× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas V

Surat Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas V
Sultan Nuku / Foto Tirto.Id

10/05/2021 · 15 Menit Baca

“Beta Paduka Sri Sulthan Saidul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan, Radja atas sekalian negeri dan tanah-tanah yang bertakluk dibawah perintah beta, mengirim warkat yang dimeterai dengan beta punya meterai agar dapat dipercaya, disertai dengan salam dan doa kepada saudara adinda Paduka Sri Sulthan Djou Hairul Alam Kamaluddin Sjah Kaicil Asgar, Radja atas negeri Tidore dan sekitarnya, maka kumohonkan dilanjutkan kiranya usia zamannya dalam sehat walafiat. Moga dapat kita berjumpa lagi.

Kemudian daripada itu beta beritahukan kepada Paduka Yang Mulia bahwa kompeni Inggris telah mufakat bersekutu dengan beta. Oleh sebab itu beta harapkan dan nantikan kabar mufakat dari saudara. Jangalah kiranya Paduka Yang Mulia khawatir dan takut. Perintahlah Tidore dan umatnya dengan tenang dan sangat berhati-hati agar supaya jangan saudara ditimpa bencana dari pihak kompeni Belanda sama seperti yang sudah dialami Patra Alam”.

Saya kutip bagian pembuka surat Nuku kepada Sultan Kamaluddin yang dikirim dari Gebe pada tanggal 29 Agustus 1795. Nuku dalam surat ini meminta Kamaluddin agar bergabung dengan dirinya untuk melawan Belanda sambil menegasi jika dirinya telah bersekutu dengan Inggris. Surat ini memberi sebuah “maklumat” jika perjuangan Nuku adalah menentang Belanda dan mengusirnya dari Tidore dan Maluku. Nuku tak ingin ada benih pertentangan antara dirinya dan Kamaluddin yang berbias di kemudian hari. Tak boleh ada benih perpecahan di antara keluarga. Surat Nuku membuktikan kebesaran dirinya sebagai pemimpin yang “dirindukan”. Sejarawan Belanda, A. Haga mengakui jika ; Nuku bukanlah pangeran tradisional atau petualang biasa dari jenis yang biasanya ditemukan di kalangan orang Maluku.

Kamaluddin membaca surat Nuku. Ia membalasnya dengan banyak nasehat agar Nuku tak menyusahkan Belanda dan rakyat Tidore dengan kekacauan. Nuku diminta pulang ke Waru dan Kamaluddin berjanji agar meminta Belanda mengampuninya. Nuku hanya mengelus dada saat membaca surat Kamaluddin. Kaicil Paparangan yang sudah lebih dari dua dekade berjuang menjadi mahfum jika adiknya tak lagi bisa diajak untuk bersama melawan Belanda. Kamaluddin sudah menjadi boneka kompeni. Nuku makin intensif menggalang dukungan. Rapat persiapan perang merebut Bacan, Tidore dan Ternate dilakukan dengan fokus pada kekuatan armada perang laut yang akan “didukung” Inggris. Aroma perang membius udara. Kepanikan muncul dengan wajah yang terbelah.

Johan Godfried Budach, Gubernur Ternate meminta bantuan Gubernur Jenderal di Batavia tetapi surat sang Gubernur tak pernah sampai di sana. Seluruh wilayah laut telah diblokade armada Nuku. Laporan-laporan yang datang ke mejanya di benteng Oranye jelas menyebut seluruh daerah seperti Seram. Papua dan Halmahera sudah bersatu dengan Nuku. Salah satu laporan itu datang dari Kaicil Hasan, adik Nuku yang menyebut dirinya melihat seribuan orang Tobelo di Maba dan siap mati berjuang bersama Nuku.

Ketika perang sudah di depan mata, Nuku masih berbaik hati pada adiknya Kamaluddin. Dari Maba, sebuah surat diikirimkan Nuku ke Tidore. Ia sekali lagi meminta Kamaluddin bergabung. Untuk meyakinkan Sultan Tidore itu, surat Nuku ditandatangi pula oleh tiga komandan kapal Inggris. Kamaluddin yang didera frustasi tak membaca surat itu. Ia meneruskannya ke Gubernur Budach. Efek surat itu seperti teror. Semua ketakutan. Di Ternate, surat Nuku dibahas dalam rapat dewan Gubernuran. Sultan Ternate, Aharal Sjah yang diundang tak datang. Belanda merasa ditinggal sendirian. Sultan Aharal ditangkap dengan tuduhan penghianatan - membantu Nuku. Internal istana ikut bermain api. Belanda kemudian mengangkat Kaicil Sarkan sebagai Sultan yang baru. Belanda juga memutuskan tidak lagi berhubungan dengan Nuku. Mereka fokus menghadapi serangan.

Tak ada surat balasan apapun dari Tidore membulatkan tekad Nuku untuk menyerang. 13 Maret 1797, armada Nuku berkekuatan 50 korakora menyerang Bacan. Butuh waktu seminggu untuk menguasai Bacan. Setelah itu. armada yang makin bertambah besar bergerak menuju Tidore. Awal April di tahun yang sama, ratusan korakora sudah bersiap di Akelamo dan Pulau Mare. Tanggal 11 April, Nuku mengumumkan maklumat perang kepada 6000an prajurit yang berdatangan dari Tidore, Ternate, Makian, Papua, Bacan, Gorom, Alifuru Seram dan Alifuru Halmahera. Kaicil Zainal Abidin, Kaicil Abdul Gaffar, Raja Salawati, Kapita Laut Maba. Sangaji Patani dan Sangaji Gebe memimpin pasukannya masing-masing.

Titah Nuku pada armada perangnya antara lain ; mereka hanya memerangi Belanda dan kroni pendukungnya, setiap pasukan menjalankan misinya dan melaporkan jika telah selesai, dilarang membunuh musuh yang menyerah dan membakar rumah rakyat. Barang-barang rampasan perang seperti senjata, amunisi dan mesiu dikumpulkan di markas dan orang Belanda yang tertawan harus dibawa menghadap Nuku. Membaca perintah Nuku, kita seperti diperhadapkan dengan situasi perang yang berpegang pada traktat-traktat kemanusiaan yang banal. Ada batas yang tak boleh dilanggar. Saya memahaminya sebagai sebuah legacy yang harus terus didekap. Elon Musk, futuristic millenium yang rangah itu menyebut, “kemanusiaan seperti sebuah simulasi”. Lakon yang terus berulang dengan kebaikan sebagai poros.

Nuku sendiri memimpin penyerangan itu dari anjungan sebuah kapal Inggris. Rabu dinihari 12 April 1797, armada perang Nuku mengepung Tidore dari semua arah. Armada Nuku langsung menuju ibukota Soasiu. Kaicil Zainal Abidin dan armadanya diperintahkan mengantisipasi pergerakan Belanda dari Ternate. Sangaji Maba diminta menjaga perairan bagian utara. Raja Salawati berpatroli menjaga garis pertahanan paling belakang. Tak ada perlawanan apapun saat Nuku menjejak kakinya di tanah kelahirannya. Tak ada pertumpahan darah. Seluruh Tidore menyambut sang Kaicil Paparangan. Kamaluddin dan keluarga serta pengikutnya sudah lebih dulu melarikan diri ke Ternate dengan lima korakora. Belakangan tiga korakora kembali ke Tidore dan bergabung bersama Nuku.

Para Sangaji, Kimalaha, Bobato, Ngofamanyira, para Imam dan Kadi serta Panglima Perang berkumpul memberi penghormatan. Suba Jou. Saat itu juga Nuku ditahbiskan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan. Nuku mencopot jabatan Kaicil dari Kamaluddin. Dalam pidato inagurasinya, Nuku meminta semua orang tanpa kecuali untuk bersatu dan berperang mengusir Belanda dari wilayah Maluku. Saya kutip lagi sebuah surat Nuku yang dituliskan sehari setelah diangkat menjadi Sultan Tidore. “bahwa semua kotoran masih dikenangkan malu yang dibuat terhadap Sultanmu. maupun kekejian terhadap kami yang dibuatkan berlipat ganda, dan jika mengenang moyang kami maka hendaklah korakora kamu di dorong dari pantai ke laut dan datanglah kepadaku untuk membalas penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang di benteng oranye”.

Selama tiga hari Nuku fokus membenahi perangkat Kesultanan. Semua jabatan ditempati orang-orang sesuai kapasitas dan integritas. Para Sangaji dan Raja yang berjuang bersama diberi kuasa sebagai wakil Sultan untuk memerintah daerah mereka. Administrasi surat-surat diperbaiki. Ekonomi juga jadi perhatian. Pas - semacam surat ijin untuk berlayar dan berdagang dibuatkan satu pintu. Ada otoritas khusus yang mengelolanya. Angkatan perang diperkuat. Zainal Abidin ditunjuk sebagai Kapita Lau atau Panglima Perang.

Secara geopolitik, Ternate saat itu benar-benar terkepung.  Inggris berkuasa di Ambon dan Banda di bagian selatan serta Manado dan Gorontalo di bagian utara. Sedangkan kuasa Tidore meliputi Seram Timur, Pulau-Pulau Kei dan Aru, Papua dan Halmahera. Hanya Ternate yang masih diduduki Belanda. Karena itu, Ternate harus direbut. Seminggu setelah merebut Tidore, Nuku memerintahkan armada perangnya berdefile di laut antara Ternate dan Tidore. Ratusan korakora berbaris mengikuti pukulan tifa dan gong. Orang-orang Belanda menonton dengan resah. Gubernur Budach meyakini, Nuku tengah mengirim pesan. Cepat atau lambat Ternate yang sudah terkepung itu akan diserang.

(Bersambung – bagian akhir tulisan tentang Nuku akan menarasikan tentang perang dalam banyak rupa melawan Belanda di Ternate, penghianatan kalangan dalam istana Nuku dan konsistensi perjuangan Nuku melawan Belanda hingga Allah SWT memangilnya untuk pulang)

 

  


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca