× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Palestina


Direktur LSM RORANO
Palestina
Gerakan Kemanusiaan Untuk Palestina / Foto Istimewa

17/05/2021 · 15 Menit Baca

Bentuknya bulat dan mungil. Berwarna merah muda. Dilingkari ornamen kuning gading. Menempel diujung pensil yang tak tajam. Sederhana. Sebagaimana fungsinya untuk menghapus. Di masa kecil dulu, kami menamainya homs. Kata ini beradaptasi dari bahasa Belanda ; “gom” yang bermakna penghapus - yang dibaca “hom”. Ini warisan kolonial yang tersisa. Homs, belakangan bertambah dengan “s” mungkin untuk memudahkan menghapus banyak tulisan - merujuk pada sesuatu yang berulang. Meski yang dihapus tak sepenuhnya bersih karena masih menyisakan bekas goresan angka, kata atau kalimat, homs adalah jaminan mutu. Seiring kemajuan peradaban, homs bermutasi menjadi warna warni dengan aroma berbeda yang menarik minat anak-anak.

Homs, menghapus dan anak-anak adalah nukilan hidup yang berkelindan di antara ingatan dan lupa. Ia semacam realitas yang jamak. Kadang menyembul dalam laku. Tak jarang tenggelam dalam samar bayangan. Menghapus merujuk pada aktifitas yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Obyeknya tak sekedar terjebak pada tulisan. Ia bisa lebih pada sesuatu yang nyata. Ada kesadaran untuk melakukan. Sadar disini memiliki arti yang melakukan “menghapus" itu telah membayangkan akan ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dihilangkan. Entah itu pandangan politik, kepercayaan, kekuasaan, sebuah komunitas atau bahkan kemanusiaan.

Ibarat drone yang terbang rendah dan memotret setiap gerak, “menghapus” untuk menghilangkan itu sepertinya tengah berlangsung di Palestina. Negara dengan sejarah panjang yang terjebak diantara tipisnya pengakuan dan penyangkalan. “Menghapus” jadi pemicu perang yang terus berulang. Perang saat ini bermula dari upaya Israel menggusur paksa warga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Warga yang turun-temurun adalah “tuan tanah” menolak penggusuran. Israel memaksa dengan senjata. 

Aroma perang makin memanas setelah Israel membubarkan warga Palestina yang tengah melaksanakan shalat tarawih di mesjid Al Aqsa. Bukan satu dua kali Israel melakukan hal ini. Bukan satu dua kali pula Palestina melawan. Jika sebelumnya, bentrok hanya berupa lemparan batu dibalas gas airmata dan tembakan peluru karet, kali ini Hamas, salah satu faksi utama Palestina di Jalur Gaza menembakkan roket ke arah Tel Aviv dan beberapa kota lainnya. Sistim pertahanan udara Israel dijebol. Serangan roket Hamas itu dibalas Israel dengan membombardir Gaza menggunakan jet tempur bermisil peledak dan drone bersenjata. Berbagai fasilitas rusak termasuk kantor media internasional dan rumah sakit. Rumah warga ikut hancur. Korban jiwa berjatuhan. Setengah dari yang terenggut paksa itu adalah anak-anak yang tak berdosa.

Muasal perang antara Israel dan Palestina sejatinya berakar dari gerakan zionisme, yang lahir pada akhir abad XIX di kalangan Yahudi yang tinggal di wilayah Rusia. Orang-orang Yahudi itu bermimpi mendirikan sebuah negara. Tahun 1896, Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi-Austria mengedarkan selebaran berjudul "Negara Yahudi". Selebaran itu berisi doktrin berdirinya negara Yahudi sebagai satu-satunya cara untuk melindungi mereka dari persekusi dan kekerasan anti-semitisme. Ia kemudian menjadi pemimpin gerakan zionis yang menggelar Kongres pertama di Swiss pada tahun 1897. Mengutip Al Jazeera, hasil Kongres itu tidak langsung menetapkan wilayah Palestina sebagai lokasi berdirinya Negara Yahudi. Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan seperti Uganda dan Argentina. Namun mereka akhirnya memilih Palestina berdasarkan keyakinan bahwa wilayah ini adalah “tanah suci” yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Yahudi.

Ketika Kesultanan Ottoman kalah perang pada tahun 1914, Inggris mengambil alih kekuasaan atas tanah Palestina sesuai perjanjian Sykes-Picot. Isi perjanjian antara Inggris dan Perancis itu memberi “kuasa” kepada Inggris untuk “mengurus” Palestina. Setahun sebelum “kuasa” itu berlaku, Inggris menetapkan Deklarasi Balfour. Inggris berjanji akan memberikan sebuah "rumah" bagi kaum Yahudi di tanah Palestina. Sejak tahun 1919, dengan dibantu Inggris, imigran Yahudi mulai memasuki tanah Palestina. Tak banyak tapi terus bergelombang. Ratusan menjadi ribuan.

Jumlah imigran Yahudi kian bertambah setelah Adolf Hitler memimpin Nazi Jerman dan memulai kebijakan anti-semitisme. Dekade 30an, enampuluh ribu orang Yahudi berbaris memasuki “tanah suci yang dijanjikan itu”. Migrasi besar ini membuat warga Palestina memberontak terhadap Inggris. Inggris menghancurkan pemberontakan itu. Dua ribuan rumah warga Palestina rata dengan tanah. Ribuan “pejuang” tertangkap. Mereka dikirim ke kamp penyiksaan dan tak kembali. Pemberontakan itu menyusutkan populasi Palestina karena banyak yang terbunuh dan dibuang.

Meski begitu, dampak dari pemberontakan itu “memaksa” Inggris untuk membatasi imigran Yahudi. Pada tahun 1944, beberapa kelompok bersenjata Zionis menyatakan perang terhadap Inggris menyusul keputusan tentang pembatasan. Serangan paling terkenal adalah pemboman King David Hotel pada 1946, yang menewaskan 91 orang. Inggris terjebak pada “kebodohannya” sendiri. Mereka mengakui telah melakukan kesalahan dalam “mengurus” Palestina dan menyerahkannya ke PBB. Sebuah keputusan yang terlambat dan tak merubah sejarah kelam Palestina.

Pada 29 November 1947, PBB menetapkan Resolusi 181. Isinya tentang pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara. Negara Yahudi dan Palestina. Saat itu, kaum Yahudi di Palestina baru mencapai sepertiga dari populasi dan memiliki kurang dari enam persen tanah di Palestina. PBB lalu berencana memberi lebih dari setengah tanah-tanah yang membentang antara Haifa hingga Jaffa ke negara Yahudi. Proposal pembagian yang tak adil itu ditolak Palestina. Berselang enam bulan kemudian, Israel  berdaulat sebagai sebuah negara pada 14 Mei 1948.

Beberapa negara Arab yang tak setuju kemudian menyerang Israel. Perang berkecamuk dalam waktu yang lama. Perjanjian demi perjanjian dibuatkan untuk damai yang tak pernah langgeng. Palestina merdeka jadi jalan panjang yang tak berujung. Israel makin gencar memperluas wilayah. Pemukiman baru dengan tembok pembatas dibangun. Dunia menutup mata. Yuval Noah Harari menyebut masyarakat dari dulu hingga saat ini selalu dipersatukan oleh “fiksi bersama”. Semacam keyakinan sumir yang dianggap benar oleh sekelompok dan dinilai salah oleh sekelompok yang lain.

Dalam novel “Palestinian Walks ; Note on a Vanishing Landscape”, penulis Palestina, Raja Shehadeh menarasikan keseharian negerinya dengan kesuraman yang guyub. Raja adalah seorang Palestina biasa. Ia tidak memihak faksi manapun. Raja juga tidak berpolitik. Dan karenanya Ia agak “berbeda”. Kesamaaanya dengan orang-orang Palestina yang lain adalah fakta bahwa rumahnya, kebunnya dan tanahnya satu- persatu hilang. Begitu juga kampungnya. Ia lalu menggugat otoritas Israel dengan bukti sah yang dimilikinya. Semua gugatan itu ditolak. Raja menyaksikan perampasan atas tanah-tanah milik warga Palestina itu dilakukan secara masif dengan todongan senjata. Tak hanya itu, banyak pula situs dan tempat suci agama-agama yang dihancurkan. Semuanya dihapus. Israel kemudian membuat peta baru. Melupakan yang “dihilangkan”.

Meminjam data Tirto.Id, upaya “menghapus” yang dilakukan secara masif dengan kekerasan senjata oleh Israel memberi efek yang sangat besar terhadap populasi warga Palestina. Di tahun 1922, populasi Palestina yang majemuk dan terdiri dari banyak agama berjumlah 670 ribu. Sedangkan Yahudi yang bermigrasi dan menetap di Palestina baru sekitar 84 ribu. Tahun 1948, dalam perang yang berkecamuk, 750 ribu orang Palestina terusir dari tanah kelahirannya. Sebuah jumlah yang sangat besar karena melebihi populasi saat itu yang berjumlah 1 juta orang. Di saat yang sama, populasi Yahudi bertambah menjadi 720 ribu.

Selama “Perang Enam Hari” yang dimenangkan Israel pada tahun 1967, sekitar 440 ribu orang Palestina diusir paksa. Populasi Palestina saat itu hanya bertambah sedikit menjadi 1,2 juta orang. Sementara populasi Yahudi terus bertambah jadi 2,3 juta orang. Di tahun 2008, setelah Intifada I dan II, lebih dari 5,3 juta orang Palestina hidup di pengasingan. Jauh dari tanah airnya. Populasi Palestina sekitar 5,1 juta orang. Orang Yahudi yang mendiami wilayah Palestina berjumlah 5,6 juta. Di tahun 2017, populasi Palestina menyusut jadi 4,9 juta orang sedangkan Yahudi membengkak menjadi lebih dari 8.6 juta orang.

Berpihak pada Palestina bukan tentang berusaha menjadi penganut agama yang taat atau sekedar merepotkan diri dengan urusan yang jauh. Berdiri bersama Palestina adalah urusan kemanusiaan yang tidak mengenal jarak. Ada nasionalisme yang bertaut dalam ikatan sejarah. Bangsa yang merdeka sejak awal itu, mendukung penuh kemerdekaan kita lebih dari tujuh dekade lalu. “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia” kata Muhammad Ali Taher, saudagar Palestina yang mendonasikan seluruh uangnya di Bank Arabia untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebuah ironi, ketika dalam rentang lebih dari tujuh dekade yang sama, Palestina menjadi bangsa yang sangat menderita. Sendirian berjuang melawan perampasan tanah-tanah dan masa depan anak-anak mereka. Hanya karena orang-orang Yahudi itu meyakini bahwa ada “tanah suci” yang dijanjikan Tuhan khusus untuk mereka. Tidak untuk yang lain. Entah oleh Tuhan yang mana. Pastor Manuel Musallam, seorang pemuka Kristen di wilayah Gaza secara tegas menyebut : “Kami tidak akan biarkan rumah orang-orang muslim direbut di Skeikh Jarrah, Silwan dan Wadi Al-Joz dan orang-orang Palestina diusir”. Ada pembelaan yang banal. Menjadikan Palestina sebagai tanggungjawab bersama. “You don’t need to be muslim to stad up for Gaza, you just need to be human”.

Jika hanya sebatas menjadi manusia untuk membela Palestina saja kita tak mampu, kemanusiaan tak lagi bermakna. Kita terperangkap pada “kesendirian spesies”, meminjam pendapat novelis Ricard Powers. Sebuah “kesunyian besar” bagi kemanusiaan sebagaimana kisah ini. Pada tahun 1950, ketika berjalan ke tempat makan siang di Los Alamos, ahli fisika kelahiran Italia, Enrico Fermi, salah satu arsitek bom atom, terjebak percakapan tentang UFO bersama teman-temannya. Saking asyiknya, dia sampai melamun dan baru tersadar sesudah semua orang pergi. Lalu Fermi bertanya, “dimana semuanya?”. Cerita itu sekarang menjadi legenda sains dan orang ramai menyebutnya sebagai paradoks Fermi.

Paradoks ini biasa juga disebut sebagai “great silence” atau “kesunyian besar”. Kita berteriak ke alam semesta dan tak mendengar gema atau jawaban apapun. Saya mulai takut - Palestina dengan perjuangan untuk mempertahankan tanah-tanah mereka yang merdeka, dengan kesuraman masa depan anak-anak itu, dengan upaya “menghapus” yang masif oleh Israel - saat ini tengah bergerak ke arah itu. Dan mungkin  kita adalah "penghapus"..

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca