× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Di Pasan, Katamu Kehilangan Ibu

Sajak Sabtu
Di Pasan, Katamu Kehilangan Ibu
Ilustrasi: Pixabay.

06/02/2021 · 3 Menit Baca

:untuk Dinda Je

ini kata pertama
dari ibu
sesudah itu segalanya
tenggelam di tanah kota yang
kehilangan rasa

di Pasan
itu kata pertama
dari ibumu
kau tanam pada tanah
yang melupa gembur

di kota 
kata-kata ibumu
melalu

Ibrahim Gibra
3 Januari 2021

 

di tanah ini, tumbuh setangkai rindu

gembur tanah
menunggu hujan
menanti matahari
untuk pucuk yang 
datang berkabar tentang
daun-daun 

angin melenting
sehelai pucuk 
membawa pesan reranting

matahari menanti
hujan menunggu
tanah gembur
daun-daun merayakan pohon

Ibrahim Gibra
5 Januari 2021

 

makan di tepi pantai

ini rasa seluas laut

ini warung
di dalam cawan
tempat musafir
meriakkan rasa

sederu ombak
sederas arus
selenting angin

pantas saja
orang-orang datang
ke sini
sepanjang sore
sebelum rasa bergegas
ke lain malam

Ibrahim Gibra
3 Januari 2021

 

ini tanah tempat ibumu
menanam sebutir air

:untuk Fida

dan di tanah inilah
ibumu menanam sebutir air
yang dipetik dari langit

lalu setangkai hari tumbuh
menjadi kelana

dari sini 
di tanah janji
usia bergegas pada entah

Ibrahim Gibra
2 Februari 2021

 

tiga perempuan menunggu Godot
:untuk AmaDo-AmaJu-Wana

jangan bergegas 
janganlah bercemas
sebab daun yang jatuh sore ini
hanya karena Godot ingkar janji

tapi reranting pasti tahu
kapan dahan harus
menerbangkan angin

dan yakinlah pepohonan
di pantai ini 
akan memucuk musim baru

Ibrahim Gibra
3 Januari 2021

 

ikan-ikan pelagis yang tertipu kail
:untuk Kepala Suku

di bawah riak 
ia tertipu lau1 bersarung emas

saat fajar pecah di atas batu
kokok ayam melepas bulunya
dan kail pergi melimban arus

begitukah cara kita
menipu ikan?

Ibrahim Gibra
30 Januari 2021

1umpan ikan yang terbuat dari bulu halus ayam jago yang dibalut benang berwarna

 

rayap membaca buku

rak buku memanjat langit-langit
ke langit pandai  
tapi gedung itu seperti dingin batu
meja sepi baca
buku menua

rayap-rayap datang membaca
kertas-kertas pulang ke asal

Ibrahim Gibra
5 Februari 2021

 

lelaki penakluk ikan
:untuk Andi Sumar Karman

ini laut tak bertubir
tapi ikan yang dijinjingnya
terpukau bujukan kail
sebab dirapal dengan
sehelai umpan berderu

ini laut tak bertuan
tapi kerapu merah
di tangan kanannya
adalah mimpi lelaki
tentang deru rindu

ini laut tak beriak
tapi lelaki penakluk ikan
berarus dalam dadanya

Ibrahim Gibra
30 Januari 2021

 


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Musim yang Melupa Waktu (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Pucuk pun Beriba pada Ranting (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca