× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Nukila

Tugas Kita mengumpulkan semakin banyak fakta karena Nukila atau Rainha Boki Raja adalah pejuang perempuan dalam kebesaran sejarah Ternate.

Direktur LSM RORANO
Nukila
Foto: Cover buku Rainha Boki Raja (Nukila) karya Toeti Heraty.

05/12/2019 · 5 Menit Baca

Minggu yang panas. Saking panasnya hingga isu berseliweran kalau Gamalama meletus. Darno, Kepala Pos Pengamatan Gamalama yang lagi mengawasi Gunung Dokuno, saya kontak. Hasilnya, seratus persen itu kabar burung yang entah ditiupkan siapa dan menjadi perbincangan ramai di media sosial.

Mendapat info, hati kembali tentram, sesejuk rimbunan pohon di pusat kota Ternate, selemparan batu dari mesjid Al Munawwar. Nyaris tak sejengkalpun Taman Nukila, lokasi piknik baru yang ditata pemkot, terlihat sunyi. Di beberapa pojok, sejumlah keluarga duduk ngerumpi sambil mengawasi anaknya yang bermain bui-bui, beberapa orang tua memanfaatkan batu refleksi, sekumpulan anak muda menggelar diskusi. Ramai ditimpali pelayan es kelapa muda yang sibuk mengantar pesanan.

Taman dalam perspektif pembangunan kota saat ini tengah menjadi primadona. Secara umum, taman merefleksi nilai estetika, menjadi ruang terbuka hijau, menjadi paru paru kota untuk meredam polusi dan dari aspek sosial menjadi tempat warga berinteraksi. Dalam konteks Ternate, membangun taman adalah bagian dari implementasi visi misi kota yang bermimpi menjadikan Ternate yang harmonis dan berwawasan lingkungan. Setidaknya menjadi bagian dari green economic development.

Saat ini, taman sejatinya juga telah berfungsi sebagai pengganti pekarangan rumah atau halaman tempat bermain anak anak maupun orang tuanya. Mari lihat Ternate, sebagian besar rumah pemukiman tak lagi punya pekarangan yang cukup untuk tempat bermain, apalagi hijau. Rumah berdesakan dan berdiri berbatas langsung dengan trotoar atau jalanan. Kadang penghuninya juga jarang bertemu sapa. Karena itu, menjadi biasa ketika taman Nukila dengan fasilitas lumayan lengkap menjadi target warga untuk dikunjungi setiap akhir pekan atau bahkan hari biasa, siang atau malam.  

Saya yang tengah menikmati birunya laut tiba-tiba terganggu dengan celotehan beberapa ABG yang duduk tak jauh. “ee..ngoni tau kiapa ini nama taman Nukila?” beberapa kepala terangkat tetapi bibir mereka terkatup. Yang menari di udara hanya sunyi. Seakan ini pertanyaan kunci di Ujian Nasional yang susah di jawab. Kenapa Nukila? Siapa Dia?

Jika Anda seumuran saya, atau lahir duluan menyapa Ternate, mungkin sebagian memori kolektif Kita soal Nukila adalah nama sepotong jalan di pusat kota. Panjangnya sekitar seratusan meter mulai dari huk toko buku Selekta hingga perempatan lampu merah depan kantor Pegadaian.  Sisa memori lainnya adalah soal cerita dari mulut ke mulut kalau Nukila adalah nama pejuang perempuan asal Ternate. Hanya itu. Wajar jika generasi terbaru Ternate lebih akrab dengan Idola asal negeri gingseng seperti Exo,Super Junior,Girls Generation, Sistar, aktris Park Shin Hye atau Aktor Lee Minho.

Dalam bukunya, Rainha Boki Raja - Ratu Ternate Abad Keenambelas, Toeti Herati, Guru Besar Filsafat UI mengakui kalau sangat sedikit data yang didapat  tentang perempuan paling berpengaruh di Ternate, abad pertengahan ini. Dalam naskah Hikayat Ternate yang ditulis Naidah pada abad ke 19 dan menjadi sumber referensi terbanyak dalam penulisan sejarah Ternate, keberadaan sang Boki tak disinggung sama sekali.

Sumber yang sering dikutip hanya terdapat dalam dokumen Portugis yang kemudian dikompilasi oleh Paramitha Abdurachman, sejarawan dan peneliti LIPI, melalui tulisan berjudul Niachile Pokaraga (Nyaicili Boki Raja), a sad story of a Moluccan Queen yang dimuat dalam jurnal Modern Asian Studies (Cambrigde University jilid 22 no. 3 tahun 1988).

Sumber tulisan lain terdapat dalam buku Ternate yang disunting Fachri Ammari dan JW Siokona yang mengumpulkan berbagai tulisan diantaranya Ternate dalam Perspektif Sejarah yang ditulis M. Adnan Amal dan Syamsir Andili, ataupun buku Portugis dan Spanyol di Tanah Maluku karya M. Adnan Amal. Meski demikian tak banyak cerita yang di dapat soal sejarah Rainha Boki Raja yang dalam sejarah kontemporer dikenal dengan nama Nukila.

Toeti Heraty dalam bukunya yang lumayan lengkap menjelaskan jika Rainha Boki Raja atau Nukila adalah puteri Sultan Tidore, Kolano Al Mansyur yang menikah dengan Sultan Bayan Sirullah atau dikenal dengan Sultan Bayanullah, Sultan Ternate ke 20. Tak ada data pasti kapan Rainha lahir. Hanya tercatat jika pada masa itu, perkawinan antar keluarga para Sultan di Moloku Kie Raha lebih banyak bernuansa politis untuk memperkuat hubungan antar kesultanan yang eksistensinya diancam Spanyol dan Portugis.

Keberadaan Rainha pertama kali tercatat dalam surat Gubernur Antonio de Brito yang dikirim ke Raja Manuel I tahun 1523 yang menceritakan pertemuan dirinya dengan permaisuri Sultan Ternate dan putra mahkota Boheyat yang baru berumur 8 tahun.

Selain Boheyat, perkawinan Rainha dan Sultan Bayanullah juga dikaruniai dua putera lainnya yakni Deyalo dan Tabaridji. Ketika suaminya meninggal, Rainha hidup dengan tanggungjawab berat. Membesarkan tiga puteranya dengan mandat penuh berupa wasiat Sultan untuk meneruskan kepemimpinan Ternate, tidak disukai kalangan dalam Istana yang dimotori Taruwese, dan menghadapi tekanan Portugis untuk segera menyelesaikan bentengnya di Ternate yang juga berarti melukai hati Ayahandanya, Sultan Tidore yang didukung Spanyol.

Sempat pulang ke Tidore karena beratnya tekanan, Rainha kemudian kembali ke Ternate setelah ayahnya mati diracun. Portugis yang kejam juga merekayasa pembunuhan anaknya Boheyat di dalam penjara. Bersama rakyat yang marah, Rainha berjuang merebut kembali kekuasaan Ternate. Sukses membungkam Portugis namun kemenangan ini tak tercatat sejarah. Mungkin Gubernur Jenderal Portugis di Goa menghapusnya karena malu dikalahkan seorang perempuan. 

Dalam silsilah Kesultanan Ternate yang dikutip dari catatan Adnan Amal, disebutkan bahwa Rainha berkontribusi penting membesarkan tiga Sultan yakni Deyalo yang berkuasa tahun 1522 – 1529, Boheyat (1529 – 1532), dan Tabaridji (1532 – 1535). Satu dekade lebih, Rainha berperan sebagai Ibu sekaligus Mangkubumi bagi ketiga puteranya yang sudah diangkat sebagai Sultan meski masih berusia sangat muda. Karena itu, segala kebijakan dan keputusan kesultanan sejatinya dipegang dan dikendalikan oleh Rainha.

Hal inilah yang memicu siasat licik Portugis untuk menyingkirkannya. Tahun 1535, Rainha dan anaknya Tabaridji ditahan dan diasingkan ke Goa. Tak ada lagi catatan yang tersisa kecuali cerita jika selama di Goa, Tabaridji berpindah agama dan berganti nama menjadi Don Manuel. Tahun 1542, Tabaridji sempat dipulihkan martabatnya oleh Gubernur Bernaldin de Souza. Pulang kampung bersama Ibunya Rainha dan sempat menjadi Sultan (dalam periode kepemimpinan Sultan Khairun 1535-1570, disebut Khairun sempat diasingkan ke Malaka, saat dimana Tabaridji menjadi Sultan yang diangkat Portugis) namun Tabaridji kemudian mati diracun dan oleh Portugis, diumumkan bahwa Kesultanan Ternate diserahkan sepenuhnya kepada Raja mereka. Keputusan yang belakangan diralat karena Sultan Khairun kembali berkuasa hingga tragedi pembunuhan keji di benteng Gamlamo terjadi.

Rainha yang kecewa dan terintimidasi memilih jalan hidup lain. Tinggal bersama puteri tirinya yang menikah dengan pedagang Balthazar Velozo, akhir kisah sang Boki dituliskan dengan pembaptisan dirinya oleh Francis Xavier dan berganti nama menjadi Dona Isabela. Sayang, sebagimana kapan Ia lahir, cerita tentang kematian dirinya juga buram. Saya berulang kali membaca buku Toeti Heraty, berulang kali membaca buku Om Adnan atau sejarah Ternate lainnya tetapi cerita tentang Rainha Boki Raja tetap tak utuh dan menyisakan banyak tanya.

Saya berkeinginan ada diskusi khusus dengan para sejarawan. Mengumpulkan semakin banyak fakta karena Nukila atau Rainha Boki Raja adalah pejuang perempuan dalam kebesaran sejarah Ternate. Hegel dalam pandangan filsafat mendeskripsi sejarah bukan tentang kisah seseorang dalam kesendiriannya. Sejarah mengikuti desain dari langit. Lahir, tumbuh, berdialektika dan bergerak mencari kebenaran. Karena itu, Hegel meyakini isi keseluruhan sejarah dunia (termasuk sejarah Nukila) bersifat rasional.

Mumpung saat ini, nama Nukila mulai diperbincangkan. Saya kudu berharap, namanya akan dicatat sejarah dengan segala kebesarannya dan dikenang generasi muda Ternate seindah nama taman yang ada. Atau setidaknya, menghapus kegalauan Toeti Heraty dalam prosa akhir bukunya.

Demikian riwayat hidup Rainha Boki Raja

dengan latar belakang percaturan rempah rempah

dan selalu racun meracun menyelesaikan perkara

persaingan antar keluarga, hampir 500 tahun lalu

sempat berjihad mengepung benteng Portugis..

 

Dan Bila Kita mengenang Hidupnya yang tragis

Ia menjadi bagian dari nasib negeri

Menjadi perempuan yang patut dikenang

Dan tidak mudah kita melupakannya,

meski tidak pernah kita mengenal namanya

 

Kemudian ternyata berdasarkan kepustakaan mutakhir

Boki Raja disebut pula Nyai Cili Nukila

Apakah Nukila itu nama pribadinya?

Dengan nama manis itu Ia dikenang

Tapi bagaimana menentukan kebenarannya

Setelah 500 tahun berselang...


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca