× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Lelaki yang Karam

Puisi
Lelaki yang Karam
Sumber: Geogle

28/03/2021 · 1 Menit Baca

Sungguh
aku telah karam
di lautan kenangan
terbebani kelemahan

Seharian
pagi kehilangan mentari
malam kehilangan rembulan
dan bintang pergi tanpa alasan

Ombak yang kehilangan angin
Basah yang kehilangan dingin
selaras dengan esok yang kehilangan kemarin

Tidak ada lagi yang perlu dibenahi
semua yang kukenali telah pergi

Entah itu harapan yang berubah menjadi kesunyian
atau ingatan yang berubah menjadi kerinduan

Lepaskan hidup ini
mungkin ia sedang bergerilya
bersama hati, jiwa, dan raga

Morotai, 24 September 2020.

 


Indonesia Timur

Sungguh ini bukan kepentingan pribadi
banyak lagi yang perlu dibenahi
ekonomi pengetahuan dan teknologi

Jangan saling menyalahkan!
Kita butuh perenungan atau semuanya
terhenti di lisan dan perkataan lalu lahirkan jutaan tindakan.

Semua ini bukan ujaran kebencian
tidak ada kata makian
atau terputusnya tali sillahturahmi
kami hanya meminta bukti bukan solusi

Entah penderita atau menderita
mementingkan hal sendiri adalah hal yang biasa

Rancangan dan wacana tak pantas diterima
atau kami akan datang dengan amukan massa

Jangan diperpanjang
dan dibungkam
atau semuanya kami alihkan secara paksa

Kau menguji kami di dalam duka
bersimpang jalan,
pandangan dan kepentingan .

Memegang kemudi!
Merajut banyak peristiwa bagi pribumi
kami bicara soal realita dan fakta
jangan alihkan semua isu demi nama baikmu

Hentikan semuanya
atau kami akan bercerai-berai
selamat tinggal nusantara!
Jangan bungkam kami secara paksa
kau mengikat kami dalam jalinan
aturan dan kekuasaan, biadab

Atas nama ibu pertiwi
dan kami anak-anak pribumi
anggap saja tak pernah nonton berita

Kami Papua dan Maluku
merasa ragu disebut indonesia

Morotai, 3 Oktober 2020.




Saleha

Aku tahu
bintang malam ini tampak murung
cahayanya berubah tak seperti biasa
ketika mendung membuat cahayanya menjadi sia-sia

Namun itu mungkin cara alam
mengenangmu atau renungan tentangmu

Dan aku percaya
semua diberikan alam adalah ketenangan
jiwa hati dan pikiran yang terpadu
dalam satu kata ...
membuat raga ini begitu kaku

Pilu dan rapuh mewakili semuanya
dan aku seolah tak berdaya
hilang arah dan sejujurnya
aku terpaku di malam itu.

Morotai, 21 September 2020.



Sedang di Kantongmu

Bagaimana kau berjanji tentang revolusi
sedang di kantongmu masih tersimpan reklamasi

Tak payah kau sembunyi korupsi yang kau adopsi
dengan akar-akarnya sudah cukup menjadi bukti

Dan bahkan nelayan yang belum sempat melaut
sudah kenyang dengan asinnya air mata

Kau sulap kesejahteraan dengan penindasan
kau paksa mereka berlutut menyerah dengan kebiadaban
kau hancurkan harapan anak-anak pesisir dengan timbunan

Betapa ibu pertiwi begitu pedih

Pernakah kau duduk di sana
sambil begunjing masalah rakyat?
Membela dan menyuarakan keresahan mereka?
Tidak, kau hanya berpikir isi perutmu!

Lupa kau dengan amanah,
tanggung jawab dan kepercayaan
yang  mereka titipkan penuh harapan

Kau dikirim dengan misi
sebagai perwakilan seberkas cita-cita
berharap suaramu lantang dan apa yang kau balaskan?
Penindasan
Kebodohan macam apa ini?

 Morotai, 24 September 2020.


Tentang Penulis

Muhammad Rifki Ferdiansyah atau biasa disapa Iki, lahir di Malifut, 28 Oktober 2004. Kini sebagai Siswa Kelas XI IPA, MA Nurul Huda Gotalamo.



Share Tulisan M. Rifki Ferdiansyah


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca