× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas III

Surat - Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas III
Sultan Nuku / Foto Tirto.Id

01/05/2021 · 15 Menit Baca

Rumah-rumah yang berjajar mengelilingi pulau besar itu sebagian masih terbuat dari papan dan beratap rumbia. Hanya beberapa yang berbeton setengah kapur. Dibangun mengikuti jalan-jalan yang belum beraspal. Hanya satu dua motor yang melintas meninggalkan jejak di pasir putih penanda jalan. Gorom diawal tahun 90an masih sebuah “kampung besar” di kelilingi pohon kelapa seperti pagar pembatas berornamen hijau kelabu. Ada dua Raja yang bertahta di pulau ini. Raja Kataloka dan Raja Amarsekaru. Pusat aktifitas ada di desa Kataloka. Di kelilingi oleh beberapa desa dan dusun pesisir yang berbatasan dengan laut biru. Ibu kota kecamatan ada di Geser, pulau seberang yang lebih kecil.

Butuh dua hari dua malam melintas laut Banda yang ganas ketika saya berlayar menuju pulau ini. Penduduknya ramah. Sebagian besar kerjanya melaut. Satu yang mencolok dan tersimpan dalam memori saya adalah rumah-rumah itu, sebagain besar membingkai Sultan Nuku - penguasa Tidore - dalam potret yang setengah buram. Samar-samar cerita para tetua masih menyebut nama Nuku dengan netra penuh kebanggaan. Gorom dalam epos Nuku memang memiliki arti paling stategis. Di tempat ini, Nuku mengobarkan salah satu perang paling besar melawan Belanda. Perang yang memberinya dua pilihan. Melawan dan menang atau mati terbunuh dan meninggalkan makam yang jauh dari tanah pusakanya. Perang yang menentukan masa depan kejayaan Tidore.

Sejak keluar dari Tidore, Nuku selalu berpindah tempat. Hampir semua pulau yang jadi bagian dari kesultanan Tidore didatanginya. Nuku datang menyapa rakyat dan terus bergerak sambil memecah belah perhatian Belanda dan Patra Alam hingga Kamaluddin. Namun insting perangnya tetap menghitung situasi terburuk. Jika Sultan Tidore dan para Gubernur Belanda di Ternate, Ambon dan Banda bersatu menggempurnya, Ia pasti kewalahan. Ia butuh tempat berlindung. Sebuah tempat yang memberinya akses berpindah secara cepat melalui laut.

Menurut saya, inilah alasan utama mengapa Nuku memilih Gorom. Gugusan pulau-pulau di Seram bagian Timur ini bak benteng alam dengan garis pantai dan batu karang yang penuh jebakan. Mulai dari Waru, Keffing, Tior, Pulau Panjang hingga Da’da dibangun benteng. Dalam aspek lokal, orang-orang Seram Timur adalah rakyat merdeka yang selalu bebas berdagang. Beberapa bandar di kawasan itu jadi “terminal transit” yang menghubungkan jalur perdagangan dari Papua ke Makassar dan Jawa. Orang-orang Papua membawa produk lokal mereka ke Seram Timur dan dibeli oleh “orangkaya” dan pedagang setempat. Produk lokal itu kemudian dijual ke tempat lain dan sebaliknya. Sistim perdagangan bebas yang saling menguntungkan ini coba “dirampas” oleh Belanda dengan menyebar tuduhan kawasan Seram Timur dikuasai oleh perompak dan penyelundup.

Belanda bermaksud “menertibkan” kawasan ini dengan dalil telah jadi milik mereka sebagaimana traktat dengan Sultan Jamaluddin. Namun orang-orang Seram Timur melawan. Belanda mengirim armada menindas. Perang berkecamuk. Yang tersisa kemudian adalah amunisi kebencian terhadap Belanda yang rakus. Sejarawah Inggris H.R.C. Wright menggambarkan para penduduk dan pemimpin lokal di kawasan ini sebagai ancaman utama terhadap monopoli rempah-rempah Belanda di kawasan timur.

Selain itu, ketika Nuku dan armadanya datang, memori kolektif orang-orang Seram Timur masih menyimpan Nuku sebagai simbol nyata perlawanan terhadap Belanda. Nuku adalah Kaicil Tidore yang secara tegas menolak traktat buatan Belanda yang menyebut kawasan Seram Timur harus diserahkan kepada Belanda sebagai kompensasi dari hutang Tidore yang harus dibayar. Sultan Tidore divonis telah merugikan Belanda karena gagal membasmi para perompak dan penyelundup di kawasan Papua dan Seram. Nuku saat itu bahkan datang ke benteng Oranye di Ternate bertemu Gubernur Belanda untuk menolak klausul “penyerahan Seram Timur”. Sikap politik Nuku inilah yang membuat banyak Raja dan “Orangkaya” di Seram Timur kelak mendukungnya saat melawan Belanda. Mereka seperti Raja Keliluhu Lukman, Orangkaya Geser Imam Sarasa Orangkaya Gah Agnisa dan Raja Kilmuri ikut berperang di samping Nuku.

Insting Nuku tak keliru. Awal tahun 1791, Batavia yang jengah dengan perlawanan Nuku memberi ketegasan pada Gubernur-Gubernur di Maluku agar segera “memadamkan” Nuku. Cornabe di Ternate mengirim armada besar ke Patani, Weda, Gebe, Salawati, Waigeo, Misool dan Waigama. Tujuannya untuk “memaksa” Raja-Raja di wilayah itu mengakui Belanda dan menentang Nuku. Gubernur Banda menyerang Kai dan Aru. Di tempat pembuatan armada korakora Nuku ini, perang merenggut adik Nuku, Kaicil Manoffa. Sedanglan Gubernur Ambon menggempur Seram Timur - markas Nuku.

19 Mei 1791, dua kapal perusak Belanda dibantu tujuh korakora besar berkekuatan ribuan prajurit mendekati Gorom. Begitu kaki-kaki mereka menjejak pantai, perang jarak dekat tak terelakkan. Penduduk Gorom dibantu orang-orang Tidore dan Papua gigih bertahan. Nuku juga didukung orang-orang Banda yang sangat benci melihat Belanda karena seabad sebelumnya, mereka terpaksa menyingkir ke Gorom saat Gubernur Jan Pieterzoon Coen membumihanguskan Banda. Kalah senjata dan terus ditembaki dengan meriam dari laut, pasukan Nuku mulai kewalahan. Benteng pertahanan dihancurkan Belanda. Banyak korban berjatuhan. Sebagian menyerah dan ditawan.

Dua hari bertempur tanpa jeda, Belanda di atas angin. Tersisa markas Nuku yang belum tersentuh. Cerita-cerita para tawanan tentang Nuku yang terpojok membuat pimpinan pasukan, Kolonel Werner Gobius mengambil keputusan penting. Nuku yang terkurung beserta sisa pasukannya akan diserbu malam hari. Gobius berhitung dalam situasi gelap, pergerakan pasukannya akan sulit diantisipasi pasukan Nuku yang mengandalkan jubi-jubi.  Nuku tak akan lolos.

Malam itu, langit Gorom gelap gulita. 200an prajurit Belanda bergegas. Gobius sendiri memimpin penangkapan. Nuku bersiap. Informasi dari seorang intelnya yang berpura-pura menjual kambing dan ayam ke koki kapal perusak “Belona” menyebut ; Belanda membagi dua pasukan mereka. Gobius akan langsung menangkap Nuku sedangkan Kapten Wolterbeek akan menyerang benteng. Sejak sore, pasukannya sudah memasang perangkap. Nuku menggunakan taktik “alifuru seram”. Pasukannya menyatu dengan alam. Diam menunggu diantara semak-semak, batang pohon, batu-batu dan ceruk. Dua buah korakora disiapkan di bagian timur untuk melarikan Nuku jika keadaan memburuk.

Benteng dikosongkan. Tersisa dua orang yang bertugas membuat “gaduh” seolah olah ada banyak pasukan di dalamnya. Putera Nuku, Kaicil Abdul Gaffar bertugas menyergap pasukan Belanda begitu mereka memasuki benteng. Belanda mulai menembaki benteng dan menyerbu. Tak butuh waktu lama, benteng jatuh. Walterbeek menaikan bendera Belanda diiringi terompet kemenangan. Tetiba hujan deras menguyur. Petir menyambar. Gemuruh di langit menciutkan nyali. Mesiu Belanda basah. Meriam tak lagi menyalak. Dalam derasnya hujan, pasukan Nuku menyerbu benteng. Walterbeek kaget seturut nyawanya yang lepas. Seluruh pasukan Belanda terbunuh.

Di palagan yang lain, begitu mendengar terompet kemenangan, Gobius makin bergegas mencari Nuku. Nuku mencari Gobius. Hujan dan gelapnya malam menjadi berkah. Begitu pasukan Belanda masuk perangkap. Dari balik semak, pohon-pohon, batu dan ceruk, Nuku dan pasukannya muncul bak hantu. Jubi-jubi dan kilau parang menebas. Belanda kalang kabut. Terompet tanda mundur ditiupkan berulang kali. Mereka menaiki kapal dan menjauh. Meninggalkan banyak mayat. Gobius terluka parah. Ia tewas diatas kapal perangnya. Pertempuran besar tanggal 21 Mei 1971 itu jadi titik balik perjuangan Nuku. Dari banyak mata yang menyaksikan dari dekat pertempuran yang berujung pada kemenangan Nuku itu, para Bobato dan pengikut setianya kemudian menjuluki Nuku sebagai Jou Barakati - tuan yang diberkati.

Nuku selalu mendapat “restu dan perlindungan” dari Sang Pemilik Kehidupan. Bahkan alam pun setia mendukungnya. Guru Besar Sejarah Asia Tenggara pada Universitas Hawaii,  Leonard Andaya dalam bukunya “The World Of Maluku : Eastern Indonesia In The Early Modern Period” mendiskripsikan Nuku dengan epic. “Dalam masa hidupnya, Nuku dikenal sebagai Jou Barakati. Dewa Fortuna. Ia adalah salah satu dari sejumlah individu langka yang bermunculan dalam sejarah Asia Tenggara yang diwarnai oleh spiritualisme tertentu, aura yang dikenali oleh rakyatnya dan karenanya diikuti. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki “Mana” - semacam konsep yang sangat merasuk, hanya dimiliki orang-orang terpilih yang selalu diliputi keberuntungan dan memiliki kecakapan - yang mengubah tatanan lama dan menyediakan dasar bagi rekonstruksi tatanan baru”.

(Bersambung)

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca