× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Jejak Seniman 'Kadera Bulu' Marikurubu

Mengenang Om Ade, yang semasa hidupnya adalah seorang pengrajin yang konsisten.
Jejak Seniman 'Kadera Bulu' Marikurubu
Ternate tempo dulu. Foto: ANRI.

10/03/2020 · 1 Menit Baca

Dalam literatur sejarah lampau hingga sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Kesultanan Ternate adalah daerah yang paling ramai disinggahi oleh para pedagang. Sebagai sebuah bandar kota pesisir, pasar dan tempat keramaian berada di bibir pantai. Di sana, ada transaksi jual-beli aneka komoditi, dari pedagang Jawa, Sulawesi, Cina, Arab hingga penjajah Eropa datang memonopoli rempah.

Dari semua komoditi tua itu, para perajin kita tak pernah sekalipun disentuh, bahkan dikisahkan. Mungkin sejarah ekonomi daerah kita ini masih belum menjadi prioritas kajian.

Puluhan tahun yang lalu masih terlihat berseliweran penjual kursi bambu di sepanjang pantai Ternate. Ada foto tua yang menegaskannya, bahwa sejak lama, telah ada para pengrajin atau pembuat kursi bambu khas Ternate ini. 

Saya jadi tertarik menulis tentang ini. Tentang seseorang yang mewarnai ingatan kolektif kita. Seorang pembuat kursi bambu yang hampir tak ada yang membahasnya.

Abdullah Safi namanya, atau biasa dipanggil Om Ade Marikurubu, sapaan akrab kebanyakan warga yang mengenalnya, mungkin warga lama di Kota Ternate pernah mendengar nama beliau, atau berjumpa dengannya langsung untuk memesan kursi bambu yang dalam bahasa Ternate sehari-hari disebut Kadera Bulu

Om Ade adalah salah satu dari sekian banyak pengrajin kursi bambu yang pernah ada dan bertahan menjaga tradisi di bawah kaki Gunung Gamalama yang sepertinya sulit untuk mendapatkan wadah dan perhatian pemerintah daerah.

Ia berdomisili di Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah, di mana tempat itu sekaligus menjadi tempat proses berlangsungnya pembuatan kursi bambu tersebut.

Om Ade lahir dari keluarga petani cengkih, pala dan durian. Berhektar tanah dan kebun, haknya, tak ia kelola, namun memilih menjadi seorang pengrajin kursi bambu layaknya seorang seniman. 

Kalau sekilas melihat, orang-orang akan menganggapnya seorang lelaki yang sedikit tidak waras, karena kesehariannya hanya berpakaian compang-camping, selalu menggunakan topi hijau gelap dengan rambut yang hampir sebahu agak keriting. Tanpa pengalas kaki, ia berjalan dengan parang bersarung terselip di pinggang. Berkeliling dari kampung ke kampung untuk mengantarkan pesanan yang sudah jadi. 

Saya sendiri pernah berjumpa dengannya saat masih bocah. Ketika itu nenek memesan kursi bambu padanya. Sekilas melihatnya, saya menganggapnya "unik". Berjalan dengan ceracau tak jelas dalam Bahasa Ternate. Itulah mengapa banyak orang-orang menganggap beliau sedikit tidak waras. Namun manusia tak waras mana yang konsisten bertahun-tahun sanggup mewujudkan imajinasinya dan mengubah batangan bambu menjadi tempat duduk yang cantik. 

Dedikasi beliau sangat berarti bagi kebanyakan orang, hingga saat ini mungkin karyanya masih ada di sudut ruang keluarga atau dapur kita. Benar kata pepatah yang terkenal itu: “Jangan menilai seseorang dari penampilannya.”

Tulisan singkat ini untuk mengenang Om Ade, yang semasa hidupnya adalah seorang pengrajin yang konsisten. Beliau telah berpulang pada 30 Juni 2010 lalu. Yang berpeluh puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kursi bambu sebagai kerajinan daerah, kerajinan rakyat yang tidak mencemari lingkungan. 

Ia seperti mengajarkan pada kita, generasi ini, untuk berpegang teguh pada kearifan local kita, karena di tiap-tiap ingatan lokal, di situ terdapat segunung makna kesederhanaan. Syukur Dofu-Dofu.

Makassar, 8 Maret 2020

Muhammad Fadly Jufri 

Mahasiswa yang belum wisuda.


Share Tulisan Muhammad Fadly Jufri


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca