× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#PEREMPUAN

International Women’s Day: Ketertindasan dan Strategi Emansipasi Perempuan

Memperjuangkan hak dan kewajiban perempuan dunia.
International Women’s Day: Ketertindasan dan Strategi Emansipasi Perempuan
Foto; google.com

08/03/2020 · 15 Menit Baca

Di hari perempuan sedunia ini, dapat menjadi bahan refleksi bagi semua orang, tidak hanya untuk perempuan melainkan untuk laki-laki sebagai lawan jenis dari perempuan. Menurut penulis, masih banyaknya ketertindasan perempuan disebabkan oleh mindset pemikiran dan tingkah laku pada lingkungan keluarga maupun masyarakat yang menganggap perempuan itu lemah dan harus berdiam diri di rumahnya. Hal ini kemudian diikuti secara mentah-mentah oleh kalangan perempuan tanpa adanya sikap kritis dari dirinya. Fakta ini dilatarbelakangi pula oleh penafsiran teks-teks agama yang terkesan menomor duakan perempuan, menjadikan perempuan sebagai makhluk yang serba tertutup, tidak kreatif, dan hanya memikirkan soal ranjang, anak dan dapur keluarga.

Selain itu anggota tubuh perempuan sering dijadikan sebagai bahan komersialisasi, eksploitasi serta kekerasan yang dianggap lumrah bagi kalangan laki-laki, begitupula dengan perempuan itu sendiri. Tidak adanya sikap konsistensi dan kritis membuat fakta-fakta ini diterima begitu saja oleh perempuan sebagai bagian dari takdir Tuhan kepada perempuan. Padahal, perempuan sendiri memiliki energi yang lebih dalam mengubah segala macam persoalan ini dengan kontribusi pemikiran yang maju serta inovatif, demi membongkar stigma-stigma negatif tentang dirinya juga mengubah nalar berpikir masyarakat luas yang saat ini lebih terdominasi oleh kaum patriarkis yang merasa bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan oleh lelaki dan laki-laki adalah makhluk yang paling mampu untuk mendominasi dan menaklukan dunia.

Dapat kita lihat dari perspektif sejarah, sikap diskriminasi perempuan telah ada dan tergambar dalam tradisi Jahiliyah Arab, perempuan atau wanita diperlakukan dengan zalim, perempuan dianggap sebagai beban dan aib bagi keluarga Arab jahiliyah karena mereka takut dan malu tidak akan mampu memberikan nafkah bagi keluarganya karena mempunyai akan perempuan. Fakta ini pun masih berlaku hingga saat ini pada beberapa belahan dunia. Di kalangan umat Hindu, kedudukan perempuan juga mengalami masa kelam yang menyedihkan. Perbudakan yang dipandang sebagai prinsip utama, menjadikan perempuan siang dan malam menjadi makhluk yang sangat tergantung dalam konteks perbudakan tersebut. Perempuan dibuat tidak mempunyai hak waris karena garis keturunan ahli waris hanya berasal dari garis keturunan laki-laki, hal ini menandakan hukum pewarisan yang terkesan agnotis.

Indikasi ini, sama persis dengan kondisi dan kedududkan perempuan pada masa Jahiliyah, yang tidak dapat mewaris sama sekali, bahkan mereka dianggap sebagai bagian dari “barang” yang harus diwariskan. Dalam realitas historis bangsa Romawi di Eropa, perempuan tidak mendapat hak menduduki jabatan sipil, menjadi saksi, penangungjawab, menjadi guru, tidak bisa memungut anak atau dipungut menjadi anak, tidak bisa membuat surat wasiat, dan sebagainya. Dalam dunia Kristen juga tidak jauh beda, sebagaimana dikemukakan oleh John Stuart Mill, menurutnya, bahwa menurut agama Kristen wanita telah dikembalikan hak-haknya, namun sesungguhnya sang isteri masih merupakan budak-budak suaminya, dan sepanjang menyangkut hukum, kedududkan perempuan tidak lebih baik dari mereka yang umumnya disebut budak.

Yusuf Abdullah Daghfag, menuturkan bahwa kedudukan perempuan Perancis pada masa dua abad sebelum Islam, sebagaian masyarakatnya bahkan mempertanyakan apakah wanita itu manusia atau setan? Apakah wanita itu binatang dan apakah wanita itu dibebani hukum, karena pada saat itu wanita tidak punya hak bicara dan dianngap sebagai perangkap iblis. Pandangan yang lebih menyudutkan dilukiskan oleh David Vera dan Mace yang menyatakan bahwa sulit sekali menemukan dimana juga kumpulan rujukan yang lebih merendahkan kaum perempuan dari pada yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin gereja yang dulu-dulu. Salah satu serangan yang paling merusak perasaan wanita dilakukan oleh madzhab Tertulian yang menyebutkan bahwa hukuman Tuhan bagi wanita masih berlaku hingga sekarang yang menganggap bahwa perempuan dianggap sebagai penyeleweng pertama terhadap hukum Tuhan, karena telah membuka tutup pohon larangan, dan membujuk kaum lelaki, dimana iblis tak cukup berani untuk melakukannya. Bahkan akibat pelanggaran wanita “Anak Tuhan pun harus Mati”.

Dari ungkapan itu terlihat sangat misoginis pandangan para ahli filsafat Barat terhadap perempuan yang dirujuk dari alur sejarah proses penciptaan Adam dan Hawa dalam referensi Bibel yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang menyebabkan Adam melanggar hukum Tuhan bahkan perempuan menyebabkan Yesus sang Anak Tuhan Mati. Realitas sejarah tersebut berlaku di Barat dalam masa yang panjang. Baru pada akhir abad ke-19 dengan serangkaian undang-undang pada tahun 1870, dan tahun 1882 yang melahirkan undang-undang Hak milik wanita berkeluarga dan disempurnakan pada tahun 1887, kemudian mualai ada upaya apresiatif terhadap posisi perempuan . Wanita-wanita yang kawin memperoleh hak untuk memiliki harta benda dan mengadakan kontarak-kontrak perjanjian dengan derajat yang sama dengan wanita yang bercerai.

Sir Henry Maine melukiskan keadaan wanita di Barat pada abad ke-19 mengambarkan bahwa perubahan terhadap perspektif wanita di Eropa mulai digaungkan pada awal abad tersebut. Meskipun begitu menurut analisis Syahrin harahap bahwa kecenderungan kebangunan wanita mulai dari abad ke-19 sampai sekarang, di kalangan umat beragama telah memunculkan sejumlah masalah yang kerap membuat wanita menghadapi apa yang disebut “dilema etis dan psikologis”. Di satu sisi masyarakat (wanita) beragama harus taat pada ajaran agamanya, sedang di sisi lain ia harus menjadi manusia modern dengan cirinya yang dinamis, aktivis, industrialis, penghargaan yang tinggi pada prestasi (achievement) bukan prestise. Kesalahan dalam menempatkan diri dalam kehidupan modern memang akan berakibat fatal bagi keberadaannya. Untuk itu pemahaman yang pas terhadap hakikat kemodernan dan petunjuk dasar agama mengenai kedududkan wanita menjadi mutlak diperlukan.

Minimnya isu peran perempuan terjadi karena sangat terkait dengan watak penulisan sejarah yang androsentris termasuk sejarah Islam. Dalam buku-buku sejarah, hal-hal yang menyangkut heroisme, transmisi keilmuan, ketokohan dan lainnya selalu mengambil gambaran gambaran sosok seorang laki-laki sebagai sosoknya. Leila Ahmad dalam Women and Gender in Islam: Historical Roots of Modern Debate, mensinyalir sejarah yang androsentris dan bias gender. Menurutnya sejarah yang andresentris dan bias gender harus dibongkar karena tidak sesuai dengan fakta sejarah. Untuk itu ia mengemukakan bahwa pengalaman perempuan untuk menjadi seorang pemimpin sudah sejak lama terjadi di atas dunia ini.

Dalam bukunya Lela Ahmad, mendeskripsikan bahwa pada pra- Islam di Timur Tengah kuno, khususnya di Mesopotamia perempuan pernah menduduki kepemimpinan dalam masyarakat. Hal ini tercermin dalam sosok mitologi tentang Mother Goddes di kalangan mereka. Hal ini diperkuat lagi oleh penemuan James Mellaart dalam buku Catal Huyuk: A Neolothic Town in Anatolia. Dalam buku ini dilaporkan bahwa ada sebuah peninggalan arkeologis yang berupa perkampungan neolitik di Asia Minor (6500 BCE) yang bernama Catal Huyuk. Dalam perkampungan tersebut ditemukan rumah-rumah yang didalamnya terdapat sejumlah lukisan-lukisan serta hiasan-hiasan pada tembok berfigur perempuan.

Berdasarkan penemuan tersebut, Catal Huyuk tidak hanya merupakan simbol sebuah kultur daerah dimana peranan perempuan menduduki posisi yang istimewa dan terhormat tetapi sekaligus menjadi bukti bahwa budaya Timur Tengah adalah budaya yang memuliakan The Mother Goddes (Dewa Ibu) khusunya pada periode Neolitik. Pada sisi ini, ada aspek positif dari budaya demikian yaitu adanya penghormatan terhadap perempuan. Perempuan James Mellart ini juga diperkuat lagi oleh Karen Amstrong, dalam bukunya The End of Silent, Women and Prieshood. Ia menyatakan bahwa pada masa dahulu, perempuan merupakan salah satu pusat pencarian spiritual. Asal-usul agama memang serba tidak terang dan disana banyak yang kita tidak tahu, akan tetapi pada umumnya disepakati bahwa salah satu simbol keagamaan yang tertinggi adalah Dewi Ibu Yang Agung (The Great Mother Goddes).

Pemujaan terhadap Dewa Ibu ini terkait dengan memori dan kesan yang mendalam bahwa tubuh ibu merupakan miniatur dari seluruh alam. Pemujaan ini muncul pada saat dimana kaum perempuan memainkan peranan penting dalam menanam dan berburu dan manusia saat ini baru memulai untuk hidup pada suatu tempat. Ketika manusia sudah menemukan alat cangkul dan mulai mendirikan kota, kualitas-kualitas maskulin mulai muncul dan dipersonifikasikan dalam dewa laki-laki. Akan tetapi, pada saat ini manusia tetap mengingat Dewa Ibu. Dewa ibu ini misalnya bernama Innana di Sumeria, Isthar di Babilonia, Anat atau Ashera di Kanaan, Isis di Mesir dan Aphrodite di Yunani.

Dalam perspektif arkeologis-historis tentang peran perempuan yang telah ada pada masa kuno tersebut, oleh kalangan teoritis feminis, dianggap sebagai masa kemajuan bagi kaum perempuan karena memiliki peranan yang cukup dominan. Ini terjadi sebelum munculnya masyarakat urban. Garder Larner, mensugesti bahwa pertambahan penduduk dan pentingnya penyediaan kekuatan tenaga kerja pada masyarakat awal, menyebabkan kecolongan pada perempuan. Perempuan yang memiliki kapasitas seksual dan reproduksi sebagai kekayaan utamanya (first property) menjadi rebutan suku-suku. Kondisi yang demikian menyebabkan dominasi kaum laki-laki mulai muncul. Dan disinilah kemudian kepemimpinan kaum perempuan menjadi merosot tajam. Akhirnya perempuan ditempatkan pada posisi terpimpin dan di belakang.

Terlepas benar tidaknya kesimpulan itu, yang jelas bahwa perempuan dalam sejarahnya pernah mempunyai kedudukan penting dan dominan. Perwujudan adanya Dewa Ibu ini menunjukkan bahwa perempuan juga pernah menjadi simbil puncak spritualitas. Sebagai puncak spritualitas berarti ia merupakan sumber dari kebaikan. Tapi karena terjadinya pergeseran-pergeseran sosial, politik serta budaya menyebabkan kaum perempuan tenggelam. Secara umum, subordinasi perempuan pada masyarakat Timur Tengah kuno baru terjadi dan benar-benar terlembaga bersamaan dengan munculnya negara-negara kuno (archaic state). Sebelum ini, perempuan dalam keadaan mandiri. Pendapat demikian sekaligus menolak teori sejarah androsentris yang menyatakan bahwa status perempuan yang inferior didasarkan pada faktor biologis dan watak amaliah dasar alamiah. Menurut penemuan arkeologis, perempuan menduduki posisi utama sebelum munculnya pusat-pusat masyarakat urban dan model negara kota yang merupakan implikasi dari pusat urban tersebut.

Dari diorama sejarah masa lalu hingga masa modern, mengindikasikan bahwa pandangan terhadap posisi perempuan atau wanita sangat dinamik sesuai dengan trend-trend yang menginspirasi kedudukan wanita itu sendiri, bahkan dalam konteks kekinian disaat wanita telah mencapai taraf kemajuan yang luar biasa dalam berbagai sektor kehidupan umat manusia. Sehingga tidak ada lagi anggapan dikotomi yang membelah kedudukan pria dan wanita dalam kehidupan yang lebih realistik. Dan tampaknya itu yang menjadi landasan komunikasi dan saling pengertian antara laki-laki dan perempuan dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih egaliter dan emansipatif.

Di Indonesia misalnya, pada dekade terakhir ini telah lahir kesadaran baru tentang pentingnya emansipasi perempuan, bahkan dalam kabinet pemerintah terdapat menteri yang khusus membidangi peranan perempuan. Hal ini mengindikasikan peran penting perempuan dalam berbagai aspek, ditengah pergumulan sosial, politik ekonomi dan pendidikan. Trend munculnya kesadaran emansipasi perempuan dapat dikatakan sebagai gerakan penyamaan derajat perempuan yang sudah diperjuangkan pada era Kartini, yakni penyamaan hak dan kewajiban serta peranan dengan kaum pria dalam berbagai segi kehidupan. Misalnya indikasi munculnya berbagai kajian mengenai gender, munculnya trend wanita karier, wanita profesi, wanita pekerja, yang bisa dianggap sebagai awal munculnya fenomena kebangkitan wanita dunia. Kecenderungan ini muncul diakibatkan konsekuensi logis perkembangan ilmu dan teknologi serta globalisasi dan era informasi yang melahirkan gerakan-gerakan pembebasan wanita, di samping munculnya kesadaran baru dari kaum wanita yang luar biasa terhadap bagaimana agama (Islam dan agama-agama lainnya) dalam memberikan penghargaan yang layak terhadap wanita.

Inilah mengapa kehadiran gerakan emansipasi harus dilakukan oleh kalangan perempuan. Emansipasi laksana semangat yang terbentuk dengan kekuatan pada setiap wanita untuk terbebas dari ketertindasan, keterkurungan, keterbelakangan, dan ketiadaan harkat yang menjadi belenggu kaum pria. Kehidupan wanita yang dulunya  seakan terpasung di tengah eksploitasi kaum lelaki, harus hilang dengan dicetuskannya gerakan emansipasi wanita dan persamaan gender. Di zaman era globalisasi ini emansipasi sangat berpengaruh positif bagi kaum perempuan. Kaum perempuan disetarakan dengan kaum pria dalam segala bidang. Seorang wanita tidak hanya dibelenggu dalam rumah dan menjadi penghuni dapur saja, namun dapat memperoleh pendidikan yang tinggi dan mendapatkan hak- haknya sebagai seorang wanita.

Gerakan emansipasi wanita pada era modern dalam konteks agama, perlu direvitalisasi meniru pola transmisi pemikiran yang dikembangkan para ulama pada masa klasik ketika berhadapan dengan ideologi sekuler Helenisme Yunani, dimana mereka melakukan seleksi yang ketat terhadap teks-teks maupun wacana pemikiran yang dianggap canggih pada eranya. Dengan begitu semangat emansipasi tetap terjaga sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama yang baik, agar emansipasi tidak kebablasan dan menjadi gerakan yang sekuler, yakni tidak mengindahkan etika agama yang pada kenyataanya memiliki misi untuk menyamaratakan hak dan kewajiban sesama umat manusia. Metode yang efektif dalam membangun kesadaran antar lelaki dan perempuan adalah dengan tetap berpegang pada dogmatika ajaran agama yang moderat, membangun kesadaran akan arti penting pendidikan agar tidak terjadi perbedaan yang dalam dalam konteks peranan wanita dan laki-laki dalam berbagai aspeknya.

Hal ini dikarenakan perempuan senantiasa memiliki konsistensi diri dan ekspresi untuk menentukan apa yang dia pilih bukan disuruh untuk memilih. Perempuan bukanlah makhluk nomor dua yang harus diletakkan dibawah kungkungan kaum lelaki, melainkan harus berdiri sejajar dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya sebagai makluk Tuhan yang diberikan tugas yang sama untuk menjadi wakil Tuhan. Perempuan tidak lagi harus dijadikan sebagai bahan eksploitasi seksual yang tubuhnya dikontrol oleh lak-laki maupun negara, dan tidak pula dijadikan bahan judgement berlebihan ketika terjadi kekeliruan. Langkah ini perlu untuk dilakukan agar dapat membentuk konstruksi sosial yang sama antara laki-laki dan perempuan, baik pada ranah sosial, ekonomi, politik, agama, maupun dalam kehidupan keluarga sendiri.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca