× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Daun Berpucuk Cahaya

Sajak Sabtu
Daun Berpucuk Cahaya
Ilustrasi: Pixabay.

20/02/2021 · 3 Menit Baca

:untuk Arlin Hart

bukan cahaya
apalagi cahaya di atas cahaya
sungguh bukan

tapi daun itu
baru saja dipilin Rumi

cahaya pun bercahaya
berkelana dalam terang
hingga air mata sufi
menjadi sungai firdaus

Ibrahim Gibra
7 Februari 2021

 

sajak lupa
:untuk Darmawati Majid

sempurna sudah
ingat menunaikan tugas

Ibrahim Gibra
15 Februari 2021

 


menyetir waktu
:untuk Arlin Hart

itu arah adalah jalan
di sana ada di sini

jauh cuma jarak
yang ada dalam jiwa

Ibrahim Gibra
31 Januari 2021

 

cuma rajakah yang bermahkota
:untuk Fachmi Alhadar

tangkup tahta
titah kata
raja bersabda
sesiapa yang nyata

kuasa tak naik sebagai mula
tapi turun yang berawal
tersebab waktu adalah hukum

Ibrahim Gibra
7 Februari 2021

 


cinta itu diwariskan
:untuk M. Ridha Ajam

tersebab Adam dan Hawa 
tergoda pohon purba
cinta bersenandung
dalam abad rindu

ini kali 
jejak firdaus
dilimban kembali
sampai segala cinta berpinak
menjadi abad dalam sungai punca
dan pohon purba pun terjejak sudah

Ibrahim Gibra
7 Februari 2021

 

dua lelaki awang-awang
:untuk ASK dan Kepala Suku

itu daun-daun yang tersemat
di dada 
adalah baju bertajuk awan

ini kisah tak bisa dipilin
dengan aksara
kecuali gairah tumbuh
menjadi serenade
dalam lagu yang dirindu
para musafir

Ibrahim Gibra
7 Februari 2021

 

di pelabuhan itu
:untuk Dinda Je

entah sudah berapa kali
camar menjemputmu di pelabuhan itu

ada jangkar 
dan tali tambat
yang diam 

sedang aku bukan lagi
anak nakal 
yang melompat dari jembatan itu
seperti pelagis riang
tersebab riak beriak

entah sudah berapa kali
kau menikmati nasijaha
dan cakalang bakar di Falajawa
sedang aku tak lagi anak kecil
yang bercanda dengan ombak

kali ini 
sudah berapa kali
sauh itu berkabar
tentang perempuan
yang tertambat hatinya
pada riak beriak
hingga musim pun melupa waktu

Ibrahim Gibra
13 Januari 2021

 

di Ratahan aku kelu
:untuk Dinda Je

daun-daun berderai embun
melenting angin gunung 

musim terus berulang

sampai pantai tak bisa lagi 
menahan deru ombak

Ibrahim Gibra
31 Januari 2021

 

tentang perempuan yang 
singgah di pelabuhan itu

:untuk Dinda Je

tak ada kemudi yang
tak berlabuh
tersebab di sanalah
segala rindu tersauh 

kapal-kapal 
selalu saja singgah
tapi perempuan itu
tak bertemu siapa-siapa

Ibrahim Gibra
7 Februari 2021


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Musim yang Melupa Waktu (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Pucuk pun Beriba pada Ranting (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca