× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Menulis Perempuan Membaca

Di ujung sana, Ruhana Kuddus ditulis jejaknya dengan indah. Sementara di sini, Boki Fatimah seperti dilupakan sejarah. Bahkan di kampung halamannya sendiri, nama ini hanya disebut secara samar.

Direktur LSM RORANO
Menulis Perempuan Membaca
Undangan pernikahan RM Tirto Adhi Soerjo dan Boki Fatimah, puteri Sultan Bacan /Foro JalaMalut

13/11/2019 · 5 Menit Baca

"Perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik, harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan". Jika kalimat ini diucapkan perempuan milenial sebagai penanda kemajuan maka kita akan mahfum. Tapi jadi berbeda jika dilontarkan di tengah masyarakat yang kudu memegang teguh adat dan menganggap perempuan "tak boleh" sejajar dengan lelaki. Butuh keberanian dan pemberontakan. Itulah yang dilakukan Siti Ruhana Kuddus. Perempuan Minang kelahiran 20 Desember 1889 ini memang bukan perempuan biasa. 

Ayahnya  Sutan Maharadja adalah seorang jaksa. Ibunya mengurus rumah, namun sejak lahir di Kota Gadang Kabupaten Agam Sumatera Barat, Ruhana sudah memberi beda. Ikut ayahnya berpindah tugas, Ia tak sempat sekolah. Sejak kecil Ruhana belajar baca tulis di rumah. Saat usia sekolah, Ia sudah pandai mengaji lalu juga membaca dan menguasai bahasa Melayu dan Belanda. Banyak buku dan majalah Belanda yang dibaca. Pengetahuannya melintas batas. Karenanya,  Ia sedih ketika mendapati fakta, perempuan masih jadi kelompok marginal. Terpinggirkan dalam tarung dominasi.

Di usia 27 tahun, Ruhana bergerak. Ia mendirikan perkumpulan "Amai Satia". Sekitar 60 perempuan ikut rapat perdana dan bersepakat untuk membentuk sebuah wadah berkumpul.  Mulanya hanya mengajarkan keterampilan. Lalu meningkat jadi baca tulis. Hasil karya keterampilan perempuan yang bergabung dijadikan jualan. Ekonomi bergeliat. Perempuan mulai "keluar" rumah. Namun aktifitas ini tak lama, situasi Minang tak banyak beri ruang gerak untuk perempuan. Ruhana yang menikah dengan aktifis pergerakan Abdul Kuddus memilih pindah. Awal tahun 1900, Ruhana yang cerdas itu bergabung dengan surat kabar Poetri Hindia. Jadi jurnalis. 

Poetri Hindia adalah surat kabar yang dikelola banyak perempuan. Terbit pertama kali di Batavia 1 Juni 1908, sepuluh hari setelah Boedi Oetomo berdiri. Ada peran besar Raden Mas Tirto Adhi Soerjo karena surat kabar ini bagian dari grup Medan Prijaji. Banyak nama perempuan hebat yang tercatat di kolom redaksinya. Salah satunya adalah Toean Poetri Radja Fatimah. Putri Sultan Bacan. Sayang, hidup Poetri Hindia tak panjang karena keburu dibredel Belanda yang merasa kian terancam. Maklum, Poetri Hindia tak hanya dibaca perempuan dari Sabang hingga Merauke, surat kabar ini juga laris manis di negeri jiran.

Ruhana lalu pulang kampung. Berbekal pengalaman kerja di Batavia, Ia kemudian mendirikan surat kabar Soeting Melajoe dan terbit pertama kali pada 10 Juni 2012. Ia meyakini, berita surat kabar sangat membantu perempuan untuk berkembang. Lebih dari itu, media ini jadi alat penyebar cita cita merdeka. Inilah surat kabar pertama di Indonesia pada masa awal pergerakan yang sepenuhnya "dikendalikan" oleh perempuan. Ruhana sendiri jadi pemimpin redaksinya. Seluruh redaktur hingga jurnalis lapangan semuanya perempuan. Selain Soeting Melajoe, Ruhana juga tercatat bekerja pada surat kabar "Perempuan Bergerak" hingga "Cahaya Sumatera". Nyaris 30 tahun Ia jadi jurnalis pejuang.

Dalam perjuangan kemerdekaan itu, Ruhana juga disebut berkontribusi nyata menyelundupkan senjata dari Kota Gadang ke Bukit Tinggi. Ia juga mendirikan sekolah Dharma Putera. Jadi pengajar pula di sekolah itu. Ruhana jadi satu satunya guru perempuan yang tak bersekolah formal dan  mengajar siswanya yang juga laki laki. Ia bisa dibilang sosok antitesa dari pergerakan RA Kartini di Jawa yang hanya bisa menulis surat kepada "teman" Belandanya dan berkeluh kesah tentang nasib perempuan pribumi yang terjajah. So, sangatlah wajar jika jurnalis perempuan pertama ini diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintahan Jokowi.

Sejarah berbeda dituliskan untuk Toean Poetri Radja Fatimah. Menurut Pramoedya Ananta Toer, puteri Sultan Bacan lulusan MULO ini yang akrab disebut Boki Fatimah,  sejatinya juga adalah jurnalis perempuan hebat. Adalah pernikahannya dengan  Tirto Adhi Soerjo pada 6 Februari 1906,  yang membuat Boki Fatimah bersentuhan dengan kerja jurnalisime. Tirto adalah pendiri Sarekat Dagang Islam. Ia juga yang mendirikan dan memimpin surat kabar "Medan Prijaji" di Bandung pada Januari 1907.

Medan Prijaji  yang terbit setiap hari Jumat itu dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie yang terletak di kawasan Pancoran Jakarta. Ukurannya mungil mirip buku. Rubrik tetapnya berisi masalah hukum,  cerita bersambung, surat menyurat berisi protes dan aduan rakyat serta iklan. Surat kabar ini jadi media propaganda memihak rakyat yang dikriminalisasi Belanda. Agar survive, Tirto membuat perusahaan pers sendiri. Sahamnya dibeli pembaca. Salah satu pemilik saham terbesar adalah  Oesman Syah, kakak ipar Tirto.

Dalam "Jejak Langkah" buku ketiga dari Tetralogi Pulau Buru punya Pramoedya Ananta Toer, nama Boki Fatimah - ditulis sebagai Prinses Van Kasiruta - diceritakan sebagai perempuan petarung yang hanya tunduk pada perintah suaminya. Ia adalah ningrat kaya yang sangat paham kehormatan dan rela berjuang korbankan apapun untuk suami dan rakyatnya. Sang Boki diceritakan sebagai perempuan berprinsip yang tak mau melihat penindasan, mahir berkuda dan ahli menembak. Sesuatu yang sudah "dilatih" ayahnya Sultan Muhammad Sadik Sjah (1862 - 1889) jauh sebelum bertemu Tirto.

Dari cerita Pram pula kita tahu Boki Fatimah belajar menulis dan mengelola surat kabar. Kecerdasan khas timurnya sangat membantu. Belum lagi pengetahuan dan kemampuan menulis dan berbahasa asing yang sangat baik. Mirip seperti Ruhana, sang Boki juga berkarir sebagai redaktur di surat kabar Poetri Hindia. Mengikuti suaminya yang jurnalis itu. Ia adalah bulan sekaligus matahari bagi Trito yang terus bergerak menentang Belanda baik lewat tulisan-tulisan bernasnya di Medan Prijaji atau sokongan pergerakan berbasis ekonomi lewat Sarekat Dagang. "Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan", tegas Tirto. 

Daniel Dhakidae, Direktur Prisma Resource Center, menilai Ruhana dan juga Boki Fatimah adalah sebagian dari kaum terpelajar yang gigih membangkitkan kesadaran nasional untuk merdeka. Mereka bisa dikata menjadi kelompok intelektual organik. Kelompok yang dalam pandangan Antonio Gramsci, bersedia menumbuhkan kesadaran kelas dan memantik semangat pergerakan yang revolusioner. Agar tujuannya tercapai, mereka memilih menggunakan surat kabar untuk menyebarkan gagasan merdeka ke masyarakat. Ruhana dan Boki Fatimah adalah jurnalis perempuan yang menyebar semangat anti penjajahan.

Sayang keduanya berbeda tapak. Kiprah Ruhana terus berlanjut usai Republik merdeka. Sedangkan langkah Boki Fatimah terhenti saat suaminya Tirto ditangkap Belanda atas perintah Gubernur Jenderal Idenburg. Di bagian akhir "Jejak Langkah",  Pram mengisahkan "perpisahan" Tirto dan Boki sebagai sebuah ironi. Mereka tak sempat bertemu muka. Tirto dibawa Belanda tanpa diadili. Dibuang ke Ambon tahun 1913. Satu satunya "barang" isterinya yang terbawa adalah handuk yang biasa dipakai mandi. Boki lalu pulang ke Bacan. Melahirkan seorang putera turunan Tirto. Tak ada catatan tambahan soal kehidupan Boki saat di Bacan. Penanda perempuan hebat ini pulang kampung adalah makamnya yang terletak di bukit yang sepi  jauh dari pusat kota. Di ujung sana, Ruhana Kuddus ditulis jejaknya dengan indah. Sementara di sini, Boki Fatimah seperti dilupakan sejarah. Bahkan di kampung halamannya sendiri, nama ini hanya disebut secara samar. 

Padahal Ia adalah puteri Sultan Bacan. Sebuah kesultanan besar dan berdaulat penuh yang memiliki relasi perdagangan kelas dunia, menggunakan mata uang sendiri dan memiliki aset kekayaan bahkan hingga ke tanah pasundan. Harta kekayaan itu antara lain tanah alun alun kota Bandung dan beberapa hotel megah di pusat kota. Boki dan kakaknya Oesman Syah -  pengusaha pribumi itu yang memiliki saham besar di perusahaan pers penerbit Medan Prijaji - sejak kecil telah dididik sang ayah untuk terus merasa merdeka dan berdaulat sebagai manusia dan bangsa. Dari mereka, jejak merdeka bangsa ini dimulakan.

Catatan yang tersisa memang masih banyak yang harus digali dan perlu ditulis dalam narasi - narasi besar daerah ini. Dari tetralogi Pram misalnya, kita sangat paham, tanpa Boki Fatimah dan Oesman Syah, Medan Prijaji mungkin tak segemerlap surat kabar pribumi pertama yang begitu menakutkan Belanda. Tanpa Boki, bisa jadi Tirto Adhi Soerjo bukan apa apa di pentas pergerakan nasional. Boki adalah keutuhan hidup bagi Tirto seperti yang sering diucapkannya, "Orang Kasiruta bilang, telor adalah keutuhan yang sempurna, di sana selamanya terkandung kehidupan".

Di ujung semua ini, ada benang merah yang menautkan Ruhana, Boki Fatimah dan seorang perempuan kekinian bernama Ika Fuji Rahayu. Berbeda panggung memang. Ruhana dan Boki adalah kemewahan sejarah masa lalu. Sedangkan Ika tengah menulis sejarahnya sendiri. Dan benang merah itu bersandi jurnalis perempuan. Nama terakhir adalah pemimpin redaksi harian Malut Post, sebuah surat kabar berjejaring nasional yang terbit di Ternate. Ika yang anak Halmahera itu - sama seperti Ruhana dan Boki Fatimah -  memulai mimpinya dengan banyak membaca. Lalu setelah itu menulis. Dengan membaca dan menulis pula, mereka menegaskan sikap perempuan yang tak mau "dikalahkan". Lalu merembet pada tuntutan kesetaraan, kemanusiaan dan kesejahteraan. Dan akhirnya relakan mereka memimpin seperti yang dibumikan Ika, "Kita punya cita cita yang sama, pengalaman yang tidak jauh berbeda, kita punya kemampuan, kita pasti bisa berada di depan dan kita bisa jadi pemimpin".


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca