× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Piala

Kekuasaan punya jalan sendiri - kepada siapa ia akan berpihak.

Direktur LSM RORANO
Piala
Foto: Pixabay.

07/02/2021 · 3 Menit Baca

Sebuah siang di sudut Jakarta. Macet membeku. Palang pelintas jadi batas. Tak ada yang menerobos. Bunyi mesin kereta bertaut dengan bising knalpot motor dan bajaj. Mata saya bersirobok dengan deretan puluhan piala yang berkilau seperti perak di balik kaca sebuah plaza. Laku yang bergegas dan piala yang bisu seperti jadi pengingat bahwa hidup selalu diperebutkan. Ada yang menang dan diarak sebagai yang terbaik. Ada yang kalah dan dicampakkan. Sejarah konon hanya ditulis untuk mereka yang menang.

Diego Armando Maradona, maestro kulit bundar yang dipuja tanpa jeda itu dikenal dengan gol tangan tuhannya ke gawang Peter Shilton. Gol yang membuat rakyat Argentina seolah membalaskan dendam kesumat atas kekalahan dalam perang Malvinas. Orang ramai bahkan tak membicarakan bagaimana gol kedua si boncel dalam partai yang sama saat dirinya meliuk bagai kultidi melewati lima pemain Inggris. Gol tangan tuhan itu mungkin tak akan dicatat dan terus dikenang jika Maradona gagal membawa Argentina juara. Di ujung turnamen di Stadion Azteca Meksiko itu, ada piala yang diangkat dengan sumringah. Ada inagurasi juara dunia. Dan gol yang menipu jutaan mata itu jadi legenda.

Semasa saya kecil, sepak bola adalah pesta rakyat yang tak kenal musim. Nyaris saban bulan ada pertandingan. Di kota atau desa sama saja. Tak peduli lapangannya naik turun, gundul berpasir atau hijau daun berpendar. Gawangnya dari besi, batang kelapa, atau bambu yang ditancap. Jika di kota, pemenang akan dihargai dengan piala bertingkat. Yang paling besar untuk nomor satu. Satu tingkat lebih kecil untuk nomor dua. Dan begitu berikutnya. Juara satu diukur dengan besarnya piala berkaki empat yang bertingkat itu.

Di kampung yang jauh dari kota, dalam pertandingan yang sama, juara satu dihargai dengan berbagai hadiah yang tak terbayang. Seekor sapi paling gemuk dan kulitnya bersih misalnya, bisa jadi piala yang paling diperebutkan. Saya mengingat betul ada turnamen bertitel Sapi Oba Cup. Di kampung sebelah, namanya disesuaikan. Jangan ditanya ramainya. Banyak pemain bintang dari kota didatangkan. Penonton tumpah ruah. Saat juara didapat, sapi itu diarak keliling kampung. Ada yang disembelih lalu dagingnya dibagi dalam pesta rakyat. Tak sedkit yang dibawa ke kota untuk dijual.

Ketika peradaban bergerak maju, piala besar itu - dulunya cawan kecil berkilau untuk pemanis jamuan - berbalik bentuk ke asalnya. Makin kecil. Orang ramai yang terlibat dalam sebuah pertandingan berhasrat mengejar yang lain. Bonus. Bentuknya bisa uang tunai, jatah pelesiran, surat berharga atau penanda sebuah kuasa. Piala atau medali tak lagi dibutuhkan. Perlahan ingatan tentang itu juga menguap. Sama seperti melupakan substansi sebuah pertandingan yang mengedepankan kejujuran, fair play dan estetika nurani yang berpijak pada akal sehat.

Kemenangan diburu dengan menghalalkan segala cara. Menjadi biasa jika ada yang curang, tipu-menipu, adu domba, korupsi, dan kerakusan yang monopolistik mengabaikan netra yang menatap dengan cemas. Segalanya dikonstruksi untuk mengapai tujuan, mengabaikan proses.  Quid pro quo - sesuatu untuk sesuatu. Ada “pertukaran yang kontingen” yang dilakukan secara sadar dengan asa mendapatkan kuasa. Rebutan kekuasaan selalu dibayangi oleh dunia gelap koneksi personal dan “wabah” klientelisme yang makin akut.

Kata Pram; perang, kekuasaan dan kekayaan seperti unggun api dalam kegelapan. Orang akan beterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.

Orang ramai lupa pada tapak sejarah yang bergores kelam. Jika kekuasaan - dengan atau tanpa piala-piala itu - direngut dengan cara yang kurang ajar, pada akhirnya hanya kehancuran yang yang digenggam, lalu mati tanpa bekas layaknya pecundang yang terhempas nista.

Dalam epos Nuku, Sultan terbesar dalam sejarah Tidore, cerita tentang Kaicil Hasan meninggalkan jejak yang sama. Sepupu Nuku ini sungguh berhasrat untuk menjadi penguasa Tidore. Tak peduli dengan siapa Ia berkongsi. Dengan siapa Ia membangun jejaring penghianatan untuk menjatuhkan Nuku. Hasan yang sadar akan kekuatan Nuku yang didukung penuh adik kandungnya, Kaicil Zainal Abidin, memilih opsi memecah Nuku dan Zainal Abidin. Hasutan dan fitnah ditebar. Gubernur Belanda di Ternate, Johan Godfried Budach, yang sejak lama memusuhi Nuku diajak kerjasama.

Hasan mengincar mahkota Tidore dan Budach mengincar jiwa Nuku. Namun skandal ini gagal karena Nuku keburu tahu jika Belanda menggunakan Hasan untuk menghabisinya. Nuku sempat meminta kesetiaan Hasan untuk berjuang bersama membebaskan Tidore. “Jikalau Kamaluddin dan semua kamu sedarah daging dengan beta, mengapa kamu tidak sepikiran dengan beta dan membantu beta memerdekakan Tidore?. Malahan kamu tinggal bersekutu dengan Belanda dan suka tinggal dijajah dan diperbudak oleh mereka”. Hasan yang ambisius menolak tawaran Nuku.

Meski banyak desakan dari para bobato agar Hasan segera ditangkap, Nuku tak memilih opsi ini. Ia tak ingin Tidore mengalami gejolak. Ia juga tak ingin melukai hati adik kandung Hasan, Kaicil Zainal Abidin yang sangat diandalkan Nuku sebagai Laksamana perang dan telah ditetapkan sebagai Raja Muda Tidore. “Pengampunan” Nuku malah membuat Hasan makin lupa diri. Dua tahun berselang, Ia kembali melancarkan “serangan” terhadap Nuku. Suatu kebetulan jika pengganti Gubernur Budach yang tiba di Ternate 12 September 1799, Gubernur Willem Jacob Cranssen, juga punya dendam yang sama terhadap Nuku.

Berdua mereka menyusun rencana menghabisi Nuku dengan serangan angkatan perang besar ke ibukota Soa Sio. Namun Cranssen dengan kekuatan penuh Belanda yang menunggu di pulau Mare - Hasan berjanji akan memberi kode serangan jika kondisi Tidore sudah dikuasai - tak pernah tahu jika intelejen Nuku sudah mengetahui rencana detil serangan ini. Jogugu Moslafar dan pasukan Tidore kudu menyiapkan angkatan perang. Menjaga Nuku dan seluruh Tidore. Pintu masuk diperketat. Benteng disiagakan. Tidore dalam kode merah.

Kaicil Hasan yang mengaku sebagai Raja Muda untuk meyakinkan Belanda telah ditahan dirumahnya. Cranssen sangat malu saat angkatan laut Tidore mengusirnya dari Mare. Kepada pimpinan Belanda di Batavia, Ia menuliskan laporan pendek tentang pengakuannya pada Sultan Nuku dengan menyebutnya “Tuan Barakat”. Belanda kalah, Hasan dihukum mati beserta semua pendukungnya. Dampak lain dari penghianatan Hasan adalah serangan gabungan Tidore dan Inggris terhadap Belanda di Ternate. Ternate jatuh dan Belanda harus meratifikasi perjanjian baru bahwa mereka bukan lagi penguasa Ternate. Kedudukan mereka digantikan oleh Inggris.

Legacy penting dari kisah Kaicil Hasan sekali lagi menegaskan bahwa jalan peradaban yang mulia tak selamanya harus berhimpitan dengan sanjungan dan pernik kekuasaan yang penuh tempik sorai namun menipu dan berujung hampa. Kekuasaan punya jalan sendiri - kepada siapa ia akan berpihak.

Lafran Pane, guru bangsa yang juga pendiri HMI itu memberi sebuah pengingat penting; "Bagiku, kedudukan itu diamanahkan bagi orang yang dianggap lebih mampu, bukan diperebutkan bagai piala. Agar ada kemajuan, agar harkat martabat bangsa ini naik, agar hilang kolusi dan korupsi. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk memperkaya bangsa. Inilah yang menurutku kebiasaan yang benar. Bukan membenarkan kebiasaan,"


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca