× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Jiwa-Jiwa yang Lelah

Puisi
Jiwa-Jiwa yang Lelah
Sumber: Geogle.

06/03/2021 · 5 Menit Baca

Wahai jiwa yang lelah
mimpimu mengalir dalam darah
menguap dari sejarah
tapi kini menjadi sampah.

Darah-darah sudah jadi nanah
sejarah tinggal nama
terapung di bibir sampah negara.

Ketika sajak tidak mampu menghapus air mata tanah
puisi tidak mampu menembus istana
keluh dan tanya masih tumpah
kau menarik napasmu diam diam
memanggil nama tuan, tuan, dan tuan,
tapi sayangnya, tuan masih asyik bercinta
drama dan tragedi belum usai dipentaskan
dalam istana berpanggung sandiwara.

Kau perlu menunggu episode demi episode
menggarap mimpimu jadi intan dan permata
menciptakan sejarahmu sendiri
mengumpulkan kawanan cita cita
yang dibuang di sampah negara
kau masih menunggu,
menunggu dan terus menunggu
hingga tangan Tuhan datang memelukmu.

Ternate, 03 Oktober 2016.

 

Yang Menatap Hampa

Kau yang menatap hampa
ibu dan bapak menatapmu dengan bangga
tapi tidakkah kau tahu
kala tangisan pertamamu
pecah menghantam daun-daun
langit-langit mengejekmu,
dan tertawa penuh sinis.

Berlama-lamalah dalam masa tatihan
karena jalan-jalan masih berduri
lari kau berlari hanya manambah peluh
garis finis perlombaan sudah dihapus
dari kitab tuan yang ingin jadi Tuhan.

Tuan yang ingin berkuasa tapi tidak mau puasa
tuan yang ingin kau tengadahi bintang-bintang
tapi matamu ditutup
tuan yang ingin kau berbakat
tapi tidak sepakat dengan bakatmu.

Kau belum cukup untuk telan sampah
sampah-sampah yang setiap purnama
jadi lumpung sengit dalam dunia perdebatan.

Namun kalau kau ingin berlari
mari ke sini ada yang siap genggam tanganmu
berjalan di atas duri, duri tanah, duri kaki, duri hati
menggapai bintang-bintang yang satu demi satu tanggal dalam belati
dan membuang sampah-sampah dari hati.

Ternate, 03 Oktober 2016.



Di Ujung Lelahku

Aku tidak berdaya melawanmu dengan kata-kata
kata-kataku hanya punya rasa, nada, irama dan amanah
sedangkan kau punya segalanya,
kau kaya, tinggal di istana yang pagarnya menganga.

Dinding di antara kita tebal berbaja penuh tangga
aku lelah bermain dengan kata-kata
aku lelah meniupkan angin pada daun
yang tidak memiliki palung jiwa.

Aku masih ingat janjimu
kau bilang kita akan bertemu di setiap purnama
mencium membelai meraba hatiku dengan lembut
lalu membisikkan pada daun, “aku merindukanmu,
rindu ini serupa api yang membara.”

Ternyata semua itu mimpi belaka
aku lelah menatap harapan hampa
aku lelah menatap cermin sejarah dengan bangga
aku lelah mengais janji-janji yang tertanam menunggu tanah meminta.

Ketika aku sampai di ujung lelahku
janganlah kau ragu!

Ternate, 03 Oktober 2016.


Ke Dalam Puisiku

Ke dalam puisiku
kutulis namamu, wahai petaniku
kau tidurkan parang dan pacul di bahumu
mengembuskan nafas mengeja-ngeja air mata.

Oh ombak yang membasuh tepi pantai
kenapa dolar lebih abadi dari jeritan hati kami?

Oh sungai yang menerjemahkan imaji ke dalam nyata
kenapa dolar lebih abadi dari kitab undang-undang?

Oh laut yang senang merangkul aliran sungai
kenapa dolar lebih abadi dari kitab para malaikat?

Ternate, 07 Agustus 2016.


TITIPAN

Ke dalam ladang petanimu kutitipkan tanahku
ke dalam perahu nelayanmu kutitipkan lautku
ke dalam kursi pejabatmu kutitipkan keadilanku
ke dalam papan tulis gurumu kutitipkan ilmuku
ke dalam buku pena pelajarmu kutitipkan tekunku
ke dalam segalanya kutitipkan doaku.

Tanahku hanya kurelakan pada petani
lautku hanya kurelakan pada nelayan
untuk pacul yang diagungkan tanah
untuk dayung yang diagungkan ombak.

Tanahku tak sekadar tanah
lautku tak sekadar laut
mereka adalah kehidupan!

Ternate, 07 Agustus 2016.



Kita Halmahera

Kita Halmahera adalah
paket tanjung, teluk, sungai
dan pegunungan
menghimpun jutaan hal kecil
sehingga Maluku Utara

jadi indah dan masuk akal 
untuk generasi akan datang
bukan hanya mereka, tapi kita.

Kita Halmahera
sudah cukup
untuk diri sendiri
tidak perlu ada api
sebab kita dan kupu-kupu
tahu, siapa juaranya.

Ternate, 01 September 2016.


Ia Menyala Setelah Berkelahi

Ia menyala
setelah berkelahi
tapi waktu membiarkan
malam sedikit terbakar
dalam tungku rasa ngilu.

Aku tak pernah diajari
membakar sesiapa
meski bahasa yang kau lumat 
adalah pisau yang mendidih.

Tentu, setelah itu
aku dengan sedikit luka
tapi manusiaku
tak begitu pandai
menyimpan kesumat

maka sejatinya
aku beringsut untuk sekejap
membiarkan hujan tumpah
membunuh mata api dari tungkunya.

Ternate, September 2017.


Aku Masih Ada

Ingin rasanya kau ikut berlari
berteriak, ... agar aku kembali
menggenggam pundakmu
tapi aku masih mengembara
entah bagaimana caranya
agar kau bisa bersuara, jika aku mati.

Kutahu, kau ada
bertahun-tahun sudah
kau mencatat angka kepergianku
dan memang aku belum kembali
dalam bentuk kau harapkan
namun engkau tahu, aku masih ada.

Ternate, 01 September 2016.



Aku Berdiri

Ke laut lapang
kurindu hatimu
ke tanah subur
kurindu rahimmu
ke sungai malar
kurindu pipimu
ke bukit kokoh
kurindu jiwamu-

Di sana, aku berdiri
tegak. menghirup udara
Halmaheraku

Walau gamkonora sering batuk
dukono sesekali muntah
kau telah melahirkan batu-batu
dan pasir-pasir penghidupan-

bila ada yang melukaimu
jangan kira, aku tidak mengutuknya.

Ternate, 31 Agustus 2016.




Manisku

Sejak orang-orang berkata kau tinggal nama
isi perutmu masih jadi barang perebutan
air mata tak jua tandas menggetir di pipimu
aku belajar menulis sosokmu dari jauh.
 
Berkali-kali kulumat tangis
di wajahmu, yang manis
agar bisa kureguk kembali
tawa petani di pipimu
gembira nelayan di dadamu.

Jika kanak-kanak tak bersekolah
masih dibebani ratapan kesedihan
sarjana sarjana tetap nganggur di kakimu
dan ibu-ibu tak jua dapat susu si bayi

karena pejabat-pejabat tak jua sadar
si mata cipit tak larut merobek benang perutmu
si hidung betet  tertawa riang memperkosamu
maka biarlah aku kembali kepada sunyi
memangilmu, memelukmu, menulismu
diam-diam. sangat diam-diam.
 
Ternate, 24 September 2016.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca