× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Titik

Tetapi kemana mereka mendapatkan akses informasi? Yang dilakukan hanya menghindar ke ketinggian dalam sunyi.

Direktur LSM RORANO
Titik
Warga Mayau, Batang Dua, yang mengungsi paska Gempa 7,1 SR Jumat dinihari 15/11. (foto tim bencana GPM Mayau)

15/11/2019 · 5 Menit Baca

Jarum jam belum sepenuhnya bergerak dari tengah malam. Separuh penduduk bumi di Utara Maluku terlelap. Dan bumi berguncang dengan keras. Berhamburan warga memeluk panik. Di layar tv dan ponsel, berkedip peringatan tsunami. Hebohlah seantero negeri. Lalu kita menyerbu berbagai media informasi. Mengabarkan atau mencari kabar itu. Yang paling diburu adalah layanan Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Website, aplikasi online, twitter dan apapun yang berisi informasi dipelototin. Orang ramai lupa jika BMKG juga mengurus prakiraan cuaca dan iklim. BMKG selepas tengah malam itu hanya berarti geofisika. Isinya gempa bumi.

Apa yang dicari? Magnitudo atau kekuatan gempa, lalu di mana pusatnya? Pasti sangat dekat karena guncangannya keras. Yang tak punya aplikasi, kehabisan batere, tak punya pulsa data atau lupa ponselnya nyasar di mana akan bingung. Hoaks menyebar. Berita mulut di sambung dengan telinga. Dan kacaulah kita. Melupakan "titik" yang dicari. Padahal hal terpenting meresposn setiap gempa bumi adalah mencari tahu besaran magnitudonya dan lokasi pusat gempa itu. Tentunya setelah "berlari" mencari tempat yang dirasa aman. 

Kerusakan rumah penduduk di Batang Dua.

Dari publikasi BMKG lima menit setelah lindu itu, kita baru tahu jika gempanya berkekuatan 7,4 SR lalu direvisi jadi 7,1 SR. Pusatnya ada di 1,63 LU dan 126, 4 BT atau 134 km Barat Daya Jailolo Halmahera Barat. Meski begitu, warning tsunami dikeluarkan. Dan kita secara berjamaah menuju dataran tinggi. Kita kembali melupakan "titik" itu. Kita juga lupa dengan respons waras yang mesti dilakukan. Dengan status waspada tsunami, tinggi gelombang tsunami itu jika datang diperkirakan sekitar 50-60 cm di atas permukaan laut. Jika  berstatus Siaga, bisa kurang dari tiga meter tingginya dan yang paling dahsyat jika warning tsunami disertai status Awas. Tinggi tsunami bisa lebih dari tiga meter.

Lindu malam tadi sejatinya mengulang kisah yang sama lima bulan lalu. Malam itu, awal Juli masih di tahun ini selepas tengah malam, lindu berkekuatan 7, 0 SR juga mengguncang sebagian besar Maluku Utara dan Sulawesi. Warning tsunami juga dikeluarkan BMKG. Berjamah kita juga "lari" ke ketinggian. Rilis lembaga itu juga mencatat sebuah "titik". Pusat gempa ada di 0.50 LU dan 126,17 BT. Jaraknya 136 Km Barat Daya Ternate. Jika dicermati, "titik" nya nyaris sama. Tapi kita lagi-lagi lupa. Amnesia kita diperparah dengan joke dan gurauan seolah gempa itu sesuatu yang pantas dilucukan.

Kerusakan rumah warga Batang Dua

Penjelasan BMKG juga membuat kita paham, gempa skala besar itu terjadi akibat deformasi. De bisa dimaknai sebagai "menyusun ulang" formasi-letak, struktur, bentuk--entah batuan atau kerak bumi. Dan model deformasi seperti ini akan terus terjadi. Setiap hari akan ada "de" atau bisa juga terjadi dalam periode mingguan, bulanan atau intervalnya berwujud tahunan. Mengapa?. Dalam Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi vol. 3 Agustus 2012 disebut, wilayah Maluku Utara adalah tuan rumah pertemuan tiga lempeng besar yakni Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Potensi gempa ini dilengkapi dengan banyak subduksi atau tumbukan lempeng lokal seperti lempeng Filipina, lempeng Sangihe, lempeng Laut Maluku dan lempeng Halmahera. 

Kondisi ini makin bertambah runyam karena kita juga dihimpit dua megathrust. Satu di bagian utara--di atas Morotai--hingga Filipina dan di bagian selatan yang berpusat di laut Banda. Ada pula pergerakan sesar aktif Sorong-Bacan yang memicu gempa Gane Juli 2019 dan sesar Sorong-Sula. Di Halmahera Barat sering pula terjadi gempa berjenis Swarm yang dipicu aktifitas magmatik. Karena itu kita sepatutnya sangat waspada dengan memperkuat mitigasi serta rencana kedaruratan.

Kembali ke soal "titik". Setiap gempa besar terjadi akibat subduksi lempeng di bagian utara, fokus saya selalu tersedot ke kecamatan Batang Dua. Ada dua pulau besar berpenghuni di sana yang terletak di antara Ternate dan Bitung. Pas di tengah lautan yang berhimpitan dengan pasifik. Secara administratif, kecamatan berjarak lebih dari 100 nautical mile ini punya enam kelurahan dengan kurang lebih 3000-an penduduk. Mayoritas ada di pulau Mayau yang punya empat kelurahan. Sisanya ada di pulau Tifure. Kedua pulau ini berjarak lebih dari 20 nautical mile.

Kerusakan akibat gempa, di Batang Dua.

Di Mayau, jaringan telepon hanya ada di ibukota kecamatan itu. Tiga kelurahan lainnya tak bisa diakses dengan telepon. Apalagi di Tifure. Dering telepon tak pernah didengar warga meski Republik ini sudah berusia lebih dari 70 tahun. Malam tadi atau malam lima bulan lalu saat lindu besar mengguncang disertai deringan peringatan tsunami, ribuan warga di sana merasakan kepanikan dan rasa takut yang sama. Tetapi kemana mereka mendapatkan akses informasi?. Yang dilakukan hanya menghindar ke ketinggian dalam sunyi. Beruntung ada sekelompok anak muda Gereja Protestan Maluku (GPM) yang terlatih merespons bencana. Merekalah yang jadi "leader" mengevakuasi warga. Berbagi ketenangan lalu mendata yang rusak. Ada tiga gereja dan belasan rumah warga rusak. Mereka tetap bekerja meski juga tak tahu sepenuhnya kapan ancaman nyata itu datang atau pergi.

Pengungsi Batang Dua

Tentang Batang Dua juga berarti berkelindan dengan "titik" penting dalam narasi besar sejarah Ternate. Di masa lalu, mereka berkontribusi dalam lahirnya kota otonom ini lewat wilayah dan orang-orang yang dihitung sebagai warga kota. Di masa depan, merekalah penjaga keberlangsungan kota. Karena mereka wajah kota jadi berwarna. Plural. Ironisnya sebagimana "titik" yang lain, mereka hanya terekam dalam memori saat ada "kepentingan". Di lupakan saat semuanya "aman". Mereka sejatinya hanya butuh kebijaksanaan yang diketik dengan "K".

Pengungsi, Batang Dua.

Izaac Newton, ahli fisika yang terkenal itu memberi pengingat, kebijaksanaan adalah seni membuat titik tanpa membuat musuh. Batang Dua bisa jadi mirip sepasang pulau atol bernama Midway yang terletak di antara Tokyo dan San Fransisco. Pulau inilah yang jadi "titik" penentu arah Perang Dunia II khususnya antara Jepang dan Amerika. Paska pengeboman Pearl Harbour 7 Desember 1941 yang dirayakan sebagai kemenangan terbesar, Jepang seperti ditelanjangi saat Tokyo dibombardir oleh beberapa pesawat Amerika dalam misi pengeboman gila James Harold Doolitke dkk.

Lalu Jepang yang malu itu bereaksi. Disusunlah rencana merebut Midway yang punya runway pesawat tempur. Jika Midway direbut maka Hawaii lalu daratan Amerika tinggal sejengkal. Jepang tak pernah tahu, rencana menyerang Midway bocor di tangan telik sandi Amerika. Dengan kekuatan besar Angkatan Laut - 131 kapal perang berbagai jenis dan 6 kapal induk - di tambah ratusan pesawat tempur, Jepang menggempur. Amerika yang cuma bermodal 50 kapal perang plus 3 kapal induk ternyata lebih siap. Mereka menunggu lalu menyergap armada Jepang dalam tiga hari pertempuran di bulan Juni 1942. 

Jepang dibawah komando Laksamana Isoruku Yamamoto dipukul habis. 4 kapal induk mereka tenggelam di bom Amerika. Puluhan kapal perang juga karam, 248 pesawat rontok dan lebih dari 3000 prajurit tewas. Ini kekalahan pertama Jepang sekaligus kemenangan pertama Amerika dibawah komando Laksamana Chester Nimitz meski mereka juga kehilangan 1 kapal induk, 98 kapal pesawat dan 307 prajurit.

Midway yang difilimkan ulang oleh sutradara Roland Emmerich (Universal Soldier, Independence Day, White Hause Down) sejatinya menceritakan tentang pentingnya sebuah titik dalam taktik dan strategi. Kita tentu berharap, pukulan pukulan bencana atau ketidakadilan tidak berujung pada akhir kehidupan. Tetapi di semua "titik" itu lewat mitigasi dan pembangunan "seutuhnya" akan memformulasi kebangkitan kita untuk terus bertahan dan menjadi lebih baik.

Pengungsi Batang Dua.

Mohammad Ali, petinju legendaris bermulut besar tapi tidak angkuh itu memberi penyemangat: "Hanya orang yang tahu bagaimana rasanya dikalahkan yang bisa mencapai titik terbawah dalam jiwanya dan bangkit kembali dengan kekuatan tambahan yang dibutuhkan untuk menang".

BACA JUGA: Menulis Perempuan Membaca

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca