× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Petani Peradaban

Catatan tentang Guru Lafran.

Direktur LSM RORANO
Petani Peradaban
Belajar bersama siswa SMA Negeri 6 Kota Ternate / foto pribadi

24/11/2019 · 15 Menit Baca

Sebuah andong berhenti di depan rumah. Isinya banyak barang sebagai hadiah. Yang empunya membawa hadiah itu sebagai ucapan terima kasih karena anak mereka lulus masuk kampus Gajah Mada, salah satu perguruan tinggi ternama di Yogjakarta. Belum lagi niat disampaikan, mereka sudah ditolak tuan rumah. "ini apa? Ini semua barang bawa pulang," tegas sang tuan rumah. Si tamu coba membujuk. "Pak, ini hanya ucapan terima kasih," lirihnya. Tuan rumah makin garang, "cukuplah anak saudara kuliah yang baik dan rajin, itu sudah cukup bagiku".

Dialog ini terjadi dalam sebuah siklus kehidupan penghujung 1960. Sebuah potret. Betapa nilai kebaikan dan pamrih cukup berbalas ketekunan untuk belajar. Tak perlu hadiah. Tuan rumah yang memelihara nilai ini adalah seorang laki laki sederhana. Kelak sikap ini konsisten dilakoninya meski banyak tawaran datang berlimpah. Mau jabatan apapun bisa. Tinggal diucapkan. Pasti diberikan. Namun Ia memilih hidup sederhana.

Ketika sebuah telepon dari Bina Graha berdering, laki laki sederhana ini tetap tak goyah. Anaknya yang Ia ajak berdiskusi heran dengan sikapnya. "Yah, coba bantu saya memahami hal ini, saya tak mengerti. Orang berlomba dan berebut jadi pejabat. Kenapa ayah malah kurang berminat?, protes sang anak. "Bagiku, kedudukan itu diamanahkan bagi orang yang dianggap lebih mampu, bukan diperebutkan bagai piala. Agar ada kemajuan, agar harkat martabat bangsa ini naik, agar hilang kolusi dan korupsi. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk memperkaya bangsa. Inilah yang menurutku kebiasaan yang benar. Bukan membenarkan kebiasaan," tegas laki laki itu dengan suara serak.

Namanya Lafran. Ia terlahir dari sebuah keluarga guru. Ayahnya adalah Sutan Pangurabaan Pane. Seorang guru sekaligus seniman yang rela menjual buku di pasar agar orang bisa membaca. Sutan yakin dengan membaca, orang akan pandai lalu berjuang agar tidak tertindas. Sutan bahkan rela bertugas kemana saja yang penting bisa mengajar. Di ujung hidupnya, Ia dikenang sebagai pendiri Muhammadiyah di Sipirok tahun 1921.

 

Lafran adalah bungsu dari enam bersaudara. Ia juga  punya dua saudara tiri karena ayahnya menikah dua kali. Nama Lafran sejatinya terinspirasi dari nama Charles Louis Alphonse Laveren. Ini dokter Perancis penemu parasit malaria dalam darah sewaktu bertugas di Aljazair. Dari temuan Laveren, pil Kina diproduksi dan malaria bisa diobati. Sutan sangat mengidolakan Laveran. Maka bungsunya diberi nama Laveran. Tapi lidah Sipirok nun di Tapanuli Selatan tak menerima. Jadilah Lafran. Nama Perancis tapi rasa Sipirok. 

Keluarga ini keluarga guru dan pujangga. Dua kakak Lafran adalah tokoh Pujangga Baru. Sanusi Pane terkenal dengan kumpulan puisi "Madah Kelana". Sedangkan Armijn Pane adalah penulis yang menerjemahkan surat-surat RA Kartini dengan Ny. Abendanon yang belakangan jadi buku "Habis Gelap Terbitlah Terang". 

Meski begitu masa kecil Lafran sungguh suram. Ibunya meninggal saat Ia masih balita. Lalu diasuh neneknya yang juga berpulang saat Lafran baru belajar bersekolah. Pendidikan formal pertamanya di pasantren Muhammadiyah. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang bersekolah Belanda.

Setelah pandai mengaji, Lafran mulai berulah. Sekolah tak jadi prioritas. Ia merasa tak menemukan hasrat. Sekolah tak bisa memenuhi keinginannya untuk "merdeka". Lalu mulailah Ia bertualang di jalanan. Di Medan, Lafran muda bergaul tanpa batas. Ia jarang pulang ke rumah kakaknya. Meski bolos, buku tetap jadi temannya saat tidur  di emperan toko, saat berlatih tinju, saat bergaul dengan preman pasar. 

Ia malah sempat naik ring. Bertinju untuk mendapatkan duit karena  tak mau membebankan kakaknya. Lalu duit itu sebagian dipakai untuk makan bersama teman temannya yang anak jalanan. Sebagian lagi "wajib" untuk beli buku. Meski di jalanan, urusan ibadah tak pernah ketinggalan. Gegara "sibuk" di jalanan, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ayahnya Sutan lalu mengirim Lafran ke Jakarta.

Di tanah jawa, darah mudanya tak berubah. Selalu berontak dengan berbagai pengekangan. Lafran cuma ingin "merdeka". Dua kakaknya Sanusi dan Armijn tak kuasa mengatur. Lafran muda yang punya ilmu bertinju belakangan di daulat sebagai pimpinan gang motor. Ia menentang semua penindasan dan melawan pungli yang dilakukan preman pasar senen. Bersama kawan-kawannya, Lafran muda menemukan "merdeka" itu. Hingga suatu saat, Lafran muda ditangkap dan dipenjara. Saat dunia gelap. Datanglah Guru Wilopo. Ia guru Lafran di MULO. Wilopo pula yang bersaksi meringankan di pengadilan hingga Lafran bebas dan tidak dikeluarkan dari MULO.

Lafran yang berutang budi malah hanya diminta Wilopo untuk terus bersekolah. Ia lulus MULO dengan nilai terbaik. Banyak guru yang tak percaya. Minta di tes ulang.  Hasilnya tetap terbaik. Guru Wilopo sangat bangga. " Lafran, berjanjilah padaku untuk berubah jadi "Manusia Baru" seperti naskah drama yang ditulis abangmu Sanusi. Bebaskan dirimu dari belenggu seperti di novel "Belenggu" yang ditulis abangmu Armijn," pinta Wilopo. Dan semuanya berubah. Lafran mulai ikut rapat-rapat pergerakan untuk menuntut Indonesia  merdeka bersama kakak-kakaknya. 

Ia aktif membaca dan berdiskusi bersama kelompok Menteng 31. Ia ingat betul nasehat Guru Suryo yang mengajarinya di Taman Siswa bahwa senjata utama untuk berjuang dan merdeka adalah ilmu pengetahuan. Dengan akal pikiran. Lafran hadir dalam rapat pemuda mendesak Soekarno Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan saat Jepang kalah. Setelah "merdeka" dibacakan, dimulailah fase perjuangan untuk mempertahankan Indonesia. Ia ikut pindah ke Yogja saat Belanda menyerbu lagi. Di kota inilah Ia berjuang untuk sesuatu yang besar.

Lafran masuk kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI). Darah muda pergerakannya butuh tempat diskusi. Butuh perkumpulan. Di Yogja hanya ada Perkumpulan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Saat malam perkenalan mahasiswa baru anggota PMY, Lafran datang.  Yang Ia temui kemudian adalah acara dansa dansi para mahasiswa itu diiringi lagu-lagu hits seperti Bandaneira, Olee Lee di Kutaraja, Rindu Malam hingga Lenggang Bandung. Batinnya menolak. Di luar, Belanda masih berambisi menjajah lagi. Republik muda butuh konsistensi gerakan. Siapa yang di harap berjuang?.

Kegalauannya tambah menjadi karena Islam dipahami sebatas identitas dunia. Mirip cantolan di KTP. Saat hendak shalat, Lafran malah ditertawakan teman-temannya yang mahasiswa itu. Lalu Ia mulai berpikir untuk membuat organisasi mahasiswa sendiri. Mahasiswa Islam. Setiap ide organisasi itu terlintas, Lafran mencatatnya di buku harian. Hingga suatu ketika, Ia memberanikan dirinya menyampaikan gagasan itu ke sejumlah teman. Lafran yang tak pandai orasi dan gagu hanya ditertawakan. "Gini yaa..aku kasih tahu sejujurnya Lafran. Apa daya tarik organisasi semacam itu bagi kami yang senang nyanyi, berdansa dan berpesta?. Masak diajak ke mesjid sih!!" olok mereka. 

Lalu ada juga yang bilang, "Mau berasaskan Islam? Untuk apa lagi? Jangan malah jadi pemecah umat".  Maklum saat itu semua ormas Islam sudah berfusi dalam Masyumi. Mendirikan organisasi lain meski hanya selevel mahasiswa bisa dianggap " subversif". Menyerah Lafran?. Semua cemohan itu makin menguatkan hatinya. Lafran konsisten dengan keyakinan bahwa urusan ibadah dengan Allah SWT  akan tuntas diterima jika urusan yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia juga sudah tercerahkan. Ini fondasi utama jika bicara tentang konsep bernegara. Indonesia dan Islam harus bersinergi untuk kebaikan semua.

Karena itu, awal Februari 1947, Lafran muda memberanikan diri menghadap dosen ilmu tafsirnya. Hussein Yahya, dosen itu terhenyak saat diminta Lafran memakai sebagian jam kuliahnya untuk bicara tentang organisasi mahasiswa baru yang akan Ia deklarasikan. Hari itu Rabu, 5 Februari 1947, Lafran bicara di hadapan banyak mahasiswa yang memadati ruang kuliah di kampus STI jalan Senopati No 30 Yogjakarta. "Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Islam. Karena semua persiapan dan perlengkapan sudah beres, siapa yang mau menerima organisasi mahasiswa islam ini, itu saja yang diajak, yang tak setuju biarkan saja. Tanpa mereka, organisasi ini akan bisa berjalan," kata Lafran tanpa basa basi. Pidato yang singkat dan tegas. 

Lalu mahasiswa terbelah. Ada yang keluar, sebagian memilih bertahan. Hadir saat itu Karnoto Zarkasy, Dahlan Husein, Siti Zainah, Maisaroh Halil, Soewali, Yusdi Gozali, M. Anwar, Hasan Basri, Toha Mashudi, Tayeb Razak Bidron Hadi dan banyak yang lain. Lafran banyak bicara menjelaskan maksud dan tujuan berorganisasi. Ia juga menegaskan organisasi ini tak berafliasi secara politik. Murni mempertahankan Indonesia Merdeka dan mengembangkan ajaran Islam. Di ujung rapat, atas usul Lafran, organisasi itu diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia lalu dipilih sebagai Ketua Umum pertama dalan rapat yang tanpa undangan, tanpa spanduk dan pengunguman. Hanya pakai Bismillah.

Tujuh bulan setelah jadi ketua umum, Lafran bikin gebrakan. Ia mundur dari Ketua Umum HMI dan memilih Mohammad Syafaat Mintaredja, mahasiswa asal UGM sebagai Ketua Umum yang baru. Lafran dengan rendah hati menjelaskan jika "sedekah jabatan" ini untuk kemajuan HMI. Ia berkorban untuk membesarkan HMI. Karena jika tetap jadi Ketua Umum, maka HMI akan selamanya identik dengan STI. 

Nyatanya HMI makin besar di Yogjakarta dan bahkan dalam milad pertama, Panglima Sudirman hadir dan beri petuah. "HMI jangan menyendiri. Bagi saya HMI bukan sekedar Himpunan Mahasiswa Islam semata tapi juga harus jadi Harapan Masyarakat Indonesia", pinta Pak Dirman. Untuk kemajuan HMI pula, Lafran belakangan "turun jabatan" lagi hingga jadi Sekretaris 2. Ini potret pemimpin yang luar biasa  visinya karena terbukti HMI semakin besar dan jaya. Bahkan jadi musuh nomor satu PKI saat berebut pengaruh di ranah politik Indonesia. 

HMI lah yang konsisten menolak PKI. Sebagaimana dulu didirikan, ikrar terhadap Pancasila tak pernah goyah. Usai pergerakan yang panjang, Lafran lalu memilih jadi guru. Di sekolah pula Ia dipertemukan dengan cinta matinya. Perempuan itu bernama Bisromah Zaed, seorang guru TK. Dari perkawinan penuh bahagia, mereka di karunia dua putera dan satu puteri. Lafran konsisten mengajar. Banyak tawaran jabatan dan kemewahan hidup diberikan tapi sebagaimana dulu menolak, Ia juga tetap hidup sederhana. Rumah keluarganya hanya rumah dinas dosen. Tiap ke kampus mengajar, Ia hanya mengayuh sepeda. 

Di usia 69 tahun, tepat tanggal 25 Januari 1991, guru bangsa ini berpulang menghadap Allah. Banyak catatan sejarah yang tertulis untuk mengenangnya. Lafran yang belakangan kuliah di Akademi Ilmu Politik  UGM adalah salah satu sarjana  ilmu politik pertama di Indonesia. Ia juga orang pertama yang berpidato secara terbuka di prosesi pengukuhan guru besarnya 16 Juli 1970 dengan menyatakan bahwa UUD 1945 bisa diubah. Pendapat yang langsung viral karena rezim Soeharto sangat mensakralkan UUD 1945. Sejarah lalu menulis bahwa amandemen UUD 1945 saat ini terdengar jadi biasa. Seperti lagu keroncong lama yang diedit jadi  lebih bagus.

Tentang Lafran tak lengkap mengenangnya jika tak bercerita tentang guru. Sebagian besar jejak perjuangan Pahlawan Nasional ini bersentuhan secara langsung dengan proses belajar baik secara otodidak maupun dari keluarganya yang guru, para gurunya yang hebat hingga isterinya yang juga guru. "Setelah berumur begini, boleh Aku katakan pada Kau, profesi yang paling berpengaruh untuk jangka panjang dan mampu melintasi umur zaman adalah Guru. Karena mereka adalah penyemai generasi baru".

Selamat Milad PGRI
Terpujilah wahai Engkau 
Ibu Bapak Guru..


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca