× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#RESENSI

Drakor Dokter Romantis

Kenyataan Menghadapi Tirani dalam Layanan Kesehatan.
Drakor Dokter Romantis
Sumber fot: tirto.id

27/04/2020 · 15 Menit Baca

Sejujurnya, saya bukan tipikal pecinta drama Korea yang saat ini begitu trend di kalangan anak muda. Mungkin bisa dibilang melalui resensi film “dokter romantis” ini, saya pertama kali membuka diri untuk genre perfilman yang awalnya tidak pernah mendorong minat saya sedikitpun untuk melihat setiap alurnya yang kerap dihiasi rasa “baper.” Entah filmya yang memang sering membuat baper, atau saya yang baper sendiri. Haha....

Alasan sederhana saya mulai menonton Drakor ini dimulai dengan rasa penasaran yang tinggi, seperti apa sih, suguhan dari drama Korea yang diperankan Han Suk Kyu, Yoo Yeon Seok, dan Seo Hyun Jin sebagai pemeran utama, yang melakoni posisi sebagai formasi tim dokter dan merintis perjalanan mereka yang penuh dengan masalah dan kepahitan hidup.

Dokter Kim atau yang awalnya dikenal dengan Dokter Boo Yong Joo, sosok jenius dan terampil. Ia dijuluki sebagai dokter yang memiliki tiga spesialisasi. Dokter Kim dikenal sebagai dokter legendaris di sebuah rumah sakit terbaik di Seoul, RS Geodae. Karena kehebatannya dan karakternya yang kerap “melawan arus”. Ia terpaksa harus menanggung resiko yang besar dari sikapnya yang sangat progresif  tersebut. Dokter Kim, akhirnya mengasingkan diri dengan alasan kuat dari sebuah insiden traumatis,  ia harus menjalani masa-masa pahit itu dengan pergi ke sebuah desa terpencil di Provinsi Gangwon, dan memulai kembali profesinya sebagai dokter di RS Doldam, dengan menempati posisi sebagai kepala bedah umum. Pun, di Rumah Sakit Geodae, Dokter Kim sangat dikenal sebagai dokter yang kerap mengkritisi pimpinan tertinggi Rumah Sakit Geodae, karena dianggap sangat berkonspirasi dengan kekuasaan dan jabatan.

Sementara Dokter Yoon Seo Jeong, adalah salah satu dokter perempuan yang cerdas dan sangat bersemangat. Karena kecelakaan lalu lintas yang menimpanya, Dokter Yoon Seo Jong mengalami masa-masa sulit dengan kondisi cidera pada pergelangan tangan, dan sempat membuat kesehatan mentalnya terganggu. Karena kondisi itu, Dokter Yoon Seo Jong tersesat di area pegunungan dan ditemukan oleh Dokter Kim. Ia dirawat hingga pulih dan memulai kembali pekerjaannya sebagai dokter, dan ditempatkan di ruang Instalasi Gawat Darurat, RS Doldam.

Bagaimana dengan Dokter Kang Dong Joo? Sebelum menjadi dokter, di usia yang masih remaja, Kang Dong Joo pernah memberontak di Rumah Sakit Geodae, ia menganggap pelayanan di RS Geodae sangat diskriminatif dan bias kelas. Ayah Kang Dong Joo harus tewas, sejam setelah berada di IGD RS Geodae. Kematiannya ayahnya ia anggap sebagai akibat dari lambannya penanganan pasien dengan mementingkan pasien VIP yang sebenarya memiliki kedaruratan yang sama dengan selisih jam kedatangan hanya 5 menit. Kang Dong Joo marah besar, ia memberontak hingga membuat beberapa bagian tubuhnya mengalami luka ringan, nyaris dipidana dan ibunya dituntut membayar kerugian ke rumah sakit sebesar 200.000 dollar.  Pada insiden itu, Kang Dong Joo dirawat oleh Dokter Kim, namun itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kali di RS Geodae. Berangkat dari situasi diskriminatif saat itu yang akhirnya membawa Kang Dong Joo bertekad menjadi dokter.

Sekian tahun, Kang Dong Joo kini menjadi seorang dokter muda yang tampak begitu energik dan cerdas dengan memiliki spesialisasi bedah umum.  Sebenarnya, Dokter Kang Dong Joo dan dokter Yoon Seo Jeong pernah bertemu dalam satu RS yakni RS Geodae. Kang Dong Joo masih menjadi dokter magang saat itu. Pertama kali melihat Dokter Yoon Seo Jeong, Kang Dong Joo mulai jatuh cinta. Kang Dong Joo bahkan mengetahui julukan untuk Yoon Seo Jeong sebagai “Paus Gila” di RS Geodae. Ya, Yoon Seo Jeong memang tampak sangat cerdas, dan terampil, itulah sebabnya ia dijuluki "Paus Gila". Namun, lima tahun sejak insiden traumatis yang melibatkan Yoon Seo Jeong dan pacarnya, ia tidak lagi bekerja di RS Geodae. Semenjak itu pula mereka terpisah.

Pertemuan, Konspirasi dan Dedikasi akan Kemanusiaan

Kang Dong Joo, terpaksa dikirimkan ke RS Doldam karena dianggap gagal melakukan operasi pada salah satu petinggi yang begitu terkenal saat itu di RS Geodae. Dengan penuh rasa kesal, ia membawa surat tugasnya dan pergi ke RS Doldam. Di sepanjang perjalanannya, Kang Dong Joo tidak berhenti menggerutu soal pemindahannya di RS Doldam, baginya ini seperti diasingkan. Kang Dong Joo tidak akan pernah menyangka, bahwa RS Doldam akan memupuk sejarah baru, bagaimana potret pertarungan akan nilai kemanusiaan versus jabatan, layanan kesehatan yang begitu komersil, dan kepentingan kekuasaan yang tentu bermuara pada diskiriminasi sosial paling tinggi dalam layanan kesehatan.

Mari melihat bagaimana ketiganya hadir dalam sebuah pertemuan yang sama, di daerah pedesaan, di sebuah rumah sakit yang tampak sederhana dan terpencil hingga kolaborasi ketiganya dalam melawan tirani.

Ada beberapa hal yang menyimpan ingatan dari sebuah drama Korea ini:

Pertama: Pertentangan Dokter Kim dengan Presdir Do, sebagai pimpinan di RS Geodae sangat alot. Ini jelas mengenai watak presdir Do yang kerap memanfaatkan kekuasaan dan jabatan sebagai kendali utama bagi pelayanan di RS Geodae. Presdir Do tidak pernah mau menerima kenyataan bahwa dia berhadapan dengan Dokter Kim yang benar-benar sangat berprinsip atas nilai-nilai kemanusiaan. Semenjak ia mengetahui bahwa Dokter Kim kini bekerja di RS Doldam, ia mulai mengirimkan mata-mata hingga penyidik untuk menyelidiki Dokter Kim.

Dalam perdebatan keduanya, ada pelibatan tokoh yang lain yakni; Pimpinan Shin. Ia adalah salah satu orang terkaya dan memiliki sebuah bar yang terletak tidak jauh dari RS Doldam. Menurut Dokter Kim, bar ini menjadi salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas karena orang-orang yang pulang dari bar ini dalam kondisi mabuk dan memaksa mengemudi hingga tak jarang menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang cukup serius. Disatu sisi, Pimpinan Shin sebagai pimpinan kepala yayasan RS Geodae sangat tertarik dengan Dokter Kim yang dianggap sebagai dokter terbaik dalam jajaran dokter bedah di Seoul, pun ia menginginkan Dokter Kim menjadi dokter pribadinya dalam operasi penggantian jantung buatan di Rumah Sakit Doldam, sebuah rumah sakit di daerah pedesaan dengan fasilitas seadanya.

Tentu, hal ini membuat Presdir Do dihinggapi api kemarahan, ia membuat segala cara agar menghentikan pembedahan itu. Namun, ia gagal. Komitmen dokter dan perawat RS Doldam telah mengalahkan segala kepicikan Presdir Do yang mengutamakan kekuasaan dan keuntungan semata. Tim medis yang dipimpin Dokter Kim, berhasil melakukan pembedahan pada pimpinan Shin, dengan asisten pertama dokter Yoon Seo Jeong. Meskipun berhasil, Pimpinan Shin tidak siuman dalam waktu 12 jam lebih, sehingga Dokter Kim harus menjelaskan kepada putri Pimpinan Shin, bahwa ada interval waktu tambahan hingga 72 jam pasca operasi.

Kegeraman Presdir Do makin memuncak, ia memprovokasi putri pimpinan Shin dengan mengatakan bahwa Pimpinan Shin dicurigai mengalami infark serebral, akibat dokter Kim yang memaksakan mengoperasinya di tengah status pasien yang berusia lanjut dan mengidap kanker paru-paru. Ia bahkan menuduh Dokter Kim, sebagai dokter yang membahayakan nyawa pasien, akibat kesalahan yang dibuat Dokter Yoon Seo Jeong, saat operasi dengan menyentuh aorta pasien, mengakibatkan perdarahan hingga saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah turun sampai di bawah 90%.

Hmm. Drama ini memang cukup serius, seserius para pemerannya mendebatkan kondisi klinis pasien tapi disatu sisi bukan untuk kepentingan pasien tetapi karena arogansi kekuasaan yang dibawa mundur dari atensi etika profesi kedokteran.

Kedua: karakter Dokter Kang Doon Joo, yang kerap mempertanyakan pengambilan keputusan di tengah situasi darurat, hingga posisinya di Rumah Sakit Doldam yang sangat terpencil, membuatnya ingin kembali ke Rumah Sakit Geodae. Ia banyak berargumen dengan Dokter Kim. Namun banyak perdebatan yang membuat Kang Doon Joo menyadari, bahwa Dokter Kim sangat objektif, rasional dan berprinsip pada nilai kemanusiaan yang ia pegang.

Sepanjang alur cerita, Rumah Sakit Doldam memang terkenal dengan rumah sakit kecil, rumah sakit dengan fasilitas yang tidak cukup memadai, namun di satu sisi memiliki sejumlah tenaga medis yang kompeten baik dokter maupun perawat. Saya memperhatikan bagaimana protap kerja dari para dokter dan perawat yang sangat tanggap, cekatan, dan saling berkolaborasi. Kemitraan profesi ini mereka bangun demi kepentingan bersama, dan misi yang sama bagi pelayanan yang setara. Di satu sisi, ada hal yang telah menjadi rahasia umum bagi masyarakat yang pernah dirawat di RS Doldam, bahwa pihak rumah sakit sering memotong separuh biaya perawatan, bagi para pasien yang tidak sanggup membayar biaya perawatan.

Rumah Sakit Doldam juga menjadi wadah bagi para dokter muda untuk bekerja dengan penuh dedikasi termasuk memberikan keterangan catatan medis yang sebenar-benarnya dalam kepentingan penyelidikan, ini tergambar dalam peran yang dimainkan Dokter Kang Dong Joo, ketika menghadapi tekanan dari Presdir Do sebagai pimpinan RS Geodae, untuk membelokkan fakta kematian akibat faktor eksternal, diganti menjadi catatan medis yang menyatakan kematian seorang pasien akibat penyakit. Apa yang sebenarnya dilakukan Dokter Kang Dong Joo? Ia berkata jujur, walau mendapat tekanan.

Dalam alur cerita di RS Doldam, mereka juga sempat mencemaskan kondisi yang hampir sama seperti kita saat ini. Yakni, pasien yang dicurigai MERS (middle east respiratory syndrome) yang sempat mengunjungi IGD Rumah Sakit Doldam. Kecemasan yang ditimbulkan tenaga medis karena pasien tersebut mempunyai riwayat mengunjungi negara terjangkit seperti Saudi Arabia dan memiliki gejala yang khas dengan MERS, seperti batuk, sesak nafas dan demam tinggi. Tim Medis RS Doldam juga tidak memiliki APD yang memadai. Namun, Dokter Kang Dong Joo dan perawat Park mengambil tindakan tepat untuk segera mengisolasi IGD RS Doldam. Termasuk, mengisolasi pasien yang diduga terjangkit MERS sambil dilakukan pemeriksaan lanjutan. Sementara Dokter Kim, menelepon Bagian Kesehatan Publik untuk mengirimkan perlengkapan APD ke RS Doldam.

Bagaimanapun juga, saya sangat terinspirasi dengan kerja-kerja tenaga medis di film ini, mereka sungguh memainkan peran secara epik dan sempurna menjadi tim medis yang bekerja penuh idealisme dan dedikasi. Drakor “Dokter Romantis” mengalihkan perhatian saya pada alur cerita yang sebenarnya bukan hanya sekedar menyuguhkan sisi romantis beberapa pemerannya, namun drama ini begitu epik menjelaskan bagaimana kekuasaan, jabatan, uang bisa mengubah prosedur tetap layanan kesehatan yang sungguh bias kelas. Tapi Dokter Kim dan tim medis di RS Doldam secara agresif mengubah tatanan itu. Dokter Kim bahkan mengusulkan pembangunan pusat trauma di RS Doldam ke pihak yayasan yang diketuai Pimpinan Shin, sebagai respon atas memburuknya kondisi pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas, hingga kegawatan yang mengancam nyawa pasien, dikarenakan jarak yang cukup jauh dari RS Doldam menuju ke RS di Seoul.

Beberapa penggalan kalimat yang saya kutip dari apa yang pernah disampaikan dokter Kim ialah “Perintah yang mengabaikan kenyataan adalah sama dengan tirani” sementara Dokter Kang Dong Joo memiliki sebuah statement yang sangat berprinsip yakni, “Di rumah sakit ini, kami memperlakukan semua pasien setara,” senada dengan rekan sejawatnya, Dokter Yoon Seo Jeong menuturkan, “Urutan penangan pasien bukan berdasarkan urutan datang, tetapi urutan kedaruratan.” Artinya, penanganan pasien tidak bisa dilihat hanya sebatas status sosial ekonomi, tetapi dari standar operasional prosedur penanganan kegawatdaruratan.

Cerita di atas hanya merupakan resensi sebuah drama Korea, yang kurang lebih bermodalkan akting para aktor dan artis yang bukan hanya terlatih tapi bertalenta. Tetapi bagaimana dengan kenyataan layanan kesehatan di Korea?  jika kalian memperhatikan dalam masa-masa pandemik ini, negara Korea termasuk salah satu negara yang cukup agresif mengendalikan pandemi covid-19. Mereka termasuk negara yang tanggap dalam penanganan pandemik dengan menerapkan berbagai strategi penanganan antara lain; melakukan tes secara masif dan agresif pada dua puluh ribu rakyat Korea dalam sehari, transparansi data dari pemerintah, tracing atau pelacakan kontak pasien hingga perawatan insentif pasien yang terkonfirmasi covid-19.

Kabarnya, Korea Selatan juga tengah menjalin kerjasama dengan negara Indonesia untuk suplai APD bagi tenaga medis. Di tengah situasi pandemik, saya mengapresiasi Negara Korea yang berjibaku menekan angka kematian masyarakatnya. Pelajaran berharga dari pandemik ini adalah kesiapan layanan kesehatan, hingga kebijakan yang tepat sasaran. Bukan melihatnya sebagai ketidakmungkinan, tanpa indikator yang jelas dari pengetahuan akan sains dan ilmu kedokteran.

Pun bagi saya, menonton sebuah film tidak hanya memiliki nilai yang menghibur, sekedar hobi tetapi lebih dari itu. So, bagaimana jika kita melihat drama Korea lain yang seru dan menarik untuk ditonton, termasuk berisikan pelajaran terpenting dalam kehidupan? Silahkan menuliskan rekomendasi film terbaikmu di halaman komentar. :D

 Kamsahamnida!


Share Tulisan Fen Budiman


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca