× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OPINI

Delay

Ternyata mesin imigrasi juga bisa delay. Entah propagasi atau transmission delay.

Direktur LSM RORANO
Delay
dokumentasi pribadi

23/01/2020 · 5 Menit Baca

Harapan selalu memaksa kita ke arah yang abu-abu. Kadang buncah tapi juga acapkali suram. Kita punya lubang. Masih bolong dan bisa diterobos apa saja. Bolong itu berarti belum berbentuk - sebuah penanda yang kosong. Saat yang menggerakan begitu menjanjikan mengisi yang kosong, kita girang menyambut, entah ujungnya berbinar atau padam menghitam. Harapan ada di batas yang sangat tipis antara kegembiraan dan ketakutan. Ia sosok yang ambigu. Tak pernah pasti.

Saat Kementerian yang mengurus kesehatan mengumumkan telah memasang ratusan thermal scanner di pintu kedatangan bandara yang melayani rute internasional, kita mestinya yakin tak ada lagi yang "bolong". WHO belum meniup peluit tanda berlakunya public health emergency of international concern tapi kewaspadaan kudu meningkat. Adalah virus corona yang jadi alasan. Bermula di kota Wuhan, corona sudah menyakiti lebih dari 400 orang dan puluhan tercatat meninggal.

Virus ini semula berpindah antar hewan saja, namun belakangan menjangkiti manusia. Lalu perpindahan virus sesama manusia jadi wabah. Corona mirip pneumonia yang menyerang jaringan paru paru. Lewat batuk, bersin atau bahkan jabat tangan, virus ini bisa berpindah. Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Vietnam dan Singapura sudah melapor. Ada warga yang sakit corona. Ancaman mematikan membayang. Kita punya tiga puluhan penerbangan langsung dari China ke Indonesia. Tak kurang 5000an orang masuk setiap hari.

Mungkinkah perpindahan virus yang diduga mengikuti pergerakan manusia ini bisa didelay – ditunda, dilambatkan. Kata delay jamak dipakai dalam dunia penerbangan. Biasanya untuk menunjukan keterlambatan bergeraknya sebuah pesawat untuk terbang sesuai jadwal atau juga kedatangan pesawat yang melebihi waktu yang telah ditetapkan. Alasannya beragam. Mulai dari cuaca hingga kesiapan tekhnis pesawat. Jika delay terjadi, efeknya seperti domino runtuh. Saling mempengaruhi aktifitas yang lain. Carut marut.

Ada meeting yang dibatalkan, perjumpaan yang tertunda, waktu tidur yang berkurang, emosi, letih bercampur dengan sikap pasrah. Tak ada toleransi hati. Delay adalah mutlak. Ia berbeda dengan keterlambatan. Korbannya pasti yang terlambat itu karena pesawat tak mungkin menunggu. Delay tak punya tersangka. Di ruang ini, kapitalisme menunjukan wajah sangar. Terlambat berujung pembatalan tiket tanpa basa-basi. Jika menunda atau memperlambat jadi subyek, gantinya hanya sekotak nasi atau penginapan murah di dekat bandara.

Di era ketika informasi tekhnologi jadi hakim, manusia belum sepenuhnya sadar bahwa ada kemudahan dan juga ancaman yang saling bertaut. Kita dihadapkan dengan disparitas sosial yang semakin lebar. Dulu saat revolusi industri pertama, mesin-mesin digunakan sebagai pengganti otot manusia. Saat ini mesin-mesin itu punya kemampuan kognitif. Cerdas dan responsif. Kita mesti menerima kemungkinan bahwa keterampilan hidup manusia akan tampak tak berguna dihadapan kecerdasan buatan. Lahirlah disrupsi. Kata Yuval Harari; kemanusiaan diretas.

Lalu lahirlah kelas baru yakni orang-orang tak berguna (useless people) yang akan berhadapan dengan segelintir elit super - homo deus - yang menguasai ekonomi dan politik lewat monopoli data. Akan muncul kekacauan akibat perebutan ruang hidup. Solusinya menurut Harari adalah dengan mengatur kepemilikan aliran data  agar kekuasaan dan kekayaan tak terkonsentrasi di tangan segelintir elit.

Tentang monopoli data, Indonesia hari ini sedang berada di fase yang sama dengan tesis Harari. Dalam kasus operasi tangkap tangan (OTT) komisioner Komisi Pemilihan Umum, Wahyu Setiawan, aliran data yang berisi informasi publik ternyata disembunyikan secara terstruktur. Wahyu ditangkap bersama beberapa orang pada tanggal 8 Januari 2020. Ia diduga menerima suap terkait usulan pergantian anggota DPR dari partai berlambang banteng. Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini KPK hanya menangkap yang menerima. Yang diduga memberi – calon anggota DPR dari PDI Perjuangan itu lolos.

Namanya Hasan Masiku. Sudah terlambat membincangkan mengapa Hasan tiba tiba jadi pewaris kursi lowong itu padahal Ia bukan pemenang. Yang menarik adalah kegaduhan terkait dimana posisi Hasan ketika itu. KPK menyebut Hasan tak ada saat OTT berlangsung. Lalu seorang juru bicara Imigrasi menyebut Hasan “tercatat” meninggalkan Indonesia 6 Januari. Destinasinya Singapura. Data Hasan terekam jelas di mesin imigrasi dan belum balik ke tanah air. Kata juru bicara ini diperkuat pula oleh titah Menteri Hukum Yasona Laoly. Hasan tak ada di Jakarta saat Wahyu ditangkap. Clear.

KPK lalu bikin gebrakan, untuk pertama kalinya meminta Hasan yang gagal tangkap - yang statusnya jadi mirip Bang Thoyib “yang tak pulang pulang itu” segera sadar dan pulang rumah. Polisi masukkan Ia ke daftar pencarian. Masyarakat diminta membantu. Monopoli informasi berbasis data ini membuat kita percaya. Meski berlubang, ada harapan Hasan bisa diringkus agar perkara ini terang benderang. Ada penerima pasti ada pemberi. Impossible ada bau kentut tanpa ada orang yang kentut.

Lalu kabar kabur Bang Thoyib ini diganti viralnya berita Keraton Agung Sejagad dan Sunda Empire yang ecek ecek itu. Orang orang itu yang berpakaian mirip pasukan kerajaan muncul bergantian di layar tv dan jadi headline media tulis. Orang ramai lupa Hasan Masiku. Ia konon lebih sakti dari Agil Muchtar; Ketua Mahkamah Konstitusi, Irman Gusman; Ketua DPD atau Setya Novanto; Ketua DPR yang ditangkap itu. Belum lagi menteri, ketua partai, anggota DPR dan seratusan kepala daerah yang lebih dulu tertangkap tangan. Kita percaya Hasan masih di Singapura. Ajinya masih sakti.  

Hingga isteri Hasan membuat pengakuan, suaminya ada di Jakarta sehari sebelum KPK menggelar operasi. kabar terbaru, pihak Imigrasi Indonesia menjilat ludah sendiri dengan mengakui Hasan sudah di Jakarta sejak tanggal 7 Januari 2020. Kali ini yang bicara Dirjennya langsung, Ronnie Sompi. Mengapa Hasan tak terlacak saat kembali dengan Batik Air dari Changi Airport sore itu?. Dirjen Ronnie menyebut ada “delay” data di mesin pencatat sehingga masuknya Hasan "tidak terbaca". Selama ini para useless people berpikir delay itu hanya tentang pesawat terbang atau kapal laut di kampung mereka yang sering terlambat. Ternyata mesin imigrasi juga bisa delay. Entah propagasi atau transmission delay. Yang pasti ambyar.

Saya tiba tiba jadi ingat Nasruddin Hoja, Filsuf yang hidup di Turki abad 13 ini selalu punya cerita lucu. Penuh satire. Menertawakan kelucuan dirinya untuk mengingatkan orang lain bahwa hidup mereka “lebih lucu” karena dibuat-buat. Konon ada seorang datang menghadap Hoja dan bertanya. “Apakah kualitas utama yang dimiliki manusia?”. Hoja menjawab, “ Seorang filsuf pernah mengatakan padaku, ada dua keutamaan. Pertama, dia lupa. Tapi yang kedua Ia katakan padaku ; sayang sekali keutamaan kedua itu aku juga lupa”.

Lupa bisa jadi juga sementara dikuasai sepenuhnya oleh segelintir yang elit itu. Untuk mempertegas lupa, ia butuh tafsir yang dibandingkan. Mereka juga menolak lupa di ruang lain dengan menegakkan aturan yang seakan-akan mengatur, melambatkan aliran data.  Mungkin karena itu, seorang jurnalis Mongabay harus dipenjara karena diduga menyalahgunakan visa kunjungan. Dosanya adalah menghadiri sidang para wakil rakyat dengan aliansi masyarakat adat di Kalimantan. Defenisinya jadi meliput – melakukan kegiatan jurnalistik. Terlarang karena tak sesuai ijin. Dan Philip Jacobson yang seorang redaktur itu masih meringkuk di sel Palangkaraya.  Ia tak mengalami delay sebagaimana Hasan.

Pada titik ini, kebenaran jadi bias. Ia akan sulit mendapat tempat karena ada “penguasaan” yang tanpa batas. Yang menghambat akan disekap. Memberi jalan bebas bagi yang mendukung. Dengan kondisi yang misgiving ini bagaimana kita yakin virus corona akan terdeteksi di setiap pintu masuk jika seorang Hasan Masiku tak diketahui masuknya lewat bandara yang sama?. Ada keraguan yang goyah. Kita jadi ingat kata Milan Kundera, penulis terkenal asal Ceko dalam bukunya, The Book of Lougher and Forgetting: "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa". Dengan begitu, delay bukan cuma menunda atau melambatkan, bisa juga membohongi.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca