× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Hening Lebaran Kita Kali Ini

Ada yang tak bisa diberikan teknologi...
Hening Lebaran Kita Kali Ini
pixabay.com

23/05/2020 · 15 Menit Baca

“Sambil memandang kotanya yang tidak berubah melalui jendela, Dokter Rieux hampir tidak merasakan sekilas timbulnya kemuakan menghadapi masa datang yang disebut kecemasan. Dalam pikirannya, dia coba mengumpulkan apa yang ia ketahui tentang penyakit itu. Angka-angka beterbangan dalam kenangannya. Dia ingat bahwa sekitar 30 epidemi sampar yang terjadi dalam sejarah telah menyebabkan hampir seratus juta orang meninggal. Tetapi apa arti seratus juta orang mati? Dan karena orang mati hanya berarti jika mayatnya ditemukan atau dikenal, maka seratus juta mayat yang tersebar dalam sejarah hanya merupakan asap dalam khayalan.” (Sampar, hlm.45—45)

La Peste karya Camus yang dinukil untuk mengawali tulisan ini terbit tahun 1947. Lalu 38 tahun kemudian, N.H. Dini menerjemahkan dan membuat pembaca di Indonesia bisa menikmati karya yang konon membuat Camus dihadiahi Nobel Sastra itu (1).  

Novel Sampar sengaja saya petik untuk mereka ulang bagaimana manusia ketika berhadapan dengan wabah: Covid-19 yang membuat kita “dihukum” untuk berada di rumah dan memaksa kita menjalani lebaran dengan cara berbeda.  

Kita diimbau salat Idul Fitri di rumah. Wabah ini jauh lebih serius daripada yang kita kira. Hening lebaran kita kali ini.

Sebelum wabah ini datang, saya tidak pernah membayangkan bagaimana harus salat Id di rumah, bukan di lapangan atau di masjid. Lalu, seketika, memori tahun-tahun yang lewat mengemuka di ingatan, ketika saya masih bebas meruntuhkan dosa dengan berjabat tangan selepas salat Id. Suka cita dan kegembiraan hadir di wajah orang-orang yang saya temui.

Berlebaran, di masjid atau lapangan adalah satu kesempatan bertemu dengan satu warga kampung-kelurahan –terkadang memamerkan baju keluarga terbaru, mukena model baru, dan segala sesuatu yang berbau toko. Selepas kita melaksanakan salat Id, khatib berceramah-membacakan khutbah, dan setelahnya kita bersalam-salaman. Barangkali hanya pada momen lebaran seperti inilah kita berkesempatan menyalami semua orang yang dekat di lingkungan kita selain di acara pernikahan. Saya tidak menyebutkan “melayat”karena momen semacam itu tidak kita lewati dengan gembira.

Ada tradisi yang terpaksa berubah. Dulu kita bersalaman-barangkali sambil melirik lebih detil pakaian orang yang kita salami kenakan- pulang ke rumah, membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima tamu. Menggelar hidangan yang mampu kita sajikan. Merayakan kemenangan. Sekarang: salat di rumah (meski beberapa hari sebelumnya tetap nakal ke pusat perbelanjaan dan mencomot sehelai sampai lima helai baju baru), bermaaf-maafan melalui video dan bersahut-sahutan turut memaafkan di grup Whatsapp. Meski terkadang esensi dari kata maaf itu tidak sampai di hati tapi ya sudahlah.

Patut disayangkan bila di beberapa tempat di negeri ini, masih banyak manusia-manusia ceroboh dan bermasa bodoh, tidak peduli anjuran pemerintah, bebal dan percaya mereka kebal dari apa pun, menyandarkan nasib pada takdir semata-mata bahkan dengan bangga menyebarkan sikapnya itu di media sosial. Mereka tetap bergentayangan di mal,  bersenda gurau di jalan tanpa pelindung sementara di bangsal-bangsal rumah sakit, tenaga medis harus tabah menyampaikan rindu lewat pertemuan maya yang singkat, terbatas dan kadang diserobot kendala teknis yang tak mau bersahabat.

Kecerobohan selalu gigih, kata Camus. Dalam sebuah nonfiksi,  Plagues and People (2)  karya William H. McNeill juga memperlihatkan ketidakpedulian manusia jika menyangkut wabah.

Meskipun, di satu tempat yang lain, ada seorang istri yang harus menghadapi lebaran besok sendiri. Suami dan ibunya tewas karena virus itu, tujuh hari sebelum takbir kemenangan berkumandang, ada anak-anak yang terpaksa yatim dan piatu. Ada seorang sahabat yang ikut menanam kakeknya ke tanah dan harus melewatkan hari raya tanpa tatapan jenaka dan petuah sang kakek. Sebelumnya kita banyak menyaksikan berapa banyak jenazah yang harus dikuburkan tanpa diiringi keluarganya. Tiap-tiap dari kita punya daftar duka masing-masing.

Setidaknya, untuk hal-hal seperti itulah kita menahan diri. Bersimpati. Bukankah Ramadan dihadirkan untuk mengajarkan itu kepada kita?

Sampar hanyalah salah satu dari sekian banyak novel yang mengulas bagaimana cara manusia menyikapi wabah. Novel Jose Saramago-Blindness juga menggambarkan dengan mengerikan ketika wabah kebutaan yang datang tiba-tiba, mampu memunculkan kerapuhan manusia. Pengarang asal Portugal itu mengulas bagaimana wabah yang disebut  white sickness memperlihatkan sifat asli sebagian mahluk yang disebut paling berakal: masa bodoh, oportunis, keras kepala. Toko-toko rusuh karena orang-orang tak lagi dapat bertransaksi jual beli, struktur yang menopang gaya hidup modern ternyata sangat rapuh, pemerintah menjadi gagap, teknologi tak berdaya.

Pada masa-masa awal sampar menimpa Kota Oran, sebuah kota di mana senja turun dengan cepat, penduduk kota juga bersikap seolah-seolah itu “sekadar” wabah yang bisa dilalui dan setelahnya mereka kembali beraktifitas seperti semula.

“Dalam  hal ini, penduduk kota kami, seperti semua orang, hanya memikirkan diri mereka. Dengan perkataan lain, mereka manusiawi: mereka tidak percaya akan adanya bencana. Bencana tidak berukuran manusiawi. Jadi manusia berpikir bahwa bencana itu tidak nyata, satu mimpi buruk yang akan berlalu. Tetapi mimpi buruk itu tetap tidak berlalu. Dari satu mimpi buruk ke mimpi buruk lain, manusialah yang berlalu. Dan yang pertama-tama yang bersifat manusiawi karena mereka tidak bersiap-siap. Penduduk kota kami tidak lebih berdosa dari yang lain- lain. Mereka hanya lupa berendah diri. Dan mereka berpikir bahwa segalanya masih bisa dicapai, maka karenanya bencana tidak mungkin datang. Mereka meneruskan berdagang, menyiapkan perjalanan dan mempunyai pendapat. Bagaimana mungkin mereka memikirkan penyakit sampar yang memusnahkan masa depan, perjalanan dan bisnis? Mereka mengira bebas, padahal tak seorang pun akan bisa bebas selama masih ada bencana.”(hlm.45)

Hal yang sama terjadi hari ini, ketika orang-orang patuh untuk tidak beribadah ke masjid tetapi tak tahan dan rela menempuh risiko terpapar untuk mendatangi mal dan pusat perbelanjaan lainnya. Saramago menyertakan itu juga dalam Blindness, “The difficult thing isn't living with other people, it's understanding them."(3) 

Yang rumit bukanlah hidup berdampingan dengan orang lain, tetapi memahami mereka. Kita takkan pernah tahu apa yang ada di kepala orang lain. Seperti kita tak mengerti mengapa ada orang yang rela menimbun masker lalu menjualnya dengan harga berkali lipat, atau mengapa ada orang-orang yang tega membuat kebijakan tanpa melihat umat manusia sebagai jiwa yang bernyawa, tetapi tak lebih dari perhitungan untung dan rugi. Saya pernah melihat seorang ibu memaksa seorang pegawai minimarket (sepertinya kerabatnya) “menyimpan dulu” semua stok susu yang ada di belakang meja kasir di tengah-tengah kelangkaan susu bermerek S tersebut.

Di bagian lain Blindness, Saramago menulis:

“You never know beforehand what people are capable of, you have to wait, give it time, it's time that rules, time is our gambling partner on the other side of the table and it holds all the cards of the deck in its hand, we have to guess the winning cards of life, our lives.

Kita tak pernah tahu apa yang manusia bisa lakukan. “Kamu harus menunggu,” kata Saramago. Memberinya waktu. Waktulah yang akhirnya menentukan. Waktulah lawan bertaruh kita di seberang meja, yang memegang semua kartu kunci. Kitalah yang harus menebak kartu mana yang akan menang: hidup kita.

Pandemi hanya mengubah gaya hidup dan komunikasi kita sementara-bukan kepekaan kita. Panggilan video ke sanak keluarga dan pertemuan virtual antarkaryawan dengan atasan menjadi sesuatu yang lumrah. Kita menegar-tegarkan diri dan berkata dengan kepala tegak: kita bisa melewati ini.

Barangkali, spesies kita akan mampu bertahan dari wabah ini. Kita akan kembali mengunjungi tempat-tempat keren-bertemu orang-orang terkenal lalu memamerkannya di Instagram dan di semua akun media sosial yang kita punya. Memadati jalan-jalan dengan gegabah: memuntahkan racun ke langit dari knalpot kendaraan kita. Menunjukkan betapa keren hidup yang kita jalani. Hidup berjalan seperti semula. Kita berdamai dan menerima virus korona seperti kita membuka diri terhadap sampar, malaria, AIDS, dan wabah mematikan lainnya. Menyerahkan nasib pada seberapa kuat daya tahan tubuh mampu melawan virus.

Saya jadi ingat penutup The Plague, versi bahasa Inggris dari La Peste, dari sudut pandang Dokter Rieux, tokoh yang sabar mendampingi penduduk kota menghadapi wabah -meski tak didukung sepenuhnya oleh pemerintah kota dalam novel Camus itu.

“...meskipun khalayak yang bersuka ria itu tidak mengetahui (namun sebenarnya bisa belajar dari buku-buku) bahwa basil sampar tidak pernah mati ataupun menghilang buat selama-lamanya. Bahwa basil dapat menetap berpuluh tahun, tertidur di perabotan rumah dan pakaian. Bahwa dia menunggu  dengan sabar di kamar-kamar, di kelder, di peti-peti, di sapu tangan ataupun segala alat tulis beserta kertasnya.” (hlm. 386)

Covid-19 akan selalu ada. Itu kenyataan pahit yang harus diterima. Kita tiba di titik saat harus memilih antara apa yang kita cemaskan dan apa yang kita percaya.

Wabah ini menyadarkan satu hal lain juga, ketika kita harus melalui bulan suci dan lebaran dalam keheningan: ada yang tak bisa diberikan teknologi: sentuhan, aroma. Kita bisa melihat orang-orang yang dicintai tanpa bisa menyentuh mereka. Teknologi bisa melipat jarak tetapi takkan mampu menggantikan sentuhan. Saya ragu ada kecerdasan buatan yang mampu mengisi ruang kosong yang timbul setiap kali kita selesai melakukan panggilan video.

Awalnya itu cukup. Tapi kemudian tidak lagi.

 

Catatan:

(1) Camus, Albert (2013). Sampar. Alih bahasa N. H. Dini. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia 

(2) McNeill, William H.(1998). Plagues and People. New York: Anchor. 

(3) Saramago, Jose. (2007). Blindness. Alih bahasa Arif Bagus Prasetyo. Jakarta Ufuk Press.


Share Tulisan Darmawati Majid


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca