× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Ilham dalam Menulis

Semacam Esai
Ilham dalam Menulis
Sumber: Geogle

18/03/2021 · 1 Menit Baca

Menurut KBBI, ilham adalah petunjuk Tuhan yang timbul di hati (bisikan hati) atau pikiran (angan-angan), atau sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb).

Dalam ulasan sederhana ini saya akan mengulas dua macam ilham yang saya garap dan kemas dari pengalaman dan pemahaman saya. Dua ilham tersebut saya uraikan sebagai berikut:

Ilham pertama, datang tak diundang, pulang tak ingin diantar, maka kita harus berusaha mengantarnya, apa pun alasannya. Antar ke mana? Antar ke tempat di mana ia bisa berbaring dengan tenang dan orang-orang dapat membacanya.

Bagaimana orang-orang dapat membacanya, sedang ia tak punya tubuh (fisik) dan tak berwujud?  Tubuhnya adalah kata-kata, maka kita butuh kosakata (alam, benda, dll) untuk membuat tubuhnya. Agar batinnya dapat dikenal, dapat dibaca.

Ilham ini dikenal dengan ilham sakti. Ia seperti seorang tamu, seperti seorang sahabat. Kedatangannya kadang kita terima, kadang kita tolak. Padahal ia tamu yang baik, sahabat yang baik. Ia datang saat kita menyaksikan orang-orang besar menari di atas tangisan orang-orang kecil.

Ia datang ketika harapan kita tak dihargai oleh orang-orang yang kita sayang, yang kita percaya. Ia datang saat kita jauh mengembara dan wajah ayah ibu-- hanya bisa kita kecup dalam doa. Ia datang saat kita payah sendiri, gelisah sendiri, menangis sendiri.

Ia datang ingin menemani, ingin membantu kita-- memberi ruh, ke dalam tubuh tangis kita, tubuh gelisah kita, tubuh cinta kita, tubuh rindu kita. Ia telah rela, benar-benar rela.

Maka jemputlah ia, izinkan ia masuk, duduk di samping atau berbaring di ranjang. Izinkan ia bernyanyi, memberi ruh dan kita siap memberi tubuh yang baik. Jika ia puisi, ia butuh busana, butuh pakaian, agar tidak telanjang, tidak bugil seperti karya pada umumnya.

Ilham kedua, ia tak datang, jangan ditunggu. Untuk menemukannya, menjadi kekasihnya, menjadi sahabatnya. Harus ada pencarian, tapi di mana, ke mana kita mencarinya? Di mana-mana. Di keringat ayah ibu, di kaki hujan. Di mata para pelaut yang berhari-hari diadu ombak. Di mata para petani yang sedih dan bahagia. Di buku-buku berhalaman, di buku-buku tak berhalaman (alam dan lain-lain).

Ketika ia telah datang dan tenang. Persilahkanlah ia masuk, izinkan ia duduk. Perhatikan mata dan wajahnya baik-baik. Sebelum ia pergi dan kita mencari-carinya dalam payah.

Menulislah, dan hilangkan prasangka bahwa menulis tidak penting. Sebab sejarah-- ada di tanganmu, dan buah tanganmu adalah tempat berkumpul segala masa lalu. Papan berhalaman tempat anak-anak membaca riwayat tetuahnya, riwayat ayah-ibunya. Untuk masa depannya, untuk hari depannya.

Sekian.


Morotai, 2018.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca