× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#PEREMPUAN

Amina Wadud (Lady Imam)

Kontroversi, Pemikiran, dan Metodologi Penafsiran
Amina Wadud (Lady Imam)
Foto: en.qantara.de

15/03/2020 · 15 Menit Baca

Amina Wadud adalah seorang profesor studi filsafat dan Agama di Virginia Commonwealth University. Beberapa waktu lalu Amina Wadud menuai kontroversial, dimana dia bertindak sebagai perempuan yang mengimami sholat di salah satu kota di Amerika. Fenomena imam perempuan oleh Amina Wadud di kalangan ulama hingga masyarakat biasa menuai pro dan kontra yang  tidak kunjung usai dan dijadikan sebagai wacana atau polemik yang aktual.

Melalui metode hermeneutika, Amina Wadud ingin memunculkan pesan-pesan yang dinamika dari konteks “Imam Perempuan Dalam Shalat” dengan penelaahan secara analitis dan metodologis terhadap konsep-konsep yang tampak memainkan peran dalam pembentukan visi Qur’anik dan menemukan weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat. Penafsiran al-Qur’an maupun Hadis seperti ini, dipandang karena al-Quran dan hadis dari segi makna dan implikasi tidak boleh stagnan hanya pada waktu dulu saja, melainkan harus direinterpretasi agar senantiasa relevan dengan zaman. Terlebih lagi, al-Qur’an dan hadis merupakan petunjuk ataupun jalan hidup manusia.

Amina Wadud memiliki landasan bahwa perempuan boleh menjadi imam pada Hadis dari Ummu Waraqah binti al-Harits al-Anshariyah, yang merupakan seorang wanita kalangan Anshar yang dikenal memiliki rasa keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan begitu menggebu. Dikisahakan bahwa, Ummu Waraqah selalu berburu keutamaan amal dan tidak ingin tertinggal dari kaum Muslimin. Saat Rasulullah SAW dan Abu Bakar ash-Shidiq hijrah dan tampak di gerbang Madinah, Ummu Waraqah menjadi salah satu orang yang menyambutnya dengan penuh suka cita.

Sikap kesungguhan dari Ummu Waraqah dalam berislam begitu disukai Nabi SAW dan kemudian Nabi SAW pun sering mengunjungi kediaman Ummu Waraqah sebagai bentuk penghormatan. Bahkan, Ummu Waraqah diangkat menjadi imam shalat para sahabiyah (wanita-wanita terhebat dan agung pada zaman Rasulullah) di rumahnya. Ummu Waraqah sendiri, dikenal dengan bacaan al-Qur’an yang bagus dan juga keilmuannya juga sangat mendalam. Selain itu, Rasulullah juga mengutus seorang lelaki tua guna menjadi mudazin di rumah Ummu Waraqah. Rumahnya menjadi sebaik-baiknya rumah di Madinah. Betapa tidak, di dalamnya digaungkan adzan pertama khusus untuk rumah dan digelar shalat jamaah bagi para Muslimah.

Ummu Waraqah memang merupakan salah seorang sahabat yang begitu luar biasa keimaman serta kepatuhannya terhadap setiap perintah Allah melalui Nabi-Nya. Hingga, saat kaum Muslimin akan berjihad di medan Badar, Ummu Waraqah mendatangi Nabi SAW dan mengajukan permintaan; "Wahai Rasulullah, izinkan aku pergi bersama kalian agar aku bisa merawat orang yang sakit dan mengobati orang yang terluka. Mudah-mudahan dengan itu Allah SWT menganugerahiku mati syahid,". Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud ini juga menjelaskan, Nabi SAW menjawab, "Tinggallah di rumahmu. Sungguh, Allah akan menganugerahimu mati syahid di rumahmu." Dan, Ummu Waraqah pun taat dan patuh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sehinnga Ummu Waraqah digelari asy-Syahidah

Dari hadis ataupun kisah ini kemudian menjadi gambaran bagi Amina Wadud sendiri untuk menjadi seorang imam, dan menurutnya tidak ada yang keliru dalam tindakan ini. Al-Qur’an sendiri juga menurutnya, tidak ada ayat-ayat yang melarang perempuan menjadi imam dalam shalat. Oleh karena itu, menurut Amina Wadud Muhsin menganggap bahwa untuk memahami al-Qur’an dan hadis selalu dan harus melacak konteks historis dan sosiologinya sehingga dapat menemukan jawaban yang objektif dan rasional dengan menggunakan pendekatan hermeneutikan dan masuk dalam paradigma hermeneutika filosofis.

Jika dilihat dalam salah satu kitab Fiqh Sunnah Jilid I karangan Syaikh Sayyid Sabiq pada BAB Sholat, Sub-Bab Sholat Jamaah, poin ke-11 mengenai pertanyaan tentang “?من أحقّ بلإمامة”, (siapa yang berhak menjadi imam) halaman 143 - 144. Dijelaskan bahwa imam adalah orang yang lebih bagus bacaannya. Apabila semua sama bagus (dari bacaannya), maka yang lebih mengetahui tentang sunnah (‘alim). Apabila sama, maka yang lebih dahulu hijrah ke tempat tersebut (ahlul bait), Apabila sama, maka lihatlah yang lebih tua.

Dalam hadis dari Abu Sa’id, Rasulullah SAW bersabda: “apabila tiga orang hendak sholat, maka tunjuklah salah seorang untuk menjadi Imam, dan yang lebih berhak untuk menjadi imam adalah ‘Aqro’uhum’ (Riwayat Ahmad dan Nasa’i). Adapun maksud dari Aqro’uhum adalah yang lebih banyak hafalannya (أكثر حفظا). Jika dilihat, secara spesifik tidak ada kategorisasi secara mendalam tentang gender (laki-laki maupun perempuan). Sehingga Amina Wadud kemudian menginisiasi (menjadi imam) karena faktor kurangnya orang yang bisa menghafal al-Qur’an di lingkungannya dan faktor lain yaitu orang berilmu yang mana beliau termasuk dalam orang berilmu itu dan berhak untuk mengimami sholat. Namun itu semua dilihat konteks dimana kita berada

Dari segi pemikirannya yang lain, Amina Wadud selain bagian dari kalangan feminis, dia sendiri juga mengkritisi kalangan feminis lain, sekaligus mengkritisi kaum tafsir bernuansa patriarki yang seringkali mendiskriminasi perempuan dalam penafsirannya. Sebagaimana tertulis dalam bukunya ”Qur’an And Woman : Rereading The Sacred Textfrom A Woman’s Perspective”. Ketertarikannya terhadap al-Qur’an didasari karena al-Qur’an merupakan katalisator perubahan politik, sosial, spritual, dan intelektual. Namun, dalam hal buku tersebut, dia lebih khusus mengkaji persoalan gender dalam perspektif al-Qur’an.

Menurutnya, banyak kaum feminis menghendaki pemutusan total dari masa lampau dari segi penafsiran mereka terhadap perempuan, yang mana dari pemahaman itu kemudian memunculkan diksi negatif terhadap al-Qur’an. Padahal, substansi makna dari teks al-Qur’an tidak terikat dengan waktu dan ungkapan al-Qur’an tentang nilai-nilai itu bersifat abadi, tidak berhenti pada satu waktu saja. Sehingga, bukan teks al-Qur’an yang membatasi perempuan, melainkan penafsiran yang dilakukan oleh para mufassir terhadap teks itulah yang dianggap membatasinya. Dalam arti lain, ketika ada penafsiran yang hadir namun terkesan mendiskriminasi, maka perlulah untuk dikaji kembali. Hal itulah yang dilakukan oleh Amina Wadud sehingga lahirlah karya tafsirnya dalam buku ini.

Tafsir-tafsir tentang perempuan dalam al-Qur’an dikelompokkan olehnya menjadi tiga kategori yakni, tradisional, reaktif, dan holistik. Pertama, tafsir tradisional; karya-karya tafsir di era klasik maupun modern yang tidak ada upaya mengenali tema-tema dan membahas hubungan di antara ayat-ayat Al-Qur’an secara tematis, tidak ada metodologi untuk menghubungkan berbagai gagasan, struktur sintaksis, prinsip atau tema-tema yang sama dalam Al-Qur’an. Karya-karya ini ditafsirkan menurut visi, perspektif, kehendak, atau kebutuhan laki-laki.

Kedua, reaktif; reaksi para sarjana modern terhadap keterpasungan perempuan-perempuan sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang dilekatkan dengan al-Qur’an. Namun reaksi mereka tetap tidak mampu membedakan antara penafsiran dan teks al-Qur’an. Misalnya buku: “Woman In The Muslim Unconscious” karya Fatna Aït Sabbah, yang membahas hal-hal yang valid berkenaan dengan isu jender, tetapi ketika membahas Al-Qur’an, dia gagal membedakan antara al-Qur’an dan para mufassir. Ketiga, kategori holistic; penafsiran yang mempertimbangkan ulang semua metode tafsir Al-Qur’an menyangkut berbagai bidang seperti sosial, moral, ekonomi, dan politik modern termasuk isu tentang perempuan. Dalam kategori inilah karya berjudul: “Qur’an And Woman: Rereading The Sacred Text From A Woman’s Perspective” ditempatkan, yang merupakan kajian substansial secara khusus membahas isu perempuan dari sudut pandang keseluruhan al-Qur’an dan prinsip-prinsip utamanya.

Metode penafsiran yang pakai oleh Amina Wadud menggunakan metode yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman, yakni, semua ayat yang diturunkan pada titik waktu sejarah tertentu dan dalam suasana umum dan khusus tertentu, diungkap menurut waktu dan suasana penurunannya. Namun, pesan yang terkandung dalam ayat dimaksud tidak terbatas pada waktu atau suasana historisnya (al-Ibrah bi umumil lafdz la bi khusush as-Sabab). Seorang pembaca harus memahami maksud dari ungkapan-unkapannya al-Qur’an menurut waktu dan suasana penurunannya guna menentukan makna yang sebenarnya. Makna inilah yang menjelaskan maksud dari ketetapan atau prinsip yang terdapat dalam suatu ayat.

Semua ayat yang mengandung perujukan pada perempuan secara terpisah maupun bersama dengan laki-laki, akan dianalisis dengan metode tradisional tafsir Al-Qur’an bi al-Qur’an , melalui penjelasan setiap istilahnya dengan analisis berikut: [1] menurut konteksnya, [2] menurut konteks pembahasan topik-topik yang sama dalam al-Qur’an, [3] dari sudut bahasa dan struktur sintaksis yang sama yang digunakan di tempat lain dalam al-Qur’an, [4] dari susut prinsip-prinsip al-Qur’an yang menolaknya, dan [5] menurut konteks welthanschauung atau pandangan keseluruhan medan makna dari suatu teks al-Qur’an. Analisis tersebut, didasarkan pada sebuah model hermeneutik terkait dengan tiga aspek: [1] konteks saat teks ditulis (diwahyukan), [2] komposisi gramatikal teks, dan [3] teks secara keseluruhan, yakni welthanschauung atau pandangan dunia teksnya.

Salah-satu elemen khas dari pembacaan dan pemahaman atas teks apapun adalah pra-teks dari pembaca perseorangan, yakni: bahasa dan konteks budaya tempat teks dibaca. Pra-teks menambah banyak sekali perspektif dan kesimpulan dalam penafsiran. Oleh karena itu, untuk menghindari kemungkinan relativisme, kita dapat berpegang pada kontinyuitas dan keabadian yang terdapat dalam teks al-Qur’an sendiri, yang tergambar dalam titik temu kesimpulan dari beragam penafsiran.

Titik temu penafsiran ini, yang menjadi prinsip-prinsip al-Qur’an. Prinsip-prinsip yang mendasar dan tak berubah dari teks al-Qur’an ini kemudian dipahami dan direfleksi kapasitas atau partikularitasnya untuk menjadi katalisator yang mempengaruhi prilaku dalam masyarakat. Bahasa-bahasa berciri gender, seperti bahasa Arab, menciptakan pra-teks tertentu bagi para penggunanya. Segala sesuatu digolongkan sebagai laki-laki atau perempuan.

Terkait dengan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an, Amina Wadud mendekati teksnya dari luar, tanpa terpenjara dalam konteks sebuah bahasa yang membedakan jender. Meskipun setiap kata dalam bahasa Arab dinyatakan sebagai maskulin atau feminim, namun tidak berarti bahwa setiap penyebutan oknum laki-laki dan perempuan merujuk pada jenis kelamin yang disebutkan dari perspektif al-Qur’an yang universal. Selain menganalisis gender menurut bahasa Arab al-Qur’an, Amina Wadud juga menganalisis kata-kata kunci dan ungkapan tertentu yang berhubungan dengan manusia pada umumnya dan perempuan pada khususnya, untuk mengungkapkan pemahaman kontekstual. Kata-kata mempunyai makna dasar, yang dapat dipahami melalui makna kata itu sendiri, dan makna relasional, yang makna konotatifnya berasal dari konteks tempat kata itu digunakan.

Analisis konteks pembahasan topik-topik yang disebut dalam buku yang ditulis Amina Wadud ini disebut dengan "pandangan (umum) al-Qur’an tentang perempuan di dunia ini". dalam fase ini Amina Wadud meninjau peran yang dimainkan oleh para tokoh perempuan yang disebutkan secara eksplisit maupun implisit dalam al-Qur’an, serta bagaimana signifikansi dari para perempuan dalam situasi dimana mereka disebutkan. Yang kemudian ia kategorisasi atas peran perempuan yang dibicarakan dalam al-Qur’an dalam beberapa kategori, yaitu :

  1. Peran yang menggambarkan konteks sosial, budaya, dan sejarah tempat si perempuan tinggal,
  2. Peran keperempuanan yang secara universal diterima,
  3. Peran spesifik non-gender.

Amina Wadud juga membahas tentang cara memahami peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang-orang yang disebutkan al-Qur’an. Menurutnya, nilai-nilai moral yang digambarkan dalam bentuk sejarah, bersifat ekstra historis dan transendental sehingga tidak mengurangi dampak praktisnya atau maknanya. Sehingga dapat disimpulkan olehnya, pada kenyataannya al-Qur’an ketika berbicara tentang perempuan mencakup informasi tentang hikmah dibalik peristiwa dan efek psikologisnya bagi mereka.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca