× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SENIBUDAYA

Dalam Panembahan Reso, Kata Adalah Senjata

Mengadu Siasat Demi Tahta

Volunteer
Dalam Panembahan Reso, Kata Adalah Senjata
https://www.biem.co/read/2020/01/26/53593/pentas-panembahan-reso-ketika-nafsu-berkuasa-berakhir-tragis/

28/01/2020 · 5 Menit Baca

Bau dupa menyeruak begitu duduk di kursi penonton. Sekarang imlek, bau itu muncul mungkin karena yang lalu-lalang, yang sibuk mencari kursi, baru saja pulang dari Klenteng. Namun, lambat menyadari, bau dupa itu ternyata datang dari panggung.

Asapnya tebal, kelihatan dari terpaan cahaya lampu. Kadang, baunya tiba-tiba muncul dengan tajam, lalu hilang perlahan.

Teater kolosal WS Rendra, Panembahan Reso untuk kedua kalinya kembali dipentaskan. Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI yang sekarang, duduk di barisan F nomor 25, hari ini, juga hadir pada pementasan Panembahan Reso yang pertama. 34 tahun lalu, dipentaskan di Istora Senayan selama – kurang lebih – enam jam.

Malam ini, 25 Januari 2020, hari pertama pementasan. Suara malam memenuhi seisi ruangan Ciputra Artpreneur Theater. Malam seperti di tengah hutan, ada bunyi Jangkrik, mungkin Tonggeret dan Burung Hantu. Panji Reso yang diperankan Whani Darmawan – sang pemenang Piala Citra 2019 kategori pemeran pembantu pria terbaik melalui film Kucumbu Tubuh Indahku – memasuki panggung. Cahaya panggung berganti merah, tumpah di rambut Panji Reso yang gondrong.

“Terang bulan, aku tak bisa tidur,” serunya. Rupanya sang Panji yang gagah, dan dikagumi orang-orang Istana itu gelisah. Gelisah oleh mimpinya sendiri. Ada tahta, ada teratai. Reso, bermonolog, sampai ia tak tahan rasa kantuknya, “Mimpi sudah habis,” katanya.

Rupanya mimpi Reso tidak habis – belum selesai. Mimpi itu baru bermula, ketika seisi Istana berkumpul dan seorang prajurit masuk mengantarkan sebuah surat, bahwa salah seorang Panji, yaitu Panji Tumbal akan menggalang kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap Raja. Panji Tumbal melihat bahwa sang Raja memerintah dengan semena-mena, tak mendengarkan rakyat. Raja berjalan sendiri, dengan firmannya sendiri. Tapi, Gigok Anurogo memerankan Raja Tua dengan baik meski kadang terlihat ia kelihatan memikirkan apa kata-kata selanjutnya. Kejenakaan Raja menonjol, seperti waktu ia ingin makan bubur tapi tukang bubur yang dimaksud sedang menunaikan ibadah haji. Begitu lelucon Raja.

Karakter Raja yang dilakonkan Gigok jauh dari kata bengis, justru lucu. Sampai kemudian, karena hanya ingin menyelamatkan tahtanya. Ia memerintahkan dua Panji dan pasukannya untuk membunuh kedua anaknya – dari Ratu Padmi – yang mau bersekutu dengan Panji Tumbal untuk merebut tahta kerajaan. Begitulah, kadang yang diperlihatkan, malah sebaliknya dari tindakan.

Kerajaan porak poranda dari dalam. Siasat demi siasat dipertontonkan. Salah satu permasuri, Ratu Dara – diperankan Sha Ine Febriyanty yang namanya mentereng ketika tahun lalu memerankan Nyai Ontosoroh dalam film Bumi Manusia – juga menginginkan itu tahta. Ratu Dara tampil sebagai perempuan yang membungkus kepicikan dalam gerakan revolusionernya. Dia istri ketiga Raja, lalu berjuang agar haknya sama dengan istri pertama dan kedua. Tak ada permaisuri utama atau yang dituakan. Dengan begitu, dari keturunannya langsung bisa menjadi Raja. Ine Febriyanty kelihatan hati-hati sekali memainkan peranannya diawal-awal adegan.

Barulah karakter seorang ratu yang ambisius muncul kala ingin mengencani Reso dan mengajaknya bersiasat. Darahnya mengalir dengan kencang, “seperti genderang yang mau perang”, begitu Ratu menunjukkan gairahnya. Selain bersenggama dengan Reso, juga gairahnya mengalir kepada Siti Asasin, wanita pembunuh bayaran. Dengan Siti Asasin, Ratu Dara menunjukkan kalau keberagaman seksualitas itu sudah ada sejak zaman kerajaan.

Historia.id menuliskan dalam artikelnya, kalau pada 1824 di Keraton Surakarta, ada seorang selir, kedapatan berhubungan seks dengan selir yang lain. Pakubuwono V juga menemukan para selirnya melakukan masturbasi bersama dengan menggunakan lilin yang dibentuk seperti alat kelamin laki-laki. Demikianlah sebuah fakta yang tersampaikan dalam satu adegan Panembahan Reso.

Lalu kepada Reso, Ratu Dara kelihatan mencintainya penuh nafsu. Apalagi Reso bisa membantu untuk memuluskan langkahnya merebut tahta. Supaya anaknya, Pangeran Rebo (anak pertama Raja) menggantikan Raja Tua dan mungkin pikun.

Sementara Panji Reso sudah bersiasat lebih dulu dengan para Panji yang lain. Rekan sejawatnya, mendukung Reso jadi Raja. Reso mengadu siasat di Istana dengan tidak buru-buru. Mengikuti setiap persitiwa yang terjadi dengan tenang, dengan bertedengan. Semuanya seperti terjadi dengan wajar.

Whani Darmawan, serasa pas, untuk menggambarkan karakter Reso. Ambisius, jenaka, dan cerdik. Kalau lagi merajuk, ungkapan andalannya, “hamba mau bertani saja.” itu sering diulang-ulangi. Ketika sudah begitu, penonton terngakak-ngakak. apalagi didukung mimiknya yang tak pernah kelihatan serius. Whani mampu meciptakan kepuraan-puraan dalam karakternya yang tidak dibuat-buat. Pura-pura mabuk di hadapan raja, serta pilu ketika mendengar kabar kematian istrinya, padahal kematian itu sudah ia takdirkan melalui tangan Siti Asasin. “Orang lemah mendengar bayangannya sendiri,” kata Reso beberapa hari sebelum istrinya dibunuh.

Beberapa hari setelah kematian istrinya, Ratu Dara membunuh suaminya dengan racun. Racun yang dulu Istri Reso teteskan sedikit saja padanya. Dan ketakutan alhmarhumah Istri Reso tentang cita-cita suaminya akan membuat mereka jauh, terjadi. Tapi juga ini jawaban atas teratai yang dimimpikan Reso. Dari kematian itu, Ratu Dara dan Reso menginginkan pernikahan yang sah di mata Kerajaan dan rakyat. Rebo yang sudah menjadi raja atas pengakuan sepihak, menikahkan mereka, dan Reso yang gelarnya telah naik menajdi Aryo, harus berganti lagi untuk sah mendampingi sang Ratu. “Dia aku beri gelar Panembahan Reso,” firman Raja Rebo.

Bagai kutukan sebuah tahta, Pangeran Bindi (anak Ratu Padmi) yang dulu diutus ayahnya melawan pasukan Panji Tumbal dan yang sebenarnya dipersiapkan menjadi Raja oleh ayahnya, berhasil mengalahkan Panji Tumbal. Dengan amarah yang membabi buta terhadap Istana yang sudah membunuh dua saudaranya, juga penyebab dari kematian ibunya, Bindi menyerang ke Istana.

Bindi yakin, jika melakukan pemberontakan kepada Raja yang diangkat sepihak itu, pasukannya sanggup. Mereka sudah melewati pertempuran panjang. Apalagi anak Ratu Kenari berpihak kepadanya. Kabar itu terdengar sampai ke Istana. Semuanya panik. Dan Rebo yang sedari awal tidak menginginkan pertumpahan darah, memilih untuk berdialog. Berbeda dengan Ibunya yang bersikukuh harus melawan dengan jalan perang demi menyelamatkan tahta. Demi tahta. Hanya demi tahta, karena tak bisa memengaruhi nurani Rebo, entah dirasuki setan darimana, ia membunuh anak satu-satunya itu. Dengan tangan penuh darah, rambut berantakan, ia berlari keluar dari kamar Raja. Sangat panik, seperti orang gila. Sekti, salah satu Panji yang sudah diangkat menjadi Aryo, dengan refleks menebas pedangnya ke bagian belakang Ratu Dara.

Persitiwa ini, menyisahkan Panembahan Reso. Dan mimpi Reso tentang tahta terjawab. Ia, didukung oleh semua orang yang berada di Istana menjadi Raja. Tetapi tahta memang membuat orang jadi gila. Bahkan gejala kegilaan itu mulai muncul saat ambisi mendahului cita-cita.

Karena “cita-cita demi cita-cita”, kata Istrinya dulu, Reso lupa siapa dirinya, dan menjadikannya gila. “Aku tidak memerlukan diriku lagi,” tegas Reso beberapa saat setelah diangkat menjadi Raja. Reso merasa lebih dari dirinya sendiri, dan mungkin lebih dari cita-citanya sendiri.

Namun, tentang “telaga darah” yang pernah disampaikan oleh Istrinya benar terjadi. Ketika panggung mulai memerah, sebuah tembang merasuki Reso. Ia mengalami delusi, merangkak dari tahtanya. Menuruni anak tangga satu-satu, dan melihat telaga darah. Darah akibat pertempuran.

Tiba-tiba Ratu Kenari memasuki panggung. Rupanya, suara tembang itu berasal dari mulutnya. Ia masuk dengan pelan, melepaskan kebaya dan sarungnya. Sekti yang ada di situ, terheran melihat Ratu Kenari berdiri dalam keadaan telanjang.  Tanpa berlama-lama, Ratu Kenari menikamnya, membunuhnya. Juga Panembahan Reso mati dengan tikamannya. Lantas Ratu Kenari berjalan, menaiki tahta.

Begitulah akhir Panembahan Reso. Tahta adalah ketelanjangan. Demi tahta, orang akan menelanjangi dirinya sendiri, juga lawannya. Hanya satu yang waras, sang pemberontak, Panji Tumbal. Sama sekali tak menginginkan sebuah tahta, justru ia yang berjuang untuk rakyat. Panji Tumbal yang dituduh subversif justru membela hak-hak rakyat. “Astaga! Kita semua bertarung mati-matian, tidak untuk kedaulatan rakyat, tetapi untuk kedaulatan tahta semata,” pekik Panji Tumbal saat menunggu detik-detik kematiannya.

Panembahan Reso adalah drama yang kekuatannya pada dialog. Tidak banyak menggunakan properti panggung. Hanya ada susunan level panggung. Dan kotak serupa singgasana di tengah. Di sisi kiri panggung juga ada satu, sering digunakan untuk menggambarkan kamar Ratu Dara. Di tengah-tengah adegan diselipkan sebuah koreografi. Sebuah silat dalam tari. Tari itu menambah daya magis pertunjukan Panembahan Reso. Namun tetap saja, kata adalah senjata dari mahakarya Rendra ini, apalagi monolog dari Paji Reso, kuat sungguh. Kata-katanya tak usang meski sudah 34 tahun dan hanya dilakonkan selama tiga jam. Semoga, Bambang Soesatyo, yang menonton malam itu, mau jujur mendengar, dan melakoni dunia politiknya untuk kedaulatan rakyat. Begitu juga dengan rekan sejawat Bamsoet – panggilan ketua MPR RI itu – yang ada di panggung politik, yang sudah menggapai singgasananya, semoga bertarung untuk kedaulatan rakyat, bukan kadaulatan tahta semata.


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca