× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Ikan-Ikan yang Kita Percaya

Puisi
Ikan-Ikan yang Kita Percaya
Sumber: Koleksi Sendiri

08/05/2021 · 3 Menit Baca

Ikan-ikan yang kita percaya akan kembali ketika musimnya
hanyalah sebuah ingatan--kepada jaring perahu dan pesisir
kita hanya sepasang kekasih--cuma bisa menyusun ingatan
ketika menyaksikan kapal-kapal berdatangan kemudian pergi.

Laut biru, tempat kita membuang jaring mengukur
kedalamannya batin kita. Meski kita pinjam mata
matahari. Tak bisa lagi kita lihat pasir putih dan dasarnya
kita hanyalah sepasang kekasih yang lebih banyak merayakan
kehilangan, atas kegilaan yang tak pernah kita duga
di pantai yang semakin bau oleh wangi kematian.

Morotai, 2019.




Daun yang Berguru

Aku berguru pada matamu yang pagi
antara pepohonan dan jalan-jalan lapang
aku duduk memandang jauh
sungai pulang ke laut
ombak pulang ke pantai.

Aku berguru pada matamu yang pagi
di atas pasir penuh batu-batu
aku duduk memandang jauh
perempuan pulang ke dada lelaki
lelaki pulang ke dada ibu.

Ini hari kesekian
aku hirup pagimu dengan bismillah

bila sore tak keberatan
sebut saja, sebut saja
aku daun yang berguru
dan mencintaimu
diam-diam, sangat diam-diam.

2019.




Puisi yang Aku Tulis

Puisi yang aku tulis tak akan bisa menjadi kapal
menempuh lautan bergelombang dengan jarak berjuta-juta km
tapi aku yakin ia bisa menjadi perahu untuk kita yang tengah lelah
dan ingin sekali berdayung mengelilingi pulau-pulau atau sekadar
membuang sauh, dan sesekali melepas umpan di atas paka-paka ombak
kemudian kembali ke pantai, ke dermaga yang telah lapang melepas kita.

Morotai, 2019.




Sepi yang Kehujanan Itu

Sepi yang kehujanan itu
tak 'kan pergi ke mana-mana
tak akan berpaling dari ibunya
ia hanya akan dan terus mengalir

jika di perjalanan batu-batu menghadang
kekeringan bertandang, ia akan masuk ke dalam tanah
diam-diam ia melata ke laut. Jika di perjalanan akar-akar menghadang
ia akan berhenti, tapi tidak untuk menetap. Ia hanya memberi sedikit dekap
kepada akar-akar dan batu-batu demi daun-daun yang sedang berguguran.

Morotai, 2019.



Ia yang Patuh

Kau yang patuh
akhirnya memilih jatuh
kepada jeram yang deras airnya

kau ingin sungai membawamu ke mana maunya
kau percaya sungai adalah nasib dan laut adalah takdirnya

kau ingin rasa tawar menjadi asin
seasin darah, keringat, dan air mata

kau ingin menjadi biru,
sebiru laut tanpa ledakan dan kapal-kapal.

Morotai, 2019.



Pada Matamu yang Berembun

Pada matamu yang berembun
aku temui banyak kenangan juga kehilangan
kenangan aku di masa kecil
dan kehilangan ayah yang mendahului.

Ma, jika nanti aku pulang
aku cuma ingin pulang ke palungmu
membawa dayung dan perahu
yang dulu pernah kau lepas.

Morotai, 2019.



Suatu Hari

Suatu hari
daun-daun akan meninggalkan rantingnya
ranting-ranting akan meninggalkan cabangnya
cabang-cabang akan meninggalkan batangnya
batang-batang akan meninggalkan pohonnya
pohon-pohon akan meninggalkan akarnya
akar-akar akan meninggalkan asalnya
asal-asal akan meninggalkan usulnya

aku berharap,
semoga itu bukan kita.

2019.

Meski Kau Bilang Aku Ini

Meski kau bilang
aku ini hanya kulit pinang
yang kau buang setelah kau ambil isinya
jangan kira aku tak lagi setia kepada halma, kepada hera
sebab meski banjir dan batu-batu berkali-kali menghadangku
pala, coklat, kelapa, dan cengkeh tak pernah kuberi kepada yang lain.

Meski kau bilang
aku ini hanya kulit pala
yang kau buang setelah kau ambil isinya
jangan kira aku tak lagi setia kepada halmahera
sebab tanah-tanah yang berlubang---- di dadaku
hutan-hutan yang gundul di kepalaku, itu bukan lagi
karena cinta. Tapi perasaanmu----tak pernah berubah
meski pada akhirnya aku sendiri yang menanggung derita
sebab cinta akan selalu memberi dan rindu selalu meminta
sementara kesetiaan adalah sungai yang tak akan berpaling dari lautnya

kecuali ... biru.

Morotai, 2021.




Kecuali Saya Lupa Kepada Cinta

Sagu berlempe-lempe
dan kokomane yang mama bakar di ngura-ngura
tak ‘kan bisa kamu gantikan dengan tahu dan tempe
begitu pun cinta saya kepada suami, lamed, dan pupeda,
kepada komo-komo dan pisang kuli-kuli yang mama deda
waktu kecil. Tak ‘kan bisa kamu gantikan, kecuali saya lupa kepada cinta
kepada rindu, kepada kenangan, kepada pulang, yang melahirkan dan menumbuhkan
saya berulang-ulang. Sungguh, tak ‘kan bisa kamu gantikan, kecuali saya lupa kepada
wangi dabu-dabu roroba dan pisang tumbu yang bertahun-tahun memberi saya tumbuh.

Morotai, 2021.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca