Bandung hingga tampil di Tv. Lawakan tunggal “terlahir” kembali. Lebih milenial. Kita mengenalnya sebagai stand up comedy. Ini salah satu genre melawak dimana pelawaknya tampil seorang diri, langsung dan biasanya monolog. Orang yang melakukan stand up comedy disebut comic.

Stand up comedy punya banyak aliran. Tapi sumbunya tetap pada joke atau lelucon, dagelan dan gagarap. Saat comic tampil biasanya dimodifikasi dalam dua frame. Set up adalah bagian pertama - berisi cerita, informasi - yang menyiapkan tawa. Lalu dirangkai dengan punch line atau bagian kedua yang berisi tawa.

Tekhnik dalam stand up comedy umumnya terdiri dari beberapa poin yang kadang disesuaikan oleh comic. Lazimnya dibagi dua kategori besar. Memakai kata dan satunya lagi dengan menambah beberapa variasi. Naji terbiasa menggunakan beberapa tekhnik yang simpel. Kekuatannya ada pada kata. Ada realisme sosial yang diungkap. Mengalir tanpa rekayasa.

Ada tekhnik one liner dimana comic; memulainya dengan bit (lelucon dasar-joke) singkat yang terdiri dari satu sampai tiga kalimat yang secepatnya bisa memancing tawa. 

Orang curhat pa Naji, ”tong kalo su minum kopi akan tra bisa tidor”
Naji jawab : saya lagi, kalo su tidor su tra bisa minum kopi”.

Lalu ada call back yang biasanya menggunakan punch line pada bit pertama dan diulang lagi pada bit selanjutnya. Dalam banyak bit yang sering digunakan, Naji selalu menceritakan dirinya sebagai subyek. Kadang Ia menertawakan dirinya dalam relasi dengan keluarga. 

Abah: “Naji e ngana ne tiap malam pulang mabo baru baribut dalam rumah, lebae ngana angka kopor konk kaluar dari rumah!
Naji: “Abah kalo su tra sanang deng saya lebae abah angka rumah konk kase tinggal kopor deng saya saja".

Ada juga tekhnik rule of three dengan menggunakan dua kalimat awal sebagai set up, satu kalimat akhir sebagai punch line. Dalam banyak “penampilan”, kata-kata Naji yang memeluk kalimat humor selalu berujung gembira. Renyah tanpa kesumat.

Naji dengan anak hendak ke terminal, mereka menghentikan angkot.
Naji   : ka atas terminal bayar barapa?
Sopir : limaratus.
Naji   : kalo ana kacil?
Sopir : gratis Aba.
Naji   : kalo bagitu saya titip saya pe ana sampe terminal, nanti saya bajalang kaki ka atas palang palang.

Selain tekhnik yang berpusat pada bangunan kata demi kata di atas, stand up comedy juga jamak menggunakan beberapa tekhnik pendukung seperti ; cat out - menunjukan gerakan yang mudah diperagakan dan selalu berhasil memancing tawa, impersonation atau peniruan gaya bicara, gerak tubuh atau kata khas “tokoh”, comparisons – tekhnik penyampaian joke dengan melakukan dua perbandingan, riffing dimana comic mengajak penonton terlibat untuk berinteraksi hingga tekhnik gimmick, roasting atau heckler – si pengganggu dalam pementasan.

Yang membedakan Naji dengan stand up comedy kekinian adalah soal panggung. Jika saat ini, panggung diset mirip tempat raja bertahta ; ada mike tunggal, warna warni, sorot lampu, make up comic hingga durasi bicara, Naji memulai stand up comedynya nyaris tak terikat pada tempat. Panggung Naji kadang di jalanan, leger, pesta kawinan, ring tinju atau podium kampanye. Tanpa pengeras suara dan efek lighting. Jangan pula ditanya soal tata rias. Serba apa adanya. Kadang cafarune pula. Tapi kemasyhurannya tak sepi. Ia tak hanya popular di Ternate. Dari Utara Halmahera hingga ujung tanjong dan hol-hol di Sula, nama Naji dengan segala jokenya sangat familiar. 

Banyak di antara kita yang punya romantisme tentang Naji. Ia sering menggunakan kaos kaki dengan warna berbeda - kuning dan hijau, sering mencukur “sebelah” kumisnya, atau membuat rambutnya mirip beringin saat mentas dalam kampanye untuk salah satu partai. Joke-joke Naji selalu ajek. Lebih banyak menarasikan dirinya yang diwakili “saya”. Meski begitu, sebuah humor tak bisa seluruhnya bersandar pada alam fantasi. Humor harus membumi. Ia menggelikan karena jadi bagian dari hidup kita. Naji sangat pintar mengumbarnya sebagai satire ataupun parodi.

Satire bisa dibaca lewat jokenya yang meniru lakon hidup. Ada hasrat bicara tetang kebodohan, kegetiran, ketamakan, sikap culas, ketidakadilan atau hal-hal yang tak diharapkan terjadi berulang dalam hidup.  

Naji: Korma..kormaa..kormaa,
Pembeli: korma berapa satu tampa Naji?
Naji: sepuluh ribu Oom.
Pembeli: bisa kurang?
Naji: bisa, nanti saya kase kurang kormanya. 

Kita tertawa tapi dalam kecut. Naji mengingatkan sifat dasar manusia yang cenderung mengambil untung secara personal. Tak pernah ada dibatas untuk bersyukur. Selalu menginginkan sesuatu yang berlimpah tetapi irit dalam melakukan kebaikan.

Dalam banyak penampilannya, Naji juga melakonkan parodi. Cenderung nakal, langsung ke sasaran, tanpa basa basi. Di dalamnya ada sifat humor yang mendasar. Saat tampil dalam sebuah pentas pameran di lapangan Ngara Lamo pertengahan 1996, Naji membacakan sebuah puisi berjudul: “Batu”.

Kau adalah batu
Jika dicampur dengan semen dan pasir jadilah batu batako
Batu..
Jika kau merasuki otak pemuda pemudi
Jadilah kepala batu..

Naji tak mengekor siapapun. Narasi humornya selalu berkelindan dengan hidup keseharian. Cerdas mengajak orang tertawa. Dia enteng menertawakan dirinya sebagai “wakil” kita. Karena itu, dalam jokenya ada tertawa untuk “kami” dan juga “kita”. Saat membaca tulisan ini, anda juga pasti tertawa. Sejatinya saat itu kita sedang tertawa bersamaan dengan mereka yang membaca. Humor selalu menyatukan yang membuat dan yang menikmati. Melintas waktu dan tempat. “Sebuah hari tanpa tertawa adalah hari yang tidak berguna,” kata Charlie Chaplin. 

Dalam skala yang sedikit mendunia, Naji dengan segala paradoksalnya mungkin bisa disamakan dengan Nasruddin Hoja. Filsuf legendaris yang hidup di Turki pertengahan abad 13 ini dikenal sederhana dan bijak. Ia selalu melontarkan pernyataan penuh humor namun mengandung perenungan yang dalam. Hoja sering menertawakan dirinya mewakili “kelucuan hidup” orang lain. Naji mungkin juga bisa disandingkan dengan Don Quixote, yang kini menjadi Den Kisot - diperkenalkan oleh Goenawan Mohamad bersama Teater Bonekanya. 

Mentas di Benteng Orange Ternate dan juga Tidore, akhir Desember kemarin, Don Quixote adalah karya Miguel de Cervantes (1547-1616) yang sudah berusia 400 tahun lebih. Saking lucunya, siapa yang membaca novelnya pasti tertawa. Menertawakan diri sendiri juga. Alkisah, melihat seorang mahasiswa tertawa sendiri tak henti-hentinya, Raja Spanyol, Felipe III (1578-1621) menyimpulkan pemuda itu hilang ingatan atau sedang membaca Don Quixote. Pada saat yang sama, ketika menonton pentas itu, ingatan kolektif kita seperti merindukan sosok Naji. Ketika meninggal pada 14 Agustus 2008, tak banyak orang yang datang memberi hormat. Meski Naji tak juga berharap ada “penghormatan” untuknya. 

Namun inspirasi kebaikan lewat kelucuannnya jangan sampai terpenjara pada masa lalu. Jangan sampai kita “berubah” jadi cyborg. Manusia mesin yang hanya mengingat apa yang diprogram. Tak punya nyinga. Hidup hedonis, penuh ego, cenderung merasa benar sendiri dan membangun tembok pembatas. Kemanusiaan jadi bising dan sumpek. Jika sebuah masa lalu dihapus, lenyaplah semua kebaikan yang menyertainya. Karl Marx, filsuf Jerman memberi sebuah pengingat. “Orang-orang yang membuat anda tertawa, yang membantu ketika anda kesulitan. Orang- orang yang benar-benar peduli, mereka adalah orang yang layak disimpan dalam hidup anda. Orang lain hanya lewat”. Dengan ini kita mengenang Najib Alkatiri dalam sepucuk doa.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca