× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Melawan Diam-Diam

Semacam Esai
Melawan Diam-Diam
Sumber: Geogle

28/03/2021 · 1 Menit Baca

Ketika Anda mengeluh haus, saya beri Anda air. Apa yang menghilangkan haus Anda? Jika saya bertanya demikian, apa jawaban Anda? Jika Anda menjawab, air. Saya tidak akan membantah, karena benar yang menghilangkan haus adalah air. Tapi bagaimana mungkin haus Anda bisa hilang jika Anda tidak punya kemauan dan keberanian untuk meneguknya? Inilah soalnya.

Saya pernah membaca sebuah buku (saya lupa judul dan penulisnya), di salah satu halaman tertulis, ada tiga modal utama memulai kemajuan: kemauan, keberanian, dan pengetahuan (Ali bin Abi Thalib). Di halaman itu, saya duduk cukup lama sembari merenung, kemudian saya belajar menyederhanakan tiga frasa tersebut berdasarkan pembacaan dan pemahaman saya.

Kalau saya sudah mau, saya harus berani. Kalau saya sudah berani, saya harus punya pengetahuan. Tanpa pengetahuan, kemauan dan keberanian yang saya miliki itu hanya akan mencelakakan saya. Untuk memperoleh pengetahuan, saya harus belajar. Untuk bisa belajar, saya harus belajar. Sebenar-benarnya jawaban adalah belajar. Sampai di situ, pikiran saya tiba-tiba terhenti.

Saya duduk mencari-cari. Cukup lama. Di tengah pencarian, kata seseorang yang mengiang-ngiang di dalam pikiran saya, ketika datangnya malam, jangan mengeluh tentang gelapnya, tapi carilah lentera untuk menerangi kegelapan itu.

Ketika itu, saya bayangkan tubuh saya adalah sebuah ruang, sebuah gedung yang dipenuhi benda-benda. Di dalamnya beberapa loga-loga sedang menyala. Loga-loga itu adalah hasil pencarian saya, hasil belajar saya. Diri saya adalah seseorang yang bimbang di dalamnya. Ia bingung. Padahal ruang itu memiliki banyak pintu--- tidak terkunci. Jika Anda berada di depan saya, Anda pasti melihat mata lampu yang berbaris di luar cahayanya menembus sampai menyala di mata saya. Anda tahu? Cahaya-cahaya itu saya bayangkan seperti dorongan. Seperti air yang saya beri itu. Sayangnya, bukan hanya cahayanya yang saya inginkan. Saya ingin mata lampu itu tumbuh di dalam tubuh saya, menyinari diri saya. Menerangi ruang di dalam tubuh saya. Saya yakin, apa yang ada di luar sana, di dalam diri Anda, di dalam diri semesta, ada di dalam diri saya. Saya hanya butuh lebih banyak mata lampu untuk menemukannya, untuk mengenalinya.

Saya juga membayangkan, hati saya adalah lautan. Akal saya adalah sungai. Jiwa saya adalah ikan yang hidup di dalam laut itu. Yang asin di hati saya tak lebih berat dari yang tawar yang dikirimkan akal saya. Bayangkan saja, kalau yang tawar itu adalah kekaburan yang dipenuhi akar dan batang-batang? Sekelam apa hati saya? Secemas apa jiwa saya?  Pikiran saya seperti air dari bukit jatuh ke batu-batu, pecah ke mana-mana. Sebagian mengalir ke laut, sebagian singgah di batu-batu, sebagian masuk ke tanah. Saya lelah, maka saya putuskan menutup itu buku, tak ingin lagi membayangkan apa-apa. Kemudian saya mantapkan niat saya, saya harus menulis. Saya-pun menulis. Saya mulai dari hal-hal kecil, tapi besar harganya. Tak dapat saya bayar. Saya menulis tentang ibu. Saya menulis tentang ayah. Saya menulis tentang tanah kelahiran saya.

Saya pikir hal itu mudah saya lakukan, mudah saya wujudkan. Padahal, belum selesai satu kalimat, kata, tanda baca, dan huruf-huruf sudah menyerang saya. Sudah memanah kepala saya, menembak dada saya. Saya terluka, tapi tidak berdarah. Saya berdarah, kemudian terluka. Di tengah bunyi anak panah dan suara tembakan, dalam hati saya berkata, menulis adalah melawan diam-diam.

Luka peperangan itu sampai kini belum sembuh. Setiap hari saya menulis hanya untuk mengobatinya. Jangan-jangan, tokoh-tokoh yang saya kagumi itu tahu, kata-kata yang keluar dari mata lidahnya umurnya tak lebih panjang dari kata-kata yang keluar dari mata penanya. Bisik saya, ketika mengakhiri tulisan ini.

Morotai, 2021.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca