× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Praktik Tahfidz Qur’an pada Siswa SMP Al-Qur’an Putra Bahari Ternate

Pembiasaan dan Nasihat
Praktik Tahfidz Qur’an pada Siswa SMP Al-Qur’an Putra Bahari Ternate
hasben.photos

10/04/2021 · 5 Menit Baca

Tradisi menghafal al-Qur’an yang dilakukan oleh banyak umat Islam dari mulai anak-anak hingga orang dewasa merupakan cara untuk untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, langkah ini juga pada masa lampau merupakan antisipasi bersama umat Islam, jika terjadi perubahan dan pemalsuan terhadap al-Qur’an. Menghafal al-Qur’an juga memiliki reward untuk menjaga diri dari kelupaan baik secara keseluruhan maupun sebagian. Dengan kita menjaga hafalan, Allah SWT akan memberikan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, hal itu bisa dilihat dalam QS. As-Shaad (38): 29.

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

Terjemahannya:

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Dari ayat tersebut, dapat dijelaskan bahwa mereka yang mempraktekkan menghafal al-Qur’an bahkan sejak kecil, Allah telah menjanjikan kebaikan, keberkah dan kenikmatan bagi kepada mereka. Allah SWT memudahkan umat-Nya untuk mempelajari dan menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an, tanpa terkecuali bagi anak-anak. Memiliki buah hati yang hafal al-Qur’an tentu akan menjadi kebanggaan sendiri bagi para orangtua.

Beberapa tahun terakhir, telah banyak sekolah dan pesantren tahfidzul Qur’an yang ada di Indonesia, tak sedikit pula pesantren yang membuka khusus untuk mencetak generasi para hafidz. Banyaknya sekolah tahfidz tentu masing-masing memberikan hasil yang menjanjikan siswanya dapat menjadi hafidz dan hafidzah, bahkan tidak sedikit yang menjanjikan siswanya lulus dengan waktu singkat. Hal itu tentu menjadi trend positif dikalangan Muslim.

Untuk dapat menghafal al-Qur’an tentu tidak mudah, sebab untuk mendapatkan label umat terbaik butuh kesungguhan dan ikhtiar yang baik. Selain itu, keberkahan dari para penghafal al-Qur’an akan meng-influence orang-orang di sekitarnya, terutama sesama anak-anak. Allah SWT pun menjanjikan banyak sekali manfaat bagi para penghafal al-Qur’an baik yang nampak di dunia maupun sebagai ganjaran di akhirat. Dalam membentuk anak menjadi generasi yang Qur’ani, dan mengingat pentingnya menghafal al-Qur’an inilah, yang kemudian salah satu SMP di Kota Ternate, yakni SMP Al-Qur’an Putra Bahari, menuangkan tahfidz al-Qur’an dalam bentuk kurikulum pelajaran di sekolah.

Praktik menghafal al-Qur’an yang dilakukan pada setiap pagi sebelum dan setelah melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran umum ini, penulis lihat sebagai langkah strategis untuk membiasakan atau menghidupi ayat-ayat al-Qur’an (living Qur’an) pada anak-anak agar mereka terbiasa dan selalu dekat dengan al-Qur’an dalam keseharian mereka.  Selain itu, praktik menghafal al-Qur’an juga menjadi bagian untuk mencontohi perilaku (Sunnah) Rasulullah SAW saat menerima wahyu al-Qur’an dari Allah SWT. Oleh karenanya itu, praktik ini juga dapat dinamakan dengan praktik living sunnah, atau lebih tepatnya living hadis, yakni menghidupi cara atau perilaku Nabi SAW di era sekarang. 

Pandangan tersebut, berdasar pada hikmah turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur, peristiwa tersebut merupakan isyarat dan dorongan ke arah timbulnya himmah untuk menghafal al-Qur’an dan Rasulullah merupakan figur seorang Nabi yang dipersiapkan untuk menguasai wahyu secara hafalan, agar ia menjadi teladan bagi umatnya. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, beliau menerima secara hafalan, mengajarkan secara hafalan dan mendorong para sahabat untuk menghafalkannya.

Semua itu merupakan tindakan yang luar biasa bagi umat Islam karena al-Qur’an dapat dihafal dalam dada mereka, termasuk apa yang dilakukan oleh siswa SMP Al-Qur’an Putra Bahari. Allah Swt berfirman dalam QS. Fathir (35): 32;

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٣٢

Terjemahannya:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang menghafal al-Qur’an adalah orang-orang pilihan yang mendapat karunia amat besar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a. disebutkan bahwa: “Tidak ada iri dengki, kecuali pada dua yaitu orang yang diberi kemampuan oleh Allah kepandaian dengan al-Qur’an dibaca dan kaji siang dan malam, dan orang yang diberi harta kekayaan oleh Allah lalu dia menginfakkannya siang dan malam.” (Imam an-Nawawi, Al-Tibyan Fi Adab Hamalat al-Qur’an, 2014)

Namun menghafal al-Qur’an bukanlah suatu hal yang mudah, dalam proses menghafal nantinya akan bermunculan problem yang bermacam-macam, sehingga perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Hal ini memang terjadi pada siswa SMP Al-Qur’an Putra Bahari Ternate, yang notabene-nya berasal dari latar belakang yang berbeda. Menurut Ahsin Al-Hafidz dalam memecahkan problem ini terdapat dua pendekatan, yakni pendekatan operasional, seperti niat yang kuat dan pendekatan intuitif (penjernihan hati), seperti dengan zikir, puasa dan lain-lain. (Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, 2009). Sehingga ketika saat-saat sulit itu datang maka kita sudah siap dan mengerti harus berbuat apa.

Secara historis, pada zaman dahulu, ketika Malaikat Jibril turun menyampaikan wahyu berupa ayat al-Quran kepada Rasulullah SAW yang kemudian beliau bersegera menghafalkannya, bahkan dalam kitab tafsir Ibn Kathīr dijelaskan bahwa ketika wahyu turun, mulut Baginda Rasulullah SAW. bergerak berusaha menghafalkan ayat bahkan sebelum Malaikat Jibril selesai membacakan ayat tersebut, sehingga Allah menurunkan ayat 16 dan 17 pada QS. al-Qiyāmah (74) untuk mengingatkan baginda Rasulullah SAW.

 لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ١٦ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ١٧

Terjemahannya:

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya

Begitulah semangat Baginda Rasulullah saw. untuk menghafal al-Quran. Dalam kitab tafsir al-Munīr dikatakan bahwa Baginda Rasulullah saw. tergesa-gesa dalam menghafalkan ayat alQuran yang disampaikan Malaikat Jibril karena Baginda Rasulullah saw. begitu semangat dalam menghafal dan karena beliau takut ayat tersebut terlepas dari beliau. Gaya menghafal al-Quran seperti ini pun terus dilanjutkan oleh para sahabat. Mengingat di tanah Arab, budaya menghafal jauh lebih diutamakan dibanding budaya menulis. Sehingga daya ingat para sahabat lah yang menjadi sumber kekuatan dalam pemeliharaan ayat al-Quran.

Untuk anak usia dini, dalam menghafal al-Quran, bukanlah sebuah halangan. Terbukti sejak berabad-abad lamanya, bahkan sejak zaman para sahabat, terdapat begitu banyak penghafal al-Quran yang masih berusia sangat muda, bahkan para penguasa seperti ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz dan Muhammad al-Fātiḥ pun telah menghafal al-Quran pada usia belia. Allah SWT, pun telah menyebutkan di dalam al-Quran surah al-Qamar (54): 17 bahwa Allah SWT. telah memudahkan al-Quran itu sendiri;

 وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ١٧

Terjemahannya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran

Dalam proses menghafal al-Quran bagi siswa SMP Al-Qur’an Putra Bahari Ternate, sudah kewajiban bagi guru untuk lebih baik memperhatikan proses ketika menghafal. Maka, saat menghafal al-Qur’an, siswa tidak harus duduk dan diam saja, tetapi siswa lebih baik untuk melakukan kebebasan dalam proses menghafal berdasarkan gaya belajar mereka masing-masing. Dengan demikian, siswa akan tetap merasa senang menghafal al-Qur’an tanpa merasa ada paksaan dari orang tua mereka.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca