× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#RESENSI

Etnografi Timor dari Orang-orang Oetimu

Novelnya disebut sebagai fiksi etnografis.

Volunteer
Etnografi Timor dari Orang-orang Oetimu
Foto: doc pribadi.

19/12/2019 · 5 Menit Baca

Di malam anugerah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, 4 Desember 2018, panitia mengumumkan naskah nomor 256 sebagai pemenang pertama. Dewan juri memberi komentar, kalau Penulisnya berhasil menerangkan suasana, memberi penggambaran budaya dan karakter orang timur. Kental dan akurat. Novelnya disebut sebagai fiksi etnografis yang digarap dengan bagus. Naskah itu ditulis oleh Felis K. Nesi dengan judul Orang-orang Oetimu.

Malam itu di ruangan Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, ketika Felix K. Nesi diundang naik ke panggung menyampaikan kata-katanya. Ia sederhana, hanya memakai sandal, kaos, dan rambut keriting yang kelihatan tak terurus. Ada kejenakaan khas dia. Begitu juga dalam novelnya.

Sejak awal Felix K. Nesi sudah membeberkan bagaimana nantinya akhir dari peristiwa novelnya. Sebuah serangan pembunuhan datang tiba-tiba di rumah Martin Kabiti. Seorang pejuang dari Oetimu. Awalan novel yang sepersis, mungkin bisa ditemukan pada Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan.

Ada beberapa tokoh yang menjadi dasar penceritaan Felix K. Nesi: Siprianus Portakes Oetimu (Sersan Ipi), Am Siki, Laura, Silvy, Romo Yosef, Martin Kabiti, dan Atino. Ketujuh tokohnya yang membangun cerita timur – mereka saling terhubung. Kisah novel ini berakhir sampai pada keturunan ketiga. Jika dihitung dari keturunan keluarga Portugal yang datang ke Timor.

Bermula dari tahun 1974, atau tahun itu dikenal dengan Revolusi Bunga (atau disebut juga Revolusi Anyelir) yang mendorong Portugal mengeluarkan kebijakan dekolonisasi dan mulai meninggalkan wilayah jajahannya. Dalam novel, seorang prajurit yang loyal pada negara, Julio Craveiro dos Santos dikirim ke daerah koloni Portugis, ke negeri kecil dekat Australia, Timor Timur. Ia memboyong istri dan anak perempuan semata wayangnya, Laura.

Saat itu, situasi politik di Timor sedang bergelora, partai-partai berdiri. APODETI (Associacao Popular Democratica Timorense) yang ingin beriintegrasi dengan negara Indoensia, UDT (Uniao Democratica Timorense) yang masih mengharap Timor di bawah kekuasaan Portugal, dan ada yang menginginkan kemerdekaan penuh; berdiri sebagai negara mandiri. Menjadi partai revolusioner yang ingin memerdekakan Timor dari tangan penjajah. Mereka adalah Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente atau Front Revolusioner Timor Leste Merdeka, disingkat Fretilin.

Tanpa sengaja dan ketidaktahuan, Julio terlibat ke dalam perjuangan revolusioner Fretilin, yang selalu dikait-kaitkan dengan gerakan orang-orang komunis. Sampai akhirnya Julio tertangkap sekeluarga oleh tentara Indonesia yang bersekutu dengan UDT dan APODETI. Julio dan Istrinya dieksekusi mati. Sementara anaknya Laura yang masih belasan tahun di bawah jauh ke sebelah Timur untuk diinterogasi, kemudian dipersundali oleh para tentara.

Sampai suatu ketika, Laura hamil. Dan satu malam yang tak disangkanya, seorang prajurit menghampiri Laura. Ia mengaku ditugaskan untuk membunuh Laura tetapi prajurit itu tak tega rupanya. Ia melarikan Laura dan melepaskannya di tengah jalan. Dengan sekencang-kencangnya Laura lari ke tengah Hutan. Berhari-hari ia menelusuri jalan hutan dengan perut besar karena hamil. Dan sampailah ia di Oetimu dengan kondisi sangat memprihatinkan. Disitulah ia pertama kali bertemu Am Siki yang nantinya membesarkan bayi dalam perutnya itu, Siprianus Portakes Oetimu. Nama Portakes Oetimu diberikan langsung oleh Am Siki, sementara Siprianus adalah nama baptisnya.

Sama seperti Laura, Am Siki menemukan Oetimu karena sebuah pelarian. Am Siki membantai sepuluh tentara Jepang dalam sekali amarah yang tak terbendung. Kuda kesayangannya diperkosa, marahlah dia sejadi-jadinya. Am Siki akhirnya melarikan diri dan menemukan satu tempat di utara Timor. Itulah Oetimu. Rupa-rupanya Kisah heroik Am Siki diceritakan terus-menerus, turun-menurun. Am Siki menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa” dengan pengertian secara harfiah “tanpa tanda jasa”.

Salah satu bagian humor sang Penulis dimunculkan ketika menceritakan kejadian heroik Am Siki itu, yang dieluk-elukkan karena telah menyelamatkan Bangsanya. Jika orang mengatakan kalau dirinya (Am Siki) telah menyelamatkan Bangsa, maka Am Siki akan menjawab, “Saya tidak menyelamatkan bangsa dan saya tidak mengenal bangsa.” Yah begitulah kira-kira selera humor Felix, mungkin sesuai umurnya, humor yang agak ketuaan. Tapi mungkin, humor itu masih kena bagi orang Timor? Mungkin saja, ataukah, humor seperti itu yang populer di sana pada tahun tersebut? Atau itu sebuah satir yang coba dimunculkan Felix K. Nesi pada kamu nasionalis atau ultra nasionalis bahwa satu bangsa adalah ‘harga mati’ yang harus diperjuangkan ‘mati-matian’. Yang nantinya hanya berujung balas dendam. Seperti kisah Martin Kabiti vs Atino.

Felix menuliskan sedikit sekali kisah kedua orang itu dengan hubungannya pada pergerakan politik masing-masing. Padahal, kedua orang itu adalah yang mengawali dan mengakhiri cerita. Pertengkaran keduanya begitu samar-samar. Dalam novel, tiba-tiba saja Atino ingin membalaskan dendamnya. Entah apa dendamnya? Kelihatannya urusan politik masa lalu. Ayah Atino mati karena dia orang UDT. Atino pernah bekerjasama dengan tentara Indonesia. Kalau karena itu, maka Martin Kabiti atau orang tuanya adalah anggota Fretilin yang ingin merdeka sepenuhnya. Tapi ia tinggal di Oetimu, sementara Oetimu harusnya basis dari partai UDT dan Apodeti, karena kalau merujuk pada kisah pertama kalinya Am Siki sampai di Oetimu, ia melihat bendera Merah-Putih berkibar.

Nampaknya, Felix masih ragu untuk tegas membeberkan bagaimana pergulatan politik di Oetimu. Oetimu seperti satu daerah yang jauh dari hingar-bingar perjuangan politik kemerdekaan. Yang bertengkar hanya di luar saja. Daerahnya hanya terpengaruh dengan hasil akhir. Situasi ini juga bisa didapatkan dalam ‘Seratus Tahun Kesunyian’-nya Gabo. Tentu Felix tidak akan mengikutinya sungguh-sungguh, yang mau menceritakan bagaimana peradaban Oetimu berkembang sejak awalnya.

Felix  melihat sisi lain. Daripada capek-capek mengisahkan konsensus peradabannya, mending menceritakan bagaimana budaya itu diterapkan oleh-oleh orang-orangnya. Dan sesekali Felix mendobrak budaya yang rapuh. Misalnya seks, hal yang biasa saja untuk diceritakan. Juga menjadikan Romo Yosef sungguh manusiawi yang mendambakan cinta seorang perempuan. Penuh gairah, dan sungguh jago dalam bercinta. Pokoknya jauh dari kesan suci – agamais.

Namun, sudah sering orang mendekatkan romo dengan hal duniawi pada seks. Seakan-akan mau bilang kalau seorang romo memang haus seks. Mungkin akan lebih tidak mainstream (jika ingin menyebutnya jauh dari kebanyakan) jika seorang romo diceritakan sebagai penenggak sofi yang budiman dan agamais. Sekadar saran saja. Supaya hubungan Silvy dengan Romo Yosef bukan hanya hubungan seksualitas semata. Kalau perlu mereka beradu gelas, supaya sisi etnografisnya semakin kentara lagi. Dan Silvy bisa menjadi tokoh remaja yang pintar tapi tak selalu kalah dengan hasrat seksnya. Itu penokohan dari saya, belum tentu pas.

Julukan novel Orang-orang Oetimu sebagai fiksi etnografis semakin terlihat saat menceritakan perkelahian di akhir cerita. Ketika kepala Sersan Ipi putus dari lehernya. Dengan cepat sang pemenggal mengambil garam dan menaburinya ke leher Sersan Ipi agar jasadnya tidak bangkit untuk membalas dendam. Ada nuansa mistis memang. Bagi orang bagian Timur, mistisisme itu tak terelakkan.

Felix K. Nesi rasa-rasanya berhasil menceritakan babak-babak dalam kehidupan timur. Saat malam penagurehan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, ia mengucapkan satu umpatan yang menebalkan sisi ketimurannya. Kata dia, kalau orang timur mengajak anda untuk mampir – main ke tempatnya – itu ajakan serius. Sementara bagi orang Jakarta, ajakan itu serupa basa-basi semata. Semua tertawa – tak malu-malu. Termasuk saya yang hadir pada malam itu, diam-diam ikut mengiyakan umpatan Felix. Bukan berarti itu bagian dari sisi primordialisme – jebakan dari pengagung-agungan moral adat. Bukan. Hanya umpatan.


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca