× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Tanggung Gugat Kita

Terkadang kita bersembunyi di balik fakta, menohok publik dengan sensasi kata-kata.

Jurnalis
Tanggung Gugat Kita
Ilustrasi: Pixabay.

04/04/2020 · 3 Menit Baca

Tabea. Maaf, Suba se Salam ….

Di ruang ini tak bermaksud membahas virus yang ditakuti manusia sejagat. Tak jua bermaksud menggurui. Apalagi mau “tunjung pande” Ini hanya sekadar rorano penawar informasi yang dibutuhkan publik di tengah pandemik. Harapannya media dan jurnalis di negeri ini tidak menjadi “pembunuh” sebelum publik benar benar “terbunuh” oleh ketakutan dan kepanikan yang diciptakan dari rangkaian data dan kata.  

Hari hari ini, hampir semua ruang media, dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring), dijejali informasi pandemik, corona virus diseases 19 (Covid--19). World Health Organisation (WHO) atau lembaga kesehatan dunia telah menetapkan virus ini sebagai pandemi global. Sejak itu, ikut menggiring semua perhatian global pada masalah ini. Penyebaran  cepat  dari manusia ke manusia  dengan ancaman kematian yang serius, memberi warning semua harus tiarap melindungi diri dan keluarga.

Virus yang awal mula datang dari Wuhan ibu kota  Provinsi Hubei, Tiongkok ini, telah menjadi “horror” bagi ummat manusia di muka bumi. Siapa pun dan sehebat apa pun negara di bumi ini, dibuat tak berkutik disapu virus. Berbagai analisis, riset dan tetek bengek penjelasan telah begitu massive beredar. Dokter, pakar virus, hingga informasi jejadian yang tidak diketahui sumbernya, ikut menambah karut marut informasi tentang Covid–19.

Tak terkecuali kita di Maluku Utara. Bahkan mereka yang jauh di pelosok “pulau panjang”—Halmahera, dengan tanpa internet dan gawai sekalipun, menerima imbas yang sama. Informasi juga memaksa dan menggiring mereka  hidup dalam was-was yang luar biasa.    

Di tengah pandemi yang menekan jiwa dan pikiran, seliweran informasi tak bertanggung jawab hamper setiap hari dikonsumsi publik. Gelembung informasi menyeruak, memenuhi ruang dan rongga sosial. Imbauan dan informasi datang dari berbagai pihak silih berganti. Dampaknya ada yang memilih tetap di rumah. Namun tidak sedikit juga warga tak peduli dengan ancaman apa pun.

Ternate menjadi contoh ketidakpedulian itu. Ruang- ruang publik masih ramai dipenuhi warga setiap hari. Jalanan masih bising dengan deru mesin mobil dan bunyi knalpot motor. Aktivitas tak kenal henti ini seakan mau mengkonfirmasi bahwa tewasnya ribuan warga di China, Italia, Spanyol bahkan kini menghantui Indonesia, hanyalah pepesan kosong. Padahal, percaya tidak percaya, fenomena gunung es Covid -19, kini sudah menjadi ancaman cukup serius. Dengan tak hentinya orang beraktivitas di luar rumah, virus ini akan terus hidup menemukan inang baru untuk berkembang. Intensnya pertemuan antarmanusia menjadi media virus menyambung hidupnya.

Di sisi lain, berita dan informasi yang tersebar belakangan ini di Maluku Utara, kadang tak membangun optimisme warga. Bahkan, memunculkan ketakutan dan kepanikan. Jika sudah begini, bisa diprediksi akan berbalik menjadi bumerang. Ikhtiar agar warga, selalu menjaga imun, makan yang bergizi, istarahat yang cukup, selalu mencuci tangan, bahkan tidak panik dan ketakutan menghadapi wabah, akan sia- sia.   

Setiap hari kita membaca informasi yang dibagikan secara berantai di berbagai aplikasi media social yang kadang membuat puyeng kepala. Ujung jari setiap warga kini menjadi penentu melesat nya informasi entah dari mana pun datangnya. Akselerasi informasi kadang tidak berimbang. Moto saring dulu baru sharing terabaikan. Setiap informasi yang diterima ditelan mentah-mentah. Tak peduli siapa yang bicara atau menulis. Expert di bidangnya atau tidak, berapa lama berpengalaman di bidang yang dibahas. Jika membagikan berita media, tak mau tahu dari mana sumbernya. Urusan ini, dianggap remeh temeh dan menjadi urusan nomor sekian. Padahal, dampaknya luar biasa.   

Khalayak memang sulit dibendung. Mereka dengan mudah dan begitu cepatnya membagi informasi yang diterima, meski tak paham apa konten sebenarnya. Ini bisa terjadi, karena tidak semua orang memiliki filter dan literasi informasi yang memadai.

Publik di satu sisi begitu mudah membagikan informasi di berbagai ruang media. Sementara di sisi lain, jurnalis sebagai produser juga kadang mengabaikan keselamatanya dari virus ini. Produk yang dihasilkan juga kadang mengabaikan nilai kepantasan dan pertimbangan suasana kebatinan publik menghadapi pandemik.

Pilihan diksi kadang sensasional. Penjudulan bombastic sering mewarnai bait-bait tulisan yang disajikan. Terkadang kita bersembunyi di balik fakta, menohok publik dengan sensasi kata kata. 

Lantas apa tanggung gugat moral jurnalis sebagai pembawa pesan atau informasi? Sebagai pihak yang berada di garda terdepan pengabar publik, tidak mestinya mengaggap ini hanya kerja rutinitas. Tidak saja merekam dan melaporkan setiap fakta dari lapangan. Lebih dari itu, mengubah aras Covid-- 19 menjadi optimisme, sekaligus menjadi ruang berlawan warga dengan pandemic ini.    

Sejatinya, jurnalis yang bertugas dan menulis di tengah pandemi, mengemban misi prophetic. Terus mendorong pekabaran yang membangun optimisme. Setiap pemberi informasi adalah wakil Tuhan sebagai pembawa pesan yang mengabarkan kebaikan bagi semua. Tidak sekadar menjadikan rentetan kasus dan kejadian sebagai laporan semata. Tak boleh juga menganggap setiap berita penderita adalah hal remeh. Karena di setiap berita yang ditayangkan, ada keluarga yang dikucilkan bahkan ada kepanikan yang menghantui.

Dalam kasus pasien 01 yang sedang dirawat di RSUD Ternate, misalnya, ada keluarga yang mengaku dikucilkan di kampung halamannya. Ketika berbelanja, uang mereka ditolak. Ini adalah contoh peradilan sosial telah ditimpakan akibat informasi tak lengkap yang didapat publik. Dalam konteks ini, tak hanya sanak famili. Masyarakat umum di mana lingkungan penderita berada, ikut menerima imbasnya.

Jurnalis mestinya menjadi pembawa berita yang melahirkan optimisme, bukan menghadirkan malapetaka. Berita, harusnya menjadi penerang dan penenang. Bukan sumber kegaduhan dan kepanikan. (*) 


Share Tulisan Mahmud Ichi


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca