× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Ko Syam

Testimoni seorang murid.

Direktur LSM RORANO
Ko Syam
foto pribadi

27/01/2020 · 15 Menit Baca

1996, 26 February (Menata Kantor Kecil)

Syam, begitu putra Andili ini biasa disapa, selalu bermimpi suatu saat dirinya akan jadi Wali kota. Sebuah jabatan yang terasa tak akrab didengar dan kurang prestisius kala itu. Maklum, Ternate hanya ibukota dari kabupaten Maluku Utara dan baru dipromosi menjadi kota administratif pada awal tahun 80an. Tak ada wewenang penuh karena namanya administratif, semua tetek benget pemerintahan tak lebih dari sekedar mengurus kantor, tanpa rencana anggaran yang dibuat sendiri dan tak punya kekuasaan lain untuk menghidupi dirinya.

Toh, ketika dering telepon suatu siang di hari hari awal 1996 menghentikan aktifitas politiknya di Karang Panjang, tanpa berpikir dua kali Ia langsung menghadap Gubernur Maluku saat itu. “Ale akang Beta tunjuk jadi Wali Kota Ternate, tugas Ale cuma satu. Menangkan Golkar!”. Begitu ucapan yang terlontar dari HM Aqib Latuconsina. Bagi Syam, bukan soal untuk menangkan Golkar tapi keinginan untuk mendedikasikan dirinya bagi kesejahteraan dan martabat orang Ternatelah yang membulatkan keputusannya untuk meninggalkan Komisi D DPRD Maluku. Putera ketiga dari delapan bersaudara anak dari pasangan Haji Andili Salehe (kepala kampung Leter A2 - Santiong dan Kalumpang) dan Maimunah Maya ini adalah anggota DPRD Maluku periode 1992 – 1997.

Ini juga soal janji pribadi yang pernah diucapkannya ketika berpamitan dengan sang kakak Bahar Andili. Kepada Pa Guru - panggilan hormat ke kakaknya Bahar yang jadi mentor politiknya - Syam pernah berikrar untuk keluar dari birokrasi dan pindah ke Ambon jadi politisi dengan mimpi pulang lagi untuk jadi seorang pemimpin. Meskipun harus memulai dari sebuah kantor kecil nan sederhana di bilangan Kampung Pisang. Dilantik pada 26 Februari 1996, Syam cuma mengorganisir tak lebih dari 170an pegawai. Tanpa anggaran dan kewenangan lebih.

Tapi dari situlah mimpi untuk membangun Ternate dimulai. Naluri politiknya berkata, kota ini harus diperjuangkan jadi daerah otonom agar bisa mandiri dan survive. Mustahil bisa menentukan prioritas pembangunan dan strategi memenuhi kebutuhan publik jika anggaran hanya menunggu jatah dari Pemkab. Dimulailah serangkaian loby politik, membangun jaringan dan trust berdurasi tiga tahun untuk membentuk Ternate yang otonom. Hingga pemerintah Jakarta kemudian meningkatkan status Kota Administratif jadi Kota Madya pada April 2009. Syam kembali dipercaya pemerintah menjadi pejabat Walikota Madya Ternate sebagaimana dirinya yang berjuang biar Ternate jadi Kota.

Kami terbiasa memanggilnya Ko Syam. Di kalangan keluarga, Ia disapa sebagai Ko Manado karena lelaki kelahiran 8 November 1951 ini adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi. Beberapa orang dekat juga menyebutnya “Cebe”. Karirnya dimulai dari pegawai sukarela di kantor Bupati Maluku Utara. Dua tahun bekerja sukarela, Ko Syam baru diangkat sebagai pegawai negeri pada tahun 1978. Lalu Ia bergabung dengan Golkar. Darah aktivisnya yang matang dalam berHMI membuat Ko Syam tak pernah lepas dari organisasi. Ia memimpin KNPI Maluku Utara. Pertautan jejaring inilah yang meluaskan jalannya menjadi pemimpin. Ko Syam mengakui Ia besar karena HMI, KNPI dan Golkar. Ia juga ada dan berjuang saat rakyat minta daerah ini jadi provinsi sendiri lepas dari Maluku.

1999, 27 April (Membangun Persaudaraan Sejati)

Oleh banyak pemimpi, angka sembilan dipercaya sebagai angka keberuntungan. Karena itu banyak yang terhenyak ketika awal tahun 1999, konflik komunal antar warga sipil mengoyak kedamaian tanah Maluku. Rimbunan daun cengkeh dikotori darah dan sisa mesiu. Pela dan gandong tak lagi mujarab untuk mempersatukan rasa dan cinta. Ribuan tewas dan lebih banyak lagi yang eksodus atau pulang kampung meninggalkan Ambon yang membara.

Imbas langsung konflik ini semula hanya sepoian angin ke Maluku bagian Utara lalu berubah jadi badai. Ko Syam yang saat itu tengah berjuang menata pemerintahan baru langsung dihadapkan dengan ancaman serius. Aroma konflik sudah sejengkal dari kepala orang Ternate. Meski sibuk berkampanye menjaga perdamaian, kesumat konflik yang sudah terlanjur membuncah akhirnya pecah juga di Ternate dan selebihnya membakar sebagian besar Maluku Utara. Bayi Ternate yang otonom  - diresmikan tanggal 27 April 1999 - langsung kehilangan segalanya. Banyak infrastruktur kota yang hancur. Solidaritas sosial dan kerukunan beragama warga terkoyak. Indikator pertumbuhan ekonomi menukik hingga ke titik minus. Tak ada hidup.

Semuanya berawal dari beredarnya sebuah dokumen penuh purbasyangka “Sosol Berdarah”. Pertengah Agustus 1999. Lalu 24 Oktober tahun itu, rusuh pecah dibatas Sosol dan Wangeotak. Ribuan warga Malifut memilih mengungsi. Tapi kemana?. Ko Syam didatangi beberapa tokoh Makian. Lalu tengah malam itu saat tanggal bergeser ke angka berikutnya, Ko Syam memerintah Kahar Taslim dan Wahab Ibrahim bergerak. Kahar saat itu Sekretaris Daerah diminta menghubungi pengelola SPBU agar membuka depot biar ada akses bahan bakar. ASDP juga dikontak. Saat feri penyeberangan ready, belasan truk sampah milik pemkot diseberangkan ke Sidangoli. Malam itu juga truk-truk itu mengangkut ribuan warga dan membawanya dari Malifut ke Sidangoli lalu diangkut feri ke Ternate.

Di Ternate, Ko Syam dengan dukungan warga mulai menyiapkan tempat pengungsian dan makanan untuk ribuan yang datang. Ternate sesak dengan pengungsi. Keikhlasan ini ternyata “dibisniskan” dengan tudingan jahat. Ko Syam dituduh sengaja mendatangkan orang Makian agar Ternate rusuh. Sebuah tuduhan yang tak manusiawi. Bagaimana membakar kotanya sendiri?. Saya pernah bertanya soal ini dan jawabnya mengutip kata Martin Luther King, Kita telah belajar terbang bagai burung, berenang di laut bagai ikan. Tapi belum belajar berjalan di bumi bagai saudara. Ini soal hati. Soal kemanusiaan

Bersama sejumlah tokoh agama dan masyarakat yang masih waras, Ko Syam kemudian berusaha memadamkan konflik. Tantangannya tak mudah karena rusuh lebih besar membakar kota ini akhir Desember di tahun yang sama. Ia menelepon Wali Kota Bitung saat itu Sinyo Sarundajang agar bersedia menampung saudara saudara Kristiani yang mengungsi. Ko Syam tak ingin Ternate jadi lokasi perang antar saudara. Konflik bergerak liar hingga muncullah istilah putih-kuning. Kepemimpinannya diuji. Saya ada bersama Ko Syam saat dirazia. Di tangkap. Dicemoh. Tapi Ia tak gentar. Pemimpin harus ada saat rakyat susah. “Jadi pemimpin itu tak boleh merasa pintar tapi harus pintar merasa”. Katanya berulang.

Setelah penetapan status darurat sipil, bara permusuhan mulai hilang. Ia kemudian mengajak warga untuk membangun “Persaudaran Sejati”. Sebuah istilah baru yang belakangan sangat populer di setiap pertemuan warga maupun saat ibadah di mesjid ataupun gereja. Persaudaraan sejati pertama kali didiktum oleh filsuf Gabriel Marsel. Maknanya, kita membangun relasi subyek-subyek, engkau dan aku adalah sejajar, saudara, tak ada dominasi dan kontrol. Persaudaraan sejati adalah warisan Ternate masa lalu. Mengalir dalam kesadaran warga tanpa perlu ritual bertopeng. Ditunjukan dalam bentuk cinta yang mengedepankan kebajikan, perdamaian dan kekerabatan tanpa sekat dan dikotomi agama. Abraham Maslow sebagaimana dituturkan Ko Syam menyebut, Cinta tak perlu didefinisikan. Cukup diafirmasikan dengan kebajikan.

Profesor Anderson Kumenaung, Guru Besar Ekonomi Unsrat memberi testimoni soal sosok Ko Syam yang selalu ada saat gereja gereja mulai dibangun kembali. Juga saat Ia ke Manado dan Bitung untuk mengajak warganya pulang. Mulailah frasa Ternate Untuk Semua Orang diimplementasikan dalam hidup keseharian. Berbagai kebijakan pembangunan bersumber dari sini. Aktifitas ekonomi menggeliat. Orang ramai datang dan merasa aman. Perbedaan artifisial yang menjadi pembatas tak lagi ada. Ko Syam sependapat dengan Pastur Titus Rahail, pemimpin umat Katolik di Ternate yang menyebut, konflik hanya dapat  dihindari melalui pendidikan.

Menurutnya tugas pertama dalam membangun peradaban adalah dengan memajukan pendidikan. Orang harus bersekolah. Punya kesempatan membaca teks tertulis maupun tak tertulis. Yang tertulis itu ada di kitab-kitab suci dan buku  pengetahuan. Lalu yang tak tertulis itu ada di alam dan bersandar pada pengalaman masa lalu. Ia menjadikan buku sebagai “isteri keduanya”. Buku bahkan ada di atas tempat tidur. Wajib baca sebelum tidur. Dari bukulah Ko Syam mandapat banyak inspirasi untuk mulai membangun Ternate sebagai kota Madani.

2000, 4 Mei (Membangun Dengan Rasa)

Setahun jadi pejabat Wali Kota, Ko Syam yang memilih berpasangan dengan Iskandar M. Djae – kompatriotnya di KNPI dan Golkar - terpilih sebagai pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate 2000 – 2005. Mereka mendapat mayoritas suara dalam pemilihan di DPRD Ternate kala itu. Di mulailah mimpi itu. Sebagai daerah bekas konflik, Ternate butuh stimulus ekonomi untuk mandiri. Ia lalu menggandeng Jatiluhur Gemilang untuk memulai proyek reklamasi pantai. Banyak aktivis lingkungan yang berdemo. Alot dan panas. Tapi Ia mendatangi yang menolak itu.  Berdiskusi memastikan semuanya sesuai aturan. Ko Syam mendengar dan lalu menjelaskan. Kota ini sempit. Butuh space baru untuk kawasan ekonomi. Visinya jangka panjang. Mengantisipasi perebutan lahan kota.

Tahun 2002 dimulailah reklamasi pantai. Ia berkeinginan ada kawasan ekonomi yang menggabungkan aktifitas warga dan pedagang kecil dalam pasar dan pelaku ekonomi yang pure bisnis dengan ruko dan mall. Ternate adalah kota prural. Butuh semacam identitas. Saya lupa persisnya, tapi pertengahan tahun 2003, saya diajak ke timbunan tanah dan batu-batu besar yang menutupi laut biru. Ia menunjuk dan berkata, “Di sini kita akan bangun sebuah mesjid besar”. Mesjid yang akan jadi lambang kota. Penanda peradaban. Dan dimulailah pembangunan itu. Butuh waktu tujuh tahun untuk kelar. 48 milyar dana APBD dipakai. Banyak kontraversi berbalut fitnah. Ditentang dengan ancaman penjara. Tetapi Ko Syam konsisten.

Mesjid ini diberi nama Al Munawwar yang berarti yang berkilau. Diresmikan awal Agustus 2010 beberapa hari sebelum Ia purna tugas. Bisa menampung 15 ribu jemaah. Mesjid baginya adalah pusat peradaban Islam. Saat memutuskan lokasinya berdekatan dengan pusat ekonomi di jantung Ternate, Ko Syam seperti merevitalisasi masa awal Islam yang berkelindan dengan tata niaga dalam kehidupan Rasulullah. Ia bermimpi Mesjid akan jadi pengingat agar umat tak hanya terjebak pada rutinitas duniawi saja. Ketika adzan memanggil, maka mereka yang berniaga, yang bekerja dan yang putus silaturahminya akan datang, bertemu lalu beribadah dengan hati. Berserah menghadap Sang Pemilik Hidup.

Yang harus dibangun tak hanya pulau Ternate. Moti juga dapat perhatian. Berkali Ia mendatangi pulau itu. Demikian pula dengan yang jauh di antara Ternate dan Bitung. Pulau Mayau yang tak punya jalan dibuka aksesnya. Fasilitas publik dibangun. Ia berkunjung memastikan semua pembangunan sesuai keinginannya. Ia dekat dan selalu bertemu warga. Dalam sebuah kunjungan ke Hiri, Ko Syam meminta Ade Hamzah - Kadis PU saat itu - untuk memikirkan pembangunan jalan lingkar pulau, Jawaban Ade memastikan secara tekhnis tak bisa. “De, kalau semua ukuran harus tekhnis, kapan kita bisa melayani warga. Mereka juga manusia, mereka berhak dapat fasilitas yang sama. Kalo secara tekhnis tidak bisa karena banyak lereng curam, pake rasa De. Bangun dengan  rasa”. Kata Ko Syam. Ia lalu berjalan kaki keliling pulau Hiri. Dan jadilah jalan itu.

Kepiawaiannya bermain diantara begitu banyak kepentingan - ada dukungan dan penolakan, ada banyak game politis yang menjebak - membuat Ko Syam dijuluki sebagai Maradona. Jago mengolah ‘bola”. Ia memimpin Persiter dengan cinta. Banyak prestasi hebat. Ia ada saat senang maupun susah. Ia menjadi inspirasi dengan bekerja. Tak sekedar bicara. Suatu ketika, manajemen Persiter tak punya dana untuk membayar kontrak Judas Ugu. Suporter mengumpulkan uang. Namun pemain asli kota baru ini memilih bergabung dengan Persibom Bolaang Mangondouw. Persiter tak memilihnya.

Saat Persibom bermain away di Stadion Gelora Kie Raha. Judas jadi starter di kubu lawan. Aroma pemberontakan mengudara oleh mereka yang tak puas. Dan sore itu, rusuh meletus saat Judas bikin gol dan Persiter kalah. Gelora dibakar. Mobil barakuda masuk menjemput pemain tamu. Caci maki menembus langit di antara bara api. Saya memilih bertahan di Gelora. Sendirian. Lalu datang ajudan memanggil. Saat masuk di ruang kerja Walikota malam itu, Ko Syam yang juga Ketua Umum Persiter duduk sendirian. Saya pamit mundur sebagai Sekretaris Umum. Merasa gagal. Harus ada yang bertanggungjawab. “As, Persiter malam ini sisa tong dua. Urus bola musti bikin diri sama deng bola. Siap dapa tandang, dapa kopeng, dapa injak. Harus Ikhlas sama deng bola. Ko tra mau ngana mundur.” tegas Ko Syam. Dan saya cuma bisa menangis di hadapannya. Filosofi “bola” terlalu bermakna. Mengajarkan keikhlasan tanpa pamrih.

2005, 10 Agustus (Membangun Tanpa Menggusur)

Di nilai sukses membangun Ternate, Ko Syam kemudian terpilih lagi sebagai Wali Kota Ternate. Kali ini Ia berpasangan dengan Amas Dinsie. Lewat pemilihan langsung oleh rakyat yang pertama kali di Indonesia. Pada periode kedua ini (2005 – 2010) fokus pembangunan lebih pada penguatan ekonomi, promosi Ternate dan penataan kota. Ia memastikan seluruh proses pembangunan berjalan tanpa menggusur. Pernah suatu ketika Ia marah besar saat kantornya di datangi pedagang kaki lima yang merasa dizalimi. Ia turun ke pasar, meminta mereka tak resah. Tak ada penggusuran. Semua berhak hidup. Jika kota ini dituding kumuh dan tak teratur, biarlah Ia yang menerima caci maki itu. Yang penting ekonomi warga berputar. Faktanya, kota ini tetap hidup dan dinamis. Dapat berulangkali “Piala Adipura” pula sebagai kota bersih.

Sepuluh tahun memimpin Ternate, Ko Syam mendatangi semuanya. Warga juga bebas bertamu di kantornya. Setiap hari puluhan orang datang. Bermacam orang beragam kepentingan. Ia sabar dan memastikan semuanya didengar. Saya bahkan lebih sering melihatnya menerima tamu setiap hari daripada bekerja. Lalu saat malam, barulah Ko Syam balik ke kantor. Tanda tangan surat ini itu. Memanggil bawahannya untuk menindaklanjuti keluhan dan harapan warga yang didengarnya sepanjang siang. Bekerja hingga jelang tengah malam. Selepas itu baru dirinya pulang ke rumah. Dalam kebiasaan kerja yang tak normal, Ia sungguh beruntung mendapat cinta dan pengertian sepenuh hati dari belahan jiwanya, Geniawati. Perempuan inilah matahari utama dalam hidupnya yang keras dan tak pernah menyerah. Selalu hadir mendukung bersama tiga puteranya.

Sebagai pemimpin kota, Ko Syam nyaris tak berjarak dengan siapapun. Tak ada lawan yang kekal baginya. Ia mencintai musuhnya. Tak ada dendam bagi mereka yang berkhianat. Ia mencintai mereka bagaikan melihat balok di mata sendiri. Bukan selumbar di mata orang lain. Ko Syam dekat dengan pemuda dan mahasiswa. Entah yang mendukungnya atau selalu berdemo menentangnya. Ia selalu hadir di mana saja saat para jurnalis berburu meminta konfirmasi berita. Kadang saat para jurnalis itu “hilang”, Ia gelisah dan mencari mereka. Jurnalis dan media adalah partner kerja yang tak bias. Selalu ada kritik dari media yang Ia simpan sebagai bahan koreksi. Ia bahkan suka jika ada jurnalis yang obyektif menuliskan kota dan dirinya tanpa puja puji.

2020, 24 Januari (Selalu Untuk Selamanya)

Purna tugas sebagai Wali Kota dengan banyak penanda sukses, Ko Syam tetap dihormati sebagai tokoh dan guru bagi banyak orang. Tahun 2013 kemarin, Ia sempat bertarung dalam pemilihan Gubernur Maluku Utara namun kalah. Selepas itu, Ko Syam memilih menikmati hidup sebagai petani peradaban. Waktunya lebih banyak bersama keluarga. Kadang Ia berkebun. Memanen cengkeh, pala, durian hingga mangga. Sebagai manusia biasa, dirinya juga tak sempurna. Tak semua mimpinya bisa diwujudkan. Punya keterbatasan terutama terkait dengan “janji” pulang menghadap Sang Pencipta.

Jumat pagi pekan kemarin, usai menunaikan shalat subuh di rumah. Ko  Syam memilih “pulang” dalam kemuliaan. Tak ingin keluarganya susah. Ia menghembus nafas dengan senyum dalam pelukan Isterinya. Karena tak mengeluhkan sakit, sungguh berita kepulangannya menghentak. Banyak yang tak percaya laki-laki dengan banyak kebaikan ini akan pergi selamanya. Lalu jumat siang itu, ribuan orang mendatangi mesjid Al Munawwar. Ingin shalat Jumat bersamanya di mesjid yang Ia dirikan. Melepasnya dengan ribuan takbir dan tahmid yang membelah langit Ternate. Ikut berhamburan berlaksa doa yang berlumur air mata. Yang ribuan itu berebut menggotong kerandanya. Hanya sekedar menyentuh. Lautan manusia meruyak.

Bukan karena tak ikhlas kehilangan namun lebih karena mungkin dengan menyentuh kerandanya, ribuan tangan itu ingin menitip ucap terima kasih. Terima kasih sudah membangun kota yang begini damai. Membangun tak hanya fisik yang penuh gedung-gedung itu tapi juga membangun manusia dengan menyatukan hati warga. “Saya tak kemana mana, tapi ada dimana mana”. katanya dulu dan akan terus bergiang nanti. Terima kasih Ko Syam. 

Jannah tempatmu Ko….


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca