× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#MEDIA

Jurnalisme Itu Pemantau Kekuasaan

Pisau jurnalis adalah 'investigative reporting'.
Jurnalisme Itu Pemantau Kekuasaan
Sember; Google.

08/08/2020 · 15 Menit Baca

Saya punya satu isu yang saya pikir penting untuk kita diskusikan, mengingat hal ini kerap luput dari tradisi jurnalisme kita. Tuisan ini adalah sambungan resensi saya soal “Jurnalisme” yang saya tulis dari hasil diskusi dengan Andreas Harsono lewat bukunya. Namun sebelum masuk lebih jauh, saya pikir sangat perlu saya kenalkan nama Bill Covach dan Andreas Harsono, yang banyak saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya “Pentingnya Independensi Jurnalisme,” agar pembaca tidak kaku dengan kedua nama itu.

Bill Covach adalah seorang wartawan senior Amerika yang menulis buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach punya jam terbang yang banyak di dalam dunia jurnalistik. Kalau menurut Andreas, hati nurani jurnalisme Amerika ada pada Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatatakan, Kovach punya karier panjang dan terhormat. Demikian pula Goenawan Mohamad pendiri majalah Tempo, yang merasa sulit mendapatkan kesalahan Kovach. Kalau Andreas Harsono saya kenal lewat diskusi virtual yang diselenggrakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa tempat saya belajar jurnalisme di kampus beberapa waktu lalu.

Andreas punya karier banjang di bidang jurnalistik, dia pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur), dan Pantau (Jakarta). Andreas pernah belajar di Nieman Followship on Jurnalism di Universitas Harvad. Andreas juga menyunting buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat, serta buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, juga menulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme yang jadi motivasi saya menulis resensi ini.

Pada satu malam, seminggu yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman, kami bicara soal berita tentang penolakan laporan APBD Tikep 2019 hingga kondisi jalan di Kecamatan Oba Sealatan. Kami diskusi banyak, dan akhirnya kami sepakat, ada satu hal yang hampir tenggelam dalam tradisi jurnalisme kita hari ini. Karena sebab itulah, masyarakat kesuliatan melihat kebenaran saat media pers menyajikan informasi. Kalau kita lihat tradisi jurnalisme kebelakang, pada tahun 1964, ada sebuah hadiah Pulitzer (penghargaan yang menjadi dambaan persuratkabaran di Amerika Serikat) dengan kategori baru reportase, dimenangkan oleh Phalpedhia Bulletin. Hal ini kemudian menjadi pemicu gelombang pengawalan dan pemantauan ketat terhadap korupsi politik dan persoalan kebijakan pemerintah di Amerika Serikat waktu itu. Reportase ini dinamai investigative reporting yang sejak saat itu memberi tekanan kepada pers sebagai aktivis pembaru dan pengungkapan.

Dalam tulisan Kovach dan Rosenstiel “Sembilan Elemen Jurnalisme” mereka menempatkan elemen kelima jurnalisme adalah “Memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas,” ini yang saya pikir penting untuk saya tulis dan tak kalah penting untuk kita bahas. Kovach dan Rosenstiel memberikan rumus soal ini, mereka menyampaikan bahwa salah satu caranya adalah investigative reporting, yang juga pernah disbutkan oleh seorang senior saya, ketika saya menanggapi komentar Kepala Dinas PUPR Kota Tidore Kepulauan tentang kondisi jalan darat di Kecamatan Oba Selatan. Kata senior saya, “Persoalan komentar Kadis PUPR Tikep bila diseret terus menerus akan berimbas pada didepaknya si Kadis ini, karena memberikan keterangan yang tidak sesuai fakta, tapi harus ada investigative reporting dulu di jalan Oba selatan.”

Investigative reporting merupakan sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil dengan kontras menunjukan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum dan siapa yang seharusnya jadi terdakwa. Dalam satu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. Hal yang penting bukan dalam sebuah pemberitaan? Namun merurut Andreas, tradisi investigasi di Amerika Serikat dan juga di Indonesia banyak dijadikan lebel barang dagangan. Data yang diperoleh kadang tidak disajikan ke publik dan bahkan dijadikan sebagai bahan untuk mendapatkan uang. Yang paling umum digunakan media kita hari ini menurut Kovach dan Rosenstiel adalah tradisi pemberitaan. Misal, sajian informasi tentang rumor dan dengan seenaknya mereka menyebut telah melukan investigasi. Sialnya, pembaca, pemirsa, dan atau pendengar juga tidak memahami apa itu investigasi.

Pandangan Andreas, media seringkali berpikir dua kali untuk menugaskan wartawannya melakukan investigasi, karena sikap media terhadap isu yang mereka investigasi sangat berpengaruh pada reputasi mereka. Apalagi dalam skandal-skandal raksasa. Karena konsekuensi dari hasil investigasi yang salah bukan hanya menyulitkan orang yang didakwa tapi juga reputasi media juga tercemar. Ini mungkin sebabnya banyak media yang memilih memperdagangkan lebel investigasinya saja dibanding benar-benar masuk ke dalam investigasi.

Sejarah menyirat beberapa prestasi tentang keberhasilan wartawan dalam melakukan Investigative reporting. Salah satu catatan gemilang itu digoreskan dua wartawan The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Barnstein saat membongkar skandal Watergate. Citra wartawan tergambar pada keduanya. berangkat dari rasa ingin tahu yang besar, mematuhi kode etik, totalitas dalam bekerja, berani mengungkap kebenaran, dan kegigihan menembus narasumber. Mereka berhasil memukul mundur Richard Nixon dari jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat waktu itu. Keduannya membuktikan bahwa menjadi wartawan bukan perkara mudah, butuh kebulatan tekad serta kesiapan mental dalam menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Kalau kita putar pengelihatan kita pada catatan jurnalisme investigasi tanah air, hal ini tentu bukanlah satu hal yang baru. Pasca kemerdekaan Indonesia banyak sekali media dan pers yang memiliki sikap kritis terhadap kekuatan asing yang mengancam kemerdekaan Indonesia dan juga menjadi instrumen pengawalan kritis terhadap kinerja pemerintahan Indonesia. sikap ini dibarengi dengan kegaiatan investigasi jurnalisme dalam membongkar kejangalan-kejanggalan berbagai kebijakan pemerintahan yang dianggap merugikan masyarakat. Hal ini juga banyak menuai pujian dan tidak jarang mendapatkan tekanan dari pemerintah waktu itu. Atmakusumah Astramaja yang merupakan mantan redaktur Harian Indonseia Raya mengatakan, media mereka kerap kali dibredel, dihentikan kegiatan penerbitan dan peredaran, juga para jurnalis yang berjuang keras untuk kegiatan pemberitaan ikut mengalami tekanan dan ancaman. Bahkan, satu jurnalis dan pimpinan Harian Indonesia Raya, Mochtar Lubis, menjadi tahanan di penjara.

Dandy Dwi Laksono dalam bukunya, "Jurnalisme Investigasi" mengungkapkan bahwa, konon investigasi itu seperti seks, sebagian orang lebih suka mempraktikkannya dari pada berlama-lama membicarakan teorinya. Maka saya pikir wartawan jangan terlalu banyak ngomong soal ini, tapi harus turun langsung buat investigasi. Namun di Indonesia, liputan jurnalisme investigasi lebih banyak muncul sebagai suatu yang sporadik, dilakukan hanya sewaktu-waktu, karean dipicu kemunculan peristiwa dan juga disebabkan keterbatasan anggaran. Kalau seandainya media dan pers kita di Maluku Utara menelusuri berbagai macam kejanggalan di sini, pasti sangatlah menarik. Misal soal Ijin Usaha Pertambangan di Malut, atau bisa juga tentang sebab DPRD Tikep melakukan penolakan Laporan APBD Tikep tahun 2019. Tentu akan lebih seksi bukan? Ataukah media dan pers kita belum punya nyali untuk membongkar kejanggalan di atas? Tapi saya kira di masa demokrasi saat ini media dan pers kita pasti punyak banyak 'pisau' dan kebebasan untuk membongkar hal yang dianggap janggal perihal kebijakan pemerintahan yang merugikan masyarakat secara luas.

Jurnalisme Penyambung Lidah Rakyat

Senin, beberapa hari lalu, di satu siang yang menyengat, saya dengan beberapa teman berjalan pulang sehabis dari kebun. Kami bersama dengan serombongan siswa Sekolah Menengah Atas. Anak-anak itu berjalan dengan memegang sepatu mereka. Beberapa hari terkahir hujan memang rajin mengguyur Maluku Utara. Jalanan yang kondisinya becek. Seragam putih abu-abu mereka terpaksa sedidkit kotor. Maklum, belum ada jalan aspal di sini. Saat sedang serius bicara dengan anak-anak itu, teman saya menyarakan agar kondisi ini baiknya dipublikasi lewat media, agar pemerintah punya perhatian soal ini.

Ada beberapa media daring maupun cetak yang memuat berita tentang ini, saya cukup berharap hal ini mampu mengeser keberpihakan pembangunan agar lebih banyak perhatian ke Oba Selatan. Saya pikir media kita di Maluku Utara cukup konsisten sebagai penyambung lidah rakyat. tapi eksistensi itu patut dan perlu terus menerus kita tanyakan. Karena ketika pisau bernama Investigative reporting tidak digunakan dalam mengupas persoalan rakyat, tentu agak blur ketika media hanya memberitakan komentar masyarakat dan lalu gubrisan birokrasi soal keluhan ini, hal ini menurut saya tidak terlalu mempengaruhi kebijakan pemereintah. Andai saja ada media dan pers yang mengambil langkah melaksanakan Investigative reporting, tentu persoalan jalan di Kecamatan Oba Selatan, atau penoakan laporan pertanggungjawaban keuangan (APBD 2019) Tidore Kepulauan akan dilihat dengan sudut pandang berbeda oleh publik. Ini juga dipengaruhi oleh masih banyak sekali wartawan yang jarang melakukan liputan secara langsung di lapangan dan hanya menunggu pers rilis saja. Jadinya tidak ada angle berbeda dalam pemberitaan selain saling melempar opini.

Namun saya percaya jurnalisme kita akan sampai pada titik itu, karena peradaban sebuah bangsa tidak hanya dipandang dari sosial, ekonomi, politik dan budayanya saja,namun pilar ke empat demokrasi bernama pers adalah salah satunya. Kemajuan jurnalisme menandai kemajuan peradaban sebuah bangsa. Kemajuan jurnalisme semata-mata juga dipengaruhi oleh teknologi dan pengetahuan yang ada. Seorang wartawan tidak bisa hanya mengandalkan pena dan kertas saja. Wartawan membutuhkan banyak sekali pengetahuan dan disiplin ilmu. Amerika Serikat telah membuktikan itu. Saya juga meyakini bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki kebebasan pers.  


Share Tulisan Abubakar Ismail


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca