× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Telanjang

Perlahan kerakusan datang dan kita jadi lupa pada kebermulaan.

Direktur LSM RORANO
Telanjang
Ilustrasi; Pixabay.

16/01/2021 · 3 Menit Baca

Ini kisah waktu kecil. Saya dan beberapa teman sangat suka mengisi teka-teki silang. Saban waktu, kami mencarinya di antara buku-buku yang dibuang, potongan majalah atau guntingan surat kabar. Entah siapa yang membuatnya. Potongan kecil kotak bersusun dengan petujuk sederhana; ke kiri-kanan atau ke atas-bawah, ini benar-benar misterius. Saya tak tahu apakah pertanyaannya disusun lebih dulu baru dibuatkan kotaknya atau sebaliknya. Keribetan bertambah karena ada kata silang yang menjebak. Entah “silang” yang mana.

Suatu sore, kami menemukan potongan surat kabar lusuh. Ada teka-teki silangnya. Bekas diisi. Ada beberapa kotak yang kosong. Kami meriung sambil menjawabnya. Ada tiga baris kotak kosong. Ke atas-bawah dan ke kiri-kanan.

“Telanjang,” cetus temanku sambil menunjuk deretan kiri-kanan.
“Apa ya? Lima huruf?,” tanyaku
“Sudah ada dua huruf di awal, B dan U”. temanku memberi jalan.
“Bulat,” satu suara menjawab cepat.

Kami serempak memandangnya, lalu pecahlah tawa. Si “bulat” tertekuk wajahnya. Saat itu, kata ”bugil” sebagai padanan kata “telanjang” masih jadi kata sukar bagi kami yang cuma bercelana pendek merah.

Saat menulis ini, saya tetiba ingat “si bulat”. Bisa jadi spontanitas jawabannya saat itu membantu memecah ornamen-ornamen hidup yang penuh enigma. Saling bersilangan. Tentang takdir, nasib, kelimpahan rejeki dan juga kematian. Semuanya serba kusut masai tak tepermai. Satu dua tahu jawabannya. Sebagian besar tak pernah tahu atau malah membiarkannya jadi teka-teki. Jalaluddin Rumi menuliskan sebuah puisi;

           Pikirkan bagaimana Kau datang ke dunia ini
           Bisakan menjelaskan bagaimana hal itu?
           Dengan cara yang sama
           Bahwa Kau datang seperti cara Kau akan pergi.

Kita “datang” dalam keadaan telanjang. Terlahir sama dalam “ketelanjangan yang bulat.” Mungkin karena Kita juga berasal mula dari sesuatu yang “bulat”. Bulat berarti sesuatu yang tak berujung. Tak ada tepian. Tanpa batas-batas. Ada kuasa dengan “K” yang mengaturnya. Hidup dan berkembang seturut tantangan yang harus dihadapi. Lalu segalanya akan berakhir. Wujudnya berupa kematian yang juga diatur oleh “K”. Yang Maha Memutuskan.

Tentang kematian; Kita bahkan tak tahu bagaimana dia datang. Lewat pintu yang mana meski kita punya perjanjian dengan yang menciptakan bahwa hidup punya batas. Ada waktunya kita untuk “pulang”. Yang kita pahami adalah kematian sama dengan telanjang. Tak ada milik dunia yang dibawa. Lalu apa bekal kita saat pulang menghadapNya?.  

“Ketelanjangan yang bulat” saat datang dan pulang tak bisa sama dengan ke-bugil-an. Bugil lebih pada dominasi fisik. Polos. Ada seksualitas yang berkelindan dalam gairah. Hasrat yang mengepul panas. Yang dominan itu berarti menguasai. Lalu perlahan kerakusan datang dan kita jadi lupa pada kebermulaan. Kita terjebak pada oase dunia yang memabukkan. Tak ada persiapan untuk “pulang”. Kita terlahir dengan satu cara, namun kematian menjemput dengan berbagai cara.

Tragedi Sriwijaya Air dan beberapa pesawat komersil lainnya yang terhempas dalam satu dekade ini memberi peringatan. Yang bulat, yang telanjang itu dekat. Begitu juga cerita tenggelamnya kapal, longsor, banjir, gempa bumi dan tsunami. Bencana di Sumedang, Mamuju dan Majene tak bisa sekedar dituliskan sebagai deretan data yang berisi angka-angka. Menghitung yang rusak, yang hilang dan yang mati. Fokus kita juga sama ketika gelombang kedua pandemi coronavirus meluluhlantakkan kemanusiaan. Masih berkutat dengan angka. Rumah sakit penuh sesak, kasus infeksi baru melonjak dan vaksin yang mestinya jadi “jalan keluar” masih terus diperdebatkan.

Di balik banyak tragedi itu, kita juga menghitung kerlip kebaikan yang diwariskan mereka yang pergi. Ada postingan di facebook, tweet, whatsapp atau bahkan surat yang diwasiatkan. Kapten Afwan, pilot Sriwijaya Air yang nahas itu menulis sesuatu yang mendadak viral justru setelah ia tiada. “Setinggi apapun Aku terbang, tidak akan mencapai surga bila tidak shalat lima waktu”. Ada pesan kewajiban yang banal di sana. Yang dalam banyak fase hidup lebih sering kita lupakan. Padahal ini identitas kemanusiaan kita.

Kita juga sejatinya menulis. Beberapa mungkin baru judulnya saja, paragraph tengah, catatan kaki, atau apalah dari buku besar yang berisi perjanjian dengan Sang Pencipta. Kita membuat tanda yang tak kita sadari. Semua orang dalam kesibukannya pasti pernah menulis tentang pulang, kehilangan, pasrah, berserah diri, sukacita dan banyak lagi anomali kehidupan. Jika kita “pulang”, potongan-potongan itu jadi sesuatu yang dibagikan. Jika kita masih memeluk dunia, orang ramai tak peduli dengan apa yang kita tulis.

Sesuatu kadang jadi berarti setelah kita raib. Mestinya ini jadi pengingat. Tapi kebanyakan Kita selalu mengabaikannya. Kita lupa tentang “ketelanjangan yang bulat”. Kita masih memilih memperjuangkan kepentingan dunia. Tak secukupnya tapi malah berlebihan. Beberapa yang berlebihan itu berujung pada kerusakan. Elizabeth Kolbert dalam best sellernya “The Sixth Extinction” menyebut, manusia dengan segala keunggulannya justru berkontribusi pada kerusakan bumi. Kita makin sering membabat hutan tropis, mengubah komposisi atmosfir dan mengasamkan laut.

Kita memuaskan dahaga sebagai penguasa piramida “makanan” sembari membunuh kehidupan lain. Homo sapiens sedang berjalang menuju “kepunahan keenam”. Ekolog Stanford Paul Ehrlich menuliskan satir; Ketika mendesak spesies lain ke kepunahan, manusia sibuk menggergaji cabang pohon yang didudukinya.

Padahal sejatinya dalam hidup ini, kita tidak perlu berusaha mengalahkan dunia. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme, kerakusan, rasa takut, pertanyaan, keraguan dan banyak tuntutan lainnya. Sekali kita mampu mengalahkan “keakuan” itu, jalan panjang berikutnya yang mendaki, terjal, penuh tipu daya, curam, licik dan banyak berhala yang menggoda akan mampu kita taklukkan. Kita akan menang. Berhenti berburuk sangka. Membantah kebenaran. “Segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk Kita adalah kebaikan, walau dalam pandangan kita itu adalah keburukan”, Mestinya kita sejalan dengan pikiran Ali Saleh Mohammed Ali Jaber alias Syekh Ali Jaber, ulama kharismatik kelahiran Madinah yang baru saja “pulang”.

Dengan begitu, Kita jadi sangat siap untuk “pulang”. Dalam ketelanjangan yang sama seperti saat kita “datang”.

    Kita mesti telanjang…
    Dan benar benar bersih
    Suci lahir dan di dalam bathin

    Tengoklah ke dalam
    Sebelum bicara
    Singkirkan debu yang masih melekat…


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca