× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Rambut

Oleh Azhari Dasman.

Content Creator
Rambut
Donald Trump. Foto: Uzone.

14/08/2020 · 1 Menit Baca

Perdana Menteri Inggris yang terkenal karena isu Brexit adalah Boris Johnson alias BoJo. Padahal ia hanya mewarisinya dari Theresa May yang lempar handuk setelah tidak sejalan dengan parlemen. Sebenarnya, yang terkenal dari Mr. Johnson tidak hanya bagaimana ia menangani warisan May itu, tetapi juga rambutnya yang apa adanya.

Sejak menjadi politisi Partai Konservatif gaya rambut Mr. Johnson belum pernah keluar dari pakem acakadut. Kalau tertiup angin atau sedang iseng Mr. Johnson dengan santai merapikannya dengan sisir lima jari. Setelah itu, mahkotanya itu akan kembali seperti helm Friar Tuck, sekondannya pahlawan kaum papa: Robin Hood. Acakadut tapi konsisten. Sekonsisten tekadnya maju menggantikan Mrs. May.

Tak banyak para figur publik, termasuk di negeri tercinta, yang berani tampil dengan rambut acak-acakan macam orang baru bangun tidur. Di antara yang segelintir itu ada penyanyi Rod Steward yang terkenal dengan lagu Prau Lajar versi londonya. Di Indonesia ada almarhum wakil menteri ESDM Widjajono Partowidagdo, si pendaki gunung itu, yang selalu setia dengan gaya rambut nyelenehnya sampai akhir hayat.

Tidak hanya terkait bulu kepala, keacakadutan juga menyasar bahasa. Bahasa Inggris menyebutnya irregular words. Dalam bahasa Arab dikenal istilah broken plural, yakni bentuk jamak yang keluar dari pola umum. Bahasa Indonesia, sementara ini, masih menganggapnya sebagai anomali atau penegasan dari keunikan bahasa saja. Belum terdengar pola acak yang terdeteksi dan nama yang disepakati.

Richard Powell melalui bukunya Wabi Sabi Simple mengenalkan konsep Jepang tentang keindahan dalam ketidaksempurnaan. Salah satu contohnya adalah produk batik hasil pebatik Lulu Lutfi Labibi. Ketidaksempurnaan malam membuat motif batiknya unik dan laris manis tanjung kimpul. Pola batik yang "cacat" menjadi berkah. Model batiknya menjadi produk dengan alternatif keindahan lain dari yang lain. 

Dalam dunia lukis-melukis Indonesia ada nama Hanafi yang salah satu lukisan aneh dan acaknya dikoleksi Galeri Nasional. Judul lukisan "Pukul 12 Siang Hari" itu tak menggambarkan judulnya sama sekali. Tak ada visualisasi waktu apa pun di sana. Hanya ada deretan horizontal panjang angka-angka, gerendel besi, dan hal lain yang tumpang tindih tak jelas, menciptakan keindahannya sendiri yang unik dan tak umum.

Gaya Hanafi, konon, sama dengan gaya lukisan Wassily Kandisky yang terkenal. Coret-coretan ala Kandisky dan Hanafi itu dikenal dengan lyrical abstraction, abstraksi penuh emosi dan luapan perasaan. Cirinya adalah membelakangi aturan, emotif, personal, dan tak ada kaitannya dengan realitas objektif. Pokoknya sak-saké, bebas, tanpa aturan, tapi kok bisa indah dan cantik sehingga menjadi koleksi Hermitage Museum, Saint Petersburg, Moskow. Jadi keindahan itu juga bisa liris.

Keindahan itu juga tak linear. Hidung mancung,  kulit putih, rambut pirang tak selamanya menjadi parimeter kecantikan. Agen M16 dalam sekuel film James Bond berikutnya adalah wanita berkulit hitam dan berambut kribo, Lashana Lynch. Seirama dengan Miss Universe tahun 2019 yang mengingkari dominasi umum tentang cantik tadi. 

Kembali ke cerita bulu kepala. Meskipun berbagi banyak kesamaan dengan Mr PM tadi, seperti sama-sama dianggap rasis, koncois, dan dishonest, cerita rambut Mr Trump lain lagi. Mr President sangat menjunjung mahkota berbulunya yang kuning muda, aneh, dan kaku itu. Belum pernah rambutnya keluar dari kaidah, baik warna, maupun bentuk. 

Belum lama ini, signature Mr President itu berubah. Masih aneh tetapi lebih berkilauan: perak muda. Mungkin ada kaitannya dengan protokol kesehatan. Mr Trump, sepertinya, sedang mempraktikkan jaga jarak dengan tukang warna rambutnya, sehingga warna aslinya muncul kembali. Jadi warna perak muda itu adalah warna sebenarnya rambut Mr Trump, alias uban. Ternyata wabah juga membuat orang apa adanya, sekurang-kurangnya rambutnya. (AD)

 


* Azhari Dasman adalah Peneliti Leksikografi dan Terminologi, Badan Bahasa, Kemendikbud


Share Tulisan Lefo Ikhtisar


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca