× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas II

Surat -Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas II
Sultan Nuku/Foto Tirto.Id

29/04/2021 · 15 Menit Baca

“Apapun yang gagal membunuhmu akan membuatmu lebih kuat”, begitu kata Friedrich Neitzsche, penyair yang juga filsuf berkebangsaan Jerman. Epos Kaicil Nuku yang dikurung empat lawannya dengan kekuatan besar justru membuatnya makin waspada sekaligus kritis dalam bertindak. Semuanya dihitung dengan hati-hati. Saat jalinan “persahabatan” dengan Gubernur van Plueren membaik, Nuku terus melakukan konsolidasi. Dari laporan intelejen yang diterimanya, Nuku mahfum jika hubungan antara Cornabe dengan Patra Alam mulai retak.

Cornabe sangat bernafsu menghabisi Nuku. Beberapa armada gabungan dikirim untuk merebut daerah-daerah yang sudah berbaiat mendukung Nuku. Patra Alam justru tak setuju dengan aksi itu. Bagi Patra Alam, para Raja dan Sangaji tak bisa dipercaya. Percuma mengajak mereka bergabung karena pengaruh Nuku keburu kuat. Sebelumnya, beberapa armada yang dikirim Patra Alam untuk memburu Nuku berakhir menyedihkan. Salah satunya adalah armada korakora dipimpin Bobato kepercayaannya bernama Doy. Tak hanya gagal menangkap Nuku, Doy malah bergabung dengan pasukan Nuku.

Gegara ini, Cornabe makin yakin jika Patra Alam menjalin “hubungan terlarang” dan mendukung Nuku secara samar. Nuku bertempik-sorak. Ia menggiatkan penyebaran informasi jika Inggris telah bersedia bekerja sama dengannya. Kekuatan Nuku semakin kuat sebagaimana diceritakan oleh para agen intelejen yang menyamar di Ternate dan Tidore. Nuku mengetahui bahwa perang di Eropa antara Inggris dan Belanda sedang berkecamuk. Karena itu, Inggris “seolah-olah” ditempatkan sebagai sekutu dalam perang melawan Belanda di Maluku. Diplomasi lewat kurir maupun surat menyurat dengan Inggris diperbanyak. Cornabe panik. Patra Alam enggan terlibat. Desas desus menyebar cepat. Belanda uring-uringan. Surat-surat Nuku diantar hingga ke Bengkalis, tempat Inggris berpusat kuasa.

Dalam situasi yang terjepit, Belanda dikagetkan dengan penyerangan armada Nuku ke Bacan dan Makian. Benteng Barneveld dengan mudah direbut. Lalu pulau Makian disasar. Armada Nuku menuju Tahane. Dari situ mereka bergabung dengan Sangaji Tahane yang sejak awal sudah berkomitmen bersama Nuku. Armada gabungan itu menyerbu Ngofakiaha. Benteng De Zeeburg dan Mauritius direbut. Rumah-rumah Belanda dibakar habis. Meriam dan senjata rampasan dimuat ke korakora. Turut serta sekitar 200an orang Tahane yang jadi “tawanan perang”. Tawanan perang disini hanya samaran. Nuku “menitipkan” mereka di Tidore sebagai bagian dari pasukan Nuku dibawah pimpinan Sangajinya, Muhammad Arif Billah.

Nuku meminjam pendapat Craig Wright dalam bukunya ; The Hidden Habiits Of Genius. : Beyond Talent, IQ and Grit - Unlocking The Secrets of Greatness, selalu menunjukan sisi jeniusnya. Ia selalu berpikir dan bertindak sebaliknya dari yang orang ramai. Penuh kejutan dan kreatif. Arif Billah dan pasukannya jadi bagian dari Tidore yang setia pada Nuku. Sejarah menulis, kelak nanti, Arif Billah akan jadi panglima perang Nuku yang legendaris dan diangkat Nuku sebagai penguasa Jailolo.

Sukses merebut Bacan dan Makian, armada Nuku bergerak masuk Tidore. Pasukannya dibagi dalam dua titik pendaratan untuk mengepung ibukota. Sebagian armada diperintahkan berjaga sambil berdefile di laut antara Maitara dan Tidore. Tifa dan gong dimainkan dengan irama perang. Pasukan darat bergerak menguasai ibukota dibantu banyak loyalis Nuku yang sudah bersiap menyambut sang Kaicil Paparangan. Tidore dikuasai karena Belanda tak mengira akan diserang. Fokus Belanda tersita pada upaya merebut kembali Bacan dan Makian. Patra Alam ditawan. Para Sangaji dan Kimalaha serta Bobato yang berkumpul menegasi kembali dukungan mereka pada Nuku.

Apakah Nuku datang dan menguasai Istana?. Kejutan. Penyerbuan dinihari itu ternyata hanya taktik Nuku. Mungkin sebagai bagian dari konsolidasi. Mengukur kekuatan armada dan kepercayaan rakyat. Kepada panglima Doy, Nuku tegas berpesan agar rakyat Tidore tidak diusik. Patra Alam diminta untuk bergabung dengan Nuku. Permintaan itu ditolak. Saat matahari meninggi, armada Nuku melepas sauhnya dari pantai. Mereka berlayar dan menghilang di lautan yang penuh lamun. Saat armada Belanda menyerbu ibukota Soasiu, yang didapat hanya jejak-jejak kosong. rakyat beraktifitas seperti biasa. Tak ada sisa pertempuran. Cornabe yang marah lalu menangkap Patra Alam dan keluarganya. Ia dituduh berkonspirasi membiarkan Nuku menyerbu Tidore karena tidak melakukan perlawanan. Bersama keluarganya, Sultan Tidore ini dibawa ke Batavia untuk diadili pada bulan Maret 1784.

Di markas perangnya di Seram, Nuku tersenyum. Politik pecah belah Belanda sukses dijadikan senjata yang balik memukul lawan. Kongsi politik Cornabe dan Patra Alam bubar tanpa perayaan. Cornabe menulis sebuah surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Isinya meminta agar Tidore dijadikan bagian dari kekuasaan Belanda di Maluku. Namun permintaan itu ditolak. Batavia memainkan lagi bidak yang lancip. Mereka memutuskan untuk mengangkat Kaicil Kamaluddin, adi Nuku sebagai Sultan Tidore. Sebuah “pukulan” bagi Nuku karena dulu Ia menentang pengangkatan Patra Alam dengan alasan putera Gayjira ini bukan turunan langsung Sultan. Kamaluddin yang dilantik pada tanggal 18 April 1785 di Ternate juga memiliki pengaruh kuat pada sejumlah Sangaji dan Raja-Raja di wilayah Papua hingga pulau Aru.

Setelah dilantik, Kamaluddin ternyata memilih memerintah dari Ternate. Sebuah keputusan yang menurut saya justru menguatkan posisi Nuku. Bagaimana mungkin seorang Sultan tidak mendiami istana di Soasiu?. Keputusan kedua Kamaluddin yang kelak mempermudah langkah Nuku merebut Tidore adalah menunjuk Sangaji Tahane sebagai Jogugu. Ini orang kepercayaan Nuku. Selama sepuluh tahun, jabatan Jogugu tak lepas dari tangan Arif Billah. Dalam keseharian, sang Jogugu patuh menjalankan tugasnya. Di saat yang sama, konsolidasi secara senyap untuk memperkuat barisan Nuku dilakukan dalam wajah yang ajeg.

Dokumen-dokumen Belanda secara teliti menyebut sejak awal Arif Billah memang menjadi "kaki tangan" Nuku. Semua operasi penangkapan Nuku yang dilakukan oleh Kamaluddin dan Belanda gagal karena informasi pergerakan armada mereka sudah diketahui Nuku dari Arif Billah. Jogugu ini secara rutin mengirim surat-surat rahasia terkait perkembangan Tidore, Ternate dan Belanda kepada Nuku. Bahkan saat Nuku berada dalam posisi sulit, dikepung empat lawannya, Ia selalu lolos karena "informasi" dari Tidore. Dalam buku "Halmahera Timur dan Jailolo : Pergolakan Sekitar Laut Seram Awal Abad 19", sejarawan R.Z.Leirissa menyebut, Arif Billah sudah meninggalkan ibukota Soasiu dan bergabung dengan armada Nuku beberapa bulan sebelum mereka menyerang dan menguasai Tidore pada tahun 1797.

Merasa mendapat dukungan penuh dari Belanda dan beberapa utusan yang dikirim ke Papua memberi kabar baik, Kamaluddin berinisiatif mengirim sebuah delegasi ke Seram. Tujuannya menyampaikan permintaan agar Nuku menyerah dan mengakui status Kamaluddin. Bagi Kamaluddin, posisinya tak akan kuat jika Nuku masih bergerak menentang Belanda. Utusan itu tiba di Seram membawa sepucuk surat. “Saddaha” -kepala protokoler istana bernama Gulamanis dan seorang Letnan bernama Ali disambut Nuku bersama para Sangaji dan Bobatonya. Surat Kamaluddin dibacakan sekretaris Ismail di depan banyak orang. Ketika Nuku hanya disebut sebagai seorang Kaicil, marahlah para Sangaji dan Bobato. Bagi mereka Nuku adalah Sultan dan Kamaluddin telah merendahkan derajatnya, Gulamanis dan delegasinya ditangkap.

Dua hari kemudian mereka dilepas. Nuku tidak membalas surat Kamaluddin. Ia hanya menitipkan pesan lisan kepada adiknya itu bahwa dirinya beserta rakyat Papua dan Seram akan mengakui Kamaluddin sebagai Sultan Tidore jika dia tidak lagi menjadi kaki tangan Belanda. Gulamanis diminta ke Ambon melaporkan keberadaannya bersama Nuku di Seram sebelum balik ke Ternate. Nuku menabur badai perpecahan.

Gubernur Johan Adam Schelling yang ditemui Gulamanis di benteng Victoria murka bukan kepalang ketika tahu ada delegasi Tidore dan Ternate yang menemui Nuku di Seram - wilayah kekuasaannya. Gubernur Ambon yang tidak diberitahu itu merasa direndahkan. Ia mengajukan protes keras ke Gubernur Ternate. Cornabe yang “dimarahi” oleh rekannya dari Ambon tersudut. Kamaluddin bertindak tanpa diketahuinya. Efek domino dari siasat Nuku berakibat pada menurunnya kepercayaan antar Gubernur Belanda di satu sisi dan pecahnya kongsi Cornabe dan Kamaluddin di sisi lainnya. Cornabe merasa Kamaluddin berkhianat dan tak serius mengatasi perlawanan Nuku.

Sultan Kamaluddin sebaliknya mulai merasa Cornabe tak becus melawan Nuku. Beberapa permintaannya agar armada korakora diperkuat untuk menyerang Nuku di Seram ditolak Belanda. Cornabe beralasan Seram bukan wilayahnya. Butuh ijin dari Ambon. Semakin rumit karena Gubernur Ambon terlanjur kecewa dengan kasus Gulamanis. Seturut itu, Kamaluddin mulai enggan bertikai. Ia lebih sibuk “mengurus” dirinya di Ternate. Dalam situasi yang suram itu, Nuku bergiat untuk membangun jejaring. Kapal-kapal pedagang asal Bugis Makassar, Banjarmasin, Sumatera, Cina, Arab dan bahkan Inggris “diterima” dengan tangan terbuka untuk menyintas di wilayah Tidore yang dikuasai Nuku. Ia bahkan “menyewa” sebuah kapal perang Inggris untuk berkeliling wilayah Papua. Menyapa rakyat sembari mengobarkan perlawanan terhadap Belanda.

(Bersambung)

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca