× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas IV

Surat - Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas IV
Sultan Nuku / Foto Tirto.Id

07/05/2021 · 15 Menit Baca

Rebutan rempah-rempah ternyata jadi alasan perang di mana-mana. Ironisnya, perang itu melibatkan negara-negara yang tak punya rempah-rempah. Mereka saling “mengklaim” memiliki wilayah yang penuh harta karun itu. Bahkan sebagian dari petinggi negara-negara itu tak tahu dimana letak daerah rempah-rempah kecuali dari peta penuh coretan tangan para pelaut yang pulang setelah berkelana menyintas lautan penuh jebakan. Jika bukan rempah-rempah, perang juga bisa dipicu oleh sengketa “jalur perdagangan” yang diklaim berdasarkan cerita-cerita para pelaut. Perang berkepanjangan selama empat tahun antara Inggris dan Belanda juga punya motif yang sama. Inggris menuding Belanda terlalu monopolistis. Ketika delegasi kedua negara bertemu di kota Paris awal tahun 1784, salah satu klausul perjanjian yang harus ditaati Belanda yang kalah perang adalah membiarkan Inggris berdagang secara bebas di Nusantara.

Ribuan kilometer dari Paris, berita Belanda yang kalah perang disambut Nuku dengan riang. Berbagai informasi di dapat dari para pedagang yang datang dan pergi meninggalkan Waru, markasnya di Seram bagian Timur. Sejak awal, Nuku telah membangun jejaring intelejen yang mengakar dan karenanya informasi sekecil apapun yang dibawa para pedagang entah lisan atau tertulis akan sampai ditangannya. Inilah yang membedakan Nuku dengan para Sultan atau Raja yang lain. Ketika Raja-Raja di berbagai daerah melawan Belanda, mereka mudah terbujuk rayu politik “devide et impera” yang dijalankan Belanda dengan wajah yang manis. Para Raja itu juga sangat jarang mengikuti perkembangan di Eropa termasuk perang yang berkecamuk berebut wilayah jajahan.

Nuku berbeda. Kemampuannya berkomunikasi secara egaliter dan mendatangi semua wilayah untuk mengajak rakyat melawan Belanda membuat figurnya jadi pemimpin yang menyatukan. Ia ada di mana-mana tapi tidak ke mana-mana. Nuku menolak tegas upaya Belanda membagi Kesultanan Tidore menjadi dua wilayah. Sama seperti yang dilakukan Belanda terhadap Mataram yang dipecah jadi dua kerajaan. Pecah dan kuasai. Begitu Belanda yang frustasi mencoba memberi Nuku kuasa sebagai Sultan di wilayah Seram dan Kamaluddin tetap berdaulat di Tidore. Taktik Belanda bagi Nuku hanyalah trivia yang tak perlu ditanggapi.

Setelah peperangan di Gorom yang berujung kemenangan itu, Nuku sejatinya dalam posisi tersudut. Daerah-daerah seperti Salawati dan Misool hingga Patani dan Gebe dikuasai Belanda. Ada rencana besar untuk mengirim armada gabungan untuk “menghabisi” Nuku. Akan tetapi “Jou Barakati” belum jua tersentuh bala. Sebelum armada gabungan digerakkan ke Seram Timur, pandemi cacar kadung menyebar. Variola - gelembung kecil bernanah di sekujur tubuh disertai demam tinggi yang berujung kematian itu - membunuh belasan ribu jiwa di Ternate, Ambon dan Bali. Belanda kelabakan. Vaksin cacar sudah dikirim dari Belanda namun luasnya wilayah wabah membuat penanganan seperti membentur tembok. Operasi militer untuk memadamkan perlawanan pribumi termasuk perang melawan Nuku dihentikan.

Di tengah kepungan wabah, Nuku terus mengkonsolidasi kekuatan. Puteranya, Kaicil Abdul Gaffar diminta menggelar operasi militer menjaga wilayah Seram bagian Selatan. Membuat barikade pertahanan laut jauh di daerah terluar. Memblokade pintu masuk ke Waru. Tugas menyekat wilayah Seram bagian Utara diberikan pada Kaicil Sipa. Manipa hingga Tanjung Libobo diamankan. Armada Kaicil Sipa juga bertugas memutus jalur perhubungan antara Tidore dan Halmahera Timur. Dalam sebuah pertempuran laut, Kaicil Sipa ditangkap armada Tidore dibawah komando Jogugu Arif Bila. Namun Kaicil Sipa dilepas karena Arif Bila mengenalnya sebagai komandan perang kepercayaan Nuku. Kelak insiden ini membuat Arif Bila “dipecat” dari jabatan Jogugu Tidore namun kemudian pemecatan itu dibatalkan karena Belanda ingin Arif Bila menjadi agen ganda. Bekerja untuk Nuku tetapi juga melaporkan pergerakan Nuku ke Belanda. Sesuatu yang tak mungkin dilaksanakan Panglima dari Tahane ini. Selain operasi milter, Nuku juga selalu mengirim delegasi yang membawa pesan lisan atau surat-surat yang menjelaskan perkembangan perjuangan kepada para Raja dan Sangaji yang setia.

Pergerakan Nuku “dipermudah” dengan kebijakan Belanda memindahkan Alexander Cornabe menjadi Gubernur Ambon. Cornabe adalah rival bebuyutan yang tangguh. Ia sudah memahami “gerak perlawanan” Nuku. Namun posisinya sebagai Gubernur Ambon menyisakan kegetiran. Di Ternate, Ia terbiasa memerintah armada perang Ternate atau Tidore untuk membantu Belanda menggempur Nuku. Di tempat tugasnya yang baru, tak ada kesultanan dengan armada perang yang besar selain yang dimiliki Nuku - lawannya yang tak terkalahkan itu - di Seram Timur. 

Bukan sebuah kebetulan pula jika Kaicil Zainal Abidin yang dulu ditangkap bersama sang ayah, Sultan Jamaluddin dan dibuang ke Srilangka “pulang kampung”. Zainal Abidin kembali dengan menumpang kapal dagang Inggris. Nuku sangat bersyukur. Zainal Abidin yang masuk lewat Papua diminta untuk mengkonsolidasi kekuatan di sana. Salawati, Misool dan Waigeo didekati agar lepas lagi dari pengaruh Belanda dan Tidore. Nuku juga meminta adiknya ini memperbanyak korakora. Perang melawan Belanda adalah perang laut. Butuh armada besar untuk mobilisasi pasukan yang menyerang. Patani juga mesti dikuasai kembali. Gebe di dekati dengan diplomasi karena Inggris telah membuat markas di sana. Berkat kontribusi Zainal Abidin, kekuatan Nuku di Papua dan Halmahera kembali menguat. Bahkan dukungan datang dari Gamkonora, Galela dan Tobaru.

Selain menggalang kekuatan lokal, Nuku terus berupaya mendapatkan dukungan dari Inggris. Ia mengunjungi Kapten Thomas Court, perwakilan Inggris yang ditinggalkan Jhon Hayes di teluk Manokwari. Jhon Hayes adalah komandan ekspedisi Inggris yang ditugaskan untuk berkeliling Papua dan Maluku sembari membuka peluang kerjasama perdagangan rempah-rempah pada tahun 1793. Nuku mengundang Court dan perwakilan Inggris untuk berkunjung ke Waru. Selama lebih dari sebulan, Court dijamu Nuku di markasnya. Tak hanya kerjasama perdagangan, upaya untuk melawan Belanda juga dibahas. Setelah bersepakat, armada Inggris dengan dua kapal - Duke Of Clarence dan Snow Duchess - meninggalkan Waru menuju markas Inggris di Benggala, India.

Selain membawa rempah-rempah hadiah dari Nuku, kapal-kapal itu juga membawa utusan Nuku dan surat resmi darinya untuk petinggi di Benggala. Dalam suratnya, Nuku meminta bantuan Inggris. Ia juga berjanji menghentikan pasokan pala dan cengkih untuk Belanda dari seluruh daerah kekuasaanya dan mengalihkannya ke Inggris. Gubernur Jenderal Inggris tak bisa memutus perkara kerjasama antara “negara” ini. Tapi mengingat “jasa kebaikan” Nuku ketika menyelamatkan armada Inggris dibawah pimpinan Thomas Crotty dari serangan perompak di Papua pada tahun 1783, Inggris bersedia “membantu” perjuangan Nuku. Sebagai tanda persahabatan, Inggris memberi hadiah sebuah bendera Union Jack dan stempel terbuat dari emas bertanda “Sultan” untuk Nuku. Sebuah pengakuan yang guyub.

Tiga kapal disiapkan di Benggala. Panglima militer Inggris diperintahkan memuat kapal-kapal itu - “Duke Of Clearence” dibawah komando William Belamy Risdon, “Sultan” dibawah komando Thomas Court dan “Phoenix” dibawah komando Samuel Stewart – dengan empat buah “carronade” - meriam pendek yang digunakan Angkatan Laut Inggris dan terbuat dari kuningan, 16 meriam besi berpeluru 16 pon, 1000 butir amunisi untuk meriam besi, 200 musket atau senapan lantak, 20.000 peluru musket, 200 tong bubuk mesiu dan 4 drum minyak. Februari 1796, armada Inggris berisi bantuan militer untuk Nuku ini melepas sauh di Benggala dan bertolak menuju Maluku. Di bulan yang sama, armada angkatan laut Inggris dibawah komando Laksamana Rainier tiba di benteng Victoria dan mengambil alih kuasa atas Ambon dan Banda. Nuku mengirim Kaicil Ibrahim menemui sang Laksamana. Ia juga mengirim Zainal Abidin untuk bertemu Wakil Residen Inggris di Banda dan Residen Wiliam Jonas di Ambon.

Meski “visi internasionalnya” berjalan sesuai rencana, sikap Inggris ternyata penuh ambigu. Mereka menerima tapi tak sepenuhnya mendukung. Ada keraguan. Surat-surat dan delegasi Nuku dibalas tetapi tak ada kepastian kapan kerjasama di medan perang diwujudkan. Inggris berhitung tanpa menyerang benteng-benteng Belanda di Maluku bagian Utara, saatnya nanti Belanda akan menyerahkan “miliknya” sesuai perjanjian Paris. Nuku tak bisa menunggu. Now or never. Dalam kegamangan ini, Nuku mengambil keputusan terbesar yang kelak mengubah jalan sejarah. Tidore harus diserang dan direbut sendiri. Dengan atau tanpa bantuan Inggris. Sun Tzu, panglima perang dan filsuf China dalam bukunya, The Art Of War memberi penyemangat ; Jika anda mengenal musuh anda dan mengenall diri anda sendiri, anda tak perlu takut akan hasil dari ratusan pertempuran.

(Bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca