× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Pagi Ini Perahu Papa Lepas Lagi

Puisi
Pagi Ini Perahu Papa Lepas Lagi
Foto: Abi N. Bayan

18/05/2021 · 15 Menit Baca

Pagi ini perahu papa lepas lagi saat di timur matahari seperti seorang pelukis yang baru memulai pekerjaannya. Di ujung pohon baru aku menyaksikan sambil berbisik dalam hati, semoga ikan tude yang jinak itu pagi ini kembali lagi ke jaring papa.

Sebelum ke pantai aku telah berjanji kepada mama, ikan-ikan yang akan singgah ke jaring papa, sore nanti ingin kubakar di tungku mama, kemudian mencelupkan ke dalam mangkuk yang harum dabu-dabu lemon resep papa. 

Aku ingin merayakan momen buka puasa kali ini dengan menu sederhana, seperti biasanya: ikan bakar dan pisang goreng, dabu-dabu lemon dan dabu-dabu mantah, sambil membayangkan wajah papa yang tabah, manis, dan merdu. Sambil melihat wajah mama yang tabah, cantik, manis, dan anggun.

Aku ingin merayakan momen buka puasa kali ini dengan menu sederhana, tapi kata adikku, akan lebih sempurna jika pemanisnya adalah asidah. Di meja panjang yang harum mentega dan kue putri salju, dengan pelan aku berkata, kelapa dan susu bagianku. Gula batu bagianmu.

Saat orang-orang kembali dari masjid, kami berhadapan dengan penuh bahagia, seperti sepasang kekasih yang bertahun-tahun dipanggang api rindu.

 

Supu, 2021.

 

 

Aku Bahagia Melihat Istri di Dapur

Aku bahagia melihat istri di dapur, memotong tomat sambil menumpahkan ke dalam mangkuk. Di matanya aku berdiri di dekat tungku sambil mencelupkan potongan-potongan pisang ke dalam belanga. Berhari-hari sudah kami di dapur tanpa berpikir siapa lelaki dan siapa perempuan. Kami percaya, di telapak tangan kami kehidupan anak-anak kami bermula. Kami ingin di dalam tubuh kami dan di dalam tubuh anak-anak kami, keringat kami saling mengaliri. 

 

2021.

 

 

Sebab Aku Pulang

Aku sebenarnya ingin sekali menutup telinga

atau menjadi sebuah rumah yang jendelanya tertutup

tapi pintunya selalu terbuka. Sebab aku pulang bukan untuk

hal yang lain, tapi untuk kamu, untuk mama, dan untuk Ramadan.

Aku pulang untuk menepati janji, membayar niat, melunasi rencana

agar di tengah riuh,--------- tak ada lagi renjana, tak ada lagi bencana

maka jangan pikir aku bahagia berada di tengah orang-orang yang sibuk

membuat dodeso dan matakau. Sebab perihal itu sudah aku tanggalkan

saat rumah pengembaraan itu diam-diam aku tinggalkan. Sungguh, aku

ingin sekali menutup telinga, dan tak ingin lagi berbicara hal yang lain

selain perihal Tuhan, perihal ibu, perihal kita, dan perihal anak-anak kita.

 

2021.

 

 

Karena Percaya

 

Karena percaya

kepada janji dan tipu-tipu

akhirnya kita juga yang tak ingin saling bicara

padahal pintu rumah kita tak pernah saling membelakangi.

Kita, sepertinya lupa kepada hari-hari yang lalu, kepada dego-dego

kepada lelah yang setiap malam duduk di kursi sambil bercerita tentang laut dan kebun

juga kepada budaya yang memberi kita daya dan upaya, yang membuat kita menjadi jaya.

Semestinya badai, membuat kita lebih teguh, lebih teduh. Bukan menjadi goyah dan saling

membelah. Sejatinya, di antara kita tidak ada yang benar-benar penduduk bumi, kita semua

adalah perantau. Kita dikirim ke bumi untuk menjadi manusia---------bukan menjadi sia-sia.

 

2021.

 

 

Bermalam di Tarakani

 

Malam ini kita bermalam di Tarakani

sebelum esok kita kembali ke tanah yang kita imani

tanah yang kini riuh---- janji, putar bale, dan sengketa

sarah dan bara, sumpah dan kesumat, harapan dan ingkar

tanah yang orang-orangnya lupa, bahu dan perahu, parang dan dayung

para-para dan kore-kore, cengkeh dan coklat, pala dan kelapa, gonofu dan fofau

adalah ayah yang menafkahi-------ibu yang setiap hari melahirkan dan menyusui

tanah yang orang-orangnya lupa, dari mani kita menjadi manis, bukan dari janji

para politisi.

 

2021.

 

 

Angin

 

Angin-angin yang berasal dari luar

masuklah!

Angin-angin yang berasal dari dalam

keluarlah!

 

Kore mie dan kore sara

angin timur dan angin barat

bersatulah! Goyanglah tiang ini

sampai bergetar, sampai gemetar

 

ia yang teguh, tak akan goyah

ia yang goyah, pasti pergi.

 

Angin-angin yang berasal dari luar

angin-angin yang berasal dari dalam

berdamailah!

 

2021.

 

 

Tanah yang Aku Percaya

 

Tanah yang aku percaya adalah bumi yang memberi aku daya

bumi yang memberi aku daya adalah doa yang memberi aku upaya

doa yang memberi aku upaya adalah ibu yang tak pernah berkhianat

ibu yang tak pernah berkhianat adalah bumi yang memberi isyarat

bumi yang memberi isyarat adalah kalimat yang aku jaga

kalimat yang aku jaga adalah langit yang selalu terjaga.

 

Supu, 2021.

 

Kukuluti Kecil Dari Bisoa

 

Ada yang bilang kami ke pantai

cuma tiga:

kalau bukan cari bilolo deng mangael

sudah pasti bahoho. Mereka lupa, laut

adalah hati, lumbung dan lambung kami

 

mereka lupa, kami ini orang pasisir

tumbuh di dekat pante, basar di atas pasir

ombak paka-paka orang totofore, tong basimore

tude dan make, komo dan bubara, goropa dan gorara

bahu dan parahu, adalah tong pe ngongano deng tong pe darah.

 

Ada yang bilang kami ke pantai

cuma tiga

akhirnya ada yang datang dari laut

deng gulung calana, basah di paka-paka ombak

padahal jalan dan jembatan ke tong p dada dong so bangun

di dalam mimpi dan janji, yang ketika ujang dong pun basah.

 

Ada yang bilang kami ke pantai

cuma tiga

tapi makan dari keringat sendiri

dan tara pernah kase foya orang

kao kia ta eli?

 

2021.

 

Malam di Lilinga

 

Di laut cahaya bulan mendayu-dayu

di pohon kelapa kita bersandar tanpa rayuan

 

aku ingin memarahi angin kau bilang jangan

aku ingin memarahi angan kau bilang bajingan.

 

Ke matamu laut membantik seperti tikar buatan nene

ke mataku laut membatik seperti sosiru buatan mama

 

aku ingin mendamaikan malam kau bilang jangan

aku ingin menghabiskan malam kau bilang bajingan.

 

2021.

 

Jika Sejak Awal Kita Satu dan Tenang

 

Pada awalnya kita adalah pohon tua di tengah hutan, bertahun-tahun orang-orang saling merebut sari dan buah kita, tapi kita tak tahu dengan apa mereka harus membayar. Kita hanya tahu uang adalah alat transaksi paling berharga, kita lupa ada yang tak dapat dibeli dengan uang. Rindu, misalnya. Kenangan, misalnya. Kepercayaan, misalnya. Kejujuran, misalnya. Hanya dapat dibeli dengan cinta.

Pada awalnya kita adalah pohon tua di tengah hutan, musim menyulap kita menjadi intan di tengah lumpur. Orang-orang sibuk dan bingung bagaimana cara merebut kita, tapi beberapa dari kita tak tahu bagaimana cara mempertahankan diri agar tetap berharga.

Jika sejak awal kita satu dan tenang, tubuh kita tak mungkin setegang ini. Orang-orang memberi balon dan kita mengambil tanpa memeriksa. Padahal yang kita butuhkan bukanlah angin. Kita butuh tiang yang lebih tinggi yang dapat mengantar suara kita ke belahan bumi yang lain dan dapat kembali ketika kita butuh. Kita butuh perahu yang lebih besar untuk pelaut kita yang berhari-hari peluh di laut. Kita butuh alat dan tempat yang lebih hidup untuk petani kita yang bertahun-tahun peluh di kebun. Kata satu mulut dengan tegas dan tenang. Di belakang rumah dan jalan-jalan, orang-orang sibuk membuat jaring dengan kata-kata dan keyakinan sendiri. Mereka tak tahu, yang mereka buat adalah dodeso dan matakau.

 

Supu, 2021.

 

 

Dan Malam

 

Dan malam masih berombak seperti kau kenal dahulu

deburnya tak ke mana, selain pulang ke dadamu yang riuh.

 

Kau melihat bulan dan membayangkan

seperti pejuang pulang ke pangku ibunya

dan kau masih tak percaya,

yang berkibar di bawahnya adalah kemenangan.

 

Dan kau bilang janji adalah bulan

di atas laut yang tak pernah memberi cahaya

meski di waktu yang lain kau bilang janji adalah

perahu di pelupuk mata, suaranya begitu ringis

tapi tak pernah memberi kabar.

 

Dan kau mesti percaya,

ada yang lebih tulus jatuh ke bumi

angin hanya bisa menggetarkan daun dan rantingnya,

tak dapat mencabut akarnya. Semakin kencang ia bertiup

semakin dalam ia menancap.

 

Aku cukup menjadi saksi, dan tak ingin menjadi siksa

aku cukup menjadi bakti, dan tak ingin menjadi bukti

aku percaya, aku adalah abdi. Dan kau, akhirnya

menyerah.

 

Tapi kau percaya,

ombak tak akan berpaling dari pantainya.

 

Supu, 2021.

 

 


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca