× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Kudeta

Atas nama demokrasi melawan demokrasi

Direktur LSM RORANO
Kudeta
Ilustrasi.

11/03/2021 · 15 Menit Baca

“Sebagian besar perang atau kudeta militer atau invasi dilakukan atas nama demokrasi melawan demokrasi”. Eduardo Galeano, jurnalis ternama dari Uruguay menuliskan ini setelah negerinya yang damai dikoyak kudeta militer. Ia kemudian pindah ke Argentina. Jalan hidupnya selurus kudeta karena di negeri tetangga itu, militer juga menjungkalkan Isabela Peron dari kursi Presiden melalui letusan senjata. Galeano memilih eksil ke Spanyol dan tetap melawan kekerasan dan otoriterisme melalui tulisan-tulisannya yang garang.

Sejarah yang merupakan kehendak rasional memang menuliskan banyak jejak perjuangan demokrasi. Jatuh bangun membuatnya tegak sebagai mercusuar kemanusiaan yang adil dan beradab. Namun di kepingan yang lain, perjuangan itu kadang berbanding  lurus dengan banyaknya kuasa membunuh demokrasi yang kerap mati “di tangan mereka yang bersenjata”. Selama perang dingin, kudeta atau perebutan kekuasaan dengan paksa dan menggunakan kekuatan senjata menyumbang sebagian besar kehancuran demokrasi.

Usai perang dingin, saat polarisasi hubungan antar negara didominasi Amerika, alasan “demokrasi” masih jadi pedestal untuk melegitimasi sebuah kudeta. Tumbangnya Mohamed Morsi dari kursi Presiden yang sebelumnya terpilih secara demokratis dalam Pemilu Mesir atau jatuhnya pemerintahan Yingluck Shinawatra di Thailand adalah contoh matinya demokrasi melalui kudeta militer. Begitu juga cerita Myanmar dalam beberapa windu ini. Arogansi militer menerabas batas dan bertindak atas nama “demokrasi” melawan demokrasi. Meski tekanan internasional begitu kuat, para jenderal Myanmar seolah tuli. Pers dibungkam. Protes warga dijawab dengan kekerasan senjata.

Demokrasi juga bisa mati karena kepemimpinan yang dipilih melalui sebuah proses demokrasi. Begitu simpulan dua ilmuwan politik asal Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat dalam “How Democracies Die”. Para pemimpin itu berkuasa dengan hasrat yang menghancurkan. Mereka cenderung menganggap rival sebagai musuh dan dikampanyekan secara terbuka untuk menyangkal legitimasi lawan. Mendorong terjadinya kekerasan, mengintimidasi kebebasan pers dan mengancam hasil pemilu melalui pembentukan opini destruktif yang masif.

Kudeta - entah dengan senjata atau persekongkolan jahat dalam diam - pada masa lalu dan kini tetap memiliki wajah yang sama. Wajah kekerasan. Dalam lakon itu, wajah kekerasan disamarkan dengan jargon dan bahasa politik yang menipu. Seolah-olah perebutan kekuasaan adalah jalan keluar yang berujung kebaikan. Padahal para pelaku kudeta sejatinya menafsirkan “kebaikan” hanya untuk memastikan identitas kelompoknya menjadi terhormat dan berkuasa tanpa batas. “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan menjadi dihormati”. Begitu sastrawan futuristik George Orwell memberi pengingat.

Dalam babad Ternate, kudeta kerap pula berseliweran dengan perebutan pengaruh untuk menjadi Sultan. Intriknya kadang berlangsung posesif di kalangan istana. Tak jarang pula melibatkan pihak “luar” yang secara terselubung menginginkan Kesultanan Islam terbesar di timur Nusantara ini bubar dan lenyap.

Ketika Sultan Ternate Bayanullah mangkat pada tahun 1521, duka mendalam melumpuhkan seluruh negeri. Rakyat tak siap kehilangan. Bayanullah, Sultan kedua yang memeluk Islam itu adalah Amir Al-Din yang membuat banyak aturan Kesultanan bersendikan hukum Islam. Memerintah antara tahun 1500 - 1521, Ia menerapkan aturan membatasi poligami, melarang pergundikan, mengurangi mahar perkawinan yang berlebihan dan mewajibkan perempuan berpakaian menutup aurat dan para lelaki dilarang memakai cawat. Bayanullah juga mensyaratkan jika sesorang akan menjadi bobato, maka dirinya harus beragama Islam.

Dari pernikahannya dengan Boki Nukila, Bayanullah memiliki dua orang putera. Deyalo dan adiknya Boheyat. Namun karena usia mereka masih sangat belia, roda pemerintahan untuk sementara dijalankan oleh Boki Nukila sebagai mangkubumi dibantu adik iparnya Tarawuse sebagai jogugu.

Toeti Heraty dalam bukunya yang lumayan lengkap “Rainha Boki Raja” menjelaskan, Boki Nukila adalah puteri Sultan Tidore, Kolano Al-Mansyur yang menikah dengan Sultan Bayanullah. Tak ada data pasti kapan Nukila lahir. Hanya tercatat jika pada masa itu, perkawinan antar keluarga para Sultan di Moloku Kie Raha lebih banyak bernuansa politis untuk memperkuat hubungan antar Kesultanan yang eksistensinya diancam Spanyol dan Portugis. Keberadaan Nukila pertama kali tercatat dalam surat Gubernur Antonio de Brito yang dikirim ke Raja Manuel I tahun 1523 ; menceritakan pertemuan dirinya dengan permaisuri Sultan Ternate dan putra mahkota Deyalo yang baru berumur 8 tahun.

Selain Deyalo dan Boheyat, perkawinan kedua Nukila dengan Pati Sarangi memberinya seorang putera bernama Tabariji. Nukila meski telah menjadi Ratu yang secara “samar tak diakui” menjalankan roda pemerintahan, hidup dengan tanggungjawab berat. Membesarkan tiga puteranya dengan mandat penuh berupa wasiat Sultan untuk meneruskan kepemimpinan Ternate. Ia tak disukai kalangan dalam istana yang dimotori Taruwese dan menghadapi tekanan Portugis untuk segera menyelesaikan bentengnya di Ternate yang juga berarti melukai hati ayahandanya, Sultan Tidore yang didukung Spanyol.

Tujuh tahun menjadi Ratu dan memimpin Ternate bersama Tarawuse, Nukila menyaksikan anaknya Deyalo yang telah tumbuh dewasa dilantik sebagai Sultan ke III (pemimpin Ternate ke 21 jika merujuk pada sejarah berdirinya Kerajaan Ternate) dengan gelar Hidayatullah. Hanya setahun Deyalo menjadi Sultan. Pada tahun 1529, Deyalo disingkirkan melalui sebuah kudeta yang diatur oleh Tarawuse dengan dukungan penuh Portugis. Tarawuse - adik Sultan Bayanullah - yang saat itu menjadi Jogugu (Perdana Menteri) merasa berhak atas mahkota Sultan. Ia berkomplot dengan Gubernur Jorge De Menezes dan dibantu Pati Sarangi. Portugis jelas menginginkan kontrol penuh atas Ternate dan Pati Sarangi punya misi terselubung menjadikan anaknya Tabariji sebagai Sultan.

Boki Nukila yang terancam membawa Deyalo berlindung di Tidore. Namun kelompok Tarawuse dan Portugis memburu mereka hingga melarikan diri ke Jailolo. Adnan Amal dalam “Maluku Utara, Perjalanan Sejarah 1250 - 1800” menyebut, dalam sebuah pertempuran di Jailolo, Deyalo tewas tertembak. Tarawuse menguasai tahta Ternate. Pati Sarangi diangkat sebagai mangkubumi. Keinginannya menjadi Sultan ternyata tak mendapat respons serius dari Gubernur De Menezes. Koalisi mereka pecah berantakan setelah Tarawuse yang kecewa bertindak melawan Portugis yang mulai aktif mengatur masalah internal Kesultanan.

Secara licik, De Menezes mengatur kudeta terselubung untuk menyingkirkan Tarawuse. Kalangan istana disusupi. Muslihat jahat dijalankan. Adik ketiga Sultan Bayanullah ini ditemukan tewas karena diracun di istananya. Pati Sarangi sekali lagi ikut bermain api. Tewasnya Tarawuse membuat Portugis beralih pada adik Deyalo. Tahun 1529 - tahun yang sama saat kakak dan pamannya tewas secara mengenaskan -  Boheyat diangkat sebagai Sultan Ternate ke IV dengan gelar Abu Hayat II. Ia berkuasa hingga tahun 1532. Pada masanya, Ternate makin aktif berhubungan dagang dengan Portugis. Dua surat Sultan Abu Hayat II ke Raja Portugis dalam aksara arab diakui sebagai manuskrip melayu tertua di dunia dan saat ini masih tersimpan di museum Lisabon.

Namun hubungan dengan Portugis kembali memburuk. Sultan yang merasa Portugis makin serakah dan bertindak sewenang-wenang, akhirnya mulai melawan. Entah sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan, dalam ketegangan hubungan bilateral itu,  Gubernur Gonzalo Pereira yang baru bertugas di Ternate secara mengejutkan ditemukan tewas di kamarnya dalam benteng Gamlamo. Purbasyangka menyebar. Orang-orang Ternate dituduh sebagai pelaku pembunuhan dan Sultan Abu Hayat II dijadikan tersangka. Ia ditangkap dan di penjara. Penangkapan ini membuat hubungan Ternate dan Portugis berada di titik nadir. Rakyat marah dan mulai melawan.

Pengganti Pereira, Gubernur Vincente de Fonceca meredam perseteruan itu. Ia membebaskan Abu Hayat II dan menjadikannya kembali sebagai Sultan. Namun pemerintahan Abu Hayat II tak berjalan mulus. Rakyat makin marah karena Portugis terus mencampuri urusan Kesultanan dan “dibiarkan” oleh Sultan. Kemakmuran merosot tajam. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Sultan tak peduli dan menggunakan tangan Portugis menangkap mereka yang membangkang perintahnya.

Di ujung kuasanya, rakyat menyerbu istana. Abu Hayat  II dipaksa lengser. Kudeta ini dipimpin oleh saudara tiri Sultan yakni Tabariji. Abu Hayat II selanjutnya dibuang ke Malaka dan meninggal di sana. Tabariji dalam usia 15 tahun dinobatkan sebagai Sultan Ternate ke V disaksikan Gubernur de Fonceca. Keterlibatan Portugis yang makin intens kelak membuat jalan hidup Tabariji makin bergelimang dengan sengkarut dan tipu muslihat yang tak berujung. Sultan Ternate ini bersama Ibunya, Boki Nukila menemui akhir yang tragis.

Hanya berkuasa selama tiga tahun, Tabariji dan Nukila juga ditangkap oleh Portugis dengan tuduhan palsu dan dibuang ke Gowa, India. Di hadapan Raja Muda Portugis, Tabariji “dipaksa” berpindah keyakinan jika ingin bebas. Ia juga diminta membuat traktat bahwa Ternate - Kesultanan Islam - yang diproklamirkan kakeknya, Sultan Zainal Abidin pada tahun 1486 harus takluk menjadi wilayah Kristen dibawah penguasaan Portugis.

Tabariji setuju. Ia yang berganti nama menjadi Don Manuel dibebaskan dan dikirim pulang ke Ternate untuk menjadi Sultan. Setibanya di Malaka - dalam persinggahan untuk pulang, Ia meninggal disana. Ibunya Boki Nukila yang juga berpindah keyakinan dengan nama Donna Isabela memilih menetap di Gowa bersama adik Tabariji, Donna Catarina.

Di Ternate, Khairun Jamil menjadi Sultan. Tak ada intrik dan persekongkolan jahat. Istana Sultan tak lagi dibawah tekanan dan kuasa pihak asing. Khairun membatalkan semua perjanjian pendahulunya dengan Portugis.

Dalam perspektif kekinian, kudeta yang berujung perampasan kekuasaan dengan atau tanpa kekerasan sejatinya hanya menjadi media pemuas “hasrat kebinatangan politik” - meminjam pikiran Aristoteles. Babad di atas dan beberapa cerita kudeta hanya melahirkan kegetiran dan kehancuran. Tak ada yang abadi jika segalanya dimulai dengan pemaksaan dan kekerasan. Dan sebaiknya kita melawan. Melawan berarti memutus pengulangan sejarah, déjà vu.

Margaret Thatcher, Perdana Menteri perempuan yang dikenal keras dan konsisten memimpin Inggris berpuluh tahun itu memberi sebuah pilihan bijak ; jika anda hanya ingin disukai, anda akan siap untuk berkompromi pada apa saja - kapan saja. Dan anda tidak akan mencapai apapun.

 

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca