× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#GAYAHIDUP

Apa sih Manfaat Membaca Komik?

So, perkara haram dan halal, faedah dan unfaedah ini sangat-sangat relatif.

Mahasiswa
Apa sih Manfaat Membaca Komik?
https://twitter.com/existentialcoms/status/1282781875207995392?s=19

22/08/2020 · 3 Menit Baca

Hidup sekarang rumpilnya bukan main. Bukan sekadar karena alasan ekonomi, tapi juga karena orang-orang sekarang banyak tetek bengeknya. Bahkan untuk sekadar melakukan sebuah hobi pun.

Mengingat di Indonesia yang masyarakatnya tergolong cukup konservatif ini, lebih-lebih konservatif dalam perkara agama. Saya sendiri termasuk orang yang pemahaman agamanya masih sangat minus. Meski begitu, paling tidak saya mengenal larangan-larangan fatal dalam agama yang tidak bisa dilanggar, dan saya merasa itu cukup untuk jadi kompas hidup saya.

Baidewei saya memiliki hobi membaca komik. Setiap ada waktu luang, saya pasti menyempatkan waktu minimal 2 atau 3 jam untuk membaca komik. 3 jam! Waktu yang cukup lama untuk perbuatan yang sia-sia.

Hampir semua jenis komik saya konsumsi. Dan karena hobi saya tersebut, saya sering mengskrensot tiap bagian chapter yang saya anggap sangat menarik dan waw untuk dilihat oleh teman-teman saya di WA stori atau di akun sosmed saya yang lain. Motivasinya satu: biar yang lain juga tertarik buat membacanya dan bisa merasakan keuwuan yang sama seperti saya.

Namun, lama kelamaan saya menyadari bahwa ada beberapa orang yang sepertinya mendongkol dengan hobi saya tersebut. Dan benar, akhirnya mereka mengomentari saya lewat japri. Orangnya ya itu itu juga. Mereka mempertanyakan kefaedahan dari membaca komik, dan kemudian mereka membandingkannya dengan manfaat membaca kitab suci.

Lah, ini serius? Kok kitab suci dibanding-bandingkan sama komik? Ya gak masok. Bahkan membandingkannya pun tidak pantas. Karena menurut saya ini adalah perkara kewajiban dan hobi semata. Hobi tingkatannya ya jauh berbeda dengan kewajiban. Apalagi kewajiban agama. Pernah suatu waktu manusia ini, sebut saja Ojo, berkata kepada saya, “lebih baik antum baca al-Quran. Dapat pahala dan nanti menjadi penyelamat di akhirat."

Ya, sebagai manusia yang pengetahuan agamanya masih cicilan ini, saya juga tahu membaca komik itu tidak bernilai ibadah dan tidak mendatangkan keselamatan di akhirat. Saya pasti kaget kalau tiba-tiba di akhirat kelak para tokoh Noblesse datang dengan soulweapon-nya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan. Namun demikian, saya yakin, ini semata-mata bukan sekadar perkara pahala saja, tapi lebih dari itu.

Percaya lah wahai akhi wa ukhti, meskipun kelihatan remeh, tapi banyak pelajaran yang dapat kita petik dari seongok kartun atau komik-komik itu; pengetahuan-pengetahuan yang mungkin kalian tidak pernah dapatkan di kehidupan nyata yang bisa jadi bermanfaat untuk kalian, walaupun membaca komik itu tak sebanding dengan membaca kitab suci.

Namun saya percaya, para penulis atau ilustrator komik punya tujuan tersendiri dalam membuat sebuah karya, bukan semata-mata keindahan gambar dan grafiknya saja tetapi juga mengenai isi dari ceritanya. Dan saya juga percaya komik tersebut umumnya diambil dari hal-hal atau persoalan-persoalan yang ada di sekitar mereka, baik sosial, budaya, politik, atau bahkan sejarah yang mungkin penting untuk diketahui oleh para pembacanya. Saya berikan contoh seperti manhwa favorit saya: dr. Frost.

Manhwa (komik Korea) karangan Lee Jong Beom ini bernuansa fiksi ilmiah yang mengkaji dan bercerita mengenai persoalan-persoalan psikologi melalui seorang tokoh bernama Profesor Baek Nam Bong atau dikenal dengan dr. Frost. Bagi kalian yang tertarik untuk belajar psikologi dengan cara yang asik dan menyenangkan, mungkin komik yang satu ini boleh dijadikan pilihan, karena jalan ceritanya sangat mudah dipahami. Terutama untuk kita yang masih merasa asing dengan psikologi. Selain itu, meskipun hanya sebuah komik, dr. Frost dibuat berdasarkan penelitian dan konsultasi langsung penulis dengan para ahli psikologi Korea (di dunia nyata tentunya), seperti Song Hyeongseok, Ketua klinik Heart to Heart, penulis artikel psikologi Nu Dasim, dan Seo Gyeonbo yang merupakan pengajar ahli di Fakultas Psikologi di Universitas Yonsei Korea. Jadi isi dari komik ini tak perlu diragukan lagi. Pasti banyak manfaatnya.

Ada juga komik yang bertemakan kehidupan keluarga; seperti manga karangan Kousuke Oono yang berjudul Gokushufudou. (Saya harap kalian pernah membacanya.) Ceritanya dimulai dari seorang tokoh bernama Tatsu yang beralih profesi dari seorang gengster Yakuza yang terkenal brutal di dunia hitam beralih profesi menjadi seorang bapak rumah tangga yang uwu dan lucu. Ia melakukan banyak aktivitas sebagai seorang ayah, mulai dari bersih-bersih rumah, berduel dengan kecoa, berburu sayur murah, mengejar diskon harian, dan terkadang menonjok orang yang ngotot menariknya kembali ke Yakuza.

Atau mungkin jika Anda termasuk orang yang menyukai seni bela diri, manhwa How to Fight dan Lookism bisa menjadi teman kalian untuk menambah pengetahuan kalian tentang seni bela diri. Ada pula manhwa dengan tema yang sama, seperti The God of Highschool dan Loser Life yang bukan hanya menggambarkan perkelahian, tetapi juga nilai-nilai persahabatan dan beberapa problem sosial.

Nah, tentu bukan hanya itu saja, masih banyak komik-komik lain yang menurut saya sangat berfaedah untuk dibaca yang mustahil saya sebutkan di sini satu per satu. Atau jika Anda cukup malas untuk membaca komik yang panjang dengan banyak kapter seperti itu, jenis komik strip pun bisa jadi pilihan. Komik strip juga umumnya diangkat dari kegelisahan yang biasanya dibuat sebagai kritik atau sindiran dalam bentuk yang unik dan jenaka.

Komik itu Haram?

Tentu perkara kefaedahan komik itu hanya lah satu dari sekian banyak komentar mereka kepada saya. Karena selain itu, mereka juga pernah mengatakan bahwa membaca komik itu haram, dengan dalih bahwa melukis makhluk hidup dalam agama itu dilarang.

Dalam chat pribadi, bahkan dia mengirimkan saya sebuah pesan suara hanya untuk meyakinkan saya berhenti membaca, dimana dia menjelaskan makna sebuah dalil pengharaman sepihak itu kepada saya, yang saya sendiri pun juga sudah lupa bunyi dalilnya apa. Yaa pokoknya HARAM lah!

Saya pernah membaca fatwa ulama di harian Republika mengenai hukum komik atau kartun. Di sana saya membaca bahwa mengenai hukum komik ini para ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mengharamkan, sebagaimana makhluk di atas, dan ada pula yang membolehkan. Tapi umumnya para ulama tersebut membolehkan, dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya, komik boleh dihukumi haram kalau komik tersebut memancing nafsu pembacanya.

Well, pengalaman pribadi selama membaca komik, nafsu saya tidak pernah tuh tiba-tiba lompat ke otak. Justru kelihatan aneh ya kalau kartun itu bisa membikin kita nafsu. Seolah-olah, mereka berpikir saya akan bernafsu kalau sampai membaca komik-komik itu. Yang jelas sampai sekarang saya masih sangat waras dan tidak pernah terpikir untuk menyunting gadis-gadis komik itu. Atau, itu mungkin bisa saja terjadi kalau saya sudah membenturkan kepala saya di tembok dan jadi gila.

So, perkara haram dan halal, faedah dan unfaedah ini sangat-sangat relatif, bergantung pada sudut pandang mana kita melihat komik tersebut. Tapi kalau Anda melihat komik sebagai tempat pelampiasan nafsu laiknya tempat esek-esek, ya ceritanya lain lagi.

And, for the last statement: I'm not a Wibu!


Share Tulisan Fadlan


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca