× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#RESENSI

Ketidaktahuan dan Amarah

Suatu kejadian menuntun pada kejadian lainnya — The Red-Haired Women

Volunteer
Ketidaktahuan dan Amarah
Foto: ilustrasi/tribunnews

11/11/2019 · 15 Menit Baca

Sebuah ramalan datang dari mitologi Yunani bahwa kelak seorang ayah akan dibunuh oleh anaknya dan menikahi ibunya sendiri yang tak dikenalnya. Entah ramalan atau kutukan yang menghampiri raja Thebes, Laius. Pernah, ketika Laius berkunjung ke Pisa bertemu dengan raja Pelops. Dalam kunjungannya, Laius bertemu dengan Khrisippos, anak haram sang raja, pemuda itu sangat tampan. Tak disangka, Laius suka padanya dan berahi melihatnya. Laius memperkosa Khrisippos. Karena malu khrisippos bunuh diri dan raja Pelops mengutuk Laius dan keturunannya.

Suatu hari dalam keadaan mabuk, raja dihampiri seorang ahli nujum dari Delphi dan memberitahukan agar sang raja jangan memiliki seorang anak, karena akan terjadi seperti yang diramalkan diawal tadi. Ia tak menghiraukan. Lalu hamillah istrinya, Lokaste, dan mengandung anak laki-laki. Tapi ternyata, raja gelisah dengan ramalan itu dan menyuruh seorang pelayan membuang anak itu.

Anak ini yang kemudian bertumbuh besar dengan gagah dan cerdas, dirawat oleh raja dari Korinthos, Polibos. Ia diberi nama Oedipus. Tumbuh dewasa rupanya Oedipus menyimpan tanya tentang dirinya sendiri. Ia memutuskan ke peramal di Delphi untuk menjawab kegelisahannya itu. Dalam perjalanan pulang dari Delphi, ia berpapasan dengan ayahnya. Para pengawal raja jengkel dengan Oedipus karena seakan-akan tidak memberikannya jalan. Keduanya dikuasai amarah. Terjadi perkelahian yang akhirnya dimenangkan Oedipus. Ia berhasil membunuh para pengawal dan menebas sang raja, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri dengan pedang.

Syahdan datang teka-teki dari Sphinx, perempuan bertubuh singa yang memiliki sayap. Sebuah teka-teki yang harus dijawab, bagi yang tidak bisa menebaknya ia akan dibunuh. Kreon, kakak ipar Laius yang menggantikannya, membuka sayembara bagi kepada siapa saja yang bisa menebak teka-teki itu. Imbalannya akan berkuasa atas tahta Thebes dan menikah dengan ratu, Lokaste. Maka ramalan yang kedua terjadi, Oedipus berhasil menjawabnya dan menikahi ibunya sendiri.

Mereka tidak saling kenal sebelumnya dan tidak mengetahui. Dari pernikahan keduanya melahirkan empat anak. Drama ini menyembunyikan fakta bagaimana seorang anak laki-laki tidur dengan ibunya sendiri, wanita yang lebih tua 16 tahun dari Oedipus. Sulit dipahami bagaimana Oedipus serahim dengan anaknya, mungkin juga bisa dikatakan mereka bersaudara dan istrinya adalah ibunya. Ketika wabah menyerang Thebes dan cara untuk menyelamatkan kota dengan menemukan pembunuh raja sebelumnya. Oedipus sendiri mencari si pembunuh tanpa sadar dialah pembunuh itu. Sedikit demi sedikit ia mendekati dan menemukan kebenarannya. Dengan rasa menyesal ia mencungkil matanya dan istrinya yang juga ibunya, bunuh diri.

Hikayat yang kedua yang ikut membangun novel Orhan Pamuk: The Red — Haired Women adalah tragedi Rostam dan Sohrab dalam kitab Syahnameh. Sebuah wiracarita Persia abad ke-10 Masehi, karya penyair Firdausi atau dalam novel Orhan Pamuk tertulis Ferdowsi.

Rostam adalah seorang kesatria dari Persia yang masyhur karena keberanian dan kepahlawanannya bahkan diceritakan sebagai kesatria yang tidak pernah kalah. Suatu ketika Rostam yang sedang berburu dan ketika tidur malam itu, dia kehilangan kudanya, Rakhsh. Saat mencari Rakhsh, tanpa sengaja Rostam memasuki wilayah musuh, Turan. Namun, karena reputasinya dia dikenal dan diperlakukan dengan baik. Shah dari Turan menyelenggarakan jamuan baginya.

Setelah makan malam, Tahmina, putri Shah Turan sangat kagum dan jatuh hati pada Rostam. Dia menghampiri kamarnya, ingin mengawini Rostam dan mengandung anak dari seorang pahlawan yang pandai dan gagah itu. Tahmina pun hamil dan mengandung seorang anak laki-laki, kelak dinamakan Sohrab yang sejak kecil tidak mengetahui siapa ayahnya.

Ketika tumbuh besar sebagai seorang kesatria yang disegani di Turan, dia baru mengetahui bahwa ayahnya adalah Rostam yang termasyhur. Anak itu ingin pergi ke Iran. Sekelebat pikiran untuk menyatukan Iran dan Turan muncul. Caranya, dia akan menurunkan Shah Kay Kavus dan mendudukkan Rostam di takhtanya. Kemudian untuk dirinya sendiri dia akan membelot kepada Shah Afrasiab dan merebut takhtanya. Dengan begitu dia dan Rostam akan menyatukan Iran dan Turan, menyatukan Timur dan Barat.

Tak dinyana, Afrasiab mengetahui rencana itu dan menyusupkan mata-mata kepasukan Sohrab kala melakukan penyerangan ke Persia. Mata-mata itu harus memastikan agar Sohrab tak mengenali ayahnya. Entah takdir atau serangkaian muslihat kotor, bertemulah Rostam dan Sohrab di medan perang dengan masih-masing mengenakan baju zirahnya. Mereka tidak saling mengetahui dan tentunya tidak saling kenal.

Maka, dua orang pejuang yang perkasa dan gagah berani, ayah dan anak, saling berhadapan. Ini pertarungan mereka berdua. Sengit. Sampai berhari-hari, sampai akhirnya sang ayah berhasil menghunuskan pedangnya tepat di dada Sohrab dan membunuhnya. Membunuh anaknya sendiri. Dia baru mengetahui bahwa itu adalah Sohrab, anaknya, dengan sebuah permata pada kelat di lengan Sohrab yang dulu ditititpkannya pada Tahmina. Rostam menyesal dan berkabung karena kematian anaknya itu.

Dua kisah: Oedipus dan Rostam berkelindan terus-menerus dalam pikiran tokoh utama, yang dipanggil Cem di novel Orhan Pamuk. Bagi Cem, perbedaan yang mendasar dari keduanya justru menekankan persamaan. Ketidaktahuan dan amarah. Baik Oedipus dan Rostam tidak mengenali siapa yang dibunuhnya. Dan kemarahan membuat mereka tidak bisa berpikir jernih.

Saat pertemuan Cem dengan Tuan Mahmut si penggali sumur, semua berubah. Dari cita-cita menjadi seorang penulis kini disibukkan dengan menggali sumur di Ӧngӧren. Di tempat inilah cerita dan kisah bermula dan nantinya juga berakhir di sini.

Seharian Cem dan Tuan Mahmut akan melakukan penggalian di bukit tetapi malamnya dia akan turun ke kota. Tuan Mahmut mencari rokok dan Cem akan berkeliling di Ӧngӧren.

Tuan Mahmut dan Cem semakin lama seperti Ayah dan anak, mereka bisa mandi bersama selain bekerjasama menggali sumur. Tuan Mahmut pun sering menasihati Cem, apalagi soal pekerjaannya. Cem mendengarkan dengan saksama dan menjalankan segala perintah Tuan Mahmut. Bagaimanapun dia adalah guru dalam hal ini.

Suatu hari saat mereka ke kota Ӧngӧren, Cem melihat Wanita Berambut Merah pada sebuah pementasan teater. Ia terpukau karena kecantikannya. Dan ini menjadi satu-satunya alasan Cem kenapa tetap ingin menggali sumur walaupun berminggu-minggu mencapai kedalaman 25 meter tapi belum juga menemukan air. Panas, lelah, gerutu terus ada pada Cem. Semua karena Wanita Berambut Merah. Perempuan berumur 33 tahun, yang memutuskan untuk mengecat rambutnya menjadi merah secara sadar.

Setelahnya, pikiran dia terus dibayang-bayangi keberadaan Wanita Berambut Merah. Cem merasa kasmaran denganya, seorang aktris Teater Hikayat Teladan. Hikayat Teladan adalah sebuah kelompok teater keliling yang dibentuk oleh Turgay (suami Wanita Berambut Merah) tentunya atas inisiatif sang istri. Dalam perjalanan awalnya, Teater Hikayat Teladan berpentas di auditorium milik organisasi sayap kiri dan di aula-aula pertemuan lainnya yang ada di kota Istanbul atau Ankara.

Memasuki musim panas, Teater Hikayat Teladan berkeliling membawa tenda ke kota-kota provinsi, tempat liburan, asrama-asrama militer, perkebunan yang baru dibuka, serta pabrik-pabrik untuk berpentas. Dan sampailah ia di Ӧngӧren.

Sebenarnya posisi Cem sangat tidak mendukung karena Wanita Berambut Merah juga punya suami — yang sebenarnya sudah dia temui dan minum raki bersama. Tapi Cem tidak menghalangi rasanya, bahkan ia biarkan tetap seperti itu dan terus mengikuti Tuan Mahmut walau dengan pesimisme, dan Ali sudah tidak bersama mereka menggali sumur. Entah, mungkin dia merasa ditakdirkan dengan Wanita Berambut Merah.

Satu hari yang menentukan saat Turgay tidak di rumah. Malam itu, Wanita Berambut Merah mengajak Cem mampir ke apartemennya. Itu adalah malam pertama Cem tidur dengan seorang wanita. Ini adalah saat-saat penting bagi Cem yang mengubah persepsinya tentang kehidupan, dan tentang wanita.

Hari berikutnya di Ӧngӧren, yang membawa kisah Oedipus dan Rostam akan terjadi. Ember lepas dari cantelannya sementara Tuan Mahmut berada dalam sumur. Menggali sumur sangat beresiko, apapun yang jatuh dari atas bisa membuat hal fatal. Cem berteriak tapi Tuan Mahmut tak menjawab. Ia segera ke kota mencari bantuan, ke apartemen Wanita Berambut Merah lalu ke tempat tenda Teater Hikayat Teladan tapi semua sudah tidak ada. Rasa takut menyelimuti Cem. Dia menangis, tidak tahu mau berbuat apa lagi.

Apakah Tuan Mahmut mati atau hanya pingsan?

Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Ӧngӧren dan pulang ke Gebze. Dia menaiki kereta arah ke Istanbul di siang hari yang terik. Dia mengingat kisah Oedipus, mahfum dia dan Tuah Mahmut layaknya ayah dan anak. Dia mencoba menghilangkan kenangan di Ӧngӧren dan kembali belajar dengan baik hingga meraih lima besar dalam ujian masuk perguruan tinggi dan diterima di Fakultas Teknik Geologi di kampus Maҫka, Istanbul Technical University.

Dengan pengalaman bersama Tuan Mahmut dan ilmu yang didapatnya, bahkan sampai ke jenjang S2 menjadikan Cem orang yang ahli dalam bidang itu, bisa dikatakan tergolong sukses. Dia menikah dengan Ayşe, tapi tidak memiliki anak. Anak mereka hanya sebuah perusahaan konstruksi dengan nama “Sohrab” yang dibangun bersama. Usahanya melejit, disiarkan dalam iklan secara nasional di televisi dan koran. Dengan Sohrab jiwa kapitalisme Cem tumbuh. Tentu berbeda dengan apa yang bisa dilihat dari ayahnya yang seorang aktivis kiri yang lebih dekat komunisme.

Sampai di sini, kita akan dipaksa oleh Orhan Pamuk untuk berimajinasi jika Cem dan ayahnya yang akan berhadapan bunuh-membunuh. Karena kapitalisme dan komunisme selalu berbenturan, mafhum sempat ayahnya menghilang, yang selalu beralasan pergi bersama para aktivis sayap kiri lainnya. Tapi ternyata tidak, ayahnya meninggal karena sakit.

Jawaban atas novel The Red-Haired Women ada pada bagian III. Yang bercerita kali ini bukan lagi Cem seperti bagaimana sebelumnya, tapi Wanita Berambut Merah. Dan di bagian ini antara Oedipus atau Rostam yang menjadi latar belakang cerita dijawab oleh Orhan Pamuk dengan sangat mengejutkan. Ya, dan akhirnya dia memilih kisah Oedipus tapi menurut saya ada serpihan kisah Rostam dan Sohrab.

Pertama, Cem mencintai Wanita Berambut Merah dan tidur dengannya. Dia tidak tahu jika Wanita Berambut Merah adalah kekasih ayahnya saat mereka berdua menjadi aktivis di kelompok gerakan kiri Revolusi Nasional. Wanita Berambut Merah adalah selingkuhan ayahnya yang sering membuat orangtua Cem bertengkar kala itu dan juga menjadi alasan kenapa ayahnya sering bepergian berlama-lama.

Kedua, Cem tidak mengetahui saat ia bersenggama dengan Wanita Berambut Merah ternyata melahirkan seorang anak, juga atas keputusannya meninggalkan Ӧngӧren setelah kejadian yang menimpa Tuan Mahmut. Akhirnya Cem tidak mengetahui dan mengenal anaknya. Ketika Cem kembali ke Ӧngӧren untuk urusan bisnis Sohrab, ia mengadakan pertemuan dengan orang-orang di sana. Wanita Berambut Merah dan Enver anaknya, datang.

Sebelum melihat ayahnya, Enver mengetahui melalui cerita dari Tuan Mahmut — yang ternyata masih terselamatkan walau dengan mengalami cedera — dan juga dari ibunya. Bahkan sang ibu memaksa Enver untuk mengajukan tuntutan bahwa dia adalah anak dari Cem. Di sini Enver seperti Sohrab yang mengetahui siapa ayahnya tapi tidak pernah melihat dan mengenalnya.

Kala Cem menerima surat yang berisi pengakuan bahwa dia memiliki anak di Ӧngӧren dibacanya, suasana kelam Oedipus dan Rostam datang dengan kuat. Akhirnya Cem mati tertembak oleh pistolnya sendiri. Kejadian itu terjadi saat Cem dan Ever berjalan menuju sumur galiannya dulu dengan Tuan Mahmut. Mereka bergumul dekat sumur, Enver yang sebelumnya memakai nama Serhat supaya ia mengetahui siapa dan bagaimana ayahnya tanpa ada kemunafikan.

Sejak percakapan dari awal yang dibangun, mereka saling berpurbasangka dan akhirnya sang ayah mati dalam kekuasaan emosi yang membuat mereka tidak bisa bersendagurau. Mereka: Cem dan Enver, sama seperti Oedipus dan Laius, Rostam dan Sohrab adalah satu kejadian yang menuntun kekejadian lainnya. Dua orang yang bertemu dengan ketidaktahuan dan amarah.

 


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca