× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Di Ujung Setangkai Arus, Ikan tak Mau Tertipu

Sajak Sabtu
Di Ujung Setangkai Arus, Ikan tak Mau Tertipu
Ilustrasi: Pixabay.

01/05/2021 · 1 Menit Baca

tapi mengapa ikan-ikan 
tak mau lagi tertipu kailmu?

tak birukah lautmu?

bukan
bukan karena bulan belum sempurna

bukan
bukan karena bulan kuyu di atas bayang riak

bukan
bukan karena bulan pucat bersisa sabit
di kaki langit

juga bukan
bukan karena arus 
tak bisa lagi mendendang serumpun karang

tapi di palung-palung 
syahwat kota telah menanam
plastik 
popok
dan pembalut
lalu merimbunlah rumpun karang baru

di ujung setangkai arus
ikan-ikan tak mau lagi tertipu 

Ibrahim Gibra
25 April 2021

 

belimbing bergelinding

sehelai angin dingin 
mengirim daun-daun yang baru saja bangkit
dari ranting malam

:sepagi ini tanah berkabar tentang
hujan semalam

tetiba kulihat belimbing jatuh
di antara rinai hujan:
ada gerak dalam diam

tanah ini basah
daun bersilara
dan belimbing bergelinding

Ibrahim Gibra
23 April 2021

 

dan laut telah mengirim setangkai arus
:untuk Novi Anoegrajekti

dan laut telah mengirim
setangkai arus 

sampai-sampai daun ketapang
tak jadi silara
sebab perempuan itu
melaut matanya

lalu segala rindu purba
pecah di pantai ini

Ibrahim Gibra
25 April 2021

 


sanggama ular

di atas sehampar daun kering
karpet cinta tergelar

seperti tali yang melingkar-lingkar
itu dua kepala berdegup cumbu
di bawah rumpun bambu

dua ekor ular meliuk
menggeliat
lalu saling memilin
dan nikmat pun terbit di sisik-sisik

seperti tali yang melingkar-lingkar
itu ekor sedang sibuk 
mencari rahasia nikmat

dua ekor ular meliuk
menggeliat
meliuk 
menggeliat
sampai puncak

itu dua badan terus melingkar-lingkar
sampai rahasia terbuka

Ibrahim Gibra
25 Apil 2021

 


di mana arus menyimpan sungai
:untuk Izzah Zen Syukri

memang bukan sungai eden
tapi titian merah itu
sudah lama menyulin arus
yang mengalir ke entah

sungai-sungai yang tumbuh dari kebaikan arus
adalah rindu hulu pada hilir
adalah kesetiaan muara pada laut

sampai di sini
di tepian bengawan ini
perempuan itu mungkin
tak pernah tahu
di mana arus menyimpan sungai

Ibrahim Gibra
25 April 2021


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Musim yang Melupa Waktu (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Pucuk pun Beriba pada Ranting (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca