× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Melawan Mati vs “Malawang Mati”

Ujaranya mirip, tetapi memiliki makna yang berbeda bak langit dan aspal.

Jurnalis
Melawan Mati vs “Malawang Mati”
pixabay.com

05/04/2020 · 3 Menit Baca

“Kelahiran, kehidupan dan kematian, masing masing menempati sisi tersembunyi dari selembar daun”--Toni Morsison, Peraih Nobel Sastra 1993. 

Saya mengantar tulisan ini dengan mengutip kata bijak Toni Morrison, peraih nobel sastra tahun 1993. Sastrawan Afro- Amerika itu mengingatkan pada kita, tentang kematian yang sesungguhnya sebagai akhir dari hakikat kehidupan yang tersembunyi. Dari pesan ini saya mencoba menyelami sikap, tindakan dan suasana batin warga Kota Ternate dan  Maluku Utara umumya. 

Di tengah pandemi corona virus deseasse -19 (Covid-19), turun semacam instruksi agar publik menerapkan social distancing dan physic distancing. Tidak itu  saja ajakan tak berkumpul, berjabat tangan, hingga tips menjaga imun atau kekebalan tubuh. Sayang ada tindakan sebagian kita warga kota ini yang boleh dibilng miris. Masifnya pemberitaan ancaman serius virus ini, tidak serta-merta membuat publik khawatir. Apalagi berusaha mengurung diri di rumah. Padahal, upaya ini sebenarnya adalah ikhtiar dalam usaha publik sebagai garda terdepan memutus rantai virus yang menyebar dari manusia ke manusia.  

Apa yang  dipesankan Toni, boleh jadi sudah bersemayam dan berurat akar dalam keyakinan kita yang hakiki sebagai orang beragama. Karena itu kemudian membuat sebagian publik, menganggap virus ini bukan sumber yang mematikan manusia. Bagi mereka, kematian sesungguhnya adalah hak yang Maha memberi kehidupan. "Torang tara perlu tako virus, yang musti torang tako itu yang bikin virus itu. Biar dapa corona, sepanjang Tuhan bilang belum mati berarti tetap hidup," begitu komentar sebagian warga.

Mengutip Komarudin Hidayat dalam Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optmisme, apa yang diucapkan itu adalah cara membaca sabda Tuhan dengan pendekatan hukum kosmologis, mengatur keseimbangan ekstensi jagat semesta. Tidak boleh mengingkari atau melawan Sabda Tuhan. Karena sama halnya melawan hukum keseimbangan kosmik dan akhirnya manusialah yang kalah.

Boleh jadi, ungkapan sebagian warga di atas juga adalah penyerahan diri, atau juga sinisme bahkan kekecewaan. Karena sebagian dari kita bersikap bahwa bergerak adalah  hidup. Sementara diam adalah mati yang sesungguhnya. Bergerak berarti dapur bisa mengepul dan perut bisa terisi. Sementara diam  berarti periuk nasi tak terisi dan perut akan lapar.

Diam di rumah dan work from home (WFH) bukan keseharian mereka yang mengandalkan fisik. Terutama warga yang masuk kelompok rentan ekonomi. Buruh pelabuhan, penjual keliling, kuli panggul, pengojek, sopir angkot dan banyak profesi lainnya. Yang mereka lakukan itu bagian terpenting dari memertahankan hidup.

“Kalau kami tidak keluar lalu siapa yang memberi makan?" begitu komentar para pekerja dengan mengandalkan fisik dan bersentuhan dengan banyak orang. Karena itu tak salah kiranya, mereka tetap keluar dan bekerja meski melawan ancama kematian di tengah merebaknya wabah. 

Dalam konteks ini, Ternate dan Maluku Utara umumnya memiliki anomali.  Selalu ditemui ada hal yang menyimpang. Bahkan menjadi anak kandung budaya. Sebagaimana jamak berlaku, saya dan kita semua secara kultural menjadi anak kandung dan anak asuh lingkungan dan budaya bercorak bebal, tara baku dengar atau “malawang mati”.

Di ruang ini coba memadu-padankan dua frasa yang ujarannya mirip tetapi memiliki makna yang berbeda bak langit dan aspal. "Melawan Mati" dan "Malawang Mati". Dialek Melayu Ternate “Malawang mati”, kurang lebih bermakna pahe (bandel,red), bebal, abai, cuek dan tak peduli apapun. Atau juga bermakna tak mau kalah dan ingin menang sendiri. Istilah ini yang turut dipraktikkan sebagian warga kota belakangan ini.

Kebijakan pemerintah menghentikan aktivitas kantor, meliburkan sekolah dan berbagai aktivitas yang mempertemukan banyak orang, namun ada segelintir yang lalai tak menggubris. Mereka bukan kelompok pertama di mana rela melawan mati karena perjuangan isi perut. Kelompok ini sebagian besar senang memadati ruang publik; mal dan café. Mereka adalah golongan orang- orang malawang mati, dan tara faduli.

Dalam situasi ini, mereka menganggap imbauan itu biasa saja. Toh tidak ada efeknya. Hari hari ini bisa kita lihat di media social Facebook, Twitter , Instagram dan WhatsApp tertulis stay at home, padahal, mereka rurang di jalanan dan berada di kafe serta ruang-ruang publik lainnya. Sesuatu yang kontradiktif. 

Mereka yang “melawan mati” demi sesuap nasi, sementara kelompok “malawang mati” meski sadar ancaman ini telah hadir di depan pintu-pintu rumah kita, tetap  asyik masyuk. Bagi kelompok pertama akan menepis imbauan menghindari virus guna memutus mata rantai penyebaran karena alasan perut. Bagi mereka perjuangan sebenarnya adalah bagaimana perut bisa terisi. Pada konteks inilah, negara dibutuhkan hadir menjadi oase di tengah pandemi. Tak boleh membiarkan warga berjuang sendiri. Sama artinya membiarkan adanya survival of  fittest.  Siapa kuat dia hidup, yang lemah pasti tumbang.

Negara tak boleh abai. Tak sekadar mengampanyekan tetap di rumah menghindari kerumunan dan rajin cuci tangan. Apapun bentuk membatasi pergerakan, publik punya harapan jika negara hadir menjamin warganya.

Bagi kelompok kedua, juga tak sekadar hanya imbaun. Dalam kondisi ini, dibutuhkan juga kehadiran negara menggunakan kekuatan memaksa dengan aparatnya. Ini semata-mata memberikan perlindungan bagi semua. Regulasi sudah mengatur, dalam keadaan darurat, negara hadir melindungi warganya. Wallahu a’lam Bishawab.(*)


Share Tulisan Mahmud Ichi


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca