× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

‘Mereka’ yang Pura-Pura

‘Mereka’ yang Pura-Pura
Ilustrasi : Memotong Harapan. Foto : @storyinpicture

01/05/2021 · 1 Menit Baca

“Aer di galong so abis (air di galon sudah habis), Ata,” suara Istri saya yang terdengar dari balik terai pintu kamar. Tepat hari ini puasa sudah memasuki depan belas, tentu sebagian orang sudah mempersiapkan bekal berupa materi, psikis dan kesehatan sebelum menyambut bulan suci ini sedari awal. Namun, tak sedikit juga yang tidak beruntung untuk mempersiapkan hal tersebut.

Seharusnya jatuh tempo gajian saya pada tanggal 5 bulan ini. Dua puluh tujuh hari terlewatkan tak nampak juga amplop yang biasa saya terima didalam ruangan 1,7 x 2 meter yang bersebelahan dengan kamar yang kami tempati. Rp 8000 harga air galon langsung diantar hingga didepan kamar, tak juga saya tunaikan. Dispenser tampil meranah diatas meja tepatnya kiri dari arah pintu.

Ujung lidi yang harus basah ketika dicelupkan di lubang kompor, kering dan tak muncul aroma minyak tanah. Sepertinya padam. Aliran air dari PDAM pun ikut-ikutan menambah masalah dalam hidup kami, terhitung dari 19 April hingga kini tak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, kotor, berbau dan berbusa, setelah lima hari sebelumya tak mengalir. Krisis air di Kota berjulukan bahari berkesan ini bukan hal baru lagi.

Alternatifnya, celengan anak saya berbentuk melonjong, persis bekas kaleng biskuit itu saya bongkar paksa dengan martil diujung mulutnya. Pecahan uang Rp 2000, 5000 hingga 10000-an berserakan di atas keramik dengan total Rp 129.000. anak saya yang sudah berumur tujuh tahun itu nampak murung dan kecewa, sepertinya dia tidak rela bila tabungannya itu dikorek isinya sebelum permintaannya sendiri. "Tara (tidak) bisa bali (beli) baju baru sudah," terangnya sambil bersandar di dinding.

Anak seumuran dia sangat paham betul kondisi keuangan keluarga kecil kami. Dia mau mandiri untuk mengenakan baju baru saat lebaran nanti dari hasil tabungannya sendiri, uang jajan dia sisakan untuk menabung. Sesekali pemberian dari teman-teman saya yang berkunjung.

"Aer, aer, aer," teriak pengantar air di teras. Kini lampu merah dispenser sudah bisa dinyalakan, menunggu panas untuk menyeduh teh. Senyum bahagia terlihat anak saya bisa makan kue yang dijual depan tempat tinggal kami, tentu dari uang celengannya sendiri.

Isi pesan singkat yang saya kirimkan ke sudara, dengan maksud menawarkan diri bila butuh tenaga tambahan saya bisa kerja harian, terserah diupah berapa yang penting ada masukan. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk bisa bertahan hidup di kota yang biaya hidupnya melangit setelah Papua.

Sayangnya, hingga beberapa hari tak kunjung dibalas, padahal pesan itu sudah dilihat olehnya. Menyalahkan dia bukan alamat yang tepat, karena tak bisa menolong saya. Justru saya bisa memahami bahwa dia juga butuh uang dengan kerja yang tak seberapa upahnya itu, belum termaksud dibagi untuk rekan kerjanya. Dengan upahnya, dia bisa pulang dengan membawa kebahagian untuk anak dan istrinya di kampung. Di zaman sekarang kertas berwarna dan bergambar manusia itu sudah menjadi sumber kebahagian.

Meyandang PT tempat saya kerja hanya formalitas administrasi. Gaji yang tak mengikuti standar penetapan undang-undang ketenagakerjaan itu, eksis hingga hari ini. Ternyata syarat untuk membangun usaha berlabel apapun di negara ini sangat muda walaupun aneh bin ajaib. Negara terlihat konyol di depan pengusaha pribumi maupun pemodal asing. Amburadul yang penting ada lembar-lembar menyasar di kantong pemberi izin.

“kapan bale (balik)?” tanya ibu lewat telpon. “Ya.. tunggu satu dua hari bagitu dulu,” jawab saya. Kali ini harapan untuk pulang kampung mungkin diurungkan dulu. Meskipun besar niat untuk pulang sudah mengebu-gebu. Nasib lebaran tahun lalu akan terulang kembali karena pembatasan arus mudik lokal akibat pandemi COVID-19. Aturan yang sama akan berlaku di tahun ini walaupun dibolehkan tetapi mengantongi tes antigen, bebas terinfeksi menjadi prasyarat mutlak dari kebijakan negara.  Tidak gratis! Zakatnya Rp 150.000 per orang. Wao….

Kini, saya hanya berharap kebaikan hati dari pemilik usaha tempat saya bekerja untuk berbaik hati memberikan gaji sebelum tiba tanggal 6 dimulai dari besok. Agar bebas dari biaya petugas satgas. Berharap adalah sesuatu yang menyakitkan, apalagi itu adalah hak kita. Hak tidak bisa diganggu gugat dengan alasan apapun.  Mengerti…!!!


Share Tulisan Ichwan Taba


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca