× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Tan dan Lilinga

Semacam Puisi
Tan dan Lilinga
Sumber: Koleksi Sendiri

10/04/2021 · 5 Menit Baca

Bila ibu adalah sebuah dermaga, Lilinga adalah sebuah alamat. Berkali-kali sudah Tan ke sana. Di atas batu loko, di bawah pohon mangga dan kelapa, Tan duduk sambil mengangkat tangan.  Ketika tangan Tan lelah dan gemetar, di mata Tan hanyalah lautan, di bawah mata Tan batu rijang tumbuh membentang, ke bahunya ombak memecah.

Ketika Tan melihat ke timur lebih jauh, Pulau Rao dan Morotai begitu dekap di matanya. Di mata Tan, Morotai adalah harapan. Ketika Tan duduk di sana dan di langit awan serupa kelambu, payung adalah satu-satunya tempat ia bernaung.  

Di Supu, di Loloda, Tan memang punya banyak cerita, tapi Tan juga kehilangan banyak berita. Tan tak butuh tower, Tan hanya butuh orang-orang yang telah berjanji itu tidak membiarkan air liurnya membanjiri ingatannya.

Lilinga adalah janji, Tan adalah saksi. Lilinga adalah berita, Tan adalah cerita. "Jangan-jangan Halmahera Utara itu hanya Tobelo dan Galela." Kalimat itu yang sering mendidih di kelapa Tan.

Morotai, 2021.



Kau yang Mengucap Aku yang Mengusap

Pagi itu
kita tak sekadar bersepakat tentang waktu
atau tentang pagi, di mana ayah dan ibu beranjak
melewati jalan berliku, hamparan pasir
kala matahari di atas kepala
sungguh-sungguh berterik
hingga keringat bercucuran semacam jeram
semacam hujan di Ternate yang tak pernah tunai

bukan juga tentang sore
di mana ayah dan ibu terpeleset dari bukit
membelah sungai demi sungai
hingga kadang malam menemui mereka
di bentangan jarak
tak seperti para pejabat
yang asyik-asyik di gedung berlantai
menikmati desiran angin buatan manusia
sambil berdebat soal-soal basi

bukan juga tentang malam
di mana ayah dan ibu 
mendiskusikan nasib anak-anak
biaya sekolah yang belum lunas
biaya kesehatan yang melambung tinggi
sembilan bahan pokok yang mengiris akal
bahan bakar yang membakar hati
seakan-akan mereka tak pernah istrahat
tak seperti para pejabat, yang tak pusing-pusing
tinggal memasukkan ATM,
biru-biru dan merah-merah keluar
seperti janji tumpah dari mulut politikus.

Pagi itu,
kita tak sekadar bersepakat soal tempat
atau sebuah bangku di Taman Nukila
tempat orang-orang menikmati musim
menyimak percakapan ombak, desir angin
sambil menyeduh minuman kesukaan mereka

bukan juga tentang kafe atau hotel-hotel berbintang
tempat orang-orang bergantian menaruh apa saja
menidurkan siapa saja, menikmati minuman apa saja
memegang apa saja, memakan apa saja

bukan juga tentang Mall
tempat orang-orang membeli apa saja,
memainkan apa saja, dan tanpa harus berjalan
mereka bisa naik ke lantai demi lantai dengan seketika

bukan juga tentang kampus kita
di mana ketika mahasiswa
berteriak jadwal mata kuliah yang basi
fasilitas yang memuakkan
para petinggi memegang pinggang
mengangkat kepala tinggi-tinggi
semacam burung suwengko
semacam kelapa-kelapa di Halmahera
sambil melepas bahasa kanak-kanak

sesungguhnya
sepakat kita tak sepedih itu
sepakat kita lebih dari sepakat
yang tertulis dalam kitab undang-undang
atau dalam surat-menyurat
atau angka dan huruf-huruf di kartu hasil studimu
kau tahu tidak membuktikan
sebuah kebenaran dan kecerdasan
selain lembar manipulasi dari sistem pilih kasih

sesungguhnya sepakat kita tak sekeji itu
tapi ingatanmu, bagai film
maka biarlah aku mengusap
ucapmu dalam sunyi
kala sajadah menempel di keningku.

Ternate, 2017.



Merdeka Mereka

Sejarah bilang aku telah merdeka
sejak merah putih menjadi bendera
namaku dikibarkan di atas tulang-belulang
dari Sabang sampai Marauke
tapi kemerdekaan yang mana?
Kemerdekaan siapa?
Kudengar namaku disebut-sebut di baris-baris lagu
ketika ibu meniupkan lilin ulang tahun
di sepanjang jalan kota dan desa-desa
anak-anak, ibu-ibu muda serta ayah-ayah gaul
menyanyikan sambil teriak-teriak,
merdeka, mereka, merdeka, mereka
untuk mengirimkan pesan kepada dunia
bahwa aku sudah berkali-kali merdeka?
Aduhai betapa bahagianya aku.

Sehabis upacara,
aku kembali jadi cemas
jadi laut yang tak henti-henti menahan rindu
jadi puisi yang tak selesai menyimpan luka
maka aku putuskan menyusun satu demi satu batu ketabahan
sementara kekasihku dan mantan kekasihku, seperti biasa
masih setia mengampanyekan cintanya di mikrofon
kulihat wajahnya di surat kabar, di televisi
sampai tak tahan kembali aku terbuai.

Setelah kembali kuterima cintanya
ia pun menjelma lumba-lumba
maka kubiarkan mataku berkunang-kunang
daripada melihat diriku berjalan
terengah-engah, terjatuh-jatuh
dengan kepala yang gundul
bahkan aku telah mandul
semenjak rahimku ditusuk-tusuk
pisau korupsi, jarum kolusi, dan linggis nepotisme
tapi duhai kekasihku,
berapa lama aku sanggup menutup mata?

Di timur aku kembali merdeka
sagu, pala, kelapa, dan cengkeh berguling-guling
bagai anak-anak kehilangan balon hijau
tapi kusaksikan sawit bernyanyi sambil menari-nari
tak tahu malu
lihatlah duhai kekasihku
anak-anak sekolah begitu asyik terapung apung di atas sungai
kemerdekaan ke mana?” bisikku
maka kuputuskan untuk pulangkan gelisah ini  ke asalnya
sambil teriak-teriak dalam hati,
merdeka, mereka, merdeka, mereka
tapi jangan sekali-kali kau bilang aku tidak bahagia
karena sesungguhnya aku sudah terbiasa bersahabat dengan kenyataan ini.

Ternate, 2017.



Jawaban dari Semua Pertanyaanmu

Jangan lagi bertanya
mengapa hanya rindu
yang selalu aku tulis
kau tahu, tidak ada hal lain
dalam hidupku
selain satu kata dasar dan dua verba
:jawaban dari semua pertanyaan
jika kau meminta jawaban lain
kau hanya akan menemukan pertanyaan.

Aku sama seperti mereka
tidak banyak keinginan
selain rindu yang ingin aku lunasi
sebagaimana kau menginginkan kehangatan
dari dunia yang lain, dunia para lupa
dan aku telah belajar untuk mengerti.

Demimu,
aku belajar menjadi ibu, belajar menjadi ayah
menjadi anak-anak dan apapun yang kau mau
sebab cinta tidak sekadar ciuman dan kata-kata.

Ternate, 2018.



Lihatlah Aku dari Sisi yang Lain

Aku berkata pada kekasihku
lihatlah aku dari sisi yang lain
bukankah hujan dan petir tak
selalu membawa kabar buruk dari langit
bukahkah banjir tak selalu
membawa kabar buruk dari hutan
bukankah ombak tak selalu
membawa kabar buruk dari laut
mereka bisa saja membawa kabar buruk
dari tangan-tangan jahil manusia.

Lihatlah aku dari sisi yang lain
seperti aku melihatmu dari dua mata pisau
runcingnya, bisa saja membunuhku
bisa juga menyelamatkanku
sementara tumpulnya, bisa menyelamatkanku
bisa juga membunuhku.

Ternate, 2017.




Kecuali Jika Engkau Berhenti Menulis

Kecuali jika engkau berhenti menulis
maka halmahera hanyalah dongeng-dongeng silam
atau bau cengkeh yang lenyap diterbangkan angin
tersesat ke langit-langit yang tak pernah sungguh.

Kecuali jika engkau berhenti berpuasa
maka falsafah dan gendang tifa
hanyalah lagu-lagu tidur, dinyanyikan malam
ketika mimpi ingin bertemu mimpi.

Kecuali jika engkau berhenti menjadi manusia
maka Halmahera, kau lukai tubuhnya
dan saudara kembali menjadi darah.

Ternate, 2017.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca