× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Cameo

Menangkap wasit, menyingkirkan pemain kunci dan mengubah aturan untuk merugikan lawan.

Direktur LSM RORANO
Cameo
Sumber foto: nydailynews.

18/01/2021 · 3 Menit Baca

Loby Plaza Hotel New York….

“Excuse me, Where’s the lobby?," tanya Kevin.

“Down the hall and to the left,” jawab si Cameo.

Cuma segitu aktingnya. Tak lebih dari satu menit. Tapi penampilan sepintas lalu ini selalu dibanggakan oleh si Cameo. Dalam pertemuan dengan ribuan tentara Amerika, Ia malah mengaku bagak jadi bagian dari film Home Alone 2; Lost In New York. Ikut melarismaniskan film yang meroketkan nama bintang cilik, Macaulay Culkin ini.

Padahal kemunculan si Cameo dalam film ini konon karena sutradara Chris Colombus ingin Plaza Hotel yang jadi tempat nginap Kevin - dan akan bertemu lagi dengan dua musuhnya, Hary dan Marv - dapat dipakai gratis sebagai lokasi syuting. Adegan satu menit adalah harga yang dibayar untuk pemilik hotel megah ini - si Cameo yang memaksa.

Cameo dalam literatur sinematografi adalah orang yang sepintas muncul atau dimunculkan secara sengaja tanpa mempengaruhi plot film. Ia bisa saja tokoh terkenal, politikus, atlet, musisi atau seleb papan atas. Kadang disertai dialog pendek atau ada juga yang tanpa percakapan. Ia bukan bintang tamu dan karenanya namanya tak ada di daftar pemain yang muncul di ujung film bersama pendukung lainnya.

Karena itu, tak usah berharap kita akan menemukan nama Donald Jhon Trump di sekuel film Home Alone ini. Ia hanya “numpang lewat” karena tak sengaja bertemu Kevin yang mencari loby hotel. Selain di film ini, Trump juga pernah jadi “cameo” di tujuh film lainnya. Apa yang dicari oleh pengusaha tajir ini?. Popularitas. Sesuatu yang terus-menerus dibicarakan orang ramai. Popularitas sangat menjebak. Mengelincirkan hasrat untuk berkuasa melebihi batas. Mengabaikan harmoni dan menabrak aturan. “Dalam politik, absurditas bukanlah cacat”, kata Napoleon Bonaparte.

Ilmuwan politik Torben Lutjen menyebut populisme yang beranakpinak dari absurditas politik sejatinya terkait dengan mentalitas aufklarung - pencerahan. Sesuatu yang dianjurkan oleh Immanuel Kant melalui doktrin sapere aude, beranilah berpikir sendiri. Namun di era post-modernisme yang berkelindan dengan post-truth, upaya pencerahan kadang membentur tembok dan terjerembab di selokan peradaban. Populisme yang mestinya berpihak pada orang ramai dengan akal budi dipersepsikan secara sempit sebagai bagian dari egoisme buta.

Populisme sempit lebih dominan pada munculnya kesadaran akan kompetensi individu. Ada kecenderungan untuk memperkuat dan membangun kemampuan pribadi. Apapun caranya. Dengan kompetensi yang “berkualitas”, muncullah kebanggaan individu. Jumawa dan merasa paling benar. Menolak pendapat lain yang merugikan. Lalu secara perlahan, akan merasa mampu menghadapi kompleksitas dunia dan menyelesaikan semua problem tanpa bantuan siapapun.

Jika populisme model ini berkaitan dengan platform kepemimpinan maka akan lahir otoriterisme. Kekuasaan dipakai untuk “memelihara” kekuasaan. Purbasyangka politik dibangun untuk “membunuh” yang berbeda. Pada akhirnya seperti kata Lutjen; akar dari populisme adalah “ketidakmampuan untuk percaya”.

Frasa “ketidakmampuan untuk percaya” sepertinya menjadi handicap Donald Trump. Presiden ke 45 Amerika yang akan lengser karena kalah dalam Pilpres untuk periode keduanya. Sejak menang dan dilantik sebagai Presiden AS, Trump sudah menunjukan sikap bermusuhan dan hanya mau benar sendiri. Janji kampanyenya tentang Make America Great Again hanya jadi pemanis bibir bergincu karena sejatinya Ia adalah pribadi yang oportunistik. Trump dikenal luas sebagai Presiden yang sangat suka berbohong. Ia membangun kebohongan itu lewat ucapan-ucapan virtual disertai kebencian kepada siapapun lawannya.

Kicauannya di platform media sosial selalu berkebalikan dengan fakta. Tweetnya berulang kali menyerang media dan jurnalis yang dituduh kerap kabarkan berita bohong dan karenanya jadi musuh masyarakat. Trump sempat menyebarkan video gulat dirinya melawan seseorang. Wajah orang itu - yang ditinjunya - digantikan dengan logo CNN, salah satu stasiun televisi besar di AS. Mentionnya pongah. Ia juga jadi Presiden yang menolak realitas pandemi coronavirus meski sempat terinfeksi dan dirawat di rumah sakit.

Saat kalah dari Joe Biden dalam pemilihan Presiden, Trump membangun benteng kebohongan dan mengajak pendukungnya “melawan” konstitusi. “Semalam saya memimpin, bahkan dengan solid diberbagai negara bagian termasuk yang dikontrol Demokrat. Lalu satu persatu keunggulan itu hilang seiring munculnya surat suara kejutan”. Gegara beberapa cuitan yang panas, pendukung Trump begitu yakin ada kecurangan. Lalu pecahlah penyerangan terhadap Capitol Hill saat para Senator hendak mengesahkan kemenangan Biden. Presiden tertua dalam sejarah Amerika ini dituduh menglorifikasi kekerasan.

Rusuh itu berdampak sistemik. Tak hanya jatuhnya korban, Make America Great Again seperti terjebak lumpur becek penuh aib. Kecaman menghujam. Hampir semua platform media sosial memblokir akun miliknya. Kongres AS untuk kedua kalinya mengajukan pemakzulan. Trump tercatat sebagai Presiden AS yang dua kali menerima usulan pemakzulan selama empat tahun memimpin. Namun Ia tak peduli. Trump bahkan tak akan menghadiri inagurasi Biden. Tak ada jabat tangan di tangga gedung putih sebagai tanda menyerahkan jabatan.

Konstitusi seperti mati suri. Demokrasi Amerika yang begitu diagungkan dan jadi role model di beberapa negara lain berubah jadi topeng Medusa. Berubah jadi batu. Salah satu penghancuran demokrasi yang destruktif adalah melalui tangan pemimpin - entah Presiden atau Perdana Menteri - yang “membajak” proses yang membawa mereka ke kekuasaan atau yang meligitimasi kekuasaan mereka dengan otoriterisme.

Steven Levitsky dan Daniel Ziblat dalam best seller “How Democracies Die” menyebut ada tiga strategi pemimpin otoriter melakukan konsolidasi yang berpotensi mematikan demokrasi; menangkap wasit, menyingkirkan pemain kunci dan mengubah aturan untuk merugikan lawan. Trump melakukan ketiganya. Dan karena itu, Ia akan dikenang sebagai “cameo” dalam sejarah Amerika. Presiden yang hanya “sambil lalu” memimpin dengan begitu banyak kekacauan. 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca