× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Data

Pada akhirnya manusia pun melihat diri dan sesamanya sebagai data.
Data
E.T. the Extra-Terrestrial.

19/02/2021 · 3 Menit Baca

Kita perlu alien. Kita perlu Krypton.  Kita perlu imajinasi tentang mahluk yang bukan kita, dunia yang bukan planet kita. 

Saya tak tahu kenapa para pengarang fiksi-ilmu sampai membayangkan manusia menjangkau ke antah berantah itu. Semula, ketika Johannes Kepler menulis “Somnium” pada 1634—tentang perjalanan mimpi ke bulan—dan Elon Mask mendirikan perusahaan SpaceX pada 2002 —-dengan rencana menyiapkan teknologi untuk hidup di angkasa luar—manusia tampak didorong rasa ingin tahu dan ingin mencoba kesanggupan.  

Tapi zaman berubah. Kita perlu “mereka”, alien, karena ilmu dan teknologi makin membuka banyak tabir. Dari film seperti “Close Encounter” kita bangun imajinasi tentang penghuni galaksi lain— yang umumnya dibayangkan berkepala mirip  kacang mete dan matanya mirip mata kancil. Tapi kita, seperti si bocah yang berteman dengan E.T. dalam film itu, tak mentertawakan mereka. Manusia makin melihat dirinya bukan tauladan.

Jika kita baca dongeng Yunani dan kitab-kitab suci, manusia adalah tauladan, amat dekat dengan  yang maha akbar. Menurut Homeros, para dewa ikut sibuk intervensi dan memihak dalam Perang Troya—seperti penghuni negeri tetangga.

 Di zaman sesudah itu, di abad ke-16, Michelangelo melukis manusia dan Tuhan  begitu akrab di langit-langit Kapela Sistina di Vatikan: Tuhan mirip lelaki tua yang ganteng dengan lengan berotot menjangkau Adam. Bahkan karya itu mengandung cerita lebih. “Neurosurgery”, sebuah jurnal ilmiah, dalam nomor Mei 2010 memuat hasil penelaahan dua pakar anatomi syaraf yang menemukan bahwa Michelangelo melukiskan sel otak dan syaraf mata manusia dalam gambar tubuh Tuhan. 

Keyakinan akan kehebatan itu tak terbatas di Eropa. Di Jawa abad ke-18, Yasadipura I menulis “Serat Cabolek” tentang perjalanan Bhima yang berhasil menemui Dewa Ruci di tengah lautan. Kesimpulannya: manusia “tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dhéwé saking kang dumadi…” (manusia ditakdirkan lebih dari semua makhluk). Dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, Pramoedya Ananta Toer meneruskan keyakinan yang sama: baginya, manusia, dengan ilmu dan teknologinya, “lebih agung” ketimbang sekitarnya. 

Pandangan ini kini tak begitu meyakinkan lagi. Sains—yang oleh Pramoedya dan kaum Positivis diletakkan sebagai pemandu sejarah modern—justru tak melanjutkan gambaran ke-“agung”-an manusia. Dengan kemajuan teknologi teleskop Hubble kita tampak hanya menghuni sebiji planet kecil di satu galaksi, sementara ada dua trilyun galaksi bertebaran dalam keluasan semesta. Manusia  bukan pusat.

Di tahun 1873 Nietzsche sebenarnya telah menunjukkan posisi itu: 

“Pada suatu hari, di sebuah tempat jauh di sudut alam semesta yang tertebar  dalam tata surya berkelip yang tak terhitung jumlahnya, ada sebutir bintang di mana hidup hewan pintar yang menemukan ‘pengetahuan’.  Itulah menit yang paling pongah dan dusta dari “sejarah dunia”—tapi, ya, hanya satu menit.  Setelah alam menarik nafas, bintang itupun jadi dingin dan mengeras, dan si makhluk pintar harus mati.”

Agaknya itulah sebabnya kini kita perlu alien: untuk menertawakan kepongahan kita, seperti—menurut Nietzsche—kita menertawakan monyet.

Nietzsche memang  jengah melihat besarnya pengaruh Humanisme di abad ke-18 dan 19. Dalam pandangan Humanisme, manusia adalah kesadaran yang melampaui jasadnya sendiri. Dengan kesadaran atau rasionalitasnya, manusia merupakan  subyek yang meng-ada-kan obyek, yakni dunia. Sains, teknologi, modal memungkinkan itu.

Tapi abad ke-20 datang, dan subyek itu ternyata juga mencederai hidupnya sendiri. Modal yang dengan pintar dikalkulasi dan diperbesar, menimbulkan ketimpangan sosial. Sains dan teknologi yang membawa perbaikan hidup juga dipakai untuk membuat senjata pemusnah massal dan mekanisasi yang merusak lingkungan. 

Marx dan Engels, dalam “Manifesto Komunis”, pernah bersorak untuk dunia yang berubah dahsyat, biarpun itu oleh kaum borjuis yang pintar menghitung dan menghasilkan. Marx mengagumi kedahsyatan itu, sebagaimana di masa muda ia mengagumi Prometheus, makhluk setengah dewa yang dalam dongeng Yunani mencuri api Kahyangan untuk diberikan kepada manusia. Api itu energi, dan manusia pun jadi penakluk. 

Tapi kemudian Engels sendiri memperingatkan, “tiap kemenangan melahirkan pembalasan”. Alam ditaklukkan dan ternyata juga dirusak. Kerusakan itu mengingatkan bahwa manusia telah “menguasai alam seperti penakluk menguasai bangsa asing”—seakan-akan manusia “berdiri di luar alam”.

Di abad ke-21, agaknya perlu ada peringatan tambahan: manusia tak hanya seakan-akan berdiri di luar alam, tapi juga di luar diri sendiri. Ia membangun sebuah universum digital yang kian meluas; ada yang menghitung, di tahun 2020, semesta digital itu akan 44 kali lebih besar ketimbang di tahun 2009.  

Dalam proses itu, data praktis segala-galanya.  

Pada akhirnya manusia pun melihat diri dan sesamanya sebagai data. Kita belum tahu bagaimana kita akan menghargai kemerdekaan, kreatifitas, cinta, humor, dan apa yang tak terduga-duga dalam “data” itu — kalau masih ada.

Maka kita perlu alien. Kali ini bukan untuk meletakkan manusia dalam tatapan  pasca-humanis, tapi untuk melihat jangan-jangan ada yang-lain: kehidupan yang tak bisa jadi data.


Share Tulisan Goenawan Mohamad


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca