× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Di Setiap Desember

Jika ada yang mengusik kita secara tak putus-putusnya kini adalah perihal 'beda' itu, dan apa artinya itu bagi kehidupan.
Di Setiap Desember
Hand. Foto: James Chan.

25/12/2019 · 1 Menit Baca

Di setiap Desember selalu ada orang yang memutar kunci pintu kamarnya pelan-pelan, dan mendengar dunia bertanya: benarkah manusia sama? Di setiap Desember orang berpikir tentang hak manusia, tentang yang universal (meskipun sering meragukan) dalam manusia, dan tentang hal rutin seperti Natal atau, segera sesudah itu, tahun yang berubah.

Di setiap Desember selalu ada orang yang membeli kartu dan menuliskan di atasnya sebuah alamat: benarkah Natal, seperti hari raya agama yang lain, sebuah saksi tentang Tuhan yang satu dan manusia yang berlain-lainan, dalam hidup yang pada dasarnya damai, teduh, di mana orang bisa saling bersalaman, menulis kartu, menyatakan kangen atau dukacita, atau sekadar memberi tahu? Atau Tuhan yang tidak satu, karena manusia yang beraneka?

Di setiap Desember selalu ada orang yang membaca halaman ketiga di surat kabar dan tak bisa menjawab. Banyak sekali dilema di depan pintu rumah.

Beberapa pekan setelah Desember 1991 misalnya: majalah People mengisahkan terbunuhnya Tina Isa.

Tina anak sebuah keluarga dari Tepi Barat di Palestina yang berimigrasi ke Amerika Serikat di tahun 1985, ketika si bungsu itu kurang-lebih masih berumur tiga tahun. Di hari itu tubuh Tina kedapatan mati dengan luka tikam. Polisi tak sulit menemukan siapa yang menusuk gadis berumur 16 tahun itu. Si pembunuh adalah bapaknya sendiri.

Si ayah membunuhnya karena percaya bahwa Tina telah merusak kehormatan keluarga dan harga diri sang bapak. Gadis itu bekerja di sebuah restoran fast-food. Ia berpacaran dengan seorang pemuda hitam, teman sekelasnya di sekolah. Zein, si ayah, tak mengizinkan. Ia akan mengawinkan Tina dengan asas seperti ketika ia mengawinkan anak-anak perempuannya yang terdahulu: memilih suami adalah hak prerogatif sang bapak. Tapi Tina melawan, berontak dengan kata-kata keras, dan akhirnya pada suatu malam seraya ibu kandungnya memegangi tangan dan tubuh gadis remaja itu, sang ayah menikamnya. "Die, My Daughter, Die!"—judul majalah People 20 Januari 1992.

"Siapa saja yang dibesarkan di Timur Tengah tahu bahwa dibunuh adalah konsekuensi yang mungkin terjadi bila seseorang merusak kehormatan keluarga." Itu kutipan People dari seorang ahli antropologi yang lahir dan dibesarkan di Yerusalem. Bisakah Zein dihukum? Bukanlah sah untuk punya adat yang berbeda dari orang “Barat” yang dianggap universal?

Berbeda adalah hak asasi manusia. Jika ada yang mengusik kita secara tak putus-putusnya kini adalah perihal "beda" itu, dan apa artinya itu bagi kehidupan.

Dalam bahasa Jawa, beda bisa berarti "lain", juga bisa berarti "usik", tetapi usik yang mengandung keasyikan dan permainan. Dengan kata lain, sesuatu yang tak bertujuan "ada hasil". Beda tak punya teleologi.

Sekitar 30 tahun yang lalu Emmanuel Lévinas berbicara tentang le visage de l'autrui. Ia berbicara tentang "wajah" (le visage). Ia berbicara tentang bagaimana [orang] yang lain hadir di depan dan dalam diri kita secara konkret, tak dapat diabstraksikan, tak dapat dirumuskan, sebab senantiasa melampaui apa yang saya katakan dan saya pahami tentang dia, dan tak selalu bisa didekati dengan harapan akan “ada hasil”. Lévinas berbicara tentang l’autrui, atau yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai liyan, yang berarti "apa yang berbeda" tetapi juga berarti "manusia yang lain".

Bagi Lévinas, dalam pertemuan dengan dan pengakuan akan “le visage de l'autrui” itulah terjadi saat-saat etis manusia. Kita tak bertemu dengan kehendak akan "ada hasil". Kita bertemu dengan dan dalam sesuatu yang (dalam sebuah kata Melayu yang indah) "tak tepermanai", infinite.

Tapi Tina dibunuh. Zein dipenjarakan. Keadilan sering menghendaki, seperti dilukiskan dalam simbol, jadi sebuah dacin, dengan ukuran buat semua. Keadilan sering menghendaki ada standar yang seragam.

Namun selalu ada orang yang bertanya: Benarkan standar itu mewakili sesuatu yang bisa diterima semua pihak? Dengan kata lain: sesuatu yang universal? Ataukah yang universal itu hanya hasil kemenangan dari mereka yang hadir dan bicara sebanyak-banyaknya? Ataukah itu sebuah kesepatakan, karena ada yang sama dalam diri manusia?

Di setiap Desember, terasa ada kebutuhan, mungkin kerinduan, terhadap "yang sama" seperti itu. Bahkan dalam bahasa Melayu, antarmanusia juga disebut sebagai "sesama".

Dunia adalah percaturan "sesama". Natal tersiar luas dalam lagu, dalam kartu, dalam benda-benda yang melintas batas —dengan aneka warna, tapi juga dengan satu corak yang sering telah jadi bermiripan.

Mungkin di situ beda yang relatif, yang tak mutlak, mampu mengusik dan mengasyikkan. Bukan beda yang membuat Tina ditikam.


Share Tulisan Goenawan Mohamad


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca