× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Ajek

Di dunia yang lain, konsistensi selalu menjadi kunci sebuah pencapaian

Direktur LSM RORANO
Ajek
Ilustrasi: maxmanroe.com

28/03/2021 · 5 Menit Baca

Sebuah video pendek yang tak biasa mendadak viral. Presiden Joe Biden terantuk kakinya dan jatuh tiga kali di tangga pesawat Air Force One. Biden yang baru menjabat itu memang sudah berusia lanjut. Meski begitu, tak ada alasan medis yang diungkit. Video ini malah mendapat ragam komentar. Ada yang berempati. Ada juga yang menganggapnya biasa.Biden bukan kapten Marvel. Tapi tak sedikit yang menertawakan “kejatuhan” sang Presiden. Ada yang mengusulkan agar tangga pesawat kepresidenan sebaiknya menggunakan lift lengkap dengan kursi roda. Ada juga yang memparodikan seolah-olah Biden tersungkur karena terkena bola golf yang dipukul sang rival, Donald Trump.

Seminggu setelah komentar-komentar cafarune yang riang itu, saya tak mendapati satupun reaksi otoritas Amerika yang mengancam atau menangkap netizen yang nyeleneh. Segalanya dibiarkan mengalir. Tak ada krasak-krusuk. Polisi dunia maya hanya mengamati. Tak ada pesan “peringatan” ke ponsel atau email mereka yang terlibat. Mungkin ini bagian dari memelihara “kedekatan” antara orang ramai dengan pemimpinnya. Mungkin juga ini model dari “kebebasan” yang telah diperjuangkan sejak berabad lalu. Kebebasan yang bertanggungjawab. Bebas dari kebencian dan purbasyangka.

“Jalan terbaik untuk kemajuan adalah kebebasan”, begitu kata Jhon F Kennedy, salah satu Presiden paling berpengaruh dalam sejarah konstitusi Amerika. Ada konsistensi yang terus disemai. Sesuatu yang terus-menerus dijaga secara kolektif. Konsistensi  -sikap yang tak goyah itu - adalah tentang kapan membuka dan menutup pintu hati agar tak tergoda untuk bersikap merusak. Ia adalah malar. Ia tak ingin terjebak pada emosi dan kepentingan sesaat yang sumir dan menipu kemanusiaan.

Di dunia yang lain, konsistensi selalu menjadi kunci sebuah pencapaian yang pretisius. Akhir tahun kemarin, sepakbola Inggris mengalami beberapa turbulensi. Efek dari pandemi, kompetisi diputar tanpa penonton. Agar tak hilang passion, stadion disulap seolah-olah ada supporter. Sound high level disetting lengkap dengan tempik-sorak. Mereka mencoba menjaga “sesuatu” agar tak hilang. Tokh kegentingan bukan hanya soal pandemi. Sejak awal mula, Liverpool tetap dijagokan juara lagi. Namun faktanya hingga memasuki pekan ke 20, The Reds menghilang dalam sepinya Anfield.

Ada sembilan klub yang bergantian di puncak klasemen. Manchester biru ada di papan tengah. Saat kompetisi makin mepet tanpa jadwal recovery sebagaimana lazimnya, City mendaki secara perlahan. Sejak akhir Januari hingga jelang akhir musim, anak asuh Pep Guardiola seolah tak tersentuh. Rekor belasan kemenangan tanpa jeda diciptakan. Alienkah mereka? Tidak juga. Mereka tetap berkompetisi seperti yang lain. Ada kelelahan. Ada juga saat-saat kehilangan momentum untuk bertahan. Namun mereka tak kehilangan fokus. Selain faktor materi tim yang mumpuni, kepiawaian Pep dalam meramu strategi dan dukungan pemain yang menolak menyerah, sukses The Citizen juga ditentukan oleh konsistensi.

Pep sangat jarang merotasi skuad utama. Ia memberikan kepercayaan penuh pada pemain yang dipilih. Tak ada isu sensitive di ruang ganti yang bocor dan mengganggu konsentrasi. Balasannya adalah penampilan yang moncer dan nyaris tanpa cacat. Saat tetangga Manchester United kelimpuhan akibat cedera pemain dan sikap inkonsistensi yang ditunjukkan oleh beberapa bintangnya sehingga grafiknya naik turun, City nyaris tanpa gangguan. Mereka kukuh saat kegamangan juga dialami Chelsea, Arsenal dan Spurs.

Fenomena serupa juga terjadi di Italia dan Spanyol. Sejak awal musim, pucuk capolista digenggam AC Milan. Juventus terpuruk karena lebih menggantungkan nasibnya pada Ronaldo yang tak didukung pemain lain. Roma dan Lazio tak beda kondisinya. Saat tim lain mencari bentuk, Inter Milan perlahan datang menyergap. Setelah tersingkir dari kompetisi eropa, anak asuh Antonio Conte memilih fokus. Di dukung pemainnya dan manajemen tim, Conte seperti komponis yang bebas memilih lagu. Lukaku dkk tak pernah abai merebut kemenangan. Skuad minim rotasi. Semua pemain saling mendukung. Inter merebut capolista dan menjauh sendirian.

Cerita Atletico Madrid nyaris sama. Saat Madrid masih mencari bentuk sepeninggal Ronaldo dan Barcelona masih sibuk “mengurus” anak emasnya, Luiz Suarez yang terbuang itu memimpin rekan-rekannya untuk berlari dengan mimpi yang terus dipeluk erat. Tak ada celah untuk memanipulasi kejatuhan anak asuh Diego Simione - pelatih berkharisma yang keras namun penyayang itu. Tekad mereka sama; meruntuhkan hegemoni Madrid dan Barca.  City, Inter dan Atletico adalah bukti. Dalam sepakbola yang rumit, kemampuan menjaga penampilan dan memelihara hubungan yang harmonis antar semua elemen adalah kunci menuju kesuksesan. Ada chemistry yang menautkan.

Konsistensi - sebuah sikap yang ajek itu - membutuhkan proses yang tidak serta merta menghasilkan kemajuan. Ia menegasi sebuah kebersamaan yang tak liyan. Ada kesadaran bersama bahwa setiap individu harus mengurangi egonya. Tak sekedar menjual identitas yang guyub. Integritas harus diwakilkan. Tak berhenti pada slogan kosong. “Konsistensi adalah awal dari kebajikan”, begitu pengingat dari Francis Bacon, filsuf dan penulis asal Inggris.  

Ketika revolusi Perancis mendorong tumbuhnya sistim keterwakilan, orang ramai menilainya sebagai sistim yang demokratis. Tetapi Karl Marx memberi kritik; sie konnen sich nicht vertreten, sie mussen vertreten warden”. Ada kelompok lain yang tidak bisa mewakilkan dirinya sendiri, “vertreten” itu harus diwakilkan.

Yang “mewakili” harus berbicara dan bertindak sesuai suara yang “diwakili”. Dalam sistim kekinian, suara-suara itu berbanding lurus dengan solidaritas, kesetaraan, kebebasan dan saling menghormati. Ia meninggalkan prasangka, stigma dan seteru. Tanpa hal-hal baik seperti solidaritas, kesetaraan, kebebasan dan saling menghormati yang diajek-kan secara terus-menerus, maka benteng peradaban akan semakin rapuh. Tekanan ketidakpuasan sewaktu-waktu akan meledak. Lalu seturut itu, kebencian menyebar. Kemanusiaan tercerabut.

Sejarah mengguratkan ketidakpuasan yang meledak selalu berujung kekejaman. Membuat luka yang dalam dan berdarah. Holocaust yang dilakukan rezim Hitler di masa lalu adalah aib yang mengerikan. Nazi dengan segala kekejamannya bukanlah sebuah kecelakaan sejarah. Dalam perspektif Horkheimer dan Adorno, ia adalah hantu teror yang dilahirkan oleh masyarakat yang kapitalis dan liberal. Masyarakat yang menghamba pada kekuatan modal. Setiap individu berhubungan dalam konteks persaingan. Manusia direduksi ke dalam egoisme dan hanya menjadi materi ekonomis. Terjebak pada diksi untung-rugi. Sekali lagi secara sadar mengabaikan solidaritas, kesetaraan, kebebasan dan saling menghormati.

Di tengah pembantaian yang merenggut enam juta nyawa itu, beruntung masih ada mereka yang menolak Hitler. Adalah Kolonel Claus Von Stauffenberg yang mengkonsolidasi sejumlah perwira tinggi Jerman untuk membunuh Hitler. Mereka menggunakan operasi Valkyrie yang sejatinya dibuat Hitler untuk menyelamatkan dirinya jika ada kudeta. Bagi Stauffenberg, tindakan Hitler telah menimbulkan rasa jijik yang meluas di kalangan perwira. Kekejaman Nazi yang membunuh warga sipil, menangkap dan menyiksa tahanan serta eksekusi massal orang Yahudi harus dihentikan agar Jerman tak binasa. “Tugasku sebagai perwira bukan lagi menyelamatkan negara, tapi menyelamatkan umat manusia”, tegas Stauffenberg.

Valkyrie sebagaimana film thriller historis yang tengah tayang ulang di Netflix menceritakan kegagalan operasi pembunuhan Hitler. Namun ada jejak kebaikan yang terendap. Stauffenberg dan beberapa perwira Jerman memang akhirnya ditembak mati. Konsistensi - awal dari kebajikan - karena mereka menolak Nazi adalah oase yang menyembul di tengah kebengisan rezim Hitler. Ada kebanggaan yang melintas waktu sebagaimana kalimat patriotik yang diucapkan Mayor Jenderal Henning Von Treskow, sesaat sebelum peluru pasukan SS mengakhiri hidupnya; Kami harus menunjukan pada dunia bahwa tidak semua dari kami seperti dia. Jika tidak, ini akan selamanya menjadi Jerman milik Hitler.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Perempuan Lautmu

#SASTRA - 10/04/2021 · 1 Menit Baca

Tan dan Lilinga

#SASTRA - 10/04/2021 · 5 Menit Baca