× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Memaknai Seni Pertunjukan yang Tidak Sekadar Tontonan

Menjaga ekosistem budaya dan kesenian harus menggunakan akal sehat dan kepekaan hati yang tulus.

Seniman
Memaknai Seni Pertunjukan yang Tidak Sekadar Tontonan
@sophiopoy

07/11/2019 · 1 Menit Baca

“Jangan suka 'asal' kalau bikin pertunjukan.”

Pernyataan ini sering terdengar saat saya berada pada kegiatan workshop, ketika sedang mengikuti perkuliahan bahkan berbagai sharing sesasion yang meterinya tentang seni pertunjukan.

Kalimat di atas kedengarannya memang seperti celetukan biasa, tetapi perlu sekali dipahami, bahwa pertunjukan adalah sajian atau tampilan yang melibatkan banyak elemen-elemen di dalamnya. Elemen materi, elemen ide, elemen teknis dan persiapan mentaliti dalam menunjang kekuatan pertunjukan. Elemen-elemen ini merupakan dasar dan perlu sekali untuk dijadikan sebagai referensi, mulai dari isi atau makna, bentuk dan fungsi.

Isi, atau makna, adalah bentuk psikis dari seorang penghayat atau penikmat yang baik. Perbedaan bentuk dan isi hanya terletak pada diri penikmat saja. Bentuk hanya cukup dihayati secara indrawi tetapi isi atau makna dihayati dengan mata batin seorang penikmat seni secara kontemplasi. (Sony Kartika 2017)[1]. Demikian kalau pertunjukan dimaknai sebagai tontonan.

Memang, secara latar belakang akademis jenis pengkaryaan saya, bukan seni pertunjukan, tetapi cara pandang melihat kesenian bukan sebuah pembatas bagi seorang seniman. Karena pada dasarnya, seni selalu mengikat antara satu dan yang lain, menjadi berbeda hanya karena medium sebagai fungsi dari seni itu sendiri.

Tetapi di sini, saya bicara pengalaman, yang secara estetis saya pernah membuat karya pertunjukan khususnya garapan teater dan film. Bahkan saya pernah terlibat secara langsung pada beberapa pertunjukan sejak tahun 2002, entah itu puisi, cerpen, atau menjadi narator dari pertunjukan.

Terlibat sebagai art directing membuka banyak pengalaman bagi saya dalam dunia pertunjukan, bahkan bisa memahmi sedikitnya perkara teknis. Tetapi seni pertunjukan tidak hanya sekadar persiapan teknis saja, ada materi-materi untuk dijadikan bahan di dalam menggarap.

Penggarapan karya pertunjukan, atau karya apapun yang merupakan proses estetis untuk dilalui dengan berbagai kajian dan riset, bukan hanya sekadar proses latihan untuk mempermantap pertunjukan itu sendiri. Proses melalui tahapan-tahapan yang didalamnya mengandung penguatan konsep, serta berhubungan dengan isu atau tema yang ingin disampaikan kepada penonton, sehingga hasil pertunjukan dapat dimakanai dan bernilai tuntunan.

Menurut Sal Murgiyanto, dosen Tari dan Pertunjukan di Intitut Kesenian Jakarta (IKJ) dan beberapa jurusan seni di universitas Seni di Indonesia, bahwa pertunjukan merupakan sebuah tontonan yang memiliki nilai seni di mana tontonan tersebut disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton[2].

Nilai seni yang disajikan, tentunya harus terhubung dengan nilai edukasi, moral, bahkan bisa juga dengan idealisme yang mengikat dengan norma dan budaya daerah setempat. Antara nilai dan fungsi seni, haruslah ada esensi yang terkandung di dalamnya, di mana fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Ketiga fungsi dan nilai ini kemudian diolah melalui elemen dasar tersebut di atas.

Perlu dipahami pula, bahwa pertunjukan yang meliputi teater, drama, musik dan tari selalu dikenal dengan istilah performing art. Sebuah sajian yang dibangun melalui proses-proses kajian dan riset yang mendalam. Tidak hanya dalam seni pertunjukan saja, tetapi proses tersebut hampir menjadi wajib dan mutlak dalam menggarap karya seni apapun. Seni pertunjukan dapat dijadikan sebagai kompas, untuk merawat tradisi dan budaya. Sebagai seni yang mudah diterima, pertunjukan juga adalah bentuk eksistensi budaya agar terus terjaga dan terlestarikan di Maluku Utara.

Namun, pertanyaan saya sekarang, apakah eksistensi seniman pertunjukan daerah kita sudah mampu berdiri sendiri? Dan bagaimana ekosistem kesenian kita tetap terjaga dan bertahan? Lalu siapa yang bertanggung jawab dalam merawat dan melestarikan esksistensi dan ekosistem kesenian hingga terus berkelanjutan? Sudahkah ekosistem kesenian yang selama ini dijalankan terpenuhi fasilitasnya untuk seniman itu sendiri?

Semoga tulisan ini dapat menjadi tambahan pemahaman  tanpa menggurui dari pemahaman yang sudah ada. Saya pikir menjaga ekosistem budaya dan kesenian harus menggunakan akal sehat dan kepekaan hati yang tulus. Agar tontonan dalam pertunjukan yang disajikan juga dapat menjadi tuntunan untuk diolah dalam kehidupan secara bersama.

Wassalam.


[1] (Sony Kartika 2017)

[2] (Murgiyanto 2018)


Share Tulisan Fadriah


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca