× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Wabah, Agama, dan Puisi

Kita bisa jadi menerjemahkannya sebagai perlambang iman.
Wabah, Agama, dan Puisi
https://pixabay.com/id/photos/berdoa-doa-karpet-desain-pola-3236120/

08/05/2020 · 3 Menit Baca

wabah itu datang
kita menjadi dua

yang ke masjid
dan yang tak ke masjid
yang ke masjid adalah yang tawakal
yang tak ke masjid adalah ikhtiar

dari masjid
dari rumah
sama-sama kita ingin masuk surga.

Puisi itu dikirim ke sebuah rubrik sastra di sebuah laman pada tanggal 24 April 2020, tepat ketika 1 Ramadan dimulai, ditulis oleh seorang yang lebih suka dipanggil sebagai penyiar kata ketimbang penyair, Ibrahim Gibra. Puisi itu diberi judul Ramadan Kali Ini.

Puisi itu sederhana, lagi-lagi bahasa sehari-hari—ciri khas penyair yang pada akhir 2019 lalu menelurkan buku kumpulan puisinya yang berjudul Karang Menghimpun Bayi Kerapu (1). Namun, di situlah letak daya gugahnya. Ada isu agama dan kali ini ada wabah. Ada kesadaran yang terusik juga ada keterbelahan yang diwakili serangkai kata: yang ke masjid dan yang tak ke masjid. Fenomena yang hadir melalui kotak kaca dan linimasa itu ditangkap dengan begitu baik dalam setangkup puisi. Fenomena kegamangan banyak orang ketika sesuatu yang tak kelihatan bisa mendatangkan kematian semudah bernapas.

Sepanjang sejarah dunia disergap epidemi, puisi menyimpannya dalam kata-kata. Seberapa kuat puisi mengingat? Ibnu al-Wardi, sejarawan Suriah merekam banyak catatan tentang sampar yang menimpa Aleppo, pada tahun 1349 dan menghancurkan kota tempat tinggalnya itu dalam jangka waktu kurang lebih 15 tahun. Al Wardi juga menulis puisi tentang wabah itu.

I do not scare from Black Death as others
It is but a martyrdom or victory
If I died, I rested from the rivalries
And If I lived, my eye and ear heald (2)

Al Wardi tahu, tak banyak yang bisa ia perbuat ketika wabah itu merenggut hampir seribu orang di kotanya-setiap hari. Ia mencoba percaya bahwa kalaupun ia mati karena wabah itu ia akhirnya bisa beristirahat dari persaingan: kalau ia selamat, mata dan telinganyalah yang pulih. Wabah itu mengalahkannya dua hari setelah ia menulis puisi itu. Internet membuat kita mampu menjangkau dan membaca puisi itu sekaligus bisa membayangkan betapa menakutkannya apa yang dilihat Al-Wardi itu di masa-masa akhir hidupnya.

Nazik al-Malaika, seorang penyair Irak juga sempat menuliskan puisi tentang kolera yang menyerang Mesir pada tahun 1947—sambil menyaksikan prosesi perkabungan yang tak terhitung sejak Fajar membuka hari, kereta-kereta yang membawa mayat dan keheningan yang menimpa jalan-jalan Mesir.

di mana-mana ada mayat, berduka
tanpa ada pidato bahkan momen untuk keheningan

bahkan penggali kubur telah menyerah
muazin mati
siapa lagi yang mendoakan yang mati?(3)

Covid 19 kembali menyepuh ingatan berapa kali manusia harus berhadapan dengan wabah mematikan. Maut hitam, sampar, flu spanyol, kolera, apa pun dunia menyebutnya, tiba-tiba hadir berkelebat tanpa diminta. Kematian tidak lagi menjadi tragedi tetapi angka-angka statistik yang terus bergerak naik. Di dalam puisi, tragedi itu jauh lebih mencekam.

Ramadan Kali Ini menggiring kita merenungkan apa yang hilang dan apa yang tetap tinggal. Mempertanyakan iman. Barangkali, Gibra tak bermaksud sejauh itu. Ia hanya menangkap fenomena di sekitarnya seperti yang selalu ia lakukan. Suara penyair dalam nalurinya mendorong ia menuliskan sembilan baris puisi itu dengan kata-kata—tak sekadar simbolik, tetapi menyuarakan keterpecahan: yang tawakal dan yang ikhtiar. Keduanya wajib dimiliki dan diupayakan oleh mereka yang beriman. Masjid dan rumah menjadi pembeda yang tegas. Terjadi di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia.

Tiap kota besar konon selalu terbelah. Keterbelahan itu semakin menjadi-jadi sejak media sosial menjadi bagian dari gaya hidup. Kita mudah menjadi dua oleh apa saja.

Perbedaan itu indah, orang bijak berkata. Namun, sering kali berbeda tak sederhana. Di negara ini, akhir-akhir ini, berbeda sangat bisa memicu konflik dan memancing amarah. Agama seringkali dibawa-bawa dan dipelesetkan menjadi kedok: dalam iklan-iklan, dalam slogan-slogan.

Hanya dalam puisi, perbedaan bisa kembali indah: agama kembali murni.

Dalam Ramadan Kali Ini, sekali lagi, puisi hadir dan menyadarkan bahwa kata dapat mengguncang kesadaran, mengingatkan akan keterbatasan mahluk bernama manusia. Kata-kata John F. Kennedy menegaskan itu: “When power leads man toward arrogance, poetry reminds him of his limitations. When power corrupts, poetry cleanses. Subagio juga melantangkan kekuatan kata-kata melalui salah satu puisinya yang berjudul "Kata".(4)

Kata bukanlah sarana untuk mengantarkan pengertian, ia bersifat netral. Itu kredo Sutardji Calzoum Bahri tentang kata. Akan tetapi, adanya proses simbolik dalam puisi di awal tulisan ini diikuti oleh perangkat pembentuk makna yang ampuh: tafsir. Tafsir itu yang menjadikan puisi ini peram di kepala. Simbol masjid, rumah, ramadan, tawakal, ikhtiar, dan surga terajut dan terbentuklah persepsi. Agama dan wabah dipertemukan. Kita bisa jadi menerjemahkannya sebagai perlambang iman. Yakin yang teguh, apa pun opsi yang dipilih. Masjid melambangkan kemuliaan dan keutamaan memakmurkan rumah Tuhan, berhadapan dengan ikhtiar melawan wabah dengan tetap beribadah, tapi di rumah. Keduanya dirawikan dalam hadis.

Gibra mengembalikan fungsi sastra sebagai medium ekspresi individual, meskipun ada kalangan elitis yang percaya bahwa sastra berfungsi sebagai agen perubahan sosial. Ia menulis dengan gembira dan (tampak) tak mengharapkan apa-apa dalam konteks perubahan sosial dalam kerja literernya. Ia hanya pencatat yang rajin, pengamat yang peka, tapi bukankah dua hal itu yang dibutuhkan untuk menjadi penulis yang baik?

Barangkali pula, catatan itu mendorongnya secara naluriah untuk mengungkap fenomena dan menangkarkannya dalam kata-kata, seperti yang dikatakan Freud tentang puisi: ungkapan yang terbentuk dari dorongan-dorongan naluri. Ia gelisah pada kita yang terbelah.

Dalam puisi Gibra ada rumah, masjid dan surga yang melantangkan teks menjadi sesuatu yang menggetarkan. Masjid bersifat komunal, dan akrab. Rumah terasa personal dan privat. Surga menjadi motif di balik itu semua.

Dalam frasa memeluk agama, ada kata memeluk yang mendaraskan makna kerelaan, kepasrahan untuk percaya pada apa yang benar-benar diyakini dan mengikutinya dengan keimanan yang kafah. Barangkali karena hal itu, kita diberikan kebebasan memilih dan bertanggung jawab pada konsekuensi pilihan itu.

Ada yang mengubah orang-orang selain perang. Trauma. Wabah. Agama lalu menjadi satu-satunya pegangan bagi mereka yang beriman. Puisi merekam semua itu juga gambar-gambar bergerak dalam kata. Mengingat peristiwa.  Sepanjang kata-kata dapat dilekati makna tak terbatas dan diberi tafsir mahaluas, sedigdaya itulah puisi mengingat.

 

Catatan Kaki:

1. Gibra, Ibrahim. (2019). Karang Menghimpun Bayi Kerapu. Yogyakarta: Jual Buku Sastra.
2. Mustafa Abu Sneineh, Plague and poetry: How Middle East Authors Have Written about Disease   
3. Idem
4. Sajak Subagio Sastrowardoyo berjudul Kata
5. Lampan, Korrie Layun, (2014). 80 Sajak Puncak dalam Sejarah Sastra Indonesia. Yogyakarta: Narasi.

Share Tulisan Darmawati Majid


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca