× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Bendera Putih


Direktur LSM RORANO
Bendera Putih
Warga malaysia mengibarkan bendera putih tanda meminta bantuan ?Foto The Star

18/07/2021 · 15 Menit Baca

Saya membaca dengan muram tulisan Dahlan Iskan tentang bendera putih. Sebuah penanda yang menunjuk situasi darurat di negeri jiran. Bermula dari pandemi yang tak kunjung usai, orang ramai terpuruk, hidup jadi serba susah, kurang sana-sini. Nik Faizah Nik Othman, seorang ibu rumah tangga yang juga pengusaha lokal melempar ide sederhana. Dirinya berniat membantu sesama. Jika ada yang benar-benar butuh bantuan itu, tolonglah dikibarkan bendera putih di setiap rumah. Butuh kejujuran. Jika benar adanya, Ia akan mendatangi rumah-rumah itu untuk berbagi kebutuhan pokok. Belakangan dukungan psikososial juga diberikan untuk mereka yang depresi karena pandemi yang makin liar merengut kehidupan.

Bendera putih hanyalah simbol. Sesuatu yang “dinaikkan” untuk jadi pembeda. Biar ada batas antara yang kolaps dan yang masih survive. Yang butuh ditolong dan yang mungkin bisa menolong. Dalam banyak catatan sejarah, yang simbol itu mudah dipelintir. Kelas sosial yang cuma duduk manis di rumah sambil menyebar “kepentingan” mereka lewat platform media sosial seperti menemukan durian runtuh. Gerakan bendera putih yang marak itu disertai hastag #rakyatjagarakyat, digiring ke ranah politik. Bendera putih jadi simbol perlawanan untuk mengganti rezim. Kita jangan sampai mencontoh yang sama. Om Jo Leimena, pahlawan dari tanah Maluku itu memberi batas ; “politik bukan semata tentang hasrat untuk berkuasa, politik seharusnya tentang etika untuk melayani”.

Saya jadi ingat rusuh Ambon dua dekade lewat. Ketika desas-desus menyebar mengikuti tiupan angin di teluk Baguala, rumah-rumah yang terpuruk itu bergegas menaikkan bendera putih. Bentuknya tak utuh karena bisa jadi itu hanya sobekan kain, potongan sisa bungkus terigu, pakaian atau kaos bekas pakai, yang penting berwarna putih. Pasukan Hitu akan menyerang lewat tengah malam. Rumah yang tak punya penanda akan dibakar. Yang bukan putih berarti merah. Ada tembok maya tebal yang dibangun oleh mereka yang benci kedamaian. Kemanusiaan diretas. Terjebak pada simbol yang merusak dengan kekerasan yang entah lahir dari rahim Maluku yang mana.

Padahal merah dan putih adalah identitas bangsa. Ibarat pela dan gandong yang dirajut tangan para tetua. Merah dan putih adalah satu. Sebagaimana dulu, tangan Fatmawati dengan telaten merajut dua lembar warna itu menjadi bendera pusaka. Merah pemantik berani dan putih adalah suci. Mungkin yang suci inilah yang membuat putih dalam ukuran bendera yang lebih kecil menjamur di setiap sudut kota Ternate. Nyaris sebulan terakhir, bendera putih sebagai penanda perkabungan, kehilangan dan keikhlasan untuk melepas mereka yang dicintai - banyak ditemui di rumah-rumah warga yang dipasangi tenda. Kemuraman memayungi langit. Pandemi ini ternyata makin tak terkendali.

Situasi Ternate sudah merah. Merespons yang putih tadi. Ada kausalitas yang bertautan. Dua tahun lalu, coronavirus masih ditertawakan. Banyak perdebatan. Lalu menghilang beberapa bulan. Indonesia sempat jumawa dengan jalan pengendalian yang dipilih. Tanpa lockdown ternyata kita bisa selamat. Angka-angka itu melandai. Kita lengah. Terbuai kepercayaan diri yang nyaris sombong. Coronavirus bisa kita lawan bahkan dengan pongah mengikuti optimisme yang beterbangan. Di Maluku Utara, diskusi tentang coronavirus tak lagi jadi trending topic. Mal dibuka, sekolah dibuka, pusat keramaian makin ramai. Bandara dan pelabuhan tak pernah tidur. Orang bebas keluar masuk. Kampanye jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker jadi barang bekas yang tak laku. Kita jadi lupa, coronavirus masih mengudara di langit yang biru. Ibarat drone, dia memantau dalam sepi di ketinggian yang tak terlacak netra. Menunggu untuk kembali menyerang saat langit berubah gelap. Dengan mutasi yang makin menguatkan kemampuannya untuk menginfeksi.

Tiga-empat bulan lalu, otoritas kesehatan dunia memberi warning. Ada varian baru dari coronavirus. Macam ragam namanya. Berkembang liar di India. Bermutasi dengan cepat dan seturut perpindahan manusia, virus itu ikut berpindah. Ketika ada ratusan warga India yang lari dari kekacauan di negaranya dan masuk ke Jakarta, banyak protes dicelotehkan. Kok bisa mereka bebas masuk?. Warga China yang pekerja harian di berbagai pusat tambang juga bebas masuk. Protes-protes itu sekali lagi kalah dengan alasan ekonomi dan optimisme yang pongah. Kita tak mungkin mengalami gelombang kedua coronavirus dengan banyak varian baru yang konon lebih mematikan.  

Dan kepongahan itu menghukum tanpa memilih siapa yang bertanggungjawab dan siapa yang hanya menjalani hidup dengan sederhana. Sebulan ini, lonjakan kasus kita mencatatkan rekor baru. Indonesia jadi episentrum baru penyebaran coronavirus. Pandemi ini memaksa warga asing yang rasional mengutamakan kesehatannya memilih eksil. Efek domino dari pandemi ini juga membungkam kemanusiaan. Mungkin juga ada “karma” yang bergentayangan. Saat dulu ketika utang kita belum menumpuk, saat ekonomi masih waras, kita memilih untuk tidak menutup diri. Lockdown tak punya tempat di Indonesia. Hanya ada pembatasan-pembatasan. Bantuan sosial dibagikan agar warga tak lumpuh layu. Faktanya, sebagian dari bantuan-bantuan itu dikorupsi secara licik dan mengabaikan nurani. Trilyunan rupiah raib di tangan-tangan jahil yang berkuasa. Dan hari-hari ini, entah sampai kapan, kita “membayar” karma itu.

Dua tahun berlalu, hampir 8000 warga di Maluku Utara terinfeksi coronavirus. Lebih dari seratusan warga meninggal. Mayoritas dari jumlah itu ada di Ternate. Angka ini berdasarkan laporan resmi yang dicatat petugas. Bisa jadi jumlahnya lebih besar dari itu. Dari beberapa diskusi dengan teman-teman yang kebetulan bertemu di beberapa rumah berbendera putih, saya makin yakin jika coronavirus sudah ada dalam rumah-rumah kita. Gejala yang dikeluhkan secara umum sama. Bermula dari demam yang menyergap. Kadang diikuti diare. Lalu batuk dan flu ikutan mampir. Tiga empat hari tak menunjukkan perbaikan. Setidaknya, itu yang juga saya rasakan tiga pekan lalu. Dengan kondisi tubuh yang tak stabil - merasa sangat berbeda dengan demam biasa - pada hari ke empat, lidah mulai kehilangan fungsi untuk membedakan rasa. Mulut menolak makanan yang akan masuk. Lalu penciuman berkurang hingga hilang sama sekali.

Saya mengontak salah satu dokter yang selama ini jadi teman berkeluh soal kesehatan. Dokter itu memeriksa dan memberi resep. Hanya penurun demam dan penghilang batuk serta flu. Selebihnya adalah beragam vitamin. Tak ada obat khusus untuk menghadang coronavirus karena memang obatnya tak ada. Saya diminta isolasi mandiri, tak boleh berkeliaran bebas. Beban makin besar karena di rumah ada Ibu yang sudah berusia lanjut. Tak ada pilihan. Saya membuat aturan baru. Tak boleh kontak langsung dengah Ibu. Jam makan dan waktu mandi diatur. Selebihnya saya hanya terbaring. Sesekali menghirup uap dari air panas yang dicampur minyak kayu putih. Jika pagi tak ada hujan, berjemur juga jadi rutinitas yang baru. Saya hanya menunggu “perang” dalam tubuh usai. Apakah virusnya kalah atau imunitas saya yang jebol digerogoti virus.

Dua minggu saya menjalani ritual baru ini dengan guyub. Ada peluang me-restart ulang kehidupan. Tetiba kita jadi peduli dengan tubuh sendiri. Jam makan jadi teratur, istirahat jadi prioritas. Kita jadi punya banyak waktu untuk memutar ulang fragmen kehidupan yang telah lewat. Berhitung tentang seberapa besar syukur yang terucap, seberapa banyak “perbaikan” yang telah kita lakukan saat salah. Kita jadi begitu “dekat” dengan tubuh kita dan karenanya kita punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan yang menciptakan tubuh ini. Dalam situasi terbaring pasrah, pikiran positif harus tetap dominan. Memelihara keyakinan jika sembuh adalah sebuah kesederhanaan yang kita perjuangkan dengan restu Tuhan. Harapan bagi saya, jika tanpa iman adalah ibarat bayang-bayang yang memaksa hadir tanpa cahaya.

Kita menolak menyerah. Jangan pernah mendermakan tubuh ini untuk jadi “host”. Jadi tempat virus hidup dan berpindah dengan bebas. Jika kesadaran untuk menjaga tubuh lebih dominan, maka secara masif akan melahirkan “family immunity”. Lalu berkembang jadi “communal immunity”. Dalam situasi menghadapi pandemi, kepercayaan pada kebenaran menjadi pedestal. Jika “percaya” itu tak menjamur maka yang berkelindan adalah ketakutan. Percaya itu pada sesuatu yang nyata. Yang kelihatan aksinya. Di tengah pandemi yang terus mengoyak, kita butuh lebih dari sekedar maklumat. Butuh analisis para ahli. Butuh aksi yang terstruktur dan jadi gerakan bersama. Saya membaca pernyataan Gubernur Maluku Utara yang berniat menerapkan PPKM darurat di daerah ini. Saya menunggu aksinya dengan segala konsekwensi yang akan kita hadapi bersama. Kita punya banyak nilai lokal yang menguatkan relasi kemanusiaan. Perang melawan coronavirus adalah kebutuhan hari ini untuk memastikan masa depan yang lebih baik.

Yuval Noah Harari menyebut, sejarah peradaban manusia adalah cerita tentang perlawanan menghadapi wabah, perang dan bencana alam. Kita mungkin selalu kalah dari bencana alam yang memiliki siklus ratusan tahun - akan terjadi untuk menjaga keseimbangan alam, tetapi kita tak pernah kalah menghadapi wabah atau peperangan. Selalu ada cara untuk melawan. Perlawanan itu dimulai dari setiap kita yang punya keyakinan bahwa peradaban manusia tak pernah punah oleh serangan wabah. Apapun itu.

Sejarah lokal Maluku Utara punya jejak perlawanan yang sama terhadap pes, kolera, malaria, cacar dan banyak lagi wabah lainnya. Dalam catatan JG Brumund - seorang pendeta Belanda - tertulis sebuah epos penting saat rakyat Bacan berjuang melawan pandemi yang tak bernama. Awal abad ke 17, penyakit anak yang aneh melanda Bacan dan meminta korban sangat banyak. Pada tahun 1706 - Bacan masih memiliki 10-12 ribu anak muda, tetapi setelah penyakit ini melanda, setahun kemudian penduduknya tinggal 2 ribu orang. Karena ada bencana lain, Sultan Bacan saat itu kehilangan lebih banyak lagi, sehingga Valentijn menulis : “Dia hanya tinggal memiliki 200 orang dan ini terus berlangsung, sehingga dia disebut Raja tanpa rakyat”.

Pertanyaannya ; apakah Bacan hilang dari tapak demografi dan hanya menyisakan cerita perkabungan masa lalu?. Jawabnya ; tidak. Dan karenanya kita tak boleh menyerah sesulit apapun pandemi ini mengepung kemanusiaan. Tak boleh lagi ada bendera putih yang melingkar bisu di tiang-tiang tenda tak bernama itu.

 

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca